Aku Sangat Mencintai Kamu

Aku Sangat Mencintai Kamu
malaikat pelindung


__ADS_3

masih terlalu pagi untuk stif yang menginginkan es americano, di tambah lagi dengan udara yang masih sangat sejuk pagi ini, akhirnya stif mengurungkan ke inginanya, ia memilih secangkir kopi hangat untuk kenghangatkan pagi ini.


stif kini tengah duduk di dalam bar dengan matanya yang fokus pada ponsel.


namun seketika ia menyunggingkan senyumnya saat mengingat tadi malam saat ia memberitahu perasaanya pada nawa.


stif kini hanya dapat pasrah andaikan nyonya mudanya itu nanti akan menjauhinya karena ia menyukainya.


"bukan kah perempuan seperti itu?" lirih stif entah kepada siapa.


"stif"


suara itu membuat stif menoleh ke sumber suara "gue cariin lo di sini"


"kenapa nyonya muda mencari saya?" tanya stif sambil berdiri dari duduknya.


"gue besok pulang ke indonesia, lo mau gak temenin gue jalan jalan"


"dengan senang hati saya akan menemani nyonya"


"yaudah gue ganti baju dulu, lo siapin mobil" nawa meninggalkan stif yang tengah tersenyum menatap punggung nawa yang menjauh.


...****************...


stif dan tom yang mengenakan jas kebangganya berjalan mengikuti nawa yang memasuki pusat perbelanjaan.


"bunda, kita kesana yuk" kata nawa pada bi titi yang sengaja nawa ajak.


"bunda gak suka tempat kayak gini, bunda pulang aja ya"


"yah bunda kok gitu" nawa memanyunkan bibirnya "nawa janji gak lama lama di sini"


"yaudah sekarang nyonya muda mau kemana" ujar bi titi.


"kita ke sana" nawa menggandeng tangan bundanya itu menuju tempat yang ia maksud.


mereka berbelanja baju cukup banyak hingga stif dan tom merasa kewalahan membawa belanjaan milik nawa dan bundanya.


setelah mereka berbelanja nawa berniat mengganti warna rambutnya itu, ia tidak akan menggunakan warna kuning lagi.


"mba rambutnya di pendekin lagi ya" kata nawa yang kini sudah duduk manis di dalam salon.


"kenapa kamu ajak bunda, bunda tunggu di luar aja ya"


nawa menoleh ke arah bundanya "rambut bunda juga harus di warnain, liat tuh udah beruban"


cukup lama mereka di dalam, dan akhirnya mereka kini keluar dengan penampilan yang berbeda.


nawa tak bisa melunturkan senyumnya saat merasa puas dengan warna rambut barunya, warna merah muda itu melekat di rambut nawa.


"bunda cantik" nawa memberikan dua jempolnya.


"bunda malu"


"kenapa malu, bunda itu cantik"


rambut bi titi yang awalnya hitam kini menjadi pirang karna ulah nawa, rambut yang tergerai bergelembong itu membuat bi titi tampak lebih muda.


"stif kita kerestoran habis itu kita pulang" ujar nawa pada stif yang tengah berdiri di depan pintu salon kecantikan.


stif menggelengkan kepalanya saat melihat perubahan rambut bi titi dan nawa.


...****************...


"kak!" teriak nawa saat memasuki rumahnya.


"kak liat deh rambut nawa cantik gak!"


brak


nawa membuka kamar kakaknya cukup keras.


namun nawa yang tadi tersenyum tiba tiba melunturkan senyumnya saat melihat kamar kakaknya yang kosong.


"gue lupa, kak sophia kan udah gak tinggal di sini" lirih nawa.


nawa memutar tubuhnya untuk kembali ke kamarnya.


"kak sophia lagi ngapain ya, ganggu gak ya kalau gue telfon" ujar nawa sambil berjalan.


nawa mengambil ponselnya untuk menelfon kakaknya.


nawa memasuki kamarnya, ia berjalan menuju balkon kamarnya.


"halo"


nawa tersenyum saat mendengar suara kakaknya.


"hai kakak cantik, apa kabar"


"baik"


"nawa ganggu kakak gak"

__ADS_1


"enggak"


"nawa kangen banget sama kakak"


"mau ketemuan?"


"emang boleh"


"ya boleh lah masa enggak"


"aku ke apart kakak sekarang"


"ke kantor aja, kakak hari ini lembur"


"kakak kerja?"


"iya"


"enggak ambil cuti, kakak kan baru nikah"


"percuma kakak ambil cuti kalau suami kakak juga sedang keluar kota"


"yaudah nawa ke kantor sekarang"


setelah mematikan telfonya nawa kembali masuk ke dalam kamarnya, sebelum ia ke kantor ia memilih membersihkan diri terlebih dahulu.


nawa kini tengah berendam air hangat di dalam bathtub, setelah merasa cukup ia bangkit dalam bathtub.


nawa berjalan ke arah lemari pakaianya, nawa menjentikan jarinya mencari baju apa yang harus ia pakai.


mata nawa terarah pada dres biru muda, hadiah tahun lalu saat ia ulang tahun.


"inikan dres dari kak sophia" lirih nawa sambil mengambil dres itu.


"pake ini aja lah, sekalian ajak vina jalan jalan" lirih nawa.


...****************...


nawa berjalan menuruni tangga, ia mengenakan dres selutut dengan menenteng tas slempang berwarna hitam.


"jadi lo gak bisa?" tanya nawa pada seseorang yang ia telfon.


"gue lembur"


"lo mah gak asik vin"


"yaa mau gimana lagi"


"padahal besok gue pulang"


"yaudah gak papa" nawa memasukan ponselnya.


"cantik amat mau kemana?" tanya bundanya saat berpapasan dengan nawa.


"mau ke kantor kakak"


"kok cantik banget"


"sekalian jalan jalan"


"hati hati"


"siap bunda"


nawa berjalan keluar rumah


"nyonya mau kemana?" tanya tom.


"mau ke kantor kakak" jawab nawa "lo yang jadi supirnya ya" suruh tom.


"siap nyonya"


nawa menuju ke arah mobil, ia tersenyum ke arah stif yang membukakan pintu mobil untuknya.


setelah beberapa menit di perjalanan akhirnya mereka kini sampai ke tempat tujuan.


nawa beberapa kali melemparkan senyumnya pada kariawan yang menyapa atau pun berpapasan denganya.


tok tok tok


nawa mengetuk pintu ruang kerja kakaknya.


"masuk" ucap sophia.


nawa masuk ke dalam ruangan dengan di ikuti tom dan stif.


"kakak" nawa berjalan sambil merentangkan tanganya.


sophia bangkit dari duduknya " kak nawa kangen" ujar nawa sambil memeluk kakaknya.


"kamu siapa?" sophia menaikan satu alisnya.


"ini nawa masa gak kenal"

__ADS_1


"yaampun dek "sophia memegang beberapa helai rambut nawa "si kuning, si cerah, si montok dan si manis se manis banana kemana" sophia menatap adiknya tajam.


nawa tersenyum hingga membuat deretan giginya terlihat "aku ganti, nawa bosen sama si banana"


"padahal kakak suka sama rambut kamu yang kuning"


"tapi ini cantik kan?"


"iya cantik"


"kenapa kakak gak bulan madu, keluar negri contohnya"


"bulan madu mah nanti nanti aja"


"kakak udah makan"


"udah tadi siang"


"ini udah sore kak, gak ada niatan mau makan"


"belum laper"


"gak ada niatan mau cemilan sore"


"itu mah kamu, yang tiap sore bibirnya harus di sumpel pake cemilan" nawa terkekeh karena perkataan kakaknya.


"vina ada di ruangan nya gak kak?" tanya nawa.


"gak tau"


"nawa mau ke temu vina dulu nanti kesini lagi"


...****************...


baru kali ini nawa mau berlama lama di kantor, biasanya baru beberapa menit nawa menginjakan kakinya di kantor ia langsung ingin pulang.


nawa kini tengah menikmati mata hari terbenam di rooftop sambil di temani stif di sebelahnya.


"stif" panggil nawa pada stif yang duduk di sebelahnya.


stif menoleh ke arah nawa "mau jalan jalan gak, temenin nawa" pinta nawa.


"boleh"


"tapi cuma kita berdua" kata nawa di akhiri senyumanya.


"boleh"


"anggep jalan jalan ini sebagai salam perpisahan, karena gak tau kita ketemu lagi kapan dan sebagai ucapan terimakasih gue ke lo yang mau jagain gue di sini" stif hanya menyunggingkan senyumanya.


"stif" panggil nawa.


"kenapa?"


"makasih udah mau jadi teman gue selama sebulan, nanti kalau gue ke sini lagi stif jangan dingin ya sama nawa"


"saya juga mau ngucapin terimakasih, selama sebulan ini,nyonya jaga kesehatan di sana"


"kalo gue udah pergi lo sama tom kemana?"


"saya dan tom akan menjadi bodyguard nyonya sophia lagi" nawa mengangguk sebagai jawaban "tapi saya mau ambil cuti satu minggu"


"emang kamu mau apa?"


"mau ke prancis"


"liburan?"


"iya"


mereka terdiam, mereka kini kembali menatap matahari terbenam.


anggin kini berhembus, nawa menggosokan kedua tanganya, nawa yang memakai dres kini sedikit merasa dingin.


nawa menoleh ke stif saat pria itu meletakan jas nya di atas pangkuan nawa, hingga menutupi kakinya.


"sepertinya nyonya sudah ke dinginan, udaranya juga semakin dingin kita turun saja nyonya"


nawa terdiam masih dengan menatap stif


'stif lo perhatian banget sama gue'


"stif" lirih nawa.


"ada apa nyonya"


"makasih, lo perhatian banget sama gue, gue jadi ngerasa papa gue masih ada"


stif menaikan alisnya "nyonya mengganggap saya papa nyonya?"


"papa dulu perhatian banget sama gue" nawa menundukan kepalanya, ia merasa sedih saat mengingat waktu yang pernah ia lalui bersama ayahnya.


"nyonya " stif memegang pundak nawa "papa nyonya emang udah pergi, tapi papa nyonya masih ada di hati nyonya"

__ADS_1


" dan saya harap nyonya jangan menganggap saya papa nyonya, saya kan masih muda"


nawa tersenyum ke arah stif "iya lo itu bukan papa gue, lo itu malaikat pelindung gue"


__ADS_2