
Joging.
pagi hari ini nawa menikmati udara pagi dengan berjoging, ia tak sendirian ia di temani kedua bodyguadnya, nawa juga memaksa mereka untuk ikut berjoging bersama.
Nawa terus tersenyum di sepanjang jalan menikmati udara pagi.
"Maaf nyonya muda, boleh saya bertanya" ujar stif.
"Hm silahkan" jawabnya di sela larinya.
"Maaf kami tidak bisa menjaga nyonya muda tadi malam, kami minta maaf"
Nawa berhenti dari larinya.
"Gak papa, itu bukan masalah"
"apakah masih sakit?" tanya tom "kami benar benar merasa bersalah"
"tamparanya tidak sakit, dan kalian jangan salahin diri kalian, itukan tamparan dari mama aku jadi tidak usah di permasalahkan"
" bahkan saya pernah merasakan sakit yang lebih dari pada rasa sakit karna tamparan mama" nawa tersenyum ia kembali melanjutkan larinya.
'saat ayah pergi...
Itu adalah rasa sakit yang sangat sakit dari apapun'
Nawa menetralkan nafasnya setelah berlari cukup jauh, ia memegang kedua lututnya.
Nawa mengambil ponselnya di saku untuk menelfon seseorang.
"Halo"
jawab seseorang dari sebrang sana.
"Hai orang sibuk, ada waktu gak" ujar nawa sambil tersenyum karena telfonya di angkat.
"Nanti malam gue gak sibuk"
"Gue pengin ngobrol sama lo"
"Nanti malam aja, bisa?"
"Ohh sangat bisa, kerumah gue oke"
"Oke,nanti malam kita senang senang"
"Oke,semangat kerjanya gue lanjut joging dulu"
"Hhmm"
Nawa menutup panggilanya, dia adalah vina teman nawa yang berada di LA, sekarang vina bekerja di perusahaan nawa dan sophia, umurnya sama dengan kakaknya tapi nawa lebih nyaman memanggil vina dari pada menyebutnya kak.
Nawa kembali mencari kontak seseorang, Cukup lama nawa menunggu, orang itu mengangkat panggilanya.
"Halo"
"Lama amat"
"Gue sibuk ada apaan sih dek"
"Hehehe kak jadi kepemakaman ayah?"
"Jadi nanti siang oke, sekalian kakak bawa calon kakak ipar lo"
"Oke, aku tunggu kak, selamat bekerja kakak sayang"
Nawa mematikan sambunganya.
"Kalian" panggil nawa pada dua bodyguardnya.
"Kita makan, gue traktir kalian" ujar nawa.
Nawa kembali berlari menuju kesuatu tempat untuk mengisi perutnya, nawa memasuki gang yang cukup ramai orang berlalu lalang, ada yg berangkat kerja, sekolah maupun joging sepertinya atau hanya sekedar jalan jalan.
Kring
Suara pintu toko roti saat ada yang membukanya.
Nawa berdiri sambil memandang toko roti yang berada di hadapanya, sudah banyak pengunjung di dalam.
Nawa melangkah memasuki toko roti tersebut.
Kring
Nawa membuka pintunya.
"Selamat datang di toko kami" ujar seorang pelayan pada nawa.
Nawa tersenyum, kemudian nawa berjalan untuk memilih roti yang akan ia beli.
"Permisi" ujar nawa pada seorang lelaki yang tengah sibuk menata roti.
"Ada yang bisa saya bantu?" Lelaki itu mendongak menatap nawa.
__ADS_1
Nawa tersenyum saat orang itu menatapnya.
"Yaampun" kagetnya saat melihat nawa "nawa sayang" panggilnya dan langsung memeluk nawa.
"Paman nawa kangen" nawa senang bisa bertemu dengan pamanya.
"Kapan kamu pulang?"
"Kemarin"
"Nawa cantik sekali kamu, menginap ya di rumah paman satu malam oke" tanpa berfikir lama nawa langsung menganggukinya.
"Dimana istri paman?" Tanya nawa sambil mengedarkan pandangany.
"Kamu taukan dia itu sangat suka dengan bunga, sekarang dia lagi cari bunga incaran dia dari dulu di toko bunga"
"Oowwhh"
"Ayok duduk, eh ini siapa?" Pamanya baru menyadari kalau sedari tadi ada dua orang lelaki yang berada di belakang nawa.
"Mereka bodyguard suruan kakak aku buat jaga aku paman"
"Wahh kakak kamu sepertinya sangat sayang, sampai nyuruh dua bodyguard buat jagain kamu"
"Kakak terlalu posesif, kalau paman mau tau aku gak suka"
"Kamu ini punya kakak yang sayang kok malah gak mau"
"Paman nawa laper" rengeknya.
"Ayok ayok kita duduk,kamu mau roti yang mana"
"Tersetah paman aja" pamanya pun pergi untuk mengambilkan roti." kalian berdua gak pegel berdiri mulu, sini duduk kita makan bareng bareng"
...****************...
Nawa tersenyum sambil menopang dagunya, nawa duduk di bar kecil yang berada di rumahnya.
Stif bodyguardnya kini tengah membuat kopi pesanan nawa, awalnya ia hanya bercanda menyuruh stif membuatkanya kopi tapi ternyata stif dengan senang hati membuatnya, dulu dia pernah bekerja menjadi barista di salah satu cafe.
"Ini nyonya" stif menyerahkan kopinya.
"Wah makasih"
"Sama sama"
Stif duduk di hadapan nawa.
"Bi" ujar nawa pada pembantu yang berjalan melintas.
"Kakak udah pulang?"
"Nyonya sophia baru saja naik ke kamarnya"
"Suruh kakak sophia ke sini"
"Baik nyonya" ia membungkuk lalu pergi dari hadapan nawa dan stif.
"Tom mana?" Tanya nawa.
"Ada di luar nyonya" jawab stif.
"Saya mau pergi sama kak sophia kalian gak usah ikut"
"Baik nyonya, saya permisi kedepan"
"Silahkan"
Nawa menikmati kopi buatan stif dengan tenang sambil menunggu kakaknya.
"Permisi nyonya"
Nawa menoleh ke arah pembantu yang datang padanya.
"Nyonya sophia sudah menunggu di depan"
"Kak sophia gak kesini"
"Enggak nyonya"
"Yasudah" nawa beranjak dari duduknya, nawa melenggang menemui kakaknya.
Nawa melihat punggung kakaknya yang masih mengenakan jas kantor.
"Kak" panggil nawa.
Sophia menoleh ke arah nawa "kita ke cafe sekarang"
"Ngapain, kitakan mau ke pemakaman ayah"
Sophia menghela nafasnya "katanya kamu mau ketemu sama calon kakak ipar"
Seketika nawa tersenyum "nawa lupa, yaudah yuk kecafe"
__ADS_1
"Nanti kakak cuma sebentar, kakak masih banyak pekerjaan"
Nawa berjalan memasuki mobil di bangku penumpang "kakak jaga kesehantan, jangan terlalu di forsir nanti sakit"
"Iya" kakaknya juga ikut masuk ke dalam mobil yang sama.
"Pak kita ke cafe yang biasa" ujar sophia.
"Baik nyonya" mobil pun berjalan.
"Kakak gak cape ya tiap hari liat berkas berkas mulu" ujar nawa.
"Yaaa mau gimana lagi, kan perusahaan butuh kakak" sophia menepuk punggung nawa "kamu jangan kebanyakan main, bantu kakak ngurus perusahaan, suatu saat kalo kakak udah gak sanggup ngurus perusahaan kakak bisa ngandelin kamu"
"Iya kak"
Di perjalanan nawa memilih memainkan ponselnya sedangkan sophia tengah tertidur.
Nawa melirik ke arah kakaknya yang masih terlelap.
"Kak" panggil nawa lirih "makasih buat semuanya, kakak adalah orang yang paling nawa sayangi setelah ayah, jangan tinggalin nawa seperti ayah, nawa cuma punya kakak yang sayang sama nawa" nawa memeluk kakaknya dari samping.
"Nyonya kita sudah sampai" ujar sang supir.
Nawa melepas pelukanya.
"Kak udah sampe" nawa menggoyangkan lengan kakaknya.
Sophia yang merasa tidurnya terganggu pun terbangun.
"Bangun udah sampe" nawa turun dari dalam mobil.
Nawa berjalan lebih dulu meninggalkan kakaknya yang berada di dalam mobil.
Nawa memasuki cafe yang cukup ramai siang ini.
"Dek" ujar sophia.
Nawa menoleh ke arah kakaknya
"Ikut kakak" ujar sophia sambil berjalan mendahului nawa.
Sophia duduk di bangku dekat jendel yang memperlihatkan pemandangan alam yang sangat nyaman di lihat dengan mata.
"Duduk sini" suruh kakaknya.
Nawa duduk disebelah kakaknya "calon kakak ipar mana, belum sampe?" Tanya nawa.
"Dia udah sampe, katanya kebelakang dulu" nawa hanya mengangguk atas jawaban kakaknya.
Belum sempat mereka memesan makanan, namun seorang pelayan membawakanya beberapa makanan dan minum di atas meja.
"Haii, maaf ya jadi nunggu"
Sophia dan nawa sama sama menoleh ke arah sumbersuara.
"Hai" sapa sophia sambil memeluk seorang lelaki.
"Dek kenalin ini pacar kakak namanya hansol"
Nawa tersenyum ke arah hansol yang duduk di hadapan kakaknya.
"Kenalin saya hansol pacar sophia" hansol mengulurkan tanganya.
"Aku nawa adik kak sophia"
"Wah cantik ya adik kamu, gak kalah sama kakaknya" ujar hansol.
"Hehehe makasih kakak ipar"
"Yasudah kalian makan, aku udah pesenin" ujar hansol.
"Nanti kita kepemakamana ayah, hansol kamu ikut ya" ujar sophia.
"Iya aku ikut, sekalian mau minta restu"
Nawa tersenyum senang saat melihat hansol dan kakaknya mereka sangat serasi.
'semoga kakak bahagia sama kak hansol'
"Kak" panggil nawa .
"Kenapa?" Ujar sophia di sela mengunyahnya.
"Tadi malam pas nawa ketemu sama mama-
"Kakak udah tau" potong sophia.
"mamah telfon kakak, dia juga marah karna sikap kamu"
"Maafin nawa ya kak"
Sophia mengelus surai adiknya "gak usah di fikirin, kakak juga gak setuju sama kaya kamu yang gak setuju" sophia tersenyum ke arah nawa.
__ADS_1
Mereka melanjutkan makan siang dengan damai, hanya sesekali nawa dan sophia tertawa karena lelucon dari hansol.
Setelah selesai makan siang mereka bertiga menuju pemakaman di mana ayah mereka berada.