
(sedikit pengumuman part ini sedikit panjang, jadiiii silahkan menikmati semoga kalian bisa terhanyut di dalamnya)
tak terasa seminggu sudah nawa lalui di tanah kelahiranya, besok sore ia harus terbang kembali ke indonesia.
"udah beres beresnya?" tanya kakaknya pada nawa yang tengah duduk menonton tv dengan di temani setoples cemilan yang nawa peluk dari tadi.
"udah" jawab nawa namun fokusnya masih pada layar persegi panjang yang menyiarkan acara kesukaanya.
"ini udah malem tidur sana" sophia ikut duduk bergabung dengan adiknya.
"masih jam delapan kak"
"adek bisa gak, pulangnya tunggu kakak sama kak hansol udah nikah"
nawa menoleh ke arah kakaknya "kak aku kan kuliah"
"kuliahnya pindah ya ke LA" ujar kakaknya meminta.
"gak bisa, nawa sebentar lagi skripsi"
"yaudah kalo gak mau pindah kamu di sini dulu sampai kakak nikah sama kak hansol"
"kakak nikahnya masih lama"
"satu bulan gak lama dek"
"tapi nawa udah kangen jeje"
"kamu sebenernya mau kuliah atau ketemu jeje"
"ketemu jeje" jawabnya di akhiri cengiranya "nawa tuh mau mengejar cinta"
"fokus kuliah dek, abis lulus terserah deh mau ngejar jeje atau apapun itu terserah kamu"
"tapi nawa pengin kejar sekarang keburu di rebut orang nanti"
kakaknya hanya dapat menghela nafas "dek jangan dulu pulang ya"
"gak bisa, nawa udah rindu banget sama jeje"
sophia menatap adiknya datar "mikirin jeje mulu, mikirin kakaknya kapan"
"kan udah ada yang mikirin kak sophia tiap hari, buat apa nawa mikirin kakak"
"kakak gak izinin kamu pulang" sophia beranjak dari duduknya.
"terserah kakak, nawa tetep mau pulang, karena rasa rindu nawa ke jeje tak bisa di hindarkan"
"terserah kamu, kalo mau pulang silahkan, gak usah pamitan sama kakak" sophia berjalan meninggalkan adiknya.
"cieee ngambek"
...****************...
nawa tengah rebahan di kasur empuknya.
VERAaaaa😗
nawa
apakabar?
^^^baik^^^
lo kapan pulang
^^^besok^^^
oleh oleh
jangan lupa😁
^^^tenang aja^^^
lo udah denger
kabar belum?
^^^kabar apaan?^^^
jeje ke rumah lo
^^^masa^^^
bi titi yang bilang,
katanya mau minta maaf sama lo
tapi lo udah pergi
^^^jeje minta^^^
^^^maaf ke gue?^^^
iya.
na lo beneran
pulang besok kan?
^^^iya, tapi gue di larang^^^
^^^pulang sama kakak gue^^^
mungkin dia
masih kangen
^^^tapi gue udah rindu^^^
^^^banget sama jeje,^^^
^^^lagian gue cutinya^^^
^^^cuma satu minggu^^^
tapi kakak lo kasian tau,
dia kan mau nikah sebentar lagi,
mungkin dia mau punya lebih
banyak waktu buat lo,
sebelum dia sibuk sama suaminya.
^^^iya juga sih^^^
jadiiii besok pulang gak?
^^^pulang😁^^^
^^^gue udah kangen sama jeje^^^
jaga diri lo,
gue lagi sibuk udah dulu ya bye
^^^bye^^^
dddrrrt dddrrt
"bunda titi" lirih nawa saat bi titi menelfonya.
"assalamualakum bunda"
"waalaikumusalam"
"bunda apakabar, nawa kangen"
"bunda baik, bunda juga kangen"
"bunda, nawa besok pulang"
"hati hati ya di jalan, bunda tunggu di sini"
"tapi nawa gak di bolehin sama kak sophia"
"loh, kenapa gak boleh?"
"katanya tunggu kak sophia nikah dulu sama kak hansol, masalahnya nawa udah kangen sama jeje"
terdengar bi titi menghela nafasnya dari sebrang sana.
"kamu gak kasian sama kakak kamu, dia masih kangen sama kamu, bunda mintaa kamu tinggal di situ sampai kakak kamu nikah"
"tapi kak sophia masih lama nikahnya"
"turutin bunda sayang"
nawa mengerucutkan bibirnya
"tapi nawa kangen jeje"
"kamu lebih pentingin jeje dari pada kakak kamu?"
"bundaaaaaa"
"lupain jeje"
nawa tertegun atas perkataan bi titi
"maksud bunda apa?"
"lupain jeje"
"kok bunda ngomong gitu"
"bunda gak setuju kamu sama jeje"
"kok bunda gitu, bunda kan selalu dukung nawa sama jeje tapi sekarang-"
"bunda minta kamu lupain jeje, anggep dia sebagai teman"
"nawa gak suka kalo bunda ngomong gitu"
"jeje udah bahagia sama chindi, kamu jangan ganggu dia, apalagi sampai usik hubungan orang lain, masih ada banyak laki laki, contohnya adit"
"nawa gak suka sama adit ,nawa suka sama jeje"
"tapi jeje gak suka sama nawa, bunda ingetin ke kamu, jangan mengejar ngejar orang yang belum tentu suka sama kamu, kamu sesekali harus noleh ke belakang ada orang yang tulus nungguin kamu"
"nawa gak mau bahas ini"
"kamu di situ aja, gak usah pulang temani kakak kamu"
"nawa gak mau"
"turuti bunda"
"gak mau, nawa tetep mau pulang, terserah bunda kalo bunda ngelarang nawa pulang nawa tetep mau pulang"
"kamu gak mau nurut sama bunda?"
"gak"
nawa melempar ponselnya
"nyebelin" lirih nawa "nawa gak peduli, nawa besok harus pulang, nawa gak akan biarin chindi deket deket sama jeje"
dddrrt ddrrt
nawa melirik ponselnya yang kembali bergetar, tertera nama bundanya di sana.
"nawa lagi marah sama bunda" nawa membiarkan ponselnya yang terus bergetar, ia memilih menyamankan posisi tidurnya.
nawa perlahan menutup matanya untuk menuju alam mimpinya
selamat malam...
siang hari yang cukup terik, nawa kini tengah duduk di balkon kamarnya, menikmati jam jam terakhir ia berada di tanah kelahiranya, semuanya sudah siap ia tinggal berangkat kebandara nanti sore.
"aku mau ke pemakaman papa dulu, kalo nunggu nanti takut udah ke sorean" lirihnya.
stif yang tengah melilin lengan kemejanya di kejutkan oleh nawa yang tiba tiba berada di sebelahnya.
"selamat siang nyonya muda" ujar stif.
"siang"
__ADS_1
"ada yang bisa saya bantu"
"anterin gue kepemakaman, lo yang setirin, cuma lo sama gue"
"ber dua?" nawa menganggukinya.
"cepet gue tunggu di luar" nawa melangkah meninggalkan stif yang masih diam.
...****************...
banyak memori yang sulit di lupakan, banyak memori yang penuh dengan kenangan, dan banyak memori yang ingin di singkirkan namun memori itu sulit atau enggan untuk di lupakan.
bercerita tentang memori, seribu satu memori bahkan lebih dari itu yang ingin nawa lupakan.
nawa si gadis manis yang selalu mengukirkan senyumanya, kini di siang yang cukup terik ini tengah menangis sambil memeluk makam ayahnya.
"papa nawa mau ikut papa" lirihnya yang tengah berjongkok di sebelah makam ayahnya.
"dada nawa sakit, papaaa hiks"
stif tak tega melihat itu, stif melangkah mendekati nawa.
"nyonya jangan seperti ini, ayo berdiri, kasihan papa nyonya kalau nyonya seperti ini"
"kamu gak tau apa yang gue rasain!" teriak nawa sambil menjauhkan tangan stif yang berada di pundaknya.
"gue cape, stif gue cape!"
"lupain perkataan nyonya devia"
"stif, apa bener apa yang mama bilang?" stif menunduk bingung mau menjawab apa, pasalnya ia tidak tau apa apa.
flashback
nawa yang membuka pintu mobil hendak menuju pemakaman terhenti karena tangan mamanya kembali menutup pintu mobilnya.
nawa menoleh ke arah mamanya, nawa dapat menyium bau alkohol yang menyengat dari ibunya.
"ma-"
"anak sialan!"
plak
tampar devia pada anaknya itu.
nawa terkejut apa yang telah ibunya lakukan.
"enyah kamu dari dunia ini!jangan berani berani menampakan wajah mu itu!"
para pelayan yang mendengarnya sontak saja kaget, bahkan mereka ada yang diam diam mengintip dari jendela.
nawa bingung apa yang sebenarnya terjadi, kenapa ibunya menamparnya.
"mama cape!" teriak devia.
"ma, nawa salah apa?" tanya nawa.
ibunya tersenyum dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
"kurang baik apa selama ini mama sama kamu, kamu selalu menghancurkan hidup mama, membuat mama marah setiap hari, kamu pikir selama ini mama bahagia, bahagia karena papa kamu meninggal!"
"mama menderita, mama berusaha cari kebahagian mama kembali di luar sana, mama berusaha cari pengganti papa kamu tapi gak ada yang bisa gantiin posisi papa kamu"
"ini semua salah kamu, papa kamu meninggal salah kamu!"
nawa terdiam mencerna apa yang ibunya katakan.
"papa kamu" tunjuk devia pada anaknya "papa kamu kecelakaan mobil karena kamu, kalau dulu ayah kamu gak ngotot mau ke indonesia ketemu kamu, dia gak bakal tinggalin mama"
devia menjatuhkan dirinya, ia menangis.
"nyonya" panggil stif namun tak di hiraukan nawa.
"kamu kira selama ini mama bahagia sama jeson, kamu salah, mama udah berusaha mengakhiri hidup mama karena kehilangan papa kamu, mama berusaha suka sama jeson tapi mama gak bisa"
"mama cape pura pura bahagia, gak semudah itu nawa!, gak semudah itu ngelupain papa kamu, terlalu banyak memori kita berdua, gak semudah itu mama lupain ayah kamu"
"kamu pikir kamu yang paling menderita karna papa kamu pergi! disini mama, mama yang paling menderita!"
"papa" lirih nawa.
devia kembali berdiri "mama udah cape, mama benci sama kamu, gak usah tampakin muka kamu lagi, kamu bukan anak mama lagi" devia melangkah meninggalkan nawa, namun baru selangkah devia kembali bersuara.
"kamu bisa kembaliin suami saya?" tanya devia pada anaknya "kalo gak bisa, biarin saya berusaha lupain suami saya, dengan cara kamu jangan tampakin diri kamu lagi, kalo kamu selalu hadir seperti ini, memori tentang ayah kamu selalu menghantui saya, paham" devia kembali melanjutkan jalanya.
nawa masih diam, ia bingung harus seperti apa sekarang.
"nyonya" panggil stif.
nawa melirik ke arah stif "papa meninggal karna nawa" lirih nawa.
stif mendekat ke arah nawa, ia memeluk nawa menenangkan majikanya itu.
"stif, papa meninggal karena nawa" untuk pertama kalianya nawa kembali mengeluarkan air matanya, setelah bertahun tahun nawa berjanji pada ayahnya untuk tidak menangis.
flashback off
stif kembali merengkuh tubuh nawa.
"gue harus gimana sekarang" lirih nawa.
"mama marah selama ini sama gue, gue harus gimana?"
"nyonya muda, saya siap menemani nyonya kemana pun itu"
nawa mendongak menatap stif "makasih selama ini udah jagain gue" stif tersenyum karena ucapan nawa.
"apa kak sophia tau tentang ini" lirihnya lalu ia merogoh sakunya untuk mencari kontak kakaknya.
nawa berusaha menelfon kakaknya namun tak kunjung kakaknya balas.
nawa melihat jam tanganya "kakak masih di kantor"
"nyonya muda mau ke kantor?" nawa mengangguk atas pertanyaan stif.
mereka pun bergegas menuju kantor sophia.
"hiks"
tak pernah stif melihat nawa seperti ini, kemana senyuman nawa sekarang?
...****************...
nawa dan stif kini tengah menaiki lift menuju ruangan sophia, sedari tadi nawa mengacuhkan kariawan yang menyapanya saat berpapasan denganya.
nawa melamun, entah apa yang ia fikirkan sekarang.
"nyonya muda ayo kita turun"
nawa tersadar dari lamunanya, tanpa menjawab stif ia berjalan meninggalkanya.
tanpa mengetok pintu nawa langsung membuka pintu ruangan kakaknya.
sophia yang tengah berbicara dengan kariawanya terhenti saat mendengar suara pintu terbuka.
"nawa" sophia berdiri dari duduknya, ia menatap adiknya yang cukup berantakan.
"kita lanjutkan nanti" kata sophia pada kariawanya.
"kalau begitu saya permisi"
seperginya kariawan itu, nawa berlari dan langsung memeluk kakaknya.
sophia menatap stif meminta penjelasan, tapi stif bingung untuk menjelaskanya.
"kak" lirih nawa.
"iya, kamu kenapa?" sophia menatap wajah adiknya yang sembab.
"emang bener yang mama bilang?"
"mama bilang apa?"
"papa meninggal karena aku"
sophia terkejut mendengarnya.
"dek, papa meninggal bukan salah siapa siapa, itu udah takdir"
"tapi mama-
"stop, mama pasti asal bicara, kamu ngapain nangis"
"tapi"
"kita pulang, jangan mikirin yang aneh aneh" sophia menuntun adiknya untuk pulang.
"stif tolong bawain tas saya" ujar sophia, sophia keluar ruangan dengan merangkul adiknya.
"dek jangan di fikirin" sophia mengelus rambut nawa.
'papa meninggal karna aku'
'aku yang menyebabkan papa meninggal tapi setelah papa pergi aku yang paling gerasain ke hilangan'
sophia masih setia berangkul nawa, sampai mereka kini sudah berada di parkiran.
"stif kamu bawa mobil nawa, biar nawa sama saya"
"nyonya sophia yang menyetir?"
"tidak, di dalam ada pak supir"
"baik nyonya"
"hati hati di jalan"
nawa dan sophia pun kini masuk ke dalam mobil.
'kenapa selama ini aku nganggep mama gak peduli sama papa, mama gak terlalu memikirkan kepergianya papa'
'ternyata mama yang lebih menderita karena nawa'
'papa maafin nawa'
"hiks"
sophia menoleh ke arah nawa saat mendengar isakanya "nawa jangan nangis, kakak nanti ikut nangis"
...****************...
"selamat datang" para pelayan membungkuk saat melihat sophia dan nawa yang baru pulang.
"mau ke kamar kakak?" tawar sophia dan nawa menganggukinya.
"kak" panggil nawa.
"kenapa?"
"papa meninggal karena mau temuin nawa?" tanya nawa.
sophia mengelus pipi adiknya "papa waktu itu mau ke bandara, mama sama kakak udah ngelarang karena kondisi papa kamu saat itu sedang sakit, gak tau kenapa mobil yang di bawa supir kita mengalami kecelakaan saat di jalan"
"tapi kenapa kakak bilang sama aku kalau papa meninggal karena sakit, gak bilang kalau meninggal karena mau temuin nawa"
sophia hanya menunduk karena ucapan adiknya.
nawa mengusap air matanya, setelah itu ia berjalan meninggalkan kakaknya.
"nawa" panggil sophia sambil mengikuti adinya.
"kak, nawa mau pergi nawa mau ketemu bunda" ujarnya sambil masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil kopernya.
"keadaan kamu lagi kaya gini, kakak gak izinin kamu" cegah sophia.
tanpa menghiraukan sophia nawa memilih pergi, ia hanya ingin menenangkan diri.
dengan tergesa gesa, nawa menarik koper meninggalkan rumah itu.
"nyonya muda mau kemana?" tanya tom.
nawa menoleh ke arah tom "gue mau pulang, makasih udah mau jagain gue selama di sini"
nawa berjalan.
"nawa dengerin kakak!" teriak sophia.
nawa tak menghiraukan ia terus melanjutkan jalanya.
__ADS_1
...****************...
"kurang baik apa selama ini mama sama kamu, kamu selalu menghancurkan hidup mama, membuat mama marah setiap hari, kamu pikir selama ini mama bahagia, bahagia karena papa kamu meninggal!"
"mama menderita, mama berusaha cari kebahagian mama di luar sana, mama berusaha cari pengganti papa kamu tapi gak ada yang bisa gantiin posisi papa kamu"
"ini semua salah kamu, papa kamu meninggal salah kamu!"
"papa kamu kecelakaan mobil karena kamu, kalau dulu ayah kamu gak ngotot mau ke indonesia ketemu kamu, dia gak bakal tinggalin mama"
"maafin nawa mah" lirih nawa.
kini sudah malam, para penumpang pesawat pun sudah memasuki alam mimpinya namun berbeda dengan nawa, ia masih memikirkan kejadian tadi siang.
"papa, papa bisa bawa nawa, nawa pengin ikut sama papa" lirihnya sambil menyandarkan kepalanya
"nawa minta maaf" ucap nawa sambil memejamkan matanya "nawa minta maaf"
tak ada senyum, tak ada kegembiraan, tidak ada nawa yang ceria seperti biasanya.
nawa yang dingin, nawa pendiam itulah yang ada sekarang.
nawa menarik kopernya entah ke mana, setelah sampai di indonesia nawa memilih pergi tanpa tujuan.
nawa menatap kosong kedepan, tak menghiraukan orang orang yang memandangnya aneh.
ddrrrt ddrrt
nawa menghela nafasnya lelah, sudah berapa kali ia mendengar ponselnya yang bergetar pagi ini, ia hanya ingin sendiri.
dddrrt ddrrt
baik lah nawa mengalah sekarang, nawa mengambil ponselnya untuk mengetahui siapa yang menelfonya.
"vera" lirih nawa.
nawa mengangkat telfonnya
"halo nawa lo di mana? kakak lo telfon gue katanya lo pulang, kasih tau gue sekarang lo kemana?"
"halo"
"halo nawa, lo denger gak"
tanpa menjawab perkataan vera, nawa langsung mematikan sambunganya.
nawa kembali melanjutkan jalanya.
nawa berhenti di sebuah toko buku, nawa memilih masuk kedalam, entah mengapa ia ingin memasuki toko itu.
cukup banyak orang di dalam yang tengah membeli buku, nawa pun memilih melihat lihat buku di sana.
"permisi ada yang bisa saya bantu?"
nawa menoleh saat ada lelaki yang bertanya padanya.
"mau cari buku apa?" tanya dia.
"eem novel"
"kumpulan novel ada di sebelah sana, yuk ikut saya"
nawa pun mengikuti pria itu "silahkan di pilih" lelaki itu pergi meninggalkan nawa.
nawa menggaruk tengkuknya sendiri, ia bingung dengan buku buku yang ia lihat di hadapanya.
'gue gak tertarik sama novel, tapi kenapa gue kesini '
'tapi apa salahnya gue coba'
...****************...
lelah, nawa seperti orang yang tanpa tujuan, tersesat dan tak tau jalan pulang.
siang yang cukup terik, nawa tidak sanggup untuk berjalan kaki lebih baik ia memesan taxi.
tak menunggu waktu lama satu taxi berhasil nawa dapatkan.
nawa memegang perutnya karena merasa lapar.
"pak berhenti di sini" kata nawa, supir itu pun menghentikan mobilnya.
nawa menatap ke arah pinggir jalan, ia melihat seorang penjual batagor.
"ini pak uangnya, makasih"
nawa turun dari dalam mobil, pak supir itu pun ikut turun untuk mengambil koper nawa.
"ini kopernya"
"makasih"
setelah itu nawa berjalan menghampiri penjual batagor itu.
"permisi pak pesen satu" kata nawa.
"mau makan di sini atau di bungkus"
"makan sini"
"tunggu sebentar ya" nawa menganggukinya sebagai jawaban.
"pak batagor dua"
nawa menoleh ke arah pembeli yang baru memesan.
"jeje" lirih nawa, ia beranjak dari duduknya.
"jeje!" teriak nawa.
bukan, bukan pada pelanggan tadi melainkan pada jeje yang baru saja melintas.
"pak batagornya gak jadi" nawa meletakan uang dua puluh ribu lalu ia berlari mengejar jeje dengan menyeret kopernya.
"jeje tungguin nawa" nawa berlari mengejar jeje.
" jeje!" jeje menoleh ke arah nawa.
"tungguin nawa!" jeje hanya menyunggingkan senyumanya, lalu kembali berjalan.
"jeje! nawa kangen sama jeje!"
teriakan nawa membuat langkah jeje terhenti, jeje membalikan tubuhnya lalu berjalan menghampiri nawa.
"gak bakal ada sejarah gue suka sama lo, gak usah kejar gue lagi"
jeje membalikan tubuhnya lalu kembali melanjutkan jalanya, nawa menatap punggung jeje yang semakin menjauh.
nawa berjalan pelan menyusuri trotoar, ia memilih mengikuti jeje dari ke jauhan.
'kenapa gue ikutin jeje?'
nawa terus memperhatikan jeje, hingga nawa memilih berhenti dari langkahnya saat jeje pria yang dia cintai menghampiri chindi dan memeluknya dengan erat.
nawa terus memperhatikan interaksi mereka, hingga jeje memilih menggandeng tangan chindi untuk menyebrang.
"jeje!" panggil nawa
nawa melihat ke kanan dan kiri, nawa ingin mengejar jeje.
"jeje!"
"jeje, berhenti sebentar!"
jeje hanya menoleh sekilas ke arah nawa lalu kembali melanjutkan jalanya.
'segitunya jeje sama nawa, apa nawa meyedihkan dan buruk di mata jeje, jeje udah berubah, apa nawa terlalu jelek buat jeje?'
nawa memperhatikan jeje dan chindi yang tengah tertawa di sebrang jalan (sakit ya naaaa😢).
"gue bukan nawa yang gampang nyerah , karna jeje cuma buat nawa" nawa pengempalkan tanganya, tanpa memperhatikan jalan nawa melangkah untuk menyusul jeje.
NAWA POV
'gue bukan nawa yang lemah, enak aja mau rebut jeje dari gue'
'awas aja lo, siap siap gue bogem lo, berani banget pegang tangang calon imam gue'
"jeje!"
"jeje, naw-"
BRAK
serangan, tembakan, guncangan, terpeleset ataaaauu tabrakan?
kenapa koper gue kelempar?
kenapa gue susah nafas?
nawa kenapa?
kenapa banyak orang?
jeje tolongin nawa?
kepala nawa sakit, kenapa mereka bergerombol, jeje tolongin nawa, kenapa tangan nawa berdarah.
jeje tolongin nawa, nawa gak mau tidur di sini, tapi nawa susah nafas.
jeje tolongin nawa
AUTHOR POV
nawa terlempar cukup jauh saat dirinya tertabrak oleh mobil yang tengah melaju dengan cepat.
nawa yang tidak memperhatikan jalan, dan pengendara itu yang tengah mabuk membuat kecelakaan itu terjadi.
semakin lama semakin banyak orang yang mengerumuni tempat kejadian.
tak lama mobil ambulance datang untuk segera menbawa nawa ke rumah sakit.
dengan membelah ke rumunan, nawa berhasil di pindahkan ke dalam mobil dengan kondisi yang tidak sadar.
mobil ambulance berjalan dengan cepat agar nawa dapat di tangani dengan cepat.
"kondisi pasien semakin memburuk" ujar salah satu suster.
tak lama setelahnya ambulance itu memasuki area rumah sakit, nawa di turunkan dengan segera.
"cepat" ujar salah satu dokter.
setelah masuk ke dalam ruangan yang serba putih, nawa pun molai di tangani.
'jangan dulu ambil nawa, nawa masih ingin mengejar jeje'
'tapi kalau nantinya jeje bukan buat nawa, jeje berjodoh sama yang lain, ambil nyawa nawa sekarang'
"dok denyut jantung pasien melemah" ujar salah satu suster.
dokter pun segera menggunakan AED untuk menstabilkan denyut jantung nawa.
'kalau pun perjuangan nawa sampai di sini, nawa mohon jeje selalu inget sama nawa'
"satu dua tiga" ujar dokter yang sedang berusaha menyelamatkan nawa.
'kalau nawa pergi, nawa mohon kalian semua bahagia tanpa nawa...'
"satu dua tiga"
'nawa pengin ketemu papa, apa ini saatnya?'
'buat yang udah mau temenin nawa, nawa mengucapkan terima kasih, dan nawa berharap di kehidupan berikutnya nawa pengin di lahirkan kembali dan berjodoh dengan anak dari jeje '
"satu dua tiga"
'buat semuanyaaa selamat tinggal'
jam masih menunjukan jam dua siang, namun perjuangan nawa, senyuman nawa harus terbenam sekarang.
gadis cantik itu memilih menemui ayahnya dari pada melanjutkan perjuanganya untuk mengejar cinta.
setetes air mata perpisahan keluar dari kelopak mata nawa yang sudah tertutup sempurna, akankah ada yang rindu dengan nawa nantinya, saat dia sudah tidak ada?
disini akhir perjuangan nawaa buat semuanya sampai jumpa...
TAMAT GAK YAH?
TAMAT AJA DEH😁
__ADS_1
menurut kalian gimana?, seru gak, ceritanya tamatin jangan?