
hari ini jadwal nawa untuk kuliah siang, dan tadi pagi ia sudah mendaftarkan sinta di salah satu SMA yang sinta inginkan.
ia juga sudah mencari informasi, tentang tanah yang harus ia beli untuk membangun sebuah toko bunga, seperti yang ia inginkan.
nawa kini tengah duduk di dalam kelas yang masih kosong, di tatapnya jendela di sebelahnya, ia menatap keluar menatap para mahasiswa maupun siswi yang tengah berjalan.
namun fokusnya masih pada kejadian kemarin sore.
"gak mungkin kan kalau dia-
"DOR!"
"ayam" nawa mengelus dadanya, ia di kagetkan oleh vera.
"hahahaha muka lo konyol banget sumpah hahaha" tawa vera "lo kenapa sih fokus banget natap keluar jendela" vera mengambil duduk di sebelah nawa.
"gue mau cerita sesuatu sama lo tapi lo bakal percaya gak?"
"tentang apa dulu"
nawa mendekatkan tubuhnya pada vera "jadi kemarin sore itu, gue liat seseorang dalam mobil pas di lampu merah" ujar nawa memolai ceritanya dengan suara pelan agar tidak ada yang mendengarnya.
"terus?"
"gue kaget, antara percaya atau enggaknya"
"lo kaget cuma karna liat orang di dalam mobil" heran vera.
"bukan gitu, dengerin dulu"
"oke lanjutkan"
"dan di dalam mobil itu seorang om om lagi di kursi pengemudi, karna dia yang jalanin mobil itu"
"sumpah na, demi apapun lama lama males gue denger cerita lo"
"mau lanjut gak, enggak ya gak papa" nawa menyenderkan tubuhnya.
"lanjut cepetan"
"dan ada satu cewek yang duduk di sebelah om om itu, entah itu keberuntungan, kesialan, atau bonus buat gue yang nanti pada akhirnya mata gue kotor dan aku merasa sangat berdosa" nawa mengucapkanya dengan penuh penghayatan dan itu membuat vera sedikit menganggap temanya itu gila.
"lo tau gak setelah itu!!" vera tersentak karena nawa tiba tiba menghadap ke arahnya dan memegang kedua lengan nya itu "mereka berbuat..."
vera mengernyit bingung pada nawa yang tengah memonyongkan bibirnya "ehh mau apa lo?" tanya vera sedikit panik.
"ya gitu, si om itu nyium cewek itu"
vera menghela nafasnya lalu melepaskan tangan nawa yang masih memegang lenganya.
"mungkin istrinya" ujar vera sambil membuka laptop nya.
"masa istrinya masih muda"
"namanya aja cinta"
"gak mungkin"
vera menatap nawa "lo yakin?"
"yakin banget 90%"
" 10% lo kemanain dan kenapa lo sangat yakin?" vera melipat tanganya di depan dada.
"yang 10% gue sedikit percaya sama lo tapi gue yakin tuh cewek pacarnya om itu"
"masa?"
"karnaaaa" nawa membisikan sesuatu pada vera "si ceweknya itu chindi"
vera membulatkan matanya tak percaya "jangan ngaco lo, dia kaya anak baik baik"
__ADS_1
"jangan liat depanya doang"
"jangan fitnah dosa tau"
"ver, gue sempet ikutin tuh mobil, dan berhenti di depan rumah, kayaknya rumah si chindi, si om om itu juga bukain pintu mobil buat chindi"
"lo mau kasih tau jeje soal ini?"
"gue sih penginya gitu, tapi gue butuh bukti"
"terus lo mau jadi detektif gitu?"
"boleh juga ide lo, gimana kalau pulang sekolah nanti, kita mata matain tuh si chindi"
"maaf gue angkat tangan, mending lo aja yang jadi detektif gue mau mengasuh aja"
"mengasuh?"
"mengasuh suami bocil gue"
"oke okeeee"
...****************...
dengan kacamata hitam yang tertengger di hidungnya nawa menatap setiap mahasiswi yang lewat di hadapanya.
nawa tengah berada di dalam mobilnya, ia berencana menjalankan ide dari vera untuk menjadi detektif.
nawa mengembangkan senyumnya saat melihat targetnya tengah berjalan keluar gedung universitas.
chindi memasuki mobil, dapat di pastikan itu mobil milik jeje, nawa iri ia juga ingin merasakan di perhatikan oleh jeje.
(suatu saat nanti ya nawa)
nawa mengikuti mobil jeje, dengan jarak yang tidak terlaku dekat dengan mobil jeje, nawa terus memfokuskan tatapanya pada mobil itu.
hingga setelah beberapa menit berlalu mobil jeje berhenti di sebuah rumah.
nawa memperhatikan chindi yang melambaikan tanganya pada mobil jeje yang menjauh.
"jadi ini beneran rumah chindi" lirih nawa.
ddrrt ddrrt
fokus nawa teralihkan pada benda pipih yang berada di sebelahnya.
dilihatnya layar ponsel itu dan tertera nama vera.
"napa lo telfon gue ver?"
"gimana rencana lo ngikutin chindi?"
"ini gue lagi di deket rumah chindi, tadi jeje abis nganterin dia"
"terus sekarang lo mau apa?"
"hhmm gak tau, tapi si chindi masih di depan rumah, dia kayak lagi nelfon seseorang"
"owwh, pantau terus gue tunggu kabar selanjutnya"
nawa langsung mematikan sambungan telfon saat melihat mobil putih yang kemarin ia ikuti kini berhenti di depan chindi.
"itu mobil kemarin" lirih nawa.
dan keluar lah si om om dengan jas hitamnya, tersentum ke arah chindi dan di balas pula senyuman itu oleh chindi.
di usak nya rambut chindi, lalu om om itu menuntun chindi masuk ke dalam mobilnya.
saat mobil putih itu melaju, tanpa menunggu lagi nawa langsung menjalankan mobilnya mengikuti mobil itu pergi.
...****************...
__ADS_1
tok tok tok
"siapa?"
"mama"
jeje bangun dari rebahanya saat pintu kamarnya di ketuk oleh sang ibu.
"kenapa mah?" tanya jeje saat membuka pintu kamar.
"kamu ke minimarket sana" suruh ibunya "nih mama udah catat semua yang harus kamu beli" ibunya memberikan selembar kertas padanya.
"kenapa gak suruh bibi aja" kata jeje malas sambil mengambil kertas itu.
"bibi lagi masak nanti malem ada tamu papa kamu"
"kenapa gak mama aja yang belanja?"
"sibuk, udah sana"
jeje mendengus lalu ia memasuki kamarnya untuk mengambil kunci mobil.
"masa belanja sendirian" lirih jeje "coba minta di temenin chindi"
jeje menelfon chindi dan tanpa menunggu lama telfon itu langsung di angkat.
" kenapa je?"
"aku di suruh mama aku belanja, kamu bisa temenin aku?"
"emm maaf je aku juga ada acara harus pergi"
"jadi gak bisa ya" ujar jeje dengan nada sedihnya.
"maaf ya jeee"
"yaudah gak papa aku sendiri aja, kamu juga hati hati kalau mau pergi"
"kamu juga, udah dulu ya aku udah di jemput"
"yaudah, dada"
...****************...
nawa menatap sebuah mall di depanya, ia melangkah masuk kedalam mall masih dengan kacamata hitamnya.
ia terus berjalan mengikuti chindi dan om om itu, nawa melihat keduanya saling mengobrol dan bercanda.
"sungguh patut di curigakan" lirih nawa yang tengah bersembunyi di balik salah satu pakaian.
nawa selalu mengikuti chindi, ke mall, restoran, salonke cantikan, toko bunga dan berakhir kini di sebuah taman.
nawa lelah, lapar, gerah namun semangatnya untuk menjadi detektif tidak bisa menghalangi apapun itu.
ddrrt ddrrt
fokus nawa teralihkan karna bunyi ponselnya, tanpa melihat nama sang penelfon nawa langsung mengangatnya.
"halo"
"nawa kamu di mana, ini udah sore"
dapat nawa pastikan itu bundanya yang menelfon.
"nawa bentar lagi pulang, nawa ada urusan"
"cepetan pulang, kamu jangan kebanyakan main"
nawa menghela nafasnya "iya iya nawa pulang"
"bunda tunggu"
__ADS_1
nawa memutar bola matanya malas, nawa menatap kembali chindi "besok gue lanjut jadi detektif, sampai besok chindi"