
"lo gue cariin di kampus kok gak ada" ujar seorang pria datang pada nawa sambil merangkul pundaknya.
"gue pulang siang"
nawa yang tengah berada di minimarket dekat rumahnya tiba tiba di hampiri oleh adit, dan tanpa permisi langsung merangkulnya.
"kenapa lo cariin gue?" tanya nawa sambil meletakan belajaanya di kasir.
"ikut gue ke rumah, bunda pengin ketemu katanya sama lo"
"besok aja ya, gue lagi males pengin di rumah aja"
"yaudah deh, tapi boleh dong gue mampir ke rumah lo"
"boleh"
"asik"
"lo gak kerumah jeje?"
"gue tuh punya temen bukan hanya jeje, bosen gue kerumah dia mulu, sekali kali kerumah lo boleh lah ngapelin temen bentar"
"ngapelin temen kepala lo mendoan"
...****************...
nawa dan adit pun berjalan beriringan menuju rumah nawa dengan mengobrol di sepanjang jalan.
"na gue boleh nanya gak?"
"silahkan"
"lo beneran suka sama jeje"
"beneran lah, gue bahkan udah berencana menjalin hubungan dengan jeje sampai tua sampai gue sama dia jadi kakek dan nenek punya banyak anak yang imut dan-
"stop, jangan halu"
"apaan sih lo, gue gak halu tau"
"iya iya serah lo"
"tapi dit" nawa menghentikan jalanya dan otomatis adit yang berada di sebelahnya pun ikut berhenti.
"tapi apa?"
"gue tau sekarang jeje gak suka sama gue, dan gue yakin suatu saat nanti jeje bakal noleh ke arah gue dan bakal bilang cinta sama gue" nawa menatap ke arah adit sambil tersenyum.
"lo mau kan bantuin gue, biar jeje suka sama gue?" lanjut nawa, ia kembali melanjutkan jalanya.
adit menatap nawa sambil berfikir "eemmm oke gue bantu, tapi kalau nanti jeje tetep gak suka sama lo, lo jangan nangis" adit menepuk pundak nawa pelan.
"lo liat aja nanti, sampai kapan jeje bakal nolak gue, gue jamin dia bakal nerima gue. Suatu saat nanti"
"na masuk gih" suruh adit pasalnya mereka sudah berada di gerbang rumah nawa yang cukup tinggi.
"lo duluan gih"
"lo kan tuan rumah"
"ribet lo, lo yang teken tuh tombol gak tau apa gue susah bawa belanjaan lo juga gak peka banget jadi cowok bukanya gue di bantuin bawa barang malah diemmmmm aja diem" omel nawa tanpa titik maupun koma.
"lo gak minta di bawaan ya gue diem aja" jawab adit.
" udah cepetan teken tuh tombol"
adit mendenggus ia pun akhirnya menuruti perkataan nawa.
"bundaaaaaa" seru nawa saat memasuki rumahnya.
"bunda" panggilnya lagi sambil meletakan belanjaanya di atas meja ruang tamu.
"eh udah pulang" bi titi yang tengah berada di dapur pun langsung pergi menghampiri nawa saat mendengar suaranya.
__ADS_1
"bunda lagi apa?"
"masak"
"wah bunda masak apa bun?" bukan nawa yang bertanya namun adit yang tengah berjalan menghampiri bi titi dan nawa.
"ya ampun den adit lama gak ketemu, tambah ganteng sekarang"
adit yang di puji hanya tersenyum memperlihatkan deretan giginya.
"bibi apakabar?"
"baik"
"bi adit laper" rengek adit, nawa yang melihatnya hanya dapat menatap adit jengah.
"hehehe nanti ya, bunda masak dulu"
"jangan kelamaan ya bi" bi titi hanya mengangguk sebagai jawaban, kemudian bi titi pun berpamitan untuk melanjutkan kegiatan memasaknya yang tertunda.
"ini gak di bawa?" tanya adit pada nawa sambil menunjukan belanjaan tadi.
"oh iya"
"biar gue aja" ujar adit.
nawa yang melihat adit sudah melenggang pergi ke dapur pun memutuskan untuk mengganti bajunya sebentar dan kemudian akan turun ke bawah menemui adit dan bundanya.
"ini di letakin di mana?" tanya adit.
"yaampun ngrepotin" bi titi menoleh ke arah adit "sini biar bibi aja" bi titi mengambil belanjaan di tangan adit.
"gak papa, cuma bawain ini gak ngrepotin"
"makasih yah" ujar bi titi.
"sama sama"
"den adit duduk aja dulu"
"silahkan"
baru saja adit melangkah tiba tiba ponselnya bergetar.
"napa do" tanya adit saat mengangkat telfon dari dodo.
"ada peningkatan!" teriaknya hingga adit menjauhkan telfonya dari telinga.
"peningkatan apa?"
"lo tebak dong siapa yang baru aja mengungkapkan perasaanya"
"siapa?"
"jeje!!, kawan kita sudah besar dia mengungkapkan perasaanya pada chindi" heboh dodo.
"apa!"
adit mengerjapkan matanya tak percaya, bagaimana mungkin jeje secepat itu mencintai seorang wanita?
"lo bohongin gue, dimana lo sekarang, gue gibeng lo kalo bohongin gue"
"lo dateng ke cafe yang biasa kita tongkrongan"
"oke" adit menyimpan ponselnya di saku, adit pun berbalik.
"siapa?"
"eh kaget" adit mengelus dadanya karena tiba tiba nawa berada di belajangnya "ngapain sih di belakang gue"
"masalah?"
"terserah lo deh, gue mau pulang" adit berjalan meninggalkan nawa.
__ADS_1
"pulang?yang bener lo mau ke mana?" kejar nawa.
"cafe"
"ikut"
adit berbalik menghadap nawa "tadi gue ajak ke rumah bunda gak mau"
"jadi ke kafe gak?" tanya nawa tanpa menjawab pertanyaan adit.
"ayo"
"bunda! nawa sama adit mau ke cafe dulu, nanti bunda sama yang lain kalo mau makan makan dulu aja gak usah tungguin nawa!" teriak nawa.
setelah itu mereka pun berangkat dengan mobil masing masing.
...****************...
"gak bisa" lirih chindi sambil menunduk.
jeje menatap lekat gadit yang duduk di hadapanya, jeje menggenggam ke dua tanganya.
"gak papa kok" jeje tersenyum menatap chindi "yang penting gue tau kalo lo suka sama gue, mungkin suatu saat nanti gue bakal tembak lo lagi"
bukan hanya mengungkapkan rasa tapi jeje juga menembak chindi berharap gadis mandiri itu mau jadi pacarnya, namun jeje ternyata di tolak, bukan karna tidak suka jeje, chindi suka sangan menyukai lelaki itu dari pertama chindi melihat jeje, ia hanya tidak ingin berpacaran karena ia harus fokus dengan kuliah dan pekerjaanya sekarang.
kejadian tadi saat jeje tiba tiba menarik tangan chindi dan mendudukanya di kursi pengunjung cafe, dan dengan lantangnya ia mengungkapkan perasaanya itu tak luput dari tatapan vera, dodo dan beberapa pengunjung di sana.
"itu jeje bukan sih?" lirih dodo masih tak percaya.
"secepat itu dia ngungkapin perasaanya" ujar vera yang tatapanya tak lepas dari kedua manusia itu.
"kalo nawa tau dia ba-" ucapan dodo terhenti saat nawa sudah berada di sebelahnya.
"gue tau apa?" tanya nawa sambil mengambil duduk di sebelah dodo.
"ekhm" vera berdehem, dan nawa pun menoleh ke arah sahabatnya itu "tuh" tunjuk vera dengan dagunya ke arah jeje dan chindi berada.
"jeje" lirih nawa saat melihat jeje "itu siapa?" tunjuknya pada chindi.
"orang yang jeje suka namanya chindi dan dia mahasiswa baru di kampus kita" jawab dodo.
"chindi itu yang suka buat jeje senyum senyum sendiri sama ponselnya ya? mereka udah jadian, atau apa?"
nawa bertanya tanya dalam hatinya.
"yang lo bilang di telfon itu beneran?" tanya adit pada dodo.
"tuh buktinya, baru pertama kali gue liat jeje kaya gitu, bukan hanya mengungkapkan rasa tapi jeje juga udah nembak chindi" seketika nawa menoleh ke arah dodo.
nawa melotot tak percaya, bagaimana kondisi hatinya? tentu saja sakit.
"mereka jadian?" tanya nawa tak percaya.
vera yang melihat raut wajah nawa langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri temanya.
"mereka gak jadian kok" vera tersenyum sambil merangkul temanya.
"maksudnya di tolak?" tanya adit.
"tepat sekali" ujar dodo.
nawa seketika tersenyum "jeje itu emang cuma buat gue" nawa mengibaskan rambutnya.
BRAK
nawa menggebrak mejanya hingga para pengunjung menoleh ke arahnya, tak terkecuali jeje dan chindi.
sedangkan dodo, adit dan vera terjingkat kaget karena ulah nawa yang tiba tiba menggebrak meja.
"JEJE TENANG AJA, GAK PAPA DI TOLAK KAN MASIH ADA PACAR JEJE, NAWA SETIA KOK"
nawa berteriak lantang.
__ADS_1
"LAIN KALI KALO MAU SELINGKUH BILANG BILANG, BIAR NAWA CARIIN YANG LEBIH CANTIK DARI NAWA"
lanjut nawa.