
"nawa tante cariin ternyata di sini"
nawa yang baru keluar dari kamar di kejutkan oleh ibu jeje.
"hehe maaf tante nyariin ya" ujar nawa di akhiri cengiranya.
"yaudah yuk kebawah sama tante" tangan nawa di gapit oleh ibu dari jeje, mereka berjalan beriringan.
nawa tak pernah merasakan ini, entah mengapa ia merasa nyaman, nawa merasa kalau ia mempunya keluarga yang sangat menyayanginya.
'jeje, nawa pinjem ibu jeje sebentar'
mereka berdua berjalan menuju ruang tamu, dapat nawa dengar gelak tawa dari ruang tamu.
"tante nawa takut" nawa menghentikan langkahnya.
"kok takut, takut kenapa?"
"kalo nawa buat malu gimana?" tanya nawa dengan wajah polosnya.
ibu jeje terkekeh "gak akan, udah ayo" mereka kembali berjalan.
"seru sekali sepertinya pembicaraan kalian" ujar ibu jeje lalu ia duduk di sebelah suaminya dan nawa pun ikut duduk bergabung.
"anda membawa siapa, cantik sekali" puji lelaki yang usianya mungkin sama dengan ayah jeje.
"ekhm" ayah jeje berdehem sebelum berbicara "perkenalkan dia calon istri anak saya, namanya nawa"
nawa menoleh ke arah kedua orang tua jeje tak percaya atas apa yang ia dengar.
"oh rupanya calon menantu, anda tak salah memilih calon istri untuk anak mu, dia cantik" pujinya.
"perkenalkan saya nawa" ujar nawa memperkenalkan diri.
"saya zainal rekan kerja sekaligus teman dari calon mertua kamu"
nawa tersenyum menanggapinya, lalu nawa melirik ke arah perempuan yang duduk di sebelah pak zainal, dari awal fokus nawa memang pada perempuan itu.
nawa kenal, sangat kenal, bagaimana mungkin nawa tak kenal chindi, gadis itu juga sama tengah menatap nawa.
nawa kembali melihat ke arah pak zainal, nawa juga mengenalnya, ia adalah om om yang selalu bersama chindi.
"maaf, dia siapanya om?" tanya nawa.
"oh ya saya belum memperkenalkan dia, dia anak saya, namanya chindi"
setelah itu mereka mulai berbincang bincang, masalah bisnis cukup lama, nawa hanya diam mendengarkan, jujur ia bosan meskipun ia faham tentang bisnis.
"nawa ikut tante yuk" bisik ibu jeje dan nawa menganggukinya.
"saya permisi kebelakang dulu" pamitnya lalu ia pergi dan di ikuti nawa.
chindi menatap kepergian nawa 'dia calon menantu keluarga ini, memang siapa anak dari tante dan om ini?' tanya chindi dalam hati.
mereka berdua menuju dapur, untuk mempersiapkan makan malam.
"tante, habis ini mereka langsung makan malam?" ujar nawa yang tengah meletakan sendok.
"iya, memang kenapa sayang?"
"nawa gak ikut ya, nawakan udah makan"
__ADS_1
"yaudah gak papa" setelah itu hening dia antara mereka.
"sudah selesai" ibu jeje tersenyum melihat hidangan di atas meja yang sudah tertata rapi.
"nawa izin pergi boleh?"
"pergi kemana sayang?"
"mau ke kamar jeje" ujar nawa di akhiri cengiranya.
"kangen?"
"mau liat aja jeje lagi ngapain"
"yaudah sana" nawa tersenyum senang lalu nawa berjalan menuju kamar jeje.
'semoga jeje mau membuka hatinya untuk nawa, semoga saja' doa ibu jeje dalam hati.
nawa yang kini sudah berada di luar kamar jeje mendekatkan kupingnya pada pintu kamar tersebut.
"jeje udah tidur belum ya" lirih nawa.
nawa menegakan badanya kembali, ia ingin membuka pintu itu tapi ia urungkan, ia memilih mengetuknya terlebih dahulu.
tok tok tok tok~
"do you wanna build a snowman?" tanya nawa menirukan suara anna.
tak ada respon dari dalam
tok tok tok tok~
"do you wanna build a snowman?" ulang nawa
"okay, bye..."
brak
jeje yang tengah berbaring sambil memainkan ponselnya terkejut saat nawa membuka pintunya dengan tidak santai.
"selamat malam jeje"
"pergi sana, gue mau tidur" jeje meletakan ponselnya lalu menutupi badanya dengan selimut.
"kok jeje gitu" nawa berjalan mendekati jeje lalu duduk di tepi ranjang.
'untung jeje gak turun ke bawah, jeje tau gak ya chindi di sini? tapi... chindi tau gak sih kalau ini rumah jeje?'
"jeje ada rencana turun ke bawah?"
"gak"
"kalau butuh sesuatu bilang nawa, jeje jangan ke bawah nawa aja yang ambilin"
jeje membuka slimut yang menutupi wajahnya, di tatapnya wajah nawa.
"keluar gue mau tidur"
nawa tersenyum ke arah jeje "kalau gitu selamat malam jeje" nawa beranjak dari duduknya lalu berjalan meninggalkan kamar jeje.
...****************...
__ADS_1
nawa turun menuruni anak tangga sambil bersenandung "nawa" nawa mendongak saat ada yang memanggilnya.
"kenapa?" tanya nawa.
"gue boleh minta waktunya sebentar?"
"oke" nawa berjalan mengikuti chindi.
mereka kini berada di teras rumah, nawa menatap ke depan, menatap bunga mawar yang kian hari makin banyak bunga yang mekar.
"lo di jodohin?" tanya chindi menatap nawa.
nawa balas menatap chindi "enggak"
"jadi lo bakal nikah karna cinta, sama anak om dan tante tadi?" nawa mengangguk sebagai jawaban.
'jadi... lo belum tau ini rumah jeje?' tanya nawa dalam hati.
"lo udah gak ada rasa sama jeje"
"gue masih cinta sama jeje, dan selamanya akan selalu seperti itu" jawab nawa di akhiri senyumanya.
"jeje suka sama gue dan gak bakal suka sama lo"
nawa terkekeh mendengar perkataan chindi "liat aja nanti"
"lo gak kasian sama calon suami lo itu, lo mau nikah sama dia sedangkan lo masih suka sama orang lain?"
nawa menatap chindi sinis "itu urusan gue, lo gak usah ikut campur"
merasa tak ada yang perlu di bicarakan lagi chindi pun memilih masuk lagi kedalam rumah.
"makasih atas waktunya" chindi memutar tubuhnya untuk melangkah masuk ke dalam rumah, namun baru satu langkah perkataan nawa menghentikanya.
"sepertinya lo bakal buat jeje marah" chindi menoleh ke arah nawa.
nawa memutar tubuhnya menatap chindi "gimana jadinya kalau jeje sekarang liat lo"
chindi mengernyit bingung, nawa menatap chindi dari atas sampai bawah, chindi mengenakan dress pink dengan belahan dada yang terlihat, kalau jeje melihatnya apakah jeje akan marah?.
"jeje itu gak suka sama orang yang berpenampilan kaya lo"
nawa berjalan mendekati chindi "om di dalem, beneran ayah lo?"
"iya, kenapa lo nanya gitu?"
"emang ada ya seorang ayah mencium mesra anaknya di dalam mobil"
plak
"jaga ucapan lo!" bentak chindi setelah menampar nawa.
"gue liat dengan mata gue sendiri kalo lo berciuman sama om itu, yang di dalem bukan ayah lo kan?"
"jangan asal ngomong!"
"lo punya hububan apa sama om itu?" tanya nawa sinis.
nawa mendekat untuk berbisik pada chindi
chindi menatap nawa dengan mata yang penuh emosi.
__ADS_1
"kalo lo lebih nyaman sama om itu jauhi jeje sekarang juga, dia gak pantes buat lo" nawa berjalan masuk ke dalam rumah meninggalkan chindi.