
"mana tangan lo" nawa menarik tangan jeje yang ada di saku clananya lalu bersalaman dengan jeje.
"molai hari ini gue nawa dan jeje anak beda jurusan resmi jadian, dill!!" ujarnya kemudian melepas genggamanya.
"yeehh selamat" ujar vera di akhiri tawanya.
"lo udah gila yah" jawab jeje sambil memegang kening nawa, sang empunya malah menatap jeje dengan gaya imutnya dan itu membuat tawa vera makin pecah.
nawa terkikik geli mengingat kejadian itu, awal kisahnya di mulai dari itu, entah mengapa ia bisa sangat menyukai temanya sendiri sampai sedalam ini.
nawa menggelengkan kepalanya, ia tak percaya ternyata memperjuangkan cintanya bisa sesulit itu, bahkan sampai sekarang ia masih berjuang.
nawa menikmati angin pagi, ini masih jam empat pagi tapi ia tengah berada di balkon kamarnya.
nawa baru sampai di indonesia tadi malam, saat baru sampai ia langsung tidur, lalu ia terbangun jam tiga.
...****************...
nawa menuruni tangga dengan tanganya yang sibuk mengikat saputangan berwarna biru yang ia jadikan bandana, jaket dan sepatu kulit berwarna hitam itulah yang nawa kenakan pagi ini.
"selamat pagi" sapa nawa di meja makan kepada bi sulis yang tengah menyiapkan makanan.
"pagi non, mau sarapan apa non?"
"roti aja"
"non cantik banget mau kemana?"
"mau jalan jalan sama motor, udah lama nawa anggurin si motor"
"emang gak cape?"
"enggak, nawa kan udah istirahat"
"nanti bawa motornya hati hati" nawa mengangguk sebagai jawaban, nawa melahap rotinya dengan cepat karena ia sudah tidak sabar ingin mengendarai motornya.
matahari baru menampakan wujudnya, di jalan yang masih terlihat sepi hanya sedikit kendaraan berlalu lalang, seorang gadis kini tengah membelah jalanan sepi dengan tak melunturkan senyumnya yang tertutup helem.
motor bmw yang ia kendarai berhenti saat melihat seorang nenek menyebrang jalan.
nawa turun dari motor tanpa membuka helem yang ia gunakan "biar saya bantu" ujar nawa sambil menuntun nenek tersebut.
"terimakasih"
"sama sama nek"
"hati hati di jalan jangan ngebut" nasehat nenek itu setelah sampai di sebrang jalan.
__ADS_1
"iya nek" nawa kembali menuju motornya berada.
entah ini hari keberuntungan nawa untuk berbuat baik atau tidak, nawa pun tak tau, setelah menolong seorang nenek menyebrang kini ia malah menyaksikan sepasang kekasih tengah bertengkar tepat di depan motornya.
"gak usah ikutin gue!" ujar seorang perempuan pada sang kekasihnya.
" maaf" jawab lelaki itu lembut.
"gue mau pulang dan lo jangan ikutin gue!"
tanpa berniat ikut campur nawa memilih menonton pertengkaran itu sambil duduk di atas motornya.
"tunggu" lelaki itu mencekal lengan kekasihnya yang hendak pergi "aku anter"
"enggak!"
"aku anter aku gak mau kamu kenapa nap-
"sekali gue bilang enggak ya enggak!" bentak sang perempuan "kita putus!"
sang lelaki menunduk, lalu mendongakan wajahnya menatap kekasihnya "oke" setelah itu sang lelaki pergi.
nawa masih terdiam atas apa yang ia lihat, si perempuan yang di tinggal pun kini menoleh ke arah nawa.
"selamat" ujar nawa "selamat udah putus, pertunjukanya bagus" nawa memberikan dua jempol dan tersenyum di balik helemnya.
"kenapa?"
"bisa bantuin saya?"
"bantuin apa ya"
"saya gak bawa ponsel jadi saya gak bisa pesen taxi atau ojek, mba bisa anterin saya"
nawa menghembuskan nafasnya "yaudah ayo emang rumahnya di mana?"
"nanti saya kasih tau" perempuan itu kini menaiki motor nawa "makasih mba baik banget"
"sama sama"
...****************...
nawa menghentikan motornya di halaman rumah di bawah pohon besar.
"mau masuk dulu?" tawar perempuan yang ia antarkan.
"kayaknya enggak, saya mau langsung pamit aja"
__ADS_1
"makasih ya mba udah anterin saya"
"sama sama"
"beneran gak mau masuk dulu"
"enggak mba makasih, dan bukanya saya mau ikut campur tapi lebih baik mba sama pacarnya kalo ada masalah jangan kayak tadi mending bicarain baik baik jangan langsung putus, apalagi berantem di jalan kaya tadi"
perempuan itu tersenyum "asal mba juga tau, udah sering kali kita berantem, dan itu karena dia yang selingkuh, setiap kali dia minta maaf saya maafin tapi di ulang lagi, saya udah cape sama dia"
"di luar sana pasti ada cowok yang lebih baik dari dia" ujar nawa menghibur.
"iya saya percaya itu, dan buat kamu juga cari cowo yang benar benar suka sama kamu, saya sadar selama saya menjalani hubungan sama dia, dia enggak suka sama saya, mungkin dia nerima saya karna kasian"
nawa tersenyum untuk menanggapinya "saya permisi dulu"
"yaudah hati hati di jalan, maaf saya malah curhat"
"gak papa mba"
nawa kembali menjalankan motornya tujuanya sekarang adalah cafe, ia merindukan tempat tongkronganya itu.
...****************...
Nawa memasuki cafe yang pagi ini cukup ramai.
Biasanya setiap ke cafe ia akan mengedarkan pandanganya mencari teman temanya namun sekarang ia datang sendiri, ia langsung duduk di salah satu meja yang kosong.
"Permisi mba mau pesan apa?" Tanya salah satu pelayan.
"Es kopi satu"
"Itu saja?"
"Iya"
Setelah menunggu beberapa menit seorang pelayan datang membawa pesananya.
"Makasih" ucap nawa saat pelayan itu meletakan minumanya di atas meja.
"Sama sama dan selamat menikmati"
"Eem mba" panggil nawa "kalo aku nyumbang satu lagu di cafe ini boleh, lumayan ada gitar nganggur"
"Oh sangat boleh mba, silahkan" ujar pelayan itu di akhiri senyumanya.
"Makasih"
__ADS_1