
Nawa melihat pantulan tubuhnya di cermin.
"Cantik, nawa emang selalu cantik" pujinya sambil tersenyum.
Nawa memutarkan tubuhnya, ia sangat senang melihat pantulan dirinya yang memakai dress berwarna pink.
Nawa membenarkan rambut kuning kesayanganya yang sengaja ia buat ikal.
"Nawa mau foto, lalu kirim ke jeje" lirih nawa sambil membuka aplikasi kamera di ponselnya.
Ckrekk
Dua foto berhasil ia abadikan.
Nawa mengirim foto dirinya pada jeje.
Calon Imam (nama kontak jeje)
^^^jeje nawa cantik gak^^^
Nawa mengirim kan chatnya dengan senyum yang terus melekat di bibirnya, tak lama nawa langsung mendapatkan balasan dari jeje.
gak
^^^bohong!^^^
Terserah
Nawa memanyunkan bibirnya karena jawaban jeje.
^^^je nawa mau izin,^^^
^^^nawa mau makan di luar^^^
^^^sama temen^^^
oh
^^^jeje gak kepo sama namanya?^^^
gak
^^^ih jeje mah gitu^^^
Nawa menunggu balasan dari jeje, namun tak ada tanda tanda jeje akan membalasnya, hanya dua centang hitam yang nawa dapatkan, jeje pun bahkan belum melihat chat dari nawa.
^^^Yaudah deh, nawa kasih tau aja.^^^
^^^Nawa mau pergi makan sama adit,^^^
^^^nawa izin sama jeje, di bolehin gak?^^^
Tok tok
Nawa menoleh ke arah pintu kamarnya yang di ketuk.
"Non, ada den adit di bawah"
"Iya, nawa bentar lagi turun"
Nawa memanyunkan bibirnya karna pesanya tak kunjung jeje baca.
karena tak ingin adit menunggunya terlalu lama nawa pun langsung memasukan ponselnya kedalam tas slempang hitamnya.
kini nawa menuruni tangga menuju ruang tamu.
"Bi, itu minum buat siapa?" Tanya nawa saat berpapasan dengan pembantu di rumahnya.
"Buat den adit"
"Gak usah, kita mau langsung berangkat"
"Ohh yaudah, bibi bawa ke dapur lagi minumanya"
"Jangan di buang mubazir, bibi minum aja"
"Siap non"
__ADS_1
"Aku berangkat bi"
"Hati hati non"
Nawa melanjutkan jalanya, saat sampai di ruang tamu ia mendapati adit yang tengah duduk sambil memainkan ponselnya, adit kini memakai jaz berwarna hitam.
"Yuk langsung berangkat" kata nawa yang sudah berdiri di sebelah adit.
Adit menoleh ke arah nawa "wiihh, bisa cantik juga lo" kata adit sambil berdiri dari duduknya, ia melihat nawa dari bawah sampai atas.
"Gue emang selalu cantik, lo nya aja yang kelilipan"
"Kurang ajar lo" adit menyentil dahi nawa pelan setelah nya ia hanya terkekeh kemudian melenggang meninggalkan nawa yang tengah mengusap dahinya.
...****************...
"aduh diiit jalanin mobilnya bisa cepet gak sih, gue udah laper" omel nawa pada adit yang tengah mengemudikan mobilnya.
"lo liat gak sih, noh lampu merah"
"gue gak mau tau pokoknya harus cepet sampe, titik" nawa menyenderkan tubuhnya dengan bersedekap dan memanyunkan bibirnya.
adit terkekeh melihat tingkah nawa "bibir kondisiin" ujar adit dengan sengaja menarik bibir nawa.
"tangan lo kotor ngapain pegang pengang bibir gue yang bersih dan suci" nawa mengelap bibirnya kasar.
adit tak menghiraukanya, ia malah melajukan mobilnya tanpa memperdulikan tatapan nawa yang seperti tengah mengajaknya berkelahi.
setelah menempuh perjalanan selama benerapa menit akhirnya mobil adit kini sudah memasuki pekarangan rumahnya yang cukup luas.
"inget na, sebisa mungkin akting kita harus maksimal" peringat adit.
"tenang aja, gue ahli dalam hal akting"
adit keluar dari mobilnya, ia memutari mobil untuk membukakan pintu untuk nawa.
nawa tersenyum saat adit membukakan pintu untuknya, adit yang melihat nawa tersenyum padanya pun membalas senyuman nawa.
adit mengulurkan tanganya dan dengan senang hati nawa pun menyambut uluran tangan adit.
"ayo" jawab nawa, ia menggapit lengan adit setelahnya ia langsung mendongak menatap adit sambil tersenyum lebar ke arahnya.
"senyum senyum mulu lo, kesambet?" bisik adit pada nawa saat mereka berjalan menyusuri halaman rumah adit.
"lo juga senyum ke gue, terpesona sama gue" balas nawa.
mereka melangkah memasuki rumah keluarga adit, cukup megah rumah itu bahkan halamannya cukup luas.
ternyata di balik semua itu ada seorang penjaga kebun dan satpam yang memperhatikan nawa dan adit.
"den adit udah besar" lirih sang penjaga kebun, sambil menatap adit dengan wanita cantik di sebelahnya.
"iya den adit udah besar, perasaan baru kemarin saya liat si aden masuk TK eh sekarang udah siap nikahin anak orang" timpal sang satpam.
"jadi iri, kapan saya bisa punya bini"
"saja juga iri, kapan saya bisa kaya gitu sama neng wati"
sementara itu nawa dan adit yang baru sampai ruang tamu kini langsung mendapatkan sambutan dari kedua orang tua adit.
"waduhh dit ini toh pacar kamu" ujar ayahnya adit.
"waahh, yah ternyata anak kita suka yang bule bule" ibu adit kini tersenyum dan menghampiri nawa.
"pantes gak mau di jodohin sama anak juragan kentang, ternyata anak ayah seleranya yang bule"
nawa hanya tersenyum atas ucapan kedua orang tua adit.
"jangan kelamaan berdiri ayo duduk" suruh ibunya adit.
"iya" jawab nawa.
"kenalin dulu, saya bunda dewi mamah nya adit dan ini ayahnya adit sebut aja ayah jo"
"salam kenal tante om, aku nawa pacar adit" ujar nawa di akhiri senyumnya.
"bunda kira gak bisa bahasa indonesia"
__ADS_1
nawa tertawa atas penuturan bunda dewi.
"kita langsung ke meja makan aja, ngobrolnya nanti lagi"
mereka semua pun kini berpindah ke meja makan
"adit punya adik, dia udah kelas tiga SMA tapi dia belum pulang masih di rumah temenya" ujar ayah jo.
" adit cuma punya adik satu?" tanya nawa
"iya" jawab ayah jo sambil menarik kursi untuk ia duduki.
...***************...
"ini siapa tan?" tanya nawa menunjuk foto pada album yang ia pegang.
setelah makan malam tadi, mereka memutuskan duduk di ruang keluarga.
"ini foto ayahnya adit sewaktu muda" jawab dewi.
"om jo ganteng ya tan" nawa menampilkan gigi putihnya.
"kamu gak tau sih, dulu itu bunda dapetin ayah jo susah payah, jatuh bangun"
nawa sepertinya tertarik dengan pembahasan ini.
"jadi ayah jo dulu itu anti banget sama cewek, semua cewek yang deketin ayah jo pasti berakhir sakit hati, ayah jo itu kalo ngomong pedes dan gak pernah di saring, gak mikirin perasaan orang lain, iya kan yah?" bunda dewi menoleh ke arah suaminya yang tengah bermain game dengan adit.
"apa?" tanya ayah jo tanpa mengalihkan tatapanya.
"gak jadi nanya, ayah lagi asik main game" kata bunda dewi.
"terus tante bisa dapetin om jo ceritanya gimana?"
bunda dewi menarik nafas dan menghembuskanya perlahan
"kenapa bunda bisa dapetin ayah jo itu... awalnya bunda nyerah buat perjuangin cinta bunda, bukan karena cape atau alesan yang lain, bunda itu punya 1001 cara buat dapetin ayah jo tapi bunda harus nyerah"
"kenapa nyerah?"
"karena... bunda di jodohin, mau gak mau bunda harus lepasin ayah jo"
"sekarang, kenapa bisa om sama tante nikah?"
"karna... yang di jodohin sama tante itu ternyata om jo"
'andai aja kisah gue kaya om jo sama tante dewi, berakhir di jodohkan dengan jeje'
"dan kamu tau, kenapa om jo suka nolak semua cewek yang berusaha deketin dia?"
"kenapa tan?"
"karena om jo itu udah tau dari awal kalau dia udah di jodohin"
"berarti om jo tau kalau dia mau di jodohin sama tante dewi?"
"om jo gak tau kalau yang mau di jodohin sama dia itu tante"
'apa jangan jangan jeje juga gitu, gak mau sama aku karena udah di jodohin? kalau iya... sama siapa? apa sama... cewek itu'
"gak mungkin" lirih nawa.
"gak mungkin kenapa sayang?" tanya bunda dewi.
"hehehe bukan apa apa kok tan"
"dan awalnya adit juga mau di jodohin tapi dia selalu nolak, kemaren keluarga si cewek ke sini aditnya gak mau nemuin, padahal si ceweknya mau sama adit"
"jadi adit gak jadi di jodohin kan?" tanya adit, ia kini memilih duduk di sebelah nawa "kan adit udah punya pacar" adit menatap nawa dengan senyuman hangatnya.
"beneran mau sama nawa aja, gak mau sama cewek pilihan ayah, dia anaknya juragan kentang loh dit" ujar ayahnya.
"aku cintanya sama nawa" adit kini merangkul pundak nawa, jujur nawa sangat risih sekarang, tapi... mau gimana lagi.
"ayah restuin kalian, berpacaran secara sehat oke"
"siap yah" jawab adit di akhiri senyumanya.
__ADS_1