
"Ini coba ini."Ucap Arvin menyerahkan bakso pedas pada Ayla dengan wajah antusias.
"Jangan ini,Ini pedas...makan ini saja."Arga menggeser mangkok bakso itu mengganti dengan nasi goreng.Arvin pun menatap datar Arga,Sedangkan Arga tersenyum kemenangan dengan wajah sumringah.
"Saya ke sini bukan untuk makan,Tapi untuk bertanya sesuatu."Ucap Ayla datar.Arvin dan Arga pun menatap Ayla dengan serius,Pertanyaan apa yang membawa gadis dingin itu sukarela datang kepada mereka.
"Ya,Tanyakan saja...kami akan menjawabnya."Ucap Arga tersenyum.
"Betul my angel."Sahut Arvin tersenyum.
"Kalian tau pembunuh bayaran?"Tanya Ayla menatap kedua pemuda itu,Arga dan Arvin terdiam dengan wajah sedikit terkejut.
"Kenapa kau bertanya hal itu,memangnya apa hubungannya kita dengan pembunuh bayaran?"Ucap Arga terkekeh.
"Iyaa,Mana mungkin aku yang imut ini tau pembunuh bayaran."Ucap Arvin tersenyum imut.
Arga pun memukul Arvin cukup kencang hingga sang empu meringis kesakitan,Sedangkan Ayla hanya menghela nafas dengan kebohongan kedua pemuda itu,Ayla sudah biasa menghadapi seseorang yang berbohong,Jadi ia bisa tau.
"Baiklah,Ini pertemuan terakhir kita."Ucap Ayla singkat dan langsung beranjak pergi,Arvin dan Arga terkejut dan reflek ikut berdiri.
"Tunggu,Apa maksudmu?"Ucap Arga lirih.
"Kalian berbohong,Aku tidak suka pada seorang pembohong."Ucap Ayla datar dan langsung kembali berjalan.
"Hey...tunggu,Kami tidak berbohong."Ucap Arvin mengejar Ayla dan menyamakan langkahnya dengan wajah mengsayu.
"Cukup,Kalian pikir aku bodoh."Ucap Ayla datar dan kembali berjalan bahkan saking tidak maunya dikejar Ayla sedikit berlari kecil.
__ADS_1
Seisi sekolah menatap kejadian itu dengan heboh,Sebenarnya siapa gadis cupu itu bagaimana bisa kedua pemuda populer itu tidak rela bila gadis itu pergi.
"Ayla,Akan kami beritahu yang sebenarnya,Tetapi kau harus berjanji untuk menerima keberadaan kami,Bila kau mengetahuinya "Ucap Arga berlari sambil menghentikan langkah gadis itu.
Ayla terdiam,Ia kembali tenang dan mengangguk kecil.
"Ayo kita cari tempat yang enak untuk mengobrol."Ucap Arga lembut.
...----------------...
Ayla terdiam sejenak sambil berpikir dengan keras,Jadi Arga dan Arvin memang salah satu anggota pembunuh bayaran,Dan itu semua Karna Leon,Leon ingin menghancurkan ayahnya sendiri.
"Apa kau sudah puas?Jangan marah lagi."Ucap Arvin menyender pada pundak Ayla,Arga pun menariknya untuk kembali tegak.Lalu beberapa menit keheningan,Ayla pun membuka suara dengan dingin.
"Apa kalian pernah mencelakai orang?"Tanya Ayla dengan serius,Kedua pemuda itu terlihat saling pandang,Mereka mungkin ragu untuk mengatakannya.
"Kami...pernah mencelakai orang,Namun untuk membunuh kami belum berani."Ucap Arga,Yah ditambah ia punya trauma sejak kecil.
"Owh yaa...kau belum memberitahu kami kau siapa?"Ucap Arvin dengan tidak sungkan,Ayla kembali menatap kedua pemuda itu.
"Ayla."Jawab Ayla dengan watadosnya,Kedua pemuda itu melongo dengan wajah bingung.
"Kau salah bertanya bodoh!"Arga memukul pelan lengan Arvin,Lalu ia pun menatap Ayla.
"Maksud kami,Kau pasti bukan orang biasa,Karna orang biasa tidak mungkin bisa bermain senjata dengan sangat ahli dan gesit."Ucap Arga dengan ragu,Takut perkataanya salah.
"Yah...aku adalah mafia."Ucap Ayla,Arga dan Arvin melotot kaget,Tunggu mafia?benarkah itu?Mereka selama ini bertemu dengan anggota mafia.
__ADS_1
"Jangan bocorkan pada siapa pun,Atau kalian akan mati."Ucap Ayla datar sambil menodongkan pistolnya tanpa ragu.
"Tanpa kau suruh pun,tidak akan kami bocorkan,kami bersungguh sungguh."Ucap Arvin menyakinkan.
"Ya...lagi pula kau juga mengetahui identitas kami."Ucap Arga,Ayla pun menurunkan pistolnya kembali.
"Apakah kalian tidak mau berhenti menjadi pembunuh bayaran?"Tanya Ayla dengan serius,Kedua pemuda itu saling pandang kembali.
"Kenapa kau tiba² bertanya hal itu?"Tanya Arga bingung.Arvin memilih diam dalam pembicaraan.Lalu Ayla pun menyenderkan punggungnya dibangku.
"Ikutlah bersamaku,Aku akan menjamin kehidupan kalian dan perlindungan kalian."Ucap Ayla memberi penawaran,Kedua pemuda itu akan sangat menguntungkan bila ada dipihaknya,Ia bisa mengetahui lebih banyak tentang kematian orang tuanya.
"Aku setuju!"Arvin mengangguk cepat,Ia tak bisa membayangkan bagaimana bekerja bersama dengan Ayla setiap hari,Bukankah mereka akan semakin dekat,Ahh...hayalan itu membuatnya ingin sekali terbang.
"Hey,Kau."Arga menginjak kaki Arvin,Membuat sang empu meringis kesakitan,Arvin pun kesal.
"Kenapa kau menginjak kaki-ku."Arga menarik Arvin dengan keras.Sambil menatap Ayla.
"Bagaimana dengan Leon."Bisik Arga dengan geram,Kenapa Arvin tidak bisa berfikiran matang.
"Arga...Leon itu sudah besar,Lagipula dia sudah menjadi penurut dengan lelaki tua Bangka itu,Ia saja tidak mau mendengarkan kita sekarang,Jadi untuk apa kita masih bertahan Disana."Ucap Arvin sambil berbisik.
"Tapi..-"
"Kalau kau tidak mau tidak apa,Lagipula bagus juga kau menolak,Aku bisa bersama Ayla sepanjang waktu tanda ada nyamuk seperti mu."Ucap Arvin tersenyum senang,Arga pun menotot kesal,Kurang ajar...Arvin mencoba mencari kesempatan disaat ia bimbang.
"Baiklah,Kami akan mencoba memikirkannya."Ucap Arga,Ayla pun mengangguk dan memberikan nomor telponnya.
__ADS_1
"Telpon aku jika kalian setuju,Dan jangan menelpon bila tidak ada yang penting."Ucap Ayla dan langsung berjalan pergi.
Jangan lupa like dan komen kalau suka sama ceritanya.