
"Wow!!! Siapa nih yang pesen bunga segede ini???" Tantri terkagum-kagum begitu melangkah masuk ke dalam rumah bunga.
"Temen gue! Lumayanlah ya, cukup buat seminggu bertahan hidup." Ai terkekeh.
"Ini bukan cuma lumayan lagi, Ai, ini rezeki nomplok! Temen lo yang mana sih yang mesen? Mas Samuel ya?"
"Kagak! Lo kenapa sih dikit-dikit Sammy?!" Ai mencibir.
"Abis Mas Sammy ganteng." Tantri tersenyum-senyum.
Ai pura-pura mendengus, tapi tidak bisa menyembunyikan senyumnya sendiri.
"Tuh kan! Lo juga mengakui Mas Samuel ganteng!"
"Dih! Emang Sammy ganteng. Siapa juga yang nggak mengakui?!" Ai mengatakan, sejujur-jujurnya.
Tantri pun duduk menempel pada Ai, lalu menyiku-nyiku lengan temannya itu.
"Nah, terus kenapa kalian cuma temenan sih?! Kenapa nggak jadian aja???" Wajah Tantri berubah penasaran.
Alis Ai menyatu. Ia sudah terlalu sering mendapat pertanyaan ini dari orang-orang terdekat mereka. Sammy dan Ai memang tidak terpisahkan, tapi tidak pernah ada yang terjadi di antara mereka.
"Apaan sih lo?! Kerja sana!" Ai menggerutu.
"Ayolah, Ai. Gue udah kerja sama lo setahunan, masa lo nggak mau berbagi cerita cinta lo sedikit aja."
"Bukannya nggak mau, tapi nggak punya!"
"Masa sih??? Terus sama Mas Samuel???"
"Cuma temen, suer!"
"Dimana-mana nggak ada tuh cewek dan cowok temenan tanpa salah satunya memendam perasaan!"
"Ada! Gue dan Sammy!"
"Ah, kentut! Nggak mungkin!"
Ai tertawa, "Ya ampun, kenapa orang-orang pada nggak percaya sih?!"
"Lo sama Mas Samuel tuh cocok banget, tahu nggak? Wajar dong banyak yang mendoakan kalian jadian!"
"Iya-iya, nanti kita jadian, tapi cuma di mimpi lo orang aja."
Tantri mencibir.
"Udah deh. Mending lo kerja. Rangkai pesanan yang lain. Nih bunga mau dijemput siangan, takut nggak kelar kalau konsentrasi terpecah." Ai memberikan perintah.
"Siap, Bu Bos!" Tantri memang paling bisa memancing emosi bosnya.
"Bos dari Hongkong!" Ai menggerutu.
Tantri tertawa.
"Mau yang mana duluan yang dirangkai?" tanya Tantri.
"Yang paling duluan dijemput deh."
"Siaaaap!" kata Tantri, tapi malah memilih pesanan paling mudah.
"Dasaaaar!" Ai menggerutu, lagi.
Tantri terkekeh.
__ADS_1
"Kalau nggak rapi, lo pasti marah." Ia membela diri.
Ai membiarkan saja.
***
Al keluar dari toko kue dengan wajah masam. Kotak kue tersebut memenuhi tangannya. Sang ayah benar-benar senang mengerjainya!
Abimanyu memang paling tidak mau memanjakan Al. Sebagai anak laki-laki satu-satunya dan akan menyandang nama besar Maheswara, ia ingin anaknya tangguh dan sanggup melakukan pekerjaan apapun.
Bahkan hanya sesederhana, mengambil kue ulang tahun.
Sebenarnya mudah sekali untuk mereka menyuruh orang lain mengambilkan kue tersebut. Namun, Abimanyu ingin mengajarkan kepada anaknya sendiri tentang arti pengorbanan kepada orang-orang terkasih. Bahwa tidak ada yang lebih membuat orang lain merasa dicintai, selain saat kita mengorbankan sesuatu untuknya.
Seperti Al, rela mengorbankan waktu kosongnya, untuk mengambil kue ulang tahun sang ibu.
Tapi, mungkin, tidak seperti ini juga...
Al benar-benar harus berhati-hati saat membawa kue tersebut ke dalam mobilnya. Bahkan kura-kura pun masih unggul dari kecepatan berjalan Al saat ini!
"Bapak gendeng!" maki Al, saat ia akhirnya berhasil meletakkan kue tersebut di dalam mobil.
Ia bisa membayangkan tawa iseng ayahnya saat dia marah nanti.
"Siapa suruh nggak nanya-nanya dulu..." Pasti begitu jawaban sang ayah.
Bahkan baru membayangkannya saja, Al sudah geram setengah mati. Ia sampai harus menarik nafas dalam-dalam agar mengatur emosinya.
Setelah tenang, barulah ia membuka smart phone-nya untuk melihat pesan dari Shaletta.
Shaletta :
Bang, ini alamatnya ya. Yang punya temen gue kok. Bilang aja mau ambil pesanan gue.
"Kayaknya di kehidupan sebelumnya, gue maling ayam deh. Nasib gue gini banget sekarang..." keluh Al, sambil menutup pintu belakang mobilnya.
***
Setelah melalui perjalanan yang menguras emosi dan waktu, akhirnya Al tiba di sebuah toko kecil, di pinggir jalan. Al mengamati lagi peta online di smart phone-nya.
"Bener ini, nggak sih?" Al bergumam. Toko tersebut kelewat kecil. Tidak sesuai dengan citra glamour adiknya. Shaletta harusnya membeli bunga-bunga mahal dari toko terkenal yang akan terlihat fancy di media sosialnya. Bukan toko kecil seperti ini, di sudut jalan pula.
Al memeriksa nama toko tersebut sekali lagi.
Namanya benar.
Rumah Bunga.
Al pun akhirnya melangkah masuk ke dalam toko tersebut dengan canggung. Ia belum pernah membelikan bunga untuk siapapun. Bunga untuk ibunya selalu jadi urusan Shaletta. Bunga untuk wanita lain? Boro-boro...
Al mengamati toko tersebut, begitu melewati pintu, mencoba mencari siapapun yang berada di dalamnya. Tapi ia tidak menemukan siapapun.
"Permisi..." sapa Al.
Beberapa detik kemudian terdengar suara derap langkah.
"Ya?" Suara seorang wanita menjawab.
Al menoleh ke asal suara.
"Ada yang bisa dibantu?" tanyanya.
"Iya, saya mau ambil pesanan bunga."
__ADS_1
"Oh, atas nama siapa, Mas?"
"Shaletta."
"Oh, Mbak Etta. Sebentar, sebentar."
Al mengamati wanita tersebut mengambil smart phone-nya untuk menelepon seseorang.
"Ai, pesanan Mbak Etta udah dijemput. Ini udah kelar kan? Oke deh, oke. Siap." Ia pun menutup panggilan telepon, lalu menoleh lagi pada Al.
"Sebentar ya, Mas, saya ambil dulu."
Al mengangguk.
Tantri pun segera masuk ke bagian dalam toko, lalu keluar bersama sebuah bouquet bunga yang sangat besar.
Al merutuk. Dua kali ia dikerjain hari ini!
Ia pun menerima bunga tersebut, yang juga langsung memenuhi tangannya.
"Bayarnya bisa pake debit?" tanya Al.
"Oh, kata pemilik tokonya, udah dibayar kok, Mas."
"Oh gitu?! Oke deh." Al tersenyum kecil. Artinya, wanita di hadapannya sekarang bukanlah teman dari Shaletta.
"Mas ini siapanya Mbak Etta?" tanya Tantri, seperti masih tidak rela laki-laki di hadapannya berlalu.
"Abangnya."
"Kandung?"
"Iya."
"Pantesan mirip." Tantri cengengesan.
Al mengangguk saja, sebenarnya tidak nyaman dengan pembicaraan basa-basi seperti ini. Ia pun segera pamit dengan canggung. Tantri hanya bisa mengangguk, tidak rela. Ia menatap punggung Al yang semakin menjauh. Padahal ia ingin berbasa-basi lebih lama...
Al sendiri sudah cepat-cepat membuka pintu toko, agar tidak perlu ada percakapan basa-basi yang canggung lagi. Dan saat berjalan itulah, ia bisa melihat sekilas seorang wanita dengan rambut panjang hitam bergegas melewatinya untuk masuk ke dalam toko.
Al tidak sempat melihat wajahnya. Tapi ada satu yang menarik perhatiannya. Rambut wanita itu sangat bagus dan terawat.
Al tergoda untuk menoleh, namun ia segera mengingatkan diri. Ia tidak punya waktu untuk memperhatikan lebih lama. Ia harus segera bertemu dengan Shaletta dan Abimanyu untuk menumpahkan seluruh unek-uneknya.
Ia pun membuka pintu belakang mobil untuk memasukkan bouquet bunga raksasa itu.
Tapi, saat ia sudah meletakkan bunga tersebut, saat ia sedang menutup pintu, seseorang menepuk punggungnya.
"Permisi, Kak," sapa orang tersebut.
Al menoleh, kemudian bertemu mata dengannya. Ah, si pemilik rambut indah.
"Maaf, Kak, ini ada yang ketinggalan," kata Ai, pada Al.
***
Ai : Kak, ada yang ketinggalan...
Al : Apa?
Ai : Hatinya. Gimana? Mau aku simpenin aja?
Eaaa. Ingrid digampar Ai, kalau berani nulis begitu.
__ADS_1
IG : @ingrid.nadya