Aldebaran Mencari Cinta

Aldebaran Mencari Cinta
Bab 27


__ADS_3

"Putus lagi cintaku, putus lagi jalinan kasihku..." Seperti semesta sedang meledek Al, tiba-tiba speaker Bakmie GM siang itu memasang lagu Sakit Gigi dari Meggy Z.


Kenapa???


Kenapa tepat setelah Kirana mengatakan bahwa ia menyukai Boris???


Al terus menerus memaki kesialannya sendiri.


"Anyway, kamu kerja dimana Al?" tanya Kirana, seperti sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Sini-sini juga."


"Oh gitu." Kirana mengangguk.


Al semakin sakit hati. Kirana bahkan tak memeriksa latar belakang Al sebelum bertemu, wajahnya tidak terlihat penasaran saat ia mengatakan kantornya di sekitar sini. Padahal Maheswara Company ada di seputaran SCBD. Ah, harusnya ini menjadi nilai plus juga.


"Eh, bentar, Al, aku ambil makanan dulu." Kirana pamit lalu segera bergerak ke counter makanan ketika nomor pesanannya dipanggil.


Al memandangi Kirana.


Ah, harusnya wanita itu bisa jadi calon pasangan yang tepat untuk dikenalkan pada keluarga.


"Daripada sakit hati, lebih baik sakit gigi ini..." Meggy Z kembali meledek situasi Al.


"Siaaaaaaal!" Al menggaruk kepalanya, frustasi.


Kali ini ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Jadi anak memang tidak boleh durhaka. Setelah menantang dan membohongi sang ayah, ia langsung mendapatkan karmanya.


***


"Hahahahahahahaha!"


Tawa Rene membahana di dalam ruangan. Ia kasihan pada Al, tapi merasa situasi yang baru saja dihadapi sahabatnya itu sangat lucu.


Al terduduk di bangku dengan lemas. Membicarakan masalahnya dengan Rene memang terkadang tidak ada gunanya. Bukannya diberi solusi malah ditertawai habis-habisan.


"Seneng lo???" maki Al.


Tawa Rene semakin berderai. Wajahnya sampai memerah.


"Tuh cewek suka sama cowok lo sih. Lo nggak takut?" Al menggerutu. Rene langsung berhenti tertawa.


"Boris ngelirik cewek lain? Kayak bisa aja..." Ia mengibaskan rambutnya.


Al mendengus. Walaupun dalam hati membenarkan setiap perkataan dari Rene.


"Jadi, gue harus gimana dong, Re?"


"Lo cari masalah sendiri sih. Ngapain coba pake bohong sama keluarga lo!"


Al mencibir. Rene tidak tahu saja rasanya jadi korban rundung selama bertahun-tahun oleh ayah sendiri!


Rene akhirnya mengambil smart phone sendiri.


"Gue punya temen..." Ia menggantungkan kalimatnya.


Wajah Al langsung berbinar. Rene menyadari wajah kesenangan Al. Ia tidak terima.


"TAPI TEMEN GUE INI ANAK BAIK-BAIK YA!" Rene mengancam.


Al tersinggung, "Emang gue pernah aneh-aneh?"


Rene langsung tersadar. Ia pun tertawa.


"Gue tuh bukan takut temen gue lo apa-apain. Lo kan belum puber."


Al lebih tersinggung lagi. Ia cemberut.


"Gue cuma takut lo tinggalin doi abis kenalin sama orang tua. Itu namanya habis dikasih harapan, langsung dijorokin ke jurang."


"Menurut lo, kalau bokap gue udah kenal, dia bakal biarin tuh cewek lepas dari gue?" Al mencibir.

__ADS_1


Rene tertawa. Mereka kan sangat mengenal sifat Abimanyu!


"Gue nggak bisa sembarangan kenalin orang, Re. Kalau bisa sih, menurut lo, gue bakal serepot ini?" Al merenung.


Akhirnya, Rene menyerah. Ia menunjukkan profil whatsapp seorang wanita kepada Al.


"Ini temen gue. Demen nggak?" tanya Rene.


Al memperhatikan layar smart phone Rene sebentar. Nama wanita itu Helen. Wanita itu tidak seperti kriteria yang Al sebutkan pada Boris. Rambutnya sebahu dan dicat dengan cokelat terang. Tapi wajahnya terlihat baik dan polos.


"Gue beneran boleh kenalan sama dia?" tanya Al.


"Iyeeee. Tapi gue tanya dulu ya ke dia punya waktu ketemuan nggak nanti malam. Lo bisa kan?"


"Emang gue punya pilihan lain?!"


"Hahahaha. Oke, oke."


Rene sibuk dengan smart phone-nya selama beberapa saat. Al mengutak-atik barang-barang di atas meja Rene. Saat itulah, seseorang masuk ke dalam ruangan.


"Al, ngapain disini??? Kerja!!!" hardik Abimanyu.


Al cemberut. Tapi, ia tidak ingin melawan ayahnya lagi hari ini. Ia sudah mendapatkan karmanya, jangan sampai dua kali!


Ia pun beranjak dari meja Rene, "Nanti kabarin gue ya, Re."


Rene mengangguk.


Setelah Al benar-benar menghilang, Abimanyu berjalan mendekat pada Rene.


"Re, Al beneran udah punya pacar?" Ia tidak bisa menyembunyikan binar di wajahnya.


Rene menggaruk kepala. Ini benar-benar buah simalakama!


Akhirnya ia hanya bisa mengangguk sambil berkata, "Ditunggu aja besok, Pak."


Abimanyu tersenyum lebar.


***


Al kembali berjalan masuk ke dalam sebuah mall. Kali ini, pilihan jatuh pada Grand Indonesia. Persis seperti keinginan Helen.


Dalam dua hari berturut-turut, Al memasuki sebuah tempat penuh keramaian, yang membuatnya canggung setengah mati. Apalagi ini adalah hari Jumat! Menambah sakit kepala saja!


Kalau saja ia tidak berbohong kemarin di depan seluruh keluarga, tentu ia tidak perlu menjadi serepot ini.


Al ingin menyesal, tapi semuanya sudah terlanjur. Tidak ada yang bisa dilakukan lagi, selain mengusahakan yang terbaik.


Begitu tiba di Grand Indonesia, Al langsung mencari toilet terlebih dahulu. Ada beberapa urusan, membuang apa yang perlu dibuang.


Setelah mengeringkan tangan, ia pun beranjak keluar dari toilet itu.


Saat itulah, ia bertemu dengan seseorang di depan pintu toilet. Orang tersebut juga keluar dari toilet perempuan.


"Ai?" Al memanggil tanpa sadar.


Wanita yang dipanggil, menoleh. Dan benar saja. Ai juga sama speechless-nya dengan Al.


"Eh, Kak... Eh..." Ai terlihat serba salah. Kebingungan bagaimana cara memanggil Al.


Kikuk seperti biasa. Al menyembunyikan senyumnya. Selalu menyenangkan bertemu dengan Ai.


"Panggil apa aja yang kamu nyaman, Ai," katanya.


Ai mengangguk saja. Tapi masih belum menentukan sebutan apa yang nyaman untuk memanggil Al.


"Kamu lagi ngapain disini?" tanya Al, lagi.


"Lagi pergi sama Sammy dan kakaknya."


'Sammy lagi, Sammy lagi.' Tanpa disadari, Al menggerutu dalam hati. Tapi hal yang keluar dari mulutnya malah, "Oh ada Sammy? Dia dimana?"

__ADS_1


"Di Pancious situ."


Al mengangguk.


"A-abang sendiri?" Wajah Ai bersemu merah saat mengucapkan kalimatnya.


Kali ini, Al tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Ia terkekeh sambil berkata, "Ai, kamu lucu banget sih. Emang nyaman manggil begitu?"


"Nanti juga terbiasa," jawab Ai, seadanya.


Barusan Ai bilang apa pada Al? Ai akan terbiasa memanggilnya?


Al tidak bisa lebih senang lagi dari ini...


"Saya ada janji sama temen deket sini," jawab Al.


Ai mengangguk saja. Padahal dalam hati, ia penasaran dengan siapa gerangan Al memiliki janji. Wanita kah? Laki-laki kah? Ai tidak bisa menghentikan rasa penasarannya.


"Kita mau berdiri di depan toilet terus, Ai? Nanti orang-orang nggak bisa lewat."


"Ah, iya."


"Sambil jalan yuk?"


Ai mengangguk.


"Abang janjiannya dimana?"


"Tom-tom."


"Thai food ya? Hmm, yummy!" Ai bergumam sambil memikirkan makanan-makanan Thailand yang sangat ia sukai.


"Iya. Kamu suka?"


"Banget."


"Lain kali mau saya ajak?" Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Al.


Ai menoleh. Al mengelus tengkuk, harus melakukan sesuatu untuk menutupi kegugupannya.


"Sama Etta?"


"Iya, sama Sammy juga boleh."


Ai menunduk. Bagi Al, ia sungguh hanya seorang teman adiknya.


Akhirnya tibalah mereka di persimpangan.


Ai harus ke arah kiri.


Al harus ke arah kanan.


"Saya mau ke kiri. Kamu ke kanan kan?" tanya Al.


Ai mengangguk.


"Bye, Ai!"


Ai mengangguk lagi.


Membiarkan Al pergi duluan.


Menatap punggungnya lama.


"Sampai ketemu... abang..." bisik Ai, sambil lalu.


***


Abaaaaang, berkali-kali ditunjukin semesta, tapi kok nggak peka juga sih 🤣


IG : @ingrid.nadya

__ADS_1


__ADS_2