Aldebaran Mencari Cinta

Aldebaran Mencari Cinta
Bab 32


__ADS_3

"Ma..." Abimanyu tampak berkaca-kaca. Tangannya berusaha meraih Junita. Istrinya itu hanya bisa mengangguk-angguk ke arah Abimanyu, seperti mengerti perasaannya.


"Pacarnya cewek, Ma." Suara Abimanyu pelan, namun masih terdengar semua orang.


"Pffft!" Yuda tidak bisa menahan tawanya mendengar celetukan omnya.


"Hahahahahahahaha!" Shaletta sendiri sudah tertawa terbahak-bahak, sampai memegangi perutnya. Karena sang ayah, ia sampai melupakan kekesalannya pada Al.


Bibir Al mengerucut. Dendam kesumat atas reaksi ayahnya ini. Ini kan ceritanya ia sedang mengenalkan kekasihnya. Kenapa sang ayah malah mengatakan sesuatu yang dapat membuat kekasihnya bisa berpikir yang tidak-tidak?


Ya....walaupun Ai bukanlah kekasih yang sebenarnya sih?


"Kamu ini aneh-aneh aja!" Kirana menepuk bahu adiknya, seperti menegor agar tidak berbicara yang aneh-aneh lagi. Meski sebenarnya, di sudut hati yang terdalam, ia juga ingin tertawa seperti yang lain.


Tapi Abimanyu tidak bisa lebih senang dari ini. Ia tidak peduli dengan komentar orang lain. Ia hanya mengutarakan sebenar-benarnya perasaannya.


Sementara orang lain sibuk tertawa dengan reaksi Abimanyu, Ai yang masih tidak mengerti, melirik Al di sebelahnya.


"Abang, maksudnya apa?" bisiknya.


"Ai, anggap saya gila." Al pasrah.


"Tapi saya nggak ngerti."


"Tolongin saya sekali ini, Ai. Nanti saya jelasin." Al memohon.


Ai benar-benar tidak mengerti. Ia sebenarnya masih ingin bertanya, namun seseorang memanggilnya, "Ai?"


Sebelum Ai menoleh, Al sempat berbisik padanya, "Ai, please kamu senyum."


Wajah laki-laki itu terlihat begitu memelas. Ai tidak tega. Ia pun menoleh lagi kepada orang-orang di hadapannya, mencoba menarik sudut bibirnya untuk menampilkan sebuah senyuman. Tapi terlihat begitu kaku. Awkward.


Namun, semua orang menganggap hal itu biasa saja. Bukankah memang sudah menjadi hukum alam jika seorang wanita merasa canggung saat pertama kali dikenalkan dengan keluarga kekasihnya?


"Namanya Ai aja? Atau ada kepanjangannya?" tanya Junita, matanya masih dipenuhi binar kebahagiaan.


Pertanyaan Junita membuat jantung Al kembali berdebar-debar. Matilah saja ia!


Ia benar-benar tidak tahu apa-apa soal Ai. Nama saja pun tidak tahu. Siapa nama lengkap gadis ini? Siapa nama keluarganya?


Al putus asa.

__ADS_1


Ai menyadari bahwa Al tidak mengetahui sedikit pun tentang dirinya. Ia tersenyum kecil. Sedikit kecewa. Namun, ia tidak akan tega melihat laki-laki itu kebingungan sendirian.


"Airina, Tante. Cuma Airina." Ai menjelaskan.


Mendengar suara Ai pertama kali, Abimanyu semakin terharu. Ini suara perempuan asli, bukan jadi-jadian! Anaknya pacaran tidak dengan seorang Muhammad Fattah. Atau biasa disebut dengan nama panggung...


Lucinta Luna.


Ia semakin terharu menyadari bahwa anaknya normal. Pacaran pula dengan wanita normal.


"Nama kamu unik banget, Ai." Junita sendiri sudah tersenyum. Sebenarnya sangat ingin kembali menyentuh tangan Ai saking senangnya, namun ia harus menahan diri. Tak ingin membuat Ai merasa tidak nyaman. Bahasa cinta Junita adalah dengan sentuhan fisik. Dan entah kenapa, melihat Ai, ia merasa langsung jatuh sayang dengan gadis ini.


"Tapi Al keren nih. Dapet daun muda. Umur berapa sih kamu, Ai?" Yuda mulai menginterogasi.


Ai melirik Al. Merasa tidak enak jika harus menyebutkan umurnya yang sebenarnya. Jarak umur mereka kan bukannya sedikit! Ia tidak ingin orang lain menilai Al yang tidak-tidak. Karena ia pun bukanlah kekasih yang sesungguhnya!


"Ai itu umurnya seaku, Bang." Tiba-tiba Shaletta yang nyeletuk.


Semua orang langsung menoleh padanya. Kaget. Kenapa Shaletta tahu?


Al mulai tidak tenang. Sesungguhnya, menunggu setiap kata yang akan keluar dari mulut adik semata wayangnya ibarat menunggu bom yang akan meledak.


"Kok lo tahu sih, Ta?" tanya Yuda.


Al rasanya ingin menjadi pahatan es berbentuk angsa yang ketiga. Biarlah ia menjadi orang ketiga di antara pahatan-pahatan itu, daripada harus melihat kedoknya sendiri dibuka oleh sang adik.


Namun, Shaletta tidak setega itu. Ia hanya ingin memberikan pelajaran-pelajaran kecil kepada abangnya agar lebih berhati-hati untuk ke depannya.


"Gue beberapa kali lihat Ai di kampus. Ya kan, Ai?" Shaletta mengerling.


Al rasanya langsung bisa bernafas lega.


Ai mengangguk saja.


"Oh, pantesan kamu bingung tadi kenapa abangmu yang mau kenalin Ai? Kamu kenal Ai toh, Dek." Junita ikut mengangguk.


"Iya, Ma. Kenal-kenal gitu aja sih. Nggak tahu sama sekali kalau ternyata Ai tuh 'PACARAN' sama abang sendiri." Shaletta menyindir. Kata pacaran diberikan intonasi yang kuat dan tajam. Al menarik nafas lagi.


Rasanya memang benar seperti sedang menggenggam granat yang pelatuknya sudah dicopot. Tinggal menunggu kapan akan meledak.


"Gue nggak tahu lo sekampus sama Ai," sahut Al, dengan polosnya. Terkadang polos dan bodoh memang tipis. Shaletta langsung menyambar kalimat Al.

__ADS_1


"Masa abang nggak pernah nanya sih kampusnya Ai dimana? Katanya pacaran..." Ia meledek.


Al panas dingin. Ai jadi semakin tidak tega. Ia tahu Shaletta sedang melindungi dirinya, tapi rasa kasihannya pada Al melebihi semua itu.


"Abang masih malu, karena jarak umur kita jauh," kata Ai, malu-malu.


Al terenyuh. Kenapa gadis di sebelahnya ini sudah dijebak, tapi masih membantunya menyelamatkan kebohongan ini?


"Abaaaaaang katanya, Ma..." celetuk Abimanyu lagi. Ia begitu terpukau. Terharu.


"Gemes ya, Pa." Junita memukul-mukul bahu suaminya.


Sepasang suami istri itu sibuk sendiri dengan dunia imajinasinya. Mungkin dalam pikiran Abimanyu dan Junita, mereka sudah merancangkan akan menikahkan anaknya dimana, apa katering yang akan dipesan, bagaimana dekorasinya. Well, tidak ada salahnya bermimpi, bukan?


Beralih kepada Shaletta, ia sendiri sampai memutar bola matanya sendiri karena orangtuanya malah merasa euphoria dengan semua kebohongan abangnya ini.


"Mantaplah, Bro! Kenapa harus malu sih? Gue sama Anas juga selisih umurnya tujuh tahun." Yuda tertawa.


"Tujuh tahun masih wajar loh, ini sebelas tahun! Abang beruntung juga Ai mau pacaran sama om-om!" Shaletta meledek.


Ai menyembunyikan senyumnya. Kemarin Shaletta sendiri yang memelas, ingin menjodoh-jodohkan ia dengan abangnya. Namun sekarang, saat melihat abangnya sedang memanfaatkan Ai, membuat Shaletta jadi menyerang abang sendiri. Shaletta sungguhlah sahabat terbaiknya!


"Kalau om-omnya kayak abang, siapa yang bisa nolak?" Ai tertawa pelan, sambil menyentuh pelan lengan Al.


Ai jadi bertanya-tanya sendiri, kenapa ia jadi terlalu larut membantu Al? Bukannya ia hanya diminta untuk tersenyum dan diam saja? Sekarang kenapa ia jadi ikut-ikutan membantu Al yang sedang diserang dari segala arah? Apakah ini murni perasaan kasihan saja?


Sementara itu, saat Ai menyentuh lengannya, Al merasa sesuatu bergetar di hatinya. Entah kenapa lengkung bibirnya langsung tertarik. Ia merasa malu, sampai harus menunduk. Aneh. Kenapa ia jadi secemen ini?


Lagi-lagi gesture tubuh Al dan Ai tertangkap oleh mata Abimanyu dan Junita. Abimanyu menggenggam tangan Junita.


"Al malu. Ini beneran, Pa," bisik Junita, pelan. Kali ini hanya bisa didengar oleh suaminya.


Abimanyu mengangguk. Ia terlihat begitu terpukau dengan semua kejadian ini, lalu ia pun bertanya dengan lantang, "Jadi, kapan kalian mau menikah?"


Al dan Ai rasanya ingin masuk saja ke kolong meja!!!


***


Dukunganmu adalah semangatku.


Jangan lupa vote, gift dan likenya ya.

__ADS_1


IG : @ingrid.nadya


__ADS_2