Aldebaran Mencari Cinta

Aldebaran Mencari Cinta
Bab 24


__ADS_3

Wening sebenarnya sudah datang sejak beberapa menit yang lalu. Ia mengamati seluruh isi restoran dan menemukan teman kwncan butanya di meja sepuluh. Namun, kakinya berhenti melangkah begitu melihat ada seorang wanita di sebelah Al.


Ia segera mengirimkan pesan pada Al, namun tak juga dibalas. Dua orang itu tampak tertawa-tawa dari kejauhan.


Wening gondok.


Kenapa Boris menyuruhnya menemui Al, kalau ternyata laki-laki itu sudah punya seseorang? Padahal ia sengaja meninggalkan meeting kantor dengan buru-buru, eh, malah disajikan pemandangan seperti ini.


Akhirnya, Wening memutuskan untuk segera mendekati Al. Ia bisa langsung pulang kalaupun laki-laki itu memang tidak butuh kehadirannya.


"Hey! Aldebaran, kan?" tanya Wening, begitu tiba di hadapan mereka.


Al langsung menoleh ke asal suara. Berdirilah di hadapannya, seorang wanita mungil dengan rambut panjang. Wanita itu persis seperti foto yang ditunjukkan oleh Boris. Menarik. Jarang sekali orang bisa terlihat sama persis dengan fotonya sendiri. Tapi bukan itu masalahnya sekarang...


'Bisa-bisanya gue lupa punya janji!' Al memaki dirinya dalam hati.


Ia pun bangkit berdiri dan segera berkata, "Oh, hi, Wening! Silakan duduk!"


Al menunjuk kursi di hadapannya.


Wening semakin terlihat jengah. Bagaimana mungkin Al berpikir bahwa ia mau satu meja dengan wanita lain?


Al, yang sepertinya belum mendapat pencerahan dari langit untuk mengerti perasaan perempuan, hanya memandangi Wening tanpa merasa bersalah. Shaletta, yang mengamati semua itu, akhirnya mau turut campur.


Ia menoleh pada Wening. Sedikit merasa kesal karena wanita itu terlalu buta, terlalu menjunjung harga diri, sampai-sampai tidak bisa melihat fakta bahwa Al dan Shaletta memiliki kemiripan. Memang banyak yang tidak langsung bisa melihat fakta bahwa Al dan Shaletta adalah kakak adik, tapi kalau mengamati selama beberapa saat, harusnya orang-orang bisa menangkap sih. Asal tidak langsung cemburu buta saja.


"Silakan duduk, Kak. Saya numpang makan aja sepuluh menit. Abis itu pergi lagi," kata Shaletta.


Tapi Wening tetap tidak terima.


Shaletta memang sengaja tidak langsung mengatakan apa hubungannya dengan Al untuk mengetes. Ternyata Wening tidak lolos seleksi. Wanita yang sedikit gila akan membuat abangnya ikutan gila.


Abangnya tidak boleh bersama dengan wanita yang bereaksi terlalu berlebihan. Karena akan membuat abangnya semakin tidak ingin memulai sebuah hubungan.


Maka, Shaletta merasa harus ikut campur.


"Saya ini adik kandungnya loh." Shaletta mengucapkan kalimat itu dengan dramatis.


"Nggak lihat kita mirip?" Ia bertanya, sambil menunjuk wajahnya sendiri dan Al berulang kali.


Saat itulah, semuanya menjadi jelas bagi Wening. Matanya baru terbuka. Ternyata memang ada beberapa kemiripan di antara wanita dan laki-laki di hadapannya.


"Oh, adik." Wening bergumam, tanpa sadar.


Saat itulah, Shaletta menendang kaki Al kuat-kuat.


"Aw!" Al menjerit.

__ADS_1


"Kenapa, Bang?" tanya Shaletta.


Al menggeram saja, tidak menjawab. Ia hanya mengelus-elus kakinya yang kesakitan. Namun, Al tahu Shaletta bertingkah nakal seperti ini jika ia ingin memberitahunya tentang orang yang tidak disukai. Namun, ia bingung kenapa Shaletta langsung bisa menyatakan ketidaksukaannya pada Wening, padahal mereka bahkan belum saling ngobrol lebih dari sepuluh kata.


"Iya, Etta ini adik saya. Tadi saya minta datang, karena saya jarang sekali makan sendirian di tempat umum." Al menjelaskan.


Berulah sepertinya, Wening mau menerima situasi ini. Mereka berdua pun akhirnya duduk.


"Iya, nggak apa-apa. Sorry banget ya, aku telat. Mendadak dikasih kerjaan sama atasan."


"Nggak apa-apa, Wen."


Tiba-tiba Shaletta langsung menyambar, "Huuuuh! Nggak adil! Kalau gue aja yang telat, pasti dimarah-marahi deh. Abang kan paling nggak suka sama orang yang nggak bisa memenuhi janjinya."


"Taa..." Al menyenggol lengan Shaletta.


Tapi, adiknya itu masih belum ingin diam.


"Dih, marah! Kan abang sendiri yang bilang, kalau udah janji jam tujuh, yah harus datang jam tujuh dong! Karena waktu kita ngeiyain, artinya kita sanggup nanggung semua konsekuensi untuk datang di jam yang dijanjiin."


Al rasanya ingin menutup mulut Shaletta sekarang juga. Ia punya misi disini! Jangan sampai adiknya menggagalkan rencananya! Namun, ia bisa apa? Ini kan tempat umum! Tidak mungkin ia cakar-cakaran dengan Shaletta disini.


Wening sendiri hanya tersenyum kikuk, "Iya, maaf ya, Al. Tadi itu beneran mendadak."


"It's okay, Wen. Kamu pesan dulu aja." Al menyodorkan buku menu. Wening segera menutupi perasaan tidak enaknya dengan mengamati buku menu.


"Buruan makan!" desak Al.


"Iya, iya."


Namun, Shaletta malah memperlambat proses mengunyahnya. Ia malah mengambil smart phone-nya lalu mengetik sesuatu pada Al.


Etta :


Abaaaang tuh lagi blind date sama nih cewek ya?


Smart phone Al berdenting. Ia pun akhirnya mengambil benda itu dan melihat seluruh notifikasi yang masuk. Barulah ia melihat chat Wening yang tadi.


"Eh, Wen, kamu tadi hubungin saya ya? Maaf ya, saya baru lihat hape."


"It's okay, Al." Wening tersenyum saat membalikkan kata-kata Al yang tadi.


Etta :


Cantikan juga Ai, baikan juga Ai.


Pesan itu masuk lagi. Al sampai geleng-geleng kepala. Jarang-jarang adiknya menunjukkan sikap permusuhan pada siapapun. Kenapa malah dengan seseorang yang berpotensi jadi pacar seharinya?

__ADS_1


Al pun cepat-cepat membalas pesan tersebut.


Al :


Berisik! Buruan pulang!


Shaletta menggerutu.


Wening sendiri sedang sibuk mengucapkan pesanannya pada pramusaji. Setelah itu, barulah ia beralih pada kakak beradik di hadapannya.


"Hariku panjang dan buruk banget. Maaf ya kalau tadi sempat bikin suasana nggak enak." Wening mencoba menunjukkan wajah memelas.


Shaletta mengangguk saja. Ia bukan orang yang suka berbasa-basi. Kalau sudah tidak suka, ya tidak suka.


"Nggak apa-apa, Wen." Akhirnya Al yang menjawab.


Kemudian hening. Suasana berubah canggung.


Abangnya benar-benar tidak punya harapan! Ia tidak punya topik untuk dibicarakan dengan Wening. Berbeda sekali saat ditinggal berdua tadi dengan Ai


Tapi ia suka jika abangnya seperti ini pada wanita lain. Sebab tadi, bersama Ai, abangnya sangat lugas berbicara. Dan ia- pun tidak ingin membantu abangnya memecahkan kesunyian ini. Biarlah suasana tetap sedingin ini.


"Ah, gue udah selesai makan. Gue balik dulu ya?" kata Shaletta, menghabiskan minumnya.


"Okay."


"Bye, Ta." Wening melambai. Sedikit lega, karena berpikir Al menjadi kikuk dengannya karena ada adik sendiri.


"Bye!" Shaletta mengangkat tasnya lalu segera melenggang keluar dari Odysseia.


Namun, harapan tinggal hanya harapan. Berbanding terbalik dengan pikirannya, Wening malah mendapati Al lebih diam dari saat ada adiknya. Pada dasarnya, Wening pun adalah orang yang tidak banyak bicara. Jadi, ia tidak bisa membangun percakapan juga dengan seseorang yang sama pendiamnya.


Untungnya pesanan Wening datang tak lama kemudian. Jadi, ia punya alasan untuk tidak banyak berbasa-basi.


Sementara itu, Al sendiri malah sibuk dengan pikirannya. Kata-kata di pesan Shaletta tadi bergema lagi di kepalanya.


Cantikan juga Ai, baikan juga Ai.


Al mengamati Wening.


Ah, kalimat Shaletta sungguh benar adanya. Sekarang, ia jadi ragu, apakah Wening adalah orang yang cocok untuk dikenalkan pada keluarganya?


***


Jangan lupa dukungannya ya, teman-teman 🤗🤍


IG : @ingrid.nadya

__ADS_1


__ADS_2