Aldebaran Mencari Cinta

Aldebaran Mencari Cinta
Bab 11


__ADS_3

Ai baru saja tiba di supermarket, di sebelah Rumah Bunga ketika smart phone-nya berdering. Nama Tantri tertera di layarnya. Sambil mengambil teh botol dari dalam kulkas, ia pun menjawab telepon tersebut.


"Ai, pesanan Mbak Etta udah dijemput. Ini udah kelar kan?" tanya Tantri.


"Udah kok."


"Oke deh."


"Bunganya udah dibayar ya, Tan. Jangan diminta lagi."


"Oke."


"Ingat, cek sekali lagi sebelum dikasih."


"Siap."


Ai menutup telepon. Lalu, berjalan ke kasir untuk membayar teh botolnya.


"Aduh." Tiba-tiba Ai teringat sesuatu.


"Kenapa, Mbak?" tanya sang kasir supermarket.


Ai kelabakan. Ia benar-benar lupa mengatakan pada Tantri bahwa Shaletta menyiapkan sebuah kartu ucapan untuk ibunya. Sudah ditulis dengan cantik oleh Ai, namun masih diletakkan di atas meja kasir. Mungkin kalau ia balik ke Rumah Bunga sekarang, masih terkejar.


"Mas, tunggu dulu ya. Nanti saya balik lagi."


Ai cepat-cepat berjalan keluar dari supermarket. Ia sempat mendengar repetan dari sang kasir, tapi ia tidak peduli. Ia terburu-buru menuju Rumah Bunga. Begitu melewati pintu masuk tokonya itu, Ai sempat menyadari kehadiran seseorang. Laki-laki, dengan tubuh yang lebih tinggi darinya.


Namun, ia tidak sempat menoleh.


Begitu melihat Tantri, ia langsung bertanya.


"Kartunya udah dikasih belum?" tanya Ai.


Tantri menepuk jidat, "Belum!"


Ia pun segera mengambil sebuah kartu di hadapannya, dan memberikannya pada Ai.


"Nih, orangnya yang baru aja keluar, masih kekejar kayaknya," kata Tantri.


Ai langsung berlari mengejar sekelabat bayangan di luar toko yang sedang berjalan menuju parkiran. Orang itu kini tampak sedang meletakkan bouquet bunga tersebut di bagasi mobilnya.


Ai melihat orang tersebut dari belakang. Punggung yang kuat, kokoh. Bahu yang lebar, seperti sanggup menanggung beban apapun. Pakaiannya sendiri terlihat fashionable, jadi tidak mungkin orang tersebut adalah supir Shaletta yang sudah berumur lima puluh lima tahun.


Ai juga pernah beberapa kali bertemu dengan Dion, kekasih Shaletta. Ia tahu bagaimana postur tubuh kekasih Shaletta tersebut, seseorang di hadapannya pasti bukan Dion.


Tidak mau membuang waktu lebih lama, ia pun segera menepuk bahu laki-laki di hadapannya.


"Permisi, Kak..." Ai memanggil.


Orang tersebut menoleh.

__ADS_1


Ai langsung terpana. Ternyata orang di hadapannya adalah abang dari sahabatnya, yang pernah ia lihat beberapa kali di media sosial. Kenapa orang semenarik ini masih sendiri? Ai tidak habis pikir.


Sementara itu, laki-laki yang ditepuk tersebut hanya memasang tampang bertanya, tanpa mengucapkan apapun.


Ai berusaha menyadarkan dirinya sendiri.


"Maaf, Kak, ada yang ketinggalan," katanya, berusaha tenang. Lalu, menyodorkan kartu tadi pada Al.


"Oh, iya." Al menerimanya, tanpa banyak berbicara. Ia pun memperhatikan kartu tersebut sejenak.


"Makasih, Kak. Silakan mampir lagi di Rumah Bunga." Ai tersenyum, kaku.


"Hehehe." Tiba-tiba Al cengengesan.


Ai kebingungan melihat tingkah Al ini. Ah, apakah ini penyebab abang dari Shaletta ini jomblo selama tiga puluh tiga tahun? Sayang sekali. Ganteng-ganteng kok gila ya?


Al langsung menyadadi tatapan wanita di hadapannya. Ia pun menengadah untuk kembali bertemu mata dengan Ai.


"Maaf, tapi kayaknya kamu salah ambil kartu deh." Al menunjukkan bagian depan kartu tersebut.


Disana tertulis : To my beloved husband, i love you.


(Untuk suami tercinta, aku sayang kamu.)


Ai merutuk! Dasar Tantri!


"Eh, salah ya? Maaf, Kak. Sebentar ya, saya ambil dulu ke dalam." Ai langsung berlari terbirit-birit ke dalam tokonya bahkan sebelum Al mengucapkan apapun.


"Tantriiiii! Lo salah kartu!!!" Ai berteriak panik begitu tiba di meja kasir, sambil mencari-cari kartu yang ditujukan kepada ibu Shaletta.


"Maaf, Aiiiii." Tantri meminta maaf lagi, tapi bosnya itu sudah terburu-buru keluar lagi dari tokonya.


Al, yang menunggu di luar, mengamati Ai berlari padanya. Wajah wanita tersebut merah padam. Dan ntah bagaimana caranya, ntah apa penyebabnya, sesuatu berdesir di hati Al.


Sesuatu yang aneh.


Asing.


Tidak pernah dirasakannya sebelumnya.


Dan begitu Ai tiba di hadapannya, anehnya sudut mulutnya secara otomatis tertarik ke atas untuk membentuk sebuah senyuman.


"Nggak usah lari-lari juga kok. Saya nggak buru-buru," katanya.


Sejurus kemudian, Al heran dengan kalimatnya sendiri. Ia yang terbiasa hemat bicara dengan kaum wanita, kenapa sekadang jadi berbasa-basi tidak penting seperti ini?


"Nggak apa-apa, Kak. Maaf banget ya." Ai pun menyodorkan kartu yang benar. Al segera mengambilnya, lalu mengembalikan kartu yang salah tadi.


Saat itulah, jari telunjuk Ai menyentuh telapak tangan Al.


Sesuatu kembali mengganggu rongga dadanya.

__ADS_1


Aneh sekali.


Ini benar-benar aneh.


Al tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Ia sampai harus menyadarkan dirinya sendiri agar bisa bertingkah normal.


"It's okay. Thank you ya–" Al sengaja menggantungkan kalimatnya. Ia tidak tahu nama wanita di hadapannya.


"Ai. Itu nama saya, Kak."


"Saya Al. Aneh ya, beda satu huruf aja."


Ai tersenyum. Al semakin tidak mengenali dirinya. Basa-basi atas dasar apa ini?!


"Makasih sekali lagi ya, Ai." Al pun akhirnya mengibaskan kartu itu pelan, lalu berbalik dan masuk ke mobilnya. Ia memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu, sebelum ia merasakan yang lebih aneh lagi dari ini.


Ai sendiri hanya bisa mengangguk. Ia terus mengamati kepergian Al. Tidak mengerti sama sekali apa yang menyebabkan ia berlama-lama menatap punggung tersebut, sampai menghilang masuk ke dalam mobil.


Lalu, mobil itu pun melaju.


Ai menghela nafas. Perasaannya kenapa jadi campur aduk seperti ini?!


Ia hanya bisa memandangi mobil tersebut lama-lama, sampai bergerak menghilang meninggalkannya. Perasaan apa ini? Kenapa rasanya tidak rela?


Ai hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak boleh norak seperti ini hanya karena bertemu pria tampan!


Sementara itu, Al, di dalam mobil, tidak seperti biasa, merasakan dorongan untuk melirik ke arah spion. Ia bisa melihat Ai masih berdiri di tempat yang sama, menunggunya disana sampai menghilang.


Setelah berbelok di tepi jalanan, Al langsung menggaruk kepalanya sendiri. Apa yang baru saja terjadi? Ia tidak mengerti sama sekali!


Ia cepat-cepat memasang radio mobilnya untuk mengalihkan perhatiannya.


"Adakah satu arti di balik tatapan?


Tersipu malu akan sebuah senyuman.


Membuat suasana menjadi nyata.


Begitu indahnya..."


Lagu dengan judul "Dia" dari Maliq and D'Essentials mengalun di dalam mobil Al.


Al merengut. Lagu apa-apan ini?!


Ia segera mematikan radio tersebut.


Menyeramkan!


Kenapa jadi menyeramkan seperti ini sih?!


***

__ADS_1


Abaaaaang, norak banget sih, kayak pertama kali ketemu cewek aja 🤣


IG : @ingrid.nadya


__ADS_2