
"Lo mau denger suara kembang api nggak?" tanya Sammy, tiba-tiba, saat ia dan Ai sedang berjalan di parkiran Pasific Place.
Ai yang langsung mengerti maksud sahabatnya itu langsung bergerak menjauh.
"Sammyyyyyyyy, awas kalau berani!!!" Ia mengancam sambil berlari.
Tapi Sammy segera mengejarnya. Setelah yakin ia berlari cukup dekat dengan Ai...
"Brroooooooot!" Suara kentut Sammy membahana.
Ai pun langsung segera berbalik mengejar Sammy.
"Sialaaaaan loooooo, Saaaaaaam!" makinya.
Sammy tertawa puas sambil berlari lebih kencang agar tidak tergapai oleh Ai. Karena kalau sampai Ai bisa mengejarnya, habislah badannya! Ia akan dipukul dan dicubit habis-habisan.
Sammy terus berlari menuju mobilnya. Namun, saat jarak antara ia dan mobilnya sudah semakin dekat, ia menoleh sebentar pada Ai. Sahabatnya itu ternyata sudah berdiri menunduk sambil memegangi lututnya.
"Buseeet! Baru lari sebentar, lo udah ngos-ngosan gini!" Sammy meledek.
"Awas lo ya! Kalau sampai dapet, habis lo!" ancam Ai, sambil menarik nafas dalam-dalam.
Sammy tergelak. Ia pun berjalan mendekat pada Ai, berniat membantu temannya itu.
Namun, Ai segera menyerangnya. Ternyata tadi hanya tipuan agar Sammy mau menolongnya. Sammy pun benar-benar dipukuli dan dicubiti habis-habisan. Namun, ia hanya tertawa-tawa.
"Hahahaha, aw, kejam banget. Aissss, sakit bangetttt!" Sammy terus mengaduh sambil terus tertawa.
"Makanya, jangan reseeeeh!" maki Ai.
"Hahahaha, iya, ampun!" Sammy hanya bisa melindungi dirinya.
Akhirnya, Ai berhenti.
"Udah yuuuk, jangan main-main lagi. Gue masih harus bayar rumah sakit nih. Nggak tahu deh kasirnya masih buka atau nggak."
"Iya, iya."
Sammy dan Ai pun kembali berjalan santai menuju mobil.
"Anyway..." Sammy sengaja menggantungkan kalimatnya.
Ai menoleh.
"Gimana menurut lo abangnya Etta?"
Ai melirik tajam, "Jangan mulai deh!"
Sammy terkekeh, "Ini bukan bakso. Jangan pake urat deh!"
Ai mendengus.
"Serius, Ai. Gue penasaran."
"Ya, nggak gimana-gimana, Sam. Emang lo maunya gimana sih? Kesel gue!"
"Hahaha. Kenapa sih harus kesel kalau emang nggak gimana-gimana?"
Ai melirik tajam lagi.
"Ya ampun, gitu aja marah!" Sammy merangkul Ai.
"Makanya lo jangan macem-macem!"
Sammy tertawa, sambil menggiring Ai menuju mobilnya yang jaraknya tinggal sedikit lagi. Ai pun akhirnya masuk ke dalam mobil. Sammy dapat melihat wajahnya masih cemberut.
"Lo kayak anak SMP lagi suka-sukaan sama kakak kelas, tahu nggak?!" Sammy meledek.
"Siapa juga yang suka?!" Ai mencibir sambil memasang sabuk pengamannya.
"Suka juga nggak apa-apa loh. Abangnya Etta single, lo juga single." Sammy menjelaskan sambil melajukan mobilnya.
__ADS_1
Ai hanya menyandarkan badannya di jok mobil. Ia menghela nafas.
"Gue nggak punya waktu buat perasaan kayak gini, Sam."
'Perasaan kayak gini...' Sammy mengulang kalimat Ai dalam hati untuk mencerna maknanya. Ah, Ai sedang mengakui bahwa ia memang merasakan sesuatu...
"Ai, lo punya waktu. Tante justru lebih sedih kalau tahu lo nggak bisa menikmati masa muda lo."
Ai diam saja. Tidak menanggapi. Sammy mengalah, terlalu bingung bagaimana cara mendesak Ai untuk menyadari perasaannya.
Mobil pun meluncur keluar dari parkiran Pasific Place, dan mereka langsung terpelongo melihat keadaan di luar sini.
"Wah, hujan!" seru Ai.
"Sial! Mana macet banget lagi," keluh Sammy.
Ai pasrah. Tidak ada gunanya menggerutu lagi. Ia tidak punya tenaga untuk mengeluh. Kasir rumah sakit akan tutup setengah jam lagi. Jarak antara rumah sakit dan Pasific Place sebenarnya hanya sepuluh menit, tapi kalau macet seperti ini...
"Hidup... hidup..." Ai menggeleng-gelengkan kepala.
Sammy terkekeh.
"Tidur gih, nanti gue bangun kalau udah deket rumah sakit. Bakal lama ini."
"Tumben amat, biasanya lo pengennya ditemenin."
"Udah, nggak usah berisik." Sammy langsung menurunkan sandaran bangku Ai. Lalu, ia pun mengambil selimut yang selalu tersedia di jok belakang dan memberikannya pada Ai.
"Baiknyaaaaaa!" Ai tersenyum-senyum.
"Berisik!"
"Beruntung banget sih pacarnya Sammy!"
Sammy mencibir.
Ai tertawa.
Dalam sekejap saja, Ai mulai terlarut dalam kantuknya.
"Thanks, Sammy..." kata Ai, di sisa-sisa kesadarannya.
Sammy tersenyum kecil melihat sahabatnya itu.
"Dasar anak kecil! Kapan sih lo akil balignya?"
***
Ai baru tiba di rumah sakit satu jam kemudian. Ia langsung menyuruh Sammy pulang agar tidak terlalu lama tiba di rumahnya.
Ai tidak lagi berharap banyak saat melangkah masuk ke dalam rumah sakit. Dan benar saja, kasir rumah sakit sudah tutup. Ai mengacak rambutnya sendiri. Apakah ini artinya harus menanggung biaya inap satu hari lagi?
"Uang darimana?" Ai rasanya ingin menangis. Padahal hari ini belum ada orderan online yang masuk dari pelanggan untuk pengiriman esok hari. Bagaimana ia bisa berharap besok bisa melunasi seluruh tagihan rumah sakit?
Ai sempat berpikir bagaimana kalau seandainya tadi ia langsung pulang saja. Tidak peduli dengan cibiran atau apapun perkataan sang nenek. Asalkan ia bisa membayar lunas tagihan rumah sakit hari ini.
Tapi Ai bukan orang yang terbiasa menyesali apapun berlama-lama. Yang berlalu, biarlah berlalu...
Setelah bermuram durja selama beberapa saat, Ai menampar pipinya sendiri.
"Semangat Ai, semangat! Emang kapan sih Tuhan biarin lo sendirian? Kapan sih Tuhan biarin lo pusing tanpa dibantu sama sekali?" Ai menyemangati diri sendiri. Di saat-saat seperti ini, yang tertinggal di dalam dirinya hanyalah sebuah harapan. Dan sebuah iman yang teguh kepada Tuhan, bahwa selalu ada jalan keluar dari setiap masalah yang ia hadapi.
Ia mengusap airmata yang tadinya sempat menggenang.
Ia cepat-cepat berjalan menuju kamar ibunya. Saat membuka pintu, Mira langsung menyambut.
"Udah pulang, Nak?" Mira merentangkan tangan.
Ai langsung masuk ke dalam pelukan Mira.
"Ma..."
__ADS_1
"Hm?"
"Kayaknya besok belum bisa keluar dari rumah sakit deh. Ai telat tadi, kasirnya keburu tutup."
Mira, anehnya, malah tersenyum. Ia mengelus kepala Ai dengan penuh perasaan sayang.
"Kita tetep bisa pulang kok. Nenek tadi udah bayarin tagihan Mama."
"Eh???"
Mira mengangguk, "Tadi nenek maksa bayar..."
"Tapi..."
"Nggak apa-apa. Dia nggak ngomong apa-apa kok."
Ai menggigit bibirnya. Tidak menyangka bahwa pertolongan Tuhan kali ini datang dengan cara seperti ini. Melalui neneknya. Nenek yang sangat membencinya, tanpa sebab.
Well, sebenarnya ada sebabnya, tapi lebih baik ia simpan saja di hati terdalamnya. Terlalu menyedihkan untuk diucapkan.
"Nggak usah dipikirin. Yang penting lunas dulu," ucap Mira, lagi.
Ai mengangguk. Setidaknya ia bersyukur atas kebaikan sang nenek kali ini.
"Oh iya, Ma. Sabtu nanti, aku pergi sama Etta ya ke nikahan sepupunya."
Mira menatap anaknya penasaran. Tumben-tumbenan anaknya mau pergi bersama teman di hari Sabtu. Dan ia teramat bersyukur untuk itu.
"Boleh dong. Boleh banget." Mira tampak bersemangat.
Ai mencibir, "Ada gitu, ibu-ibu yang malah seneng kalau anaknya kelayapan."
Mira terkekeh, "Abisnya anak Mama nggak pernah nikmatin hidup."
"Kalau ke kondangan itu termasuk nikmatin hidup, aku nggak usah deh nikmatin hidup selama-lamanya."
Mira sekarang malah tertawa.
"Oh, kamu pake aja uang pengobatan Mama buat beli baju baru," kata Mira, teringat sesuatu.
Ai menggeleng tegas.
"Nggak usah, Ma. Aku pinjem gaunnya Kak Gab aja."
Mira mengernyit, "Gab lagi disini?"
Ai mengangguk. Akhirnya Mira mengangguk. Baju-baju Gab akan jauh lebih bagus dari apapun yang mampu mereka beli.
"Ya udah. Semoga nanti di acara nikahan sepupunya Etta, kamu ketemu sama cowok cakep ya, Ai. Semoga kamu bisa cepat-cepat pacaran. Bisa kenalan sama cowok baik."
"Maaaa!" Ai protes.
Mira terkekeh, "Udah waktunya kamu kenalan sama yang namanya cinta."
"Nggaaaaaak!"
"Aiiiii, kamu udah dua puluh satu tahun!"
"Nggaaaak mauuuu!"
Mira tertawa melihat penolakan dari Ai. Tapi, ia sungguh berharap akan datang waktu dimana ada yang bisa membantu anaknya memikul semua beban ini. Bukan urusan finansial, ia tahu anaknya sanggup mengemban beban yang satu itu sendirian. Hanya saja, ia selalu merasa beban batin Ai lebih besar. Dan ia hanya ingin seseorang dapat mengemban beban itu bersama-sama dengan Ai.
Sementara itu, di dalam hati dan benak Ai sendiri, ia teringat sebuah nama. Seseorang yang selalu berbicara formal dengannya. Seseorang yang kadang mengacaukan pikirannya.
Siapa lagi kalau bukan temannya mengobrol dua jam yang lalu?
***
Teman2, judulnya kan Aldebaran Mencari Cinta. Jadi, sabar aja kalau abang mencari-cari dulu 🙈
IG : @ingrid.nadya
__ADS_1