Aldebaran Mencari Cinta

Aldebaran Mencari Cinta
Bab 20


__ADS_3

"Please bantuin gue, Bor," Al memelas. Ia menyandarkan kepalanya di lengan Boris sambil merengek.


"Apaan sih lo?! Ini deket kantor gue, nanti kalau ada yang lihat kita, citra lawyer gue bisa hancur." Boris menggerak-gerakkan lengannya agar segera dilepaskan.


Al pun memasang tampang cemberut seperti bocah lima tahun tidak kebagian permen kepada Boris.


Tadi ia memang langsung meminta bertemu dengan Boris begitu pulang dari rumah Isyana. Karena hanya Borislah, satu-satunya orang yang menjadi harapannya saat ini. Sahabatnya itu kan punya ratusan kontak perempuan hits Jakarta, sebab ia pun termasuk salah satu laki-laki hits Jakarta. Pekerjaannya sebagai lawyer membantunya untuk mendapatkan pergaulan yang cukup luas, karena dia jadi sering berkenalan dengan artis atau selebgram yang terkena kasus hukum. Maka dari itu, hanya Borislah satu-satunya orang yang terpikirkan oleh Al untuk membantunya keluar dari situasi sulit ini.


"Please?" Ia memohon lagi.


Boris menghela nafas. Seumur-umur, baru kali ini Al meminta dikenalkan dengan wanita. Sepertinya memang temannya itu sudah sangat putus asa.


"Lo mau yang kayak gimana? Cantik? Bohay? Pinter? Kaya raya?" tanyanya sambil mengeluarkan smart phone dan menyusuri kontaknya.


"Nggak perlu."


Boris menoleh pada Al.


"Lo mending kasih tahu ciri fisik deh. Emangnya lo mau kalau gue kenalin sama jenglot?"


Al menggaruk kepala. Bagaimana ia bisa mengatakan ciri fisik, kalau ia tidak punya tipe ideal sama sekali?


"Nggak punya, Bor. Apa aja deh."


Al, Al. Dikira sedang membeli barang di Pasar Glodok.


"Al, cewek ini bakal lo kenalin ke keluarga Maheswara sebagai pacar. Atau dalam pikiran bokap lo, cewek ini bahkan bakal jadi calon istri lo. Jadi, mending lo kasih gue, seenggaknya satu aja ciri fisik cewek yang lo suka. Ini demi masa depan lo!"


Al mengamati wanita-wanita di sekitarnya. Tidak ada yang menarik. Hasratnya masih padam. Ntah kapan terbangunnya. Seperti Kyubi berekor sembilan yang berdiam dalam diri Naruto selama bertahun-tahun tanpa dia sadari, begitulah masa puber bagi Al.


Lalu, tiba-tiba, ntah bagaimana caranya, ia dapat membayangkan seseorang. Begitu saja.


"Rambut panjang, tampang baik-baik," ucapnya, tanpa sadar mendeskripsikan seorang wanita. Seseorang yang baru ia temui hanya dua kali.


"Lo lagi ngebayangin siapa?" tanya Boris, penasaran, menyadari bahwa Al sempat melamun saat mengatakan ciri fisik wanita yang ingin dikenalkan padanya.


Al pun tersentak. Ia cepat-cepat menggeleng, lalu berkata, "Bukan siapa-siapa. Lo punya kenalan yang kayak gitu, nggak?"


Boris tidak ambil pusing, kemudian kembali sibuk menyusuri kontaknya.


"Ada beberapa sih, kalau cuma itu syaratnya."


"Ya udah, kenalin gue yang kayak gitu aja."


"Ini, pilih aja yang lo mau." Boris menunjukkan beberapa foto silih berganti pada Al. Semuanya adalah wanita-wanita hits yang punya banyak followers di media sosial.


"Asli! Ini lo simpenin semua kontaknya? Rene kagak marah?" Al geleng-geleng kepala.


"Nggak peduli dia. Hati Rene kan sama batunya kayak lo."


Al tertawa. Mengerti sekali bahwa dalam hubungan Boris dan Rene, Boris adalah pihak yang lebih cinta.

__ADS_1


"Ada yang lo suka nggak?" Boris bertanya setelah Al bolak-balik melihat lima dari sekian banyak foto wanita.


"Gue bingung. Kalau lo kenalin ini semua gimana?"


"Eh, buset! Beneran puber lo? Makanya jadi serakah gini?"


"Asem lo! Cuma jaga-jaga aja, siapa tahu nge-zonk kayak Isyana lagi."


"Buset! Hahahaha. Tapi gimana lo ketemunya sekali lima begini?"


"Ganti-gantian lah gue temuin. Kalau ada yang cocok, baru diterusin."


"Gilaaaaa, temen gueeee! Nggak pernah tertarik sama cewek selama tiga puluh tiga tahun. Sekalinya minta dikenalin langsung minta lima. Laki-laki emang udah kodratnya untuk jadi brengsek."


"Sial!" Al tertawa.


"Bentar ya! Gimme fifteen minutes," ucap Boris.


Lalu, mereka pun sibuk dengan smart phone masing-masing selama beberapa saat. Al sendiri hanya sibuk membaca satu serial komik di webtoon, Borislah yang sedang bergerilya dengan lima wanita pilihan Al.


"Weeeey, kok pada diem-diem sih?" Aseng tiba-tiba muncul.


Al mengernyit, "Lah?! Kok lo disini?"


Aseng ikutan bingung karena pertanyaan Al.


"Boris yang nyuruh. Katanya ada situasi gawat darurat."


"Hey, bukan salah gue dong kalau bentar lagi gue harus balik ke kantor! Gue bukan bos bakmie atau kerja di perusahaan bokap. Ini aja gue curi-curi waktu buat lo!" Boris membela diri.


Al menggeram.


Aseng pun tertawa.


"Emang lo kenapa sih?" tanyanya.


"Minta dikenalin cewek dia. Nggak tanggung-tanggung, langsung minta dikenalin ke lima orang!" Boris tertawa.


"Wuidih, bujang lapuk udah mulai puber nih?" Aseng terpukau.


Al menggeram.


"Kyubinya udah bangun, Seng. Ntar lagi paling kita lihat Al jadi laki-laki Oreo deh."


"Laki-laki Oreo?" Al bertanya, balik.


"Iya, yang hobinya..." Boris melirik Aseng. Temannya itu langsung tahu apa yang harus mereka katakan.


"Muteeeeeer, jilaaaaaat, celupiiiiin," kata mereka, berbarengan.


"GILAAAAAA!" Al memaki.

__ADS_1


Mereka pun tertawa setelah itu.


"Mending lo jadi brengsek deh, daripada amoeba gini." Boris lanjut menghina Al.


"Amoeba kenapa lagi?" Aseng memancing.


"Berkembang biak dengan cara membelah diri."


"HAHAHAHAHAHAHA!"


"Sial! Terus aja lo hina gue!" Al hanya bisa pasrah di bangkunya. Ia memang sudah terbiasa dihina-hina seperti ini. Tapi bukan salahnya, jika sistem biologis dalam tubuhnya memang belum bekerja seperti yang seharusnya.


"Eh, ada satu nih yang mau ketemu lo malem ini. Lo bisa nggak?" kata Boris, setelah smart phone-nya berdenting.


"Boleh. Ketemu sama yang mana tuh?" Al bertanya.


Boris menunjukkan foto seorang wanita mungil dengan rambut panjang dan tampang baik-baik.


'Bukan ini...' Al membantin. Namun, ia tidak bisa mengikuti kata hatinya sekarang. Ia harus segera mencari siapapun wanita yang mau diajak bertemu dengan keluarganya.


"Gue kelihatan freak nggak ya kalau baru dua hari kenal langsung ngajak ketemu orang tua?" tanya Al.


"Kalau mereka tahu background keluarga lo, gue berani jamin nggak bakal ada yang protes." Boris menyeringai.


"Betul, betul." Aseng ikut tertawa.


"Kalian nggak membantu sama sekali." Al mengeluh.


"Jadi, hubungin cewek yang mau sama bujang lapuk nggak butuh effort lebih?" Boris balas menggerutu.


"Gue juga harus kena omel bini demi bisa denger semua keluh kesah lo. Itu nggak membantu?" Aseng ikut-ikutan.


"Gue punya temen kenapa pamrih semua sih?" Al mencibir.


"Hahahaha. Ya udah, mau ketemu dimana lo sama nih cewek?"


"PP aja. Biar nggak kena macet gue."


"Oke."


Tak lama kemudian, Boris pun memasukkan ponselnya ke saku celana.


"Oke deh. Gue pergi dulu ya. Selamat berjuang, calon lelaki oreo!" Boris menepuk bahu Al.


"Pergi lo!" Al menepis tangan Boris.


"Hahahahahaha!"


***


Kalian lebih setuju abang jadi lelaki oreo atau lelaki amoeba, guys? 🥲

__ADS_1


IG : @ingrid.nadya


__ADS_2