
Setelah Al pergi siang itu, Sammy datang untuk menjemput Ai. Mereka ada kelas dua jam lagi, jadi masih ada waktu untuk berbincang-bincang sejenak di Rumah Bunga.
"Mas Sammy, aku ada kabar gembira, mau tahu nggak?" Tantri memancing. Ai langsung memutar bola matanya, mengerti betul Tantri hendak mengatakan apa.
"Enggak dong. Apaan tuh, Tan?"
"Ada orang yang lagi klepek-klepek sama laki-laki." Tantri cekikikan.
Sammy terpukau. Ia menoleh pada Ai.
"Beneran? Siapa? Sempat kenalan, nggak?" tanyanya, penasaran.
Ai mengabaikan Sammy, lebih memilih untuk merapikan bunga-bunga yang masih tersisa. Ini ladang duitnya, tempat ia menyemai rezeki. Harus ia rawat sebaik mungkin. Ketimbang ia ikut-ikutan memberi bumbu pada rasa penasaran Sammy.
"Yah, dianya kabur," ucap Sammy, ketika Ai berjalan melewatinya. Seperti ingin menunjukkan bahwa ia diabaikan.
"Mas Sammy pasti kenal deh..." sambung Tantri, lagi, membuat Ai semakin jengah.
"Reseeeh lo, Tan!" Ai bermisuh-misuh.
Tantri semakin kegirangan melihat sang bos merepet sendirian. Sammy sendiri sudah semakin terpukau. Ai tampak terganggu, mungkinkah apa yang dikatakan Tantri benar adanya?
"Jadi, bener nih?" Sammy mengambil kesimpulan sendiri.
"Bener dong, Mas. Masa aku bohong sih?"
"Siapa sih, Tan?"
"Abangnya Mbak Etta."
Wajah Sammy kini berubah tidak terima.
"Heeeeey, katanya nggak tertarik!" Ia protes pada Ai.
"Lo kan ngobrol sama Tantri. Nggak usah protes ke gue dong!" Ai membuang muka.
Sammy terkekeh.
"Sorry nih, Tan. Ada yang ngambek. Tapi makasih banyak ya informasinya." Sammy menepuk bahu Tantri.
"Sama-sama, Mas." Tantri mengerling.
Ai geleng-geleng kepala melihat dua orang tersebut. Sammy pun, akhirnya, berjalan mendekat kepada Ai. Ia harus melakukan sesuatu agar sahabatnya itu tidak ngambek lagi padanya.
"Kok bisa ketemu sih?" tanya Sammy, sambil ikut membantu Ai merapikan bunga-bunganya.
"Kak Al cuma ngambilin pesanan bunga Etta beberapa hari yang lalu." Ai menjelaskan.
Sammy berusaha menyembunyikan senyumannya. Kak Al. Bahkan abang Shaletta sudah mendapatkan panggilan akrab dari Ai.
Tapi ia berusaha untuk tidak bersikap berlebihan agar Ai mau terbuka. Ini pengalaman pertama untuk Ai membicarakan laki-laki pada Sammy, jangan sampai ia mengacaukannya.
"Terus, suka?"
Ai menatap Sammy, jengah.
"Ketemu juga baru dua kali. Suka gimana sih?" Ia menggerutu.
"Dua kali? Kapan lagi?" Sammy sepertinya sudah cocok menjadi wartawan infotainment gosip.
Ai sendiri, yang baru sadar bahwa tadi sempat keceplosan, akhirnya mengalah. Ia tahu tidak bisa melarikan diri dari rasa ingin tahu Sammy.
"Tadi. Puas?" Ia memaki.
"Puas banget. Tadi ketemuan buat apa lagi?"
"Kak Al cuma beli bunga buat ceweknya disini. Puas lagi?"
"Hah?! Kok jadi punya cewek sih? Kata Etta, dia tuh jomblo abadi."
__ADS_1
"Yeee, mana gue tahu."
"Terus, cemburu?"
"Apaan sih, Sammy?"
"Hehehehe. Kan gue cuma nebak. Emang nggak boleh?"
"Lo sama Tantri reseh banget, sumpah!"
"Baru tahu lo?! Kita udah kenal dari TK loh."
"Udah tahu sih, dari TK, tapi kadarnya makin bertambah setelah lo gede begini!"
Sammy tertawa.
"Udahan kan lo interogasi gue? Ke kampus yok?" tanya Ai, begitu sadar bahwa semua bunga telah tertata rapi lagi.
"Satu lagi, satu lagi."
"Apaan lagi siiiiih?"
Sammy menatap Ai, lekat-lekat. Ia perlu tahu tentang kebenaran dari pertanyaan yang akan ia tanyakan bentar lagi. Oleh sebab itu, ia harus meneliti setiap gerak-gerik dan ekspresi sahabatnya.
"Suka nggak?" tanya Sammy.
Semburat merah perlahan merayap di pipi Ai.
"Sammy!" Ai ngambek lagi. Ia langsung membuang wajahnya.
Sammy pun tersenyum lebar. Ia sudah tahu jawabannya.
"Lo nggak bisa bohong sama gue, Ai!" Sammy menggoda Ai.
"Bodo amat, Sammy, bodo amat!" Ai merepet sambil berjalan menjauh dari Sammy. Ia cepat-cepat mengambil tasnya, lalu keluar lebih dulu dari Rumah Bunga.
Sammy pun mengikuti sambil terkekeh. Ia benar-benar harus menyampaikan kabar gembira ini pada Shaletta!
***
"Dosen belum datang?" tanya Sammy. Padahal ia dan Ai datang lumayan mepet waktu, tapi kenapa dosen belum ada?"
"Nggak datang malah. Anaknya tiba-tiba sakit. Kelas dibubarin. Diganti besok pagi."
"Yang beneeer???" Ai terlihat tidak terima.
"Kesel kan?! Pagi banget lagi besok, jam delapan. Malesin." Shaletta mengeluh.
"Yah, mana kita belum bisa langsung pulang sekarang karena masih ada kelas makro ekonomi lagi." Sammy ikut-ikutan mengeluh.
Ai langsung mengurut kening. Padahal kalau bisa membayar lunas biaya rumah sakit hari ini, ia dan Mira harus meninggalkan rumah sakit maksimal besok pagi.
"Kenapa lo?" tanya Sammy, menyadari sikap aneh Ai.
"Besok pagi nyokap harus keluar rumah sakit lagi."
"Kalau gue jemput subuh gitu, bisa nggak?"
Ai menatap Sammy dengan wajah memelas. Pertolongan selalu datang dari manapun bagi orang-orang yang selalu ikhlas menjalani hidup ini. Itulah yang selalu Ai rasakan.
"Beneran mau jemput? Baiknya Sammy..."
"Iya. Tapi subuh, nggak apa? Biar keburu ke kampusnya."
"Nggak apa dong, kalau masih protes nggak tahu diri namanya."
"Emang kapan sih lo tahu diri?!"
"Nggak pernah sih kalau sama lo." Ai tertawa.
__ADS_1
Sammy mendengus. Tapi sejurus kemudian, ikut tertawa.
"Tante udah kelar pengobatannya?" tanya Shaletta.
"Kemonya udah. Tapi habis kemo nanti, harus tetap kontrol ke dokter untuk lihat perkembangannya sel kankernya."
"Semoga cepat sembuh, cepat terbebas dari segala penyakit. Amiiiin!"
"Amiiiin!"
Setelah itu, mereka hanya membahas singkat masalah kesehatan Mira. Namun, alam tiba-tiba memanggil Ai.
"Eh, sorry, sorry, gue potong. Gue mau ke toilet bentar nih." Ai pun langsung ngibrit keluar dari kelas, bahkan sebelum teman-temannya menjawab.
Setelah yakin Ai telah benar-benar pergi, Shaletta dan Sammy sama-sama langsung menoleh kepada masing-masing.
"Ai ada cerita nggak, Sam?" tanya Shaletta.
"Abang lo sendiri ada cerita?" Sammy bertanya, balik.
Shaletta senyam-senyum sendiri.
"Kata abang gue, Ai lucu dan cantik."
Sammy langsung tertawa.
"Ai juga kayaknya ada rasa deh. Paling enggak, kagumlah. Tebakan gue ya."
"Asyiiiik! Dia cerita?"
"Awalnya enggak, tapi Tantri bocorin. Jadi mau nggak mau, dia harus cerita ke gue."
"Hahaha. Terus terus, dia bilang apa lagi?"
"Dia udah ketemu dua kali sama abang lo."
"Udah dua kali? Emang kapan lagi? Abang gercep juga."
"Katanya, abang lo datang ke Rumah Bunga tadi siang."
"Hah?! Ngapain?"
"Beli bunga buat ceweknya. Abang lo bukannya jomblo?"
"Hah?! Jomblo kok. Bohong kali, cuma pengen ketemu Ai aja."
"Ai sih ngomongnya gitu ya."
Shaletta tampak berpikir. Tapi tidak ada ide sedikit pun kenapa abangnya membeli bunga untuk seorang wanita. Buat siapa pula?!
"Nanti deh gue interogasi," kata Shaletta akhirnya.
"Tapi abang lo beneran baik kan, Ta?! Ini bakal jadi pengalaman pertama Ai loh."
"Ya ampun, percaya sama gue, abang gue tuh malaikat. Cuma emang telat puber aja." Shaletta tertawa.
Sammy mengangguk. Hanya bisa berharap, sahabatnya yang berwajah dan berhati sama cantiknya itu akan mendapatkan lelaki yang sepadan. Lelaki yang pantas.
"Jadi, apa rencana selanjutnya? Kayaknya Ai tertarik kok sama abang lo."
Shaletta berpikir sejenak. Saat itulah, ia melihat Ai berjalan masuk ke dalam kelas. Dan ide itu pun muncul begitu saja...
"Aiiiii, temenin gue ke kondangan sepupu gue Sabtu ini ya?" pinta Shaletta, dengan mata berbinar.
Sammy langsung menutup mulutnya agar tawanya tidak meledak. Duo lambe ini memang paling bisa kalau sudah beraksi.
***
Shaletta, si manusia sejuta ide 🤣
__ADS_1
IG : @ingrid.nadya