
Pacific Place, SCBD, lumayan ramai malam ini. Al berjalan memasuki mall itu dengan canggung. Ia jarang sekali datang ke mall seorang diri. Hanya jika terpaksa saja. Untuk bertemu rekan bisnis, misalnya.
Namun, hari ini adalah sebuah pengecualian. Ia berjalan sendirian menuju Odysseia, sebuah restoran di Pasific Place, tempatnya memiliki janji temu dengan seorang wanita. Sekali lagi... seorang wanita! Sungguh sebuah keajaiban!
Al terus berjalan hingga ia tiba di dekat Odysseia. Ia pun segera mengirimkan pesan pada wanita tersebut.
Al :
Wening, saya di depan Odysseia. Kamu udah di dalem?
Dibalas dengan...
Wening :
Belum, Al. Sori banget, aku belum selesai meeting. Bakal telat sejaman deh. Masuk duluan aja.
Al menarik nafas. Sungguh cobaan! Pertama kalinya mencoba kencan buta, si pasangan malah terlambat datang. Tidak mengabari dari awal pula. Ia kan paling tidak bisa berada di tempat makan publik sendirian!
Ia tidak punya pilihan lagi, ia pun mencoba menghubungi sang adik. Setidaknya, adiknya itu adalah satu-satunya pengangguran yang paling suka diajak makan gratis.
Ia tidak bisa menghubungi teman-temannya yang saat ini pasti sedang kegirangan luar biasa karena akhirnya Al mau membuka diri. Jangan tanya sudah berapa kali mereka mencoba mencomblangi Al, namun selalu mendapat penolakan tegas darinya. Makanya, ketika ide itu datang dari Al sendiri, mereka tidak akan mau jadi penyebab batalnya kencan buta itu. Mereka pasti tidak akan mau datang ke tempat ini, apapun yang terjadi!
Maka, pada akhirnya, Al memutuskan untuk menelepon adiknya saja.
"Dek, lo dimana?" tanya Al, begitu Shaletta menjawab telepon.
"Masih di kampus nih, baru banget kelasnya bubar. Kenapa, Bang?" Shaletta bertanya balik.
"Pas banget gue di PP. Temenin gue dong? Please? Sejaman aja."
Kampus Shaletta, Universitas Atma Jaya, memang tidak terlalu jauh dari Pasific Place. Jika beruntung, tidak terkena macet, sebenarnya jarak tempuhnya hanya beberapa menit saja.
"Abang ngapain sendirian di PP?" Nada Shaletta terdengar curiga.
Al benci berbohong, lebih baik ia mengalihkan pembicaraan saja, "Lo mau dikasih makan gratisan aja ribet deh. Udah, buruan sini!"
"Hehehe. Ya udah, gue kesana deh. Lo dimana emang, Bang?"
"Odysseia."
"Oke deh. Masuk duluan aja. Nggak terlalu macet harusnya."
"Buruan ya, Ta, gue nggak mau mati gaya."
"Iyeeee, iyeeeee."
Mereka pun memutuskan hubungan telepon setekah itu. Ia pun berjalan ke dalam restoran. Lalu, memilih duduk di sudut ruangan. Ia ingin punya tempat yang pas untuk mengobrol personal bersama Wening nantinya.
“Mau langsung pesan, Mas?” tanya sang pramusaji setelah memberikan buku menu.
“Langsung pesan aja, Mbak. Sebentar ya.”
Al mengamati sejenak menu minuman. Lalu, memutuskan untuk langsung memesan tequila. Ia memerlukan sesuatu yang membuatnya tidak berpikir panjang.
__ADS_1
Ia menunggu sambil menonton apapun di smart phone-nya. Kadang, perkembangan teknologi memang membantu. Membuat kita jadi tidak mati gaya. Namun, jadi buah simalakama jika kita terlalu terfokus padanya.
Beberapa menit kemudian…
“Abaaaaaaang…” panggil Shaletta.
“Lo lama ba–“ Omelan Al terhenti ketika menyadari kehadiran seseorang di sebelah Shaletta.
“Gue bawa temen, nggak apa-apa kan?!” Shaletta tersenyum lebar.
Al rasanya ingin segera melempar Shaletta ke sebuah benua antah berantah agar ia dimakan oleh primata buas apapun disana!
Kenapa harus Ai? Di saat ia hampir bertemu dengan wanita lain di restoran ini?
Sementara Ai, yang berdiri di sebelah Shaletta, tampak kaget dan masih tidak percaya.
Matanya membulat dan rahangnya terbuka lebar. Dan fokus Al langsung terserap sempurna padanya. Tampaknya keputusan adiknya membawa Ai ke tempat ini bukan lagi jadi sebuah keputusan yang buruk.
Lalu fokus Al teralih pada satu orang lagi di sebelah Ai. Ia tidak bisa berhenti bertanya-tanya, siapa gerangan laki-laki yang berdiri di sebelah Ai saat ini...
***
Saat memasuki Odysseia, Ai sama sekali tidak menaruh kecurigaan pada Shaletta. Ia malah fokus menebak-nebak seberapa mahal makanan atau minuman yang akan tertera di buku menu. Sanggupkah dia membayarnya?
Apakah harga air putih yang diganti nama jadi sparkling water itu akan melebihi budget makannya untuk besok hari? Ah, Ai benci datang ke restoran mahal seperti ini. Hanya membuang-buang uang saja.
Tapi, ia bisa apa? Ia sedang tidak bisa langsung pergi ke rumah sakit saat ini. Ia ingin menghindari resiko untuk bertemu sang nenek.
“Abaaaang…”
‘Oh, tidak, tidaaaaaak!’ Ai membatin.
Dan bertemulah lagi Ai dengan sebuah sosok yang sejak tadi siang sangat mengganggu pikirannya. Dua kali? Semesta kadang sungguh kejam!
Dari sekian banyak waktu yang sudah ia jalani selama hidupnya, kenapa ia harus bertemu dua kali dengan manusia ganteng satu itu di hari dimana ia tidak mandi sama sekali? Dengan rambut lepek dan dikuncir asal-asalan.
Ai sempat melirik pantulan buram dirinya di kaca di belakang Al. Lihat saja! Kemeja kotak-kotaknya yang ia kenakan saat ini tampak tidak menarik sama sekali!
“Sorry, Kak, kita nggak tahu Etta mau makan sama keluarga.” Sammy pura-pura minta maaf.
“Oh, nggak apa-apa.” Al mengangguk sambil tersenyum kecil.
"Sammy, Kak." Sammy mengulurkan tangan.
"Al."
"Yang ini nggak usah dikenalin, udah kenal kan?" Shaletta menunjuk Ai.
"Iya, udah," jawab Al, sambil tersenyum kecil.
Shaletta langsung mengambil tempat duduk di sebelah Al. Sammy pun dengan sigap duduk di hadapannya. Tinggallah Ai, berdiri sendirian, dengan bangku yang tersisa hanyalah bangku di hadapan Al.
Ia pun duduk dengan canggung, mencoba menghindari tatapan Al sejak tadi.
__ADS_1
“Ditraktir kan?” tanya Shaletta, kurang ajar.
“Iya,” jawab Al, singkat. Berusaha menyembunyikan rasa kesalnya di balik nada suara yang biasa. Ia tidak ingin teman-teman adiknya jadi merasa sungkan.
“Gue ice tea aja.” Ai memilih dengan cepat.
“Nggak makan?” tanya Sammy dan Al, berbarengan. Membuat mereka jadi canggung.
Shaletta langsung tertawa.
“Kalau gue cuma mesen minuman juga, bakal diperhatiin gitu nggak sih?” ledeknya.
Sammy ikut tertawa.
"Kalau lo, nggak mungkin cuma mesen minuman," ledek Al.
Shaletta mencibir.
Setelah itu, mereka pun menyebutkan pesanan mereka kepada pramusaji. Setelah pramusaji pergi, saat mereka semua berharap Shaletta mau memecahkan kecanggungan. Namun, harapan tinggal harapan.
Tiba-tiba Shaletta berdiri.
"Aduh, gue ke toilet bentar ya. Kebelet."
Dan ia pergi begitu saja...
Belum sempat mereka pulih dari keterkejutan, smart phone Sammy berbunyi.
"Gue jawab telepon bentar ya."
Dan lagi-lagi, Sammy juga pergi begitu saja...
Al dan Ai hanya bisa terpelongo bodoh. Kecanggungan itu benar-benar meningkat.
'Gue harus ngomong apa,' pikir Al.
Di saat Al sedang berusaha mencari topik pembicaraan, Ai malah berpikir hal lain.
'Apa gue pura-pura ke toilet juga ya.'
Inilah pikiran Ai.
Lalu, seorang pramusaji datang dan meletakkan segelas tequila di hadapan Al. Melihat minuman beralkohol itu, Ai hanya bisa tertegun, dunianya dengan Al sungguh berbeda.
Al sepertinya sadar juga dengan tatapan Ai.
Memang tidak bisa dipungkiri bahwa ada sesuatu yang aneh saat mereka bertemu, namun mereka tidak bisa menampik bahwa dunia mereka sungguh berbeda.
Al merilekskan bahunya yang tegang sejak tadi. Ia kini mampu berpikir jernih. Ia pun duduk bersandar. Sejurus kemudian, ia bertanya dengan santai.
"Ai, Sammy itu pacar kamu ya?"
***
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya, teman-teman 🥲
@ingrid.nadya