
"Cakep banget neng, mau kemana sih?" Sammy menggoda Ai, ketika sahabatnya itu keluar dari kamar Gab. Wajah Ai langsung memerah, ia tidak terbiasa berdandan, apalagi dipuji karena melakukannya. Ini mungkin menjadi yang pertama untuknya.
"Gimana? Gimana hasil karya gue?" Gab terlihat begitu puasnya.
"TOP BANGET, KAK! Ai udah macam cewek-cewek SCBD yang hobby party!" Sammy mengacungkan kedua jempolnya.
"Gue tampol lo ya?" Ai merepet.
Sammy tertawa. Sahabatnya itu memang cenderung galak kalau sedang merasa malu. Gab sendiri masih mengamati sekali lagi hasil karyanya, lalu menyadari sesuatu.
"Ah, pantes kayak ada yang kurang!" Gab berdecak. Ia langsung berlari menuju kamarnya lagi untuk mengambil sesuatu. Lalu, kembali dengan sebuah lipgloss di tangannya.
"Siapa tahu nanti ada yang cium," kata Gab, sambil memulaskan lip gloss tersebut di bibir Ai.
"Kaaaaak!" Ai protes.
Gab dan Sammy tertawa. Ai begitu polos, membuat mereka semakin ingin menggodainya.
"Kiss me, abaaaang..." kata Sammy menjijikkan, sambil menutup mata dan memonyongkan bibirnya.
"Jijay lo!"
Gab memandangi Ai penasaran, "Abang?"
"Nggaaaaak, Kaaaak! Sam apaan sih?!" Ai langsung membantah, tapi wajahnya malah tersipu.
"Si abang ini toh yang kemarin lo ceritain sebagai cowok pertama yang bisa naklukin Ai?" tanya Gab.
"Ho'oh!" Sammy mengangguk-angguk.
"Naklukin apaan sih, Kak?!" Ai cemberut lagi.
Namun, Gab tidak dapat memperhatikan Ai saat ini. Ingatannya kembali melayang pada orang yang dipandangi Ai dalam sebuah restoran di Grand Indonesia kemarin.
Selera Ai boleh juga. Begitu pikiran Gab.
"Halooooo, semuanyaaaaaaa!" Sapaan seseorang mengagetkan mereka semua. Shaletta muncul di ambang pintu dengan tampilan semenakjubkan biasanya.
"Etta? Ya ampun, makin cantik aja." Gab langsung memeluk Shaletta.
"Makasih loh, yang lebih cantik. Hahahaha." Shaletta tertawa. Mereka sedang mempraktekkan kebiasaan-kebiasaan selebgram ibukota yang suka saling memuji, namun saling mencaci dari belakang.
"Sialan lo!" Gab menggerutu sambil tertawa.
"Kakak kapan nyampe Jakartanya?"
"Kemarin banget loh. Tapi gue mau nemenin temen lo nyari baju biar jadi princess hari ini. Gimana?" Gab menunjukkan Ai pada Shaletta.
"Wow! Temen gue cakep banget. Emangnya mau ketemu siapa sih?" ledek Shaletta.
"Ketemu abang." Gab yang menjawab.
Shaletta kaget. Ai lebih kaget lagi. Sementara Sammy sendiri sudah tertawa terbahak-bahak.
"Kaaaaak Gaaaaaab!" Ai memekik.
"Eh? Kenapa?" Gab kebingungan. Ai panik. Shaletta masih belum pulih dari kekagetannya. Sammy? Masih terlalu menikmati semua ini.
"Taaaaaaa, nggak gituuuuuuu!" Ai memelas pada Shaletta. Lalu, sekonyong-konyong, Shaletta tersadar. Senyum langsung merekah di wajahnya. Matanya berbinar.
"Gitu juga nggak apa-apa kok!" kata Shaletta, penuh semangat.
"Ini kenapa sih? Nggak ngerti!" Gab menuntut penjelasan.
__ADS_1
"Si abang itu abangnya Etta, Kak." Sammy menjelaskan.
Gab terpukau. Ia langsung menepuk-nepuk punggung Ai, "Gitu dong milih cowok. Dari keluarga Maheswara! Bangga gue! Hasil didikan gue nih!"
Ai meringis.
Semua tertawa, termasuk Shaletta.
"Udah ah. Kita berangkat dulu." Ai langsung pura-pura sibuk, niatnya ingin segera mengakhiri pembicaraan ini. Namun, ia seperti memercikkan minyak ke atas kompor meleduk.
"Cieeee, udah nggak sabar ya mau ketemu," goda Sammy.
"Sammyyyyyyyy!!!"
Tawa kembali berderai.
Sampai akhirnya, mereka memang tidak punya waktu lagi untuk bersenda gurau. Shaletta dan Ai pun segera pamit pergi.
Sepeninggal Shaletta dan Ai,Gab langsung menghampiri adiknya yang sudah sibuk menonton televisi.
"Dek..." panggil Gab.
"Hm?"
"Lo nggak cemburu Ai udah mulai suka-sukaan sama cowok lain?"
Sammy melirik Gab dengan tatapan malas.
"Apaan sih?!" makinya.
"Ya, siapa tahu. Kan nggak ada salahnya berharap." Gab nyengir.
"Mimpi aja lo sampe tua!"
"Kan gue udah punya pacar, Kak!" jawab Sammy, tegas.
"Tapi gue masih belum setuju sama dia."
Sammy kesal setengah mati. Dia mengenalkan pacarnya pada Gab beberapa waktu yang lalu tidak untuk disetujui, ia hanya ingin ada satu keluarganya yang tahu dan berharap akan mengerti.
"Terserah, Kak! Terserah!" Sammy melengos pergi begitu saja.
Gab menatap kepergian adiknya.
'Ah, seandainya cinta saja cukup, Dek,' batin Gab. Namun, ialah yang paling mengerti bahwa cinta tidaklah cukup untuk menghadapi dunia yang terkadang begitu kejam ini.
***
Shaletta dan Ai tiba di ballroom salah satu hotel ternama di Indonesia itu. Saat pintu besar itu dibuka, Ai terpukau melihat beragam hidangan yang tersedia.
Ai tidak pernah menghadiri sebuah pernikahan orang kaya. Paling-paling, ia hanya pernah mampir sebentar di nikahan tetangga yang diselenggarakan dengan menutup jalanan. Rasa zuppa soup-nya saja bukan lagi rasa kaldu, melainkan rasa tepung.
Namun, lihatlah. Disini tersedia berbagai macam hidangan. Ai sampai kebingungan akan mendatangi stand mana dulu.
"Temenin gue makan semuanya ya, Ta," kata Ai, tidak tahu malu.
"Mau sekalian ngebungkus lo? Biar gue minta ke kateringnya!" ledek Shaletta.
"Nggak usah. Mama udah nggak bisa makan macem-macem lagi," jawab Ai, malah serius.
Shaletta terkikik. Sepertinya kalau ibu dari sahabatnya ini sedang berada si kondisi yang benar-benar prima, Ai sungguh akan meminta beberapa makan untuk dibungkus.
Inilah yang Shaletta sukai dari Ai. Kepolosan dan tidak tahu malunya. Shaletta seumur hidup selalu berkenalan dengan seseorang yang menjaga citra diri. Ia sering merasa bahwa ia dilahirkan di satu tempat yang salah, sebab ia adalah jiwa yang bebas, tidak ingin dikekang hanya demi pendapat orang lain. Sampai akhirnya ia bertemu Ai. Yang memiliki jiwa sama bebasnya, namun sayangnya Ai terbelenggu dengan kewajiban-kewajibannya sebagai seorang anak yang berbakti. Lagi-lagi, ia ingin sekali melihat Ai terbebas sejenak, bahagia sebentar.
__ADS_1
Shaletta diam-diam mengamati Ai yang sibuk menginspeksi seluruh ruangan dengan matanya. Dan saat itulah, ia merasakan tatapan seseorang. Ia menoleh.
Benar saja!
Sang abang sedang memandangi Ai dengan terpukau.
Shaletta bahagia bukan main, belum pernah ia melihat Al seperti ini. Begitu banyak wanita cantik di sekitar mereka, namun mata abangnya itu hanya tertuju pada sahabatnya.
"Ai, gue ke toilet bentar," kata Shaletta, buru-buru. Karena saat ini, Al sudah berjalan ke arah mereka.
"Eh, ikut."
"Nggak usah, lo tunggu disini aja."
Shaletta melepas genggamannya, lalu segera berlari meninggalkan Ai.
Tinggallah Ai disana. Seorang diri. Matanya tidak lagi menjelajah ruangan. Ia tidak cukup percaya diri untuk berdiri sendirian di tengah kumpulan orang asing.
Dan tiba-tiba sebuah suara memanggilnya.
"Ai?"
Orang itu hanya memanggil singkat namanya, namun hatinya serasa hampir meletus.
Ai menoleh. Dan benarlah, berdirilah di hadapannya kini... Aldebaran Maheswara. Laki-laki yang paling sulit dimengerti kenapa keberadaannya selalu membuat Ai suka lupa diri.
"A-abang?" Mata Ai mengerjap, takjub. Pakaian yang Al kenakan terlihat pas di tubuhnya. Rasanya tangan Ai ingin nakal untuk menepuk dada bidang tersebut.
'Gila! Gue hina banget!' Ai rasanya ingin memukul kepala sendiri.
Al terkekeh, membuat Ai tersadar dari khayalannya sendiri.
"Kita ketemu terus ya," kata Al, sambil tersenyum.
Ai mengangguk.
"Kamu jadi plus one-nya Etta?"
Ai mengangguk lagi.
"Memangnya cowoknya kemana?"
"Ke Bandung."
Giliran Al yang mengangguk.
Ia masih ingin berbicara lebih lama dengan gadis di hadapannya, ia tidak ingin kehilangan waktu. Namun, hatinya mencelos begitu melihat ayahnya sedang berjalan ke arah mereka saat ini. Ia panik.
Dan Ai memperhatikan semua itu.
"Abang kenapa?" tanyanya.
Lalu, sebuah ide terlintas di kepala Al. Ide gila yang harusnya sejak awal saja ia eksekusi. Semua pertanda sudah mengarah pada gadis di hadapannya sejak awal. Bukankah ia terus muncul di saat-saat ia sedang mencari?
Ah, Al tidak bisa berpikir lagi. Ia memandangi gadis di hadapannya.
"Ai, kamu mau bantu saya nggak?"
***
Ai pun menjawab, apa sih yang enggak buat abaaaang? 🤪
Digampar sih kalau beneran nulis begitu.
__ADS_1
IG : @ingrid.nadya