Aldebaran Mencari Cinta

Aldebaran Mencari Cinta
Bab 40


__ADS_3

Ai baru selesai mandi dan sedang mengeringkan rambutnya saat handphone-nya berdering.


Dari nomor tidak dikenal.


Ai memang sudah terbiasa langsung mengangkat telepon, bahkan dari orang-orang yang tidak ada di buku kontaknya. Menjadi pelaku bisnis adalah alasan utamanya. Siapa tahu ada pelanggan yang butuh buket bunga instan kan?


"Halo?" jawabnya, dengan penuh harap.


"Ai?" sapa orang di ujung sana.


Dada Ai berdesir. Sang penelpon bukan seperti yang diharapkannya, namun anehnya, ia tidak kecewa. Perutnya mendadak mulas. Ada apa ini? Hanya dengan mendengar suara Al saja membuatnya merasa campur aduk.


Ia menggaruk hidung sambil menjawab singkat, "Ya?"


"Ini saya Al."


Ai terkekeh, "Iya, Abang, saya tahu. Siapa lagi coba? Masa rentenir ngomongnya baik-baik begini?"


Ia mencoba bercanda untuk menutupi rasa gugupnya, tapi orang di ujung sana bukannya menanggapi candaan Ai. Ia malah mengucapkan hal yang tidak terduga.


"Kamu mau nikah sama saya?" tanya Al, tanpa tedeng alih-alih.


Ai menganga. Pertanyaan barusan terlalu mengejutkan, sampai ia berpikir bahwa ia salah dengar. Lama ia mencerna maksud Al, tapi otaknya tak juga mampu melakukannya.


"Ai?" Al memanggil.


Ai garuk kepala.


"Ai... rina?" Al mengulang sekali lagi, lebih lengkap, namun sedikit ragu, setengah berharap ia tidak salah ingat nama lengkap gadis yang sedang ia telepon. D a m n! Bagaimana bisa menikah kalau nama saja ia belum tau pasti. Al mengutuki nasibnya.


Ai sendiri sengaja berdeham agar Al tahu bahwa ia masih ada disana.


"Airina?" Panggil Al sekali lagi.


Hatinya kembali bergetar saat namanya dipanggil lengkap-lengkap oleh pria di ujung sana. Namun, segala ketidakmasukakalan ucapan Al barusan membuatnya tidak bisa lama-lama terbuai.


"Abang..." Ai berusaha menemukan suaranya, meski Al bisa menangkap betapa goyahnya suara itu.


"Ai, saya tahu ini tidak masuk akal. Saya tahu kamu masih kuliah dan kita baru kenal..."


Belum sempat Al menyelesaikan ucapannya, Ai langsung menyanggah.


"NAH, ITU TAHU!" Suaranya mencicit, seperti anak ayam yang ketakutan akan dimangsa oleh serigala.


Al menghela nafas.


"Maafin saya, Ai. Tapi saya nggak punya pilihan lain."


"Tapi, saya punya!" Ai menampik, tegas.


"Ai, saya mohon. Saya nggak tahu lagi mau minta tolong ke siapa."


"Yaaa, kalau minta tolongnya cuma kasih seribu tangkai bunga gratis, saya mungkin bisa pertimbangkan walaupun berat. Ini??? Nikah??? Abang udah gila ya??? Lulus kuliah aja belom!"


"Jadi, kalau udah lulus kamu mau nikah sama saya?"


"Abang beneran gi...la...?" Ai keceplosan mengatai Al, tapi di tengah jalan ia menjadi ragu.


Al jadi terkekeh sedikit.


"Lah? Ketawa!"


Al tertawa semakin kencang.


Ai semakin tidak habis pikir, "Abang tuh kepalanya tadi kepentok??? Atau gimana sih???"


Al langsung menghentikan tawanya, ia berdehem, "Ai, saya serius."


"Saya lebih serius!"


"Kita muter-muter ngomongnya, Ai."


"Salah sendiri jadi orang yang nyeremin!"


"Nyeremin kenapa?"


"Ya, tiba-tiba ngajak nikah begini! Kenal juga baru kemarin!"

__ADS_1


"Siapa bilang kemarin? Kan udah beberapa minggu!"


"Asli deh!" Ai gemas sendiri.


Al terkekeh, lalu berkata lirih, "Saya hopeless, Ai."


"Ya tapi saya nggak bisa nolong."


Al menghela nafas, lagi.


"Beneran nggak mau nolong?" tanyanya, mencoba peruntungan terakhirnya.


"Nolong yang lain boleh, nikah nggak mau!"


"Pelit..."


"Pelit tuh kalau nggak mau minjemin uang."


"Sama aja, kamu nggak mau minjemin status ke saya."


Ai geleng-geleng kepala mendengar perdebatan tidak jelas arahnya ini.


"Abang cari aja wanita yang udah siap menikah. Saya nggak bisa."


"Saya maunya sama kamu."


Ai menggigit kuku agar tidak terhanyut dengan kalimat itu. Sadar bahwa Al bukan sedang menggombalinya. Laki-laki itu hanya sedang berpikir bahwa Ai adalah opsi terakhir.


"Tapi saya maunya sama Justin Bieber."


"Saya bisa kok manjangin poni."


Ai jadi tertawa. Sungguhlah dunianya dan Al sangat berbeda. Ia jadi bertanya-tanya. Kira-kira Al berhenti mengikuti dunia luar sejak kapan? Karena referensi terakhirnya adalah poni lempar Justin Bieber.


"Justin udah nggak ponian lagi, Abang."


"Ya udah. Dia ciri-cirinya apa sekarang? Saya coba ikutin."


"Sekarang dia pitak."


"Ai, saya serius."


"Kamu kejam, Ai."


"Emang! Makanya jangan nikahin!"


"Jadi, saya harus nikahin siapa?"


"Siapa kek. Hantu blau, setan alas."


"Kejam lagi kan. Masa tiap mau tidur malam saya harus merinding terus?"


"Ya, nggak papa. Itung-itung menguji mental."


"Ai, jangan ngalihin pembicaraan lagi."


"Saya nggak alihin. Saya malah mau akhirin."


"Memangnya saya segitu nyebelinnya?"


"Banget."


"Jadi? Mau ditutup?"


"Iya."


"Ya sudah."


"Oke. Udah ya, Abang. Selamat mencari cinta ya!"


Al mendesah kesal.


"Bye, Ai."


"Bye, Abang."


Telepon terputus.

__ADS_1


Al melempar handphone ke atas tempat tidur. Mengacak-acak rambutnya sendiri sampai seperti sarang burung. Kalau ia tidak menghentikan dirinya sendiri, bisa-bisa ia mungkin mengantukkan kepala ke dinding.


Tapi...


Ia tidak akan mau kalah.


Al selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.


Apapun.


Termasuk menikahi sosok wanita baik yang baru saja ia kenal.


***


Esok paginya...


Ai keluar dari kamarnya terburu-buru. Tadi malam ia terlalu sibuk merekap pesanan bunga sambil mengerjakan tugas kuliah, sehingga ia lagi-lagi telat bangun. Kadang memang kita harus bekerja sangat keras, sampai-sampai badan ini yang sengaja menonaktifkan diri agar punya cukup waktu istirahat.


Ia beranjak ke dapur, ingin secepatnya sarapan.


Dari kejauhan ia dengar suara canda ibunya dengan seseorang. Ia mengernyit. Jarang sekali Mira punya tamu sepagi ini. Siapa gerangan orang tersebut? Tapi Ai cukup senang, karena mendengar beberapa kali suara tawa sang Ibu.


"Ma, siapa–"


Suaranya mengambang begitu tau siapa orang yang sedang bercengkrama bersama Mira.


"Hai, Ai!" sapa Al.


Ai membelalak. Terlalu kaget dengan semua ini.


"Kena... pa... disini..." Ai terbata-bata.


"Mau jemput." Al tersenyum.


"Saya pergi sama Sammy."


"Tapi saya udah datang lebih dulu dari Sammy."


"Tapi saya kan nggak minta."


"Aiiii, nggak sopan, ah!" Mira terkekeh. Ai tidak terima. Kenapa sang ibu jadi membela orang lain seperti inj?


"Makan dulu sini, Ai. Tante udah nyiapin sarapan buat kamu." Al menepuk bangku di sebelahnya.


Ai ingin menjawab lagi kata-kata Al. Sebab, kenapa ia harus dipersilahkan makan di rumahnya sendiri?


Tapi ia tahan. Sengaja. Dengan orang yang lebih tua kan harus sopan!


"Saya tetap pergi sama Sammy." Ai berkata kalem sambil menyendokkan nasi ke mulutnya.


Al mengangguk, "Ya udah, yang penting sampai Sammy jemput, saya bisa lihat kamu."


Mira berusaha menahan senyumannya. Laki-laki di sebelahnya ini sungguh unik.


Sementara itu, wajah Ai sudah berubah merah padam.


Bukan! Ini bukan tersipu-sipu karena kalimat Al! Tapi lebih kepada ia tidak ingin Mira melihat semua ini! Ibunya itu bisa salah paham! Mengira Al benar-benar menyukai Ai!


Tapi, belum sempat ia berpikir apa yang harus dilakukannya setelah ini, handphone-nya bergetar. Sebuah pesan masuk.


Dari Sammy.


Gue lagi demam, Ai. Maaf ya, naik ojek dulu, boleh?


Ai langsung menutup layar ponselnya.


Tapi terlambat.


Al sudah lebih dahulu membacanya.


"NGGAAAAAAAK!" Ai tanpa sengaja berteriak.


Al tertawa.


"Ai, semesta aja pengen lihat saya nganterin kamu."


***

__ADS_1


Bang, abang, natural gombalers ternyata 😚


IG : @ingrid.nadya


__ADS_2