Aldebaran Mencari Cinta

Aldebaran Mencari Cinta
Bab 8


__ADS_3

Al tidak bertemu dengan Abimanyu selama beberapa hari. Ia sudah benar-benar tidak peduli. Jika menurut ayahnya, ia tidak layak menjadi penerus perusahaan hanya karena tidak berminat menikah. Maka, kerugian ada pada ayahnya!


Ia pun datang pagi itu ke kantor Maheswara Company hanya untuk mengambil beberapa barang dan memberikan surat resign ke bagian personalia. Masa bodohlah dengan gonjang ganjing di antara karyawan karena kepergiannya. Atau bagaimana pun reaksi sang ayah...


Ia tidak peduli. Ia sudah memantapkan hati. Kalau takdirnya memang bukan untuk meneruskan perusahaan keluarganya, ia mungkin bisa mencari perusahaan lain yang bisa dikembangkan. Yang tentu saja menginginkan kemampuannya, terlepas dari status lajangnya.


Al baru saja tiba di kubikel kecilnya ketika mendengar suara berisik-berisik. Awalnya ia tidak peduli, ia ingin cepat-cepat melayangkan surat resign dan pergi dari tempat itu. Namun, tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan riuh.


Al menoleh.


Asalnya dari ruang kerjanya yang dahulu.


Sebelum ia dipindahkan ke kubikel terkutuk ini!


Al tidak bisa menahan rasa penasarannya. Kira-kira siapa gerangan direktur yang ditunjuk sang ayah. Ia berharap orang tersebut adalah mantan direktur di salah satu perusahaan ternama, yang telah memiliki pengalaman selama bertahun-tahun.


Setidaknya, ia paham jika Abimanyu merekrut Ferry Unardi atau William Tanuwijaya. Sudah beda level dengannya. Ia tidak akan sakit hati lagi pada Abimanyu.


Maka, ia pun melangkahkan kaki menuju ruangannya terdahulu.


Tampaklah Abimanyu dengan seseorang yang familiar di sebelahnya. Ia memperkenalkan orang tersebut di depan seluruh karyawan yang berkerumun.


"Saya akan bimbing Yuda untuk kelak menjadi calon direktur di Maheswara Company dalam beberapa tahun ke depan," terang Abimanyu sambil menepuk-nepuk punggung Yuda.


Al terpaku di tempatnya.


Apa sih yang baru saja sang ayah katakan? Yuda akan menjadi calon direktur Maheswara Company? Yuda? Sepupunya? Yang tidak lebih baik dari dirinya?


Yuda memang lebih tua dua tahun dari Al. Sudah menikah dan punya dua anak. Tapi, dari segi kemampuan mengelola perusahaan, tentu Al lebih baik.


Yuda sudah pernah dimodali oleh keluarga untuk membuka dua perusahaan tambang. Tapi berakhir dengan kegagalan. Saat direktur kerjanya hanya colong sana-sini, menggunakan profit untuk gaya hidup pribadi yang penuh foya-foya, perusahaan mana pun tidak akan bisa bertahan. Kirana, sang ibu, pun akhirnya menyimpan Yuda di perusahaannya sendiri. Agar masih bisa selalu diawasi.


Dan, sekarang Abimanyu ingin menyerahkan Maheswara Company ke tangan Yuda?


Al tidak habis pikir!


Ia tidak bisa tinggal diam.


Ayahnya berjuang keras jatuh bangun membangun perusahaan ini. Ia pun sudah berjuang memantaskan diri selama ini. Tak mungkin ia membiarkan orang lain merusak segalanya dalam sekejap. Termasuk ayahnya sendiri. Dengan segala kecerobohannya menendang Al begitu saja hanya karena Al tidak berminat menikah.


Tangannya meremukkan surat resign yang seharusnya ia berikan pada bagian personalia. Ia tidak akan tinggal diam. Jika memang hanya pernikahan yang ayahnya inginkan, ia akan berikan. Asalkan perusahaan ini tidak jatuh pada tangan yang salah.


Ia cepat-cepat menuju ruangan sang ayah. Ia ingin bertemu dengan Rene. Satu-satunya yang bisa ia ajak bicara di perusahaan ini.


"Lo udah denger?" Rene bertanya dengan wajah simpatik begitu Al muncul.


"Heboh banget gitu di luar sana." Al mengacak rambutnya frustasi.


"Kacau."

__ADS_1


"Bos lo emang bukan main pemikirannya!"


Rene terkekeh.


"Kok lo malah ketawa?!" Al tidak terima.


"Lucu aja lihat hubungan lo sama Bapak."


"Apanya yang lucu?"


"Saling mengungkapkan kekhawatiran dengan tindakan yang salah."


Al mencibir. Jelas ia khawatir dengan kelangsungan perusahaan ini jika jatuh pada orang yang salah. Bukan hanya nama Maheswara yang dipertaruhkan, namun seluruh kelangsungan hidup ribuan pegawai.


"Nikah gih, Al," kata Rene, akhirnya.


"Hah?!"


"Ya, nikah aja sih."


"Re, buat apa gue nikah kalau cuma untuk memenuhi standar hidup orang Indonesia?!"


"Siapa bilang buat memenuhi standar hidup disini? Lo kan bisa nikah untuk memenuhi keinginan bokap lo."


"Terus, istri gue jadi korban dong nanti?!"


"Nikahin aja orang yang nggak cinta sama lo. Yang dengan duit dari lo, dia bisa bahagia. Win win solution kan buat kalian?"


Rene tertawa.


"Cuma sekedar nasihat dari seorang teman."


"Nasihat lo ngaco!"


"Atau, mungkin, lo kenalin aja satu cewek ke Bapak. Gue yakin Bapak bakal anteng setelah yakin anaknya normal." Rene terkekeh lagi saat mengatakan kalimatnya.


"Sialan!"


"Lo bisa kontak Isyana, cewek yang kemarin di Bluegrass. Kemarin Boris sempat mintain nomornya buat lo."


"Lo semua tuh gila ya?!"


"Kita semua cuma jadi support system yang baik. Karena kadang kita ngerasa Bapak ada benarnya." Rene menepuk-nepuk bahu Al.


Ia terpelongo.


"Reeee! Sialan lo!"


Rene tertawa, lagi. Ia memang paling senang meledek Al seperti ini.

__ADS_1


Selagi Rene masih terus menghina-hina Al, tiba-tiba pintu masuk ruangan terbuka. Abimanyu berdiri disana mengamati sang anak.


"Ngapain kamu disini?" tanya Abimanyu, dengan nada pura-pura tidak suka. Padahal ia senang karena anaknya terpancing kali ini. Tentu membawa sepupu yang tidak lebih kompeten dari diri sendiri akan berhasil membuat penolakan dalam diri Al.


Al sendiri langsung memasang tampang serius ketika berhadapan dengan sang ayah. Ia tidak mau dipermainkan terus menerus. Ia harus mengkonfrontasi sang ayah kali ini. Apalagi ini hanya ruangan pribadi sang ayah, dan cuma Rene yang bisa melihat semua perdebatan.


"Kenapa harus Yuda sih, Pa?! Kayak nggak ada orang lain yang lebih kompeten aja."


"Papa rasa dia lebih mampu."


"Mampu apanya?! Papa nggak sadar apa yang dia lakuin di perusahaan dia sebelumnya?"


"Ya, kalau kamu mau jadi direktur disini, kamu turutin syarat Papa."


"Oh, please, Pa?! Masa aku harus nikah supaya semua syarat terpenuhi. Apa gunanya ijazah sama semua pengalaman kerjaku kalau begitu?!"


"Buat jadi pemanis CV kamu di perusahaan lain. Kalau di perusahaan ini, Papa cuma butuh menantu dari kamu."


Al gondok. Amarahnya tertahan sepenuhnya di tenggorokan. Kalau ia memuntahkan semuanya, bisa-bisa ia bahkan dipecat jadi anak Abimanyu Maheswara.


Sang ayah, yang melihat Al sudah gondok setengah mati, pun langsung melenggang masuk ke dalam ruangannya.


Tapi ia berhenti sebentar ketika mengingat sesuatu.


"Oh iya, Al. Tapi menantu Papa harus perempuan." Abimanyu menambahkan.


Amarah Al semakin memuncak.


Abimanyu cepat-cepat masuk ke dalam ruangannya sebelum disemprot habis-habisan oleh anak sendiri di depan sekretarisnya.


Sementara Rene, begitu bosnya menghilang, langsung tertawa terbahak-bahak.


"HAHAHAHAHAHAHA, ADUHHH! AL, MAAF, TAPI INI LUCU BANGET! HAHAHAHAHAHA!"


Al benci sampai ke sumsung tulang! Ia benar-benar tidak terima. Ia segera keluar dari ruangan sang ayah. Berjalan cepat-cepat menuju kubikel kecilnya.


Disana ia menekan tombol panggilan ke sebuah nomor.


Begitu nomor itu menjawab, ia langsung berkata, "Bor, kasih gue nomor Isyana."


***


Terus semua pada nanya...


INGRID, AL SAMA AI KAPAN KETEMUNYA???


Ingrid pun menjawab,


Di waktu yang tepat kakak-kakak semuanyaaaaa...

__ADS_1


HEHEHE 🤭


IG : @ingrid.nadya


__ADS_2