
Ai terkekeh mendengar pertanyaan itu. Al jadi memandangi gadis di hadapannya dengan ekspresi penasaran.
"Kok ketawa?" tanyanya.
"Terlalu sering dapat pertanyaan kayak gitu." Ai menjawab, masih sambil tersenyum-senyum.
"Terus jawaban kamu biasanya apa?"
"Nggak pacaran, cuma teman."
"Masa sih?"
"Dan itu juga reaksi orang-orang biasanya."
Al jadi ikut tertawa. Jawaban Ai selalu bisa memuaskannya. Tidak bertele-tele. Hanya mengungkapkan kejujuran.
"Saya nggak nyangka..." Ai menggantungkan kalimatnya.
"Nggak nyangka apa?"
"Kalau kakak tuh penganut paham 'nggak ada yang namanya persahabatan murni seratus persen antara cowok dan cewek'."
Al mengernyit, "Nggak juga sih. Saya punya kok sahabat cewek dan kita udah sahabatan belasan tahun. Tanpa pernah satu pun dari kita punya perasaan ke masing-masing."
Giliran Ai yang mengerutkan dahi saat ini.
"Jadi, kenapa kakak nanya gitu tadi?" tanya Ai, akhirnya.
Al bertopang dagu sambil memandangi Ai.
"Penasaran aja," jawabnya, singkat.
"Kenapa harus penasaran?"
"Memangnya saya nggak boleh penasaran sama kamu?"
Ai merasakan sesuatu menggelitik perasaannya. Ia pun langsung menunduk, tidak memahami sama sekali apa yang sebenarnya terjadi pada diri sendiri. Intinya, ia hanya tidak bisa bertatapan terlalu lama dengan mata Al, begitu pun tidak bisa menjawab lagi pertanyaan-pertanyaan retoris tersebut.
"Boleh request nggak?" tanya Ai, masih sambil menunduk.
"Apa?"
"Ngomongin yang lain aja."
Al mengelus tengkuknya. Sedikit merasa bersalah dan berlebihan karena mengatakan hal-hal yang membuat Ai merasa tidak nyaman.
Tanpa Al sadari, perasaan tidak nyaman itu sebenarnya menyenangkan buat Ai. Ia hanya tidak bisa mengendalikan ekspresi wajahnya. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa untuk hal-hal seperti ini.
"Saya kurang ajar ya?" tanya Al, akhirnya.
"Eh, enggak, Kak. Bukan gitu." Ai mengangkat tangan sambil mengibas-ngibaskannya di depan Al.
Sejenak mereka terdiam.
Al mencoba memutar otak bagaimana percakapan mereka tetap terus bergulir. Apa yang harus ditanyakan. Topik apa yang bisa dia angkat. Ah, ia benar-benar buta! Namun, ia sama sekali tidak ingin percakapan ini berakhir. Mereka kan belum tentu punya kesempatan untuk berbincang berdua saja seperti ini lagi.
Al berdehem pelan, "Karena saya suka kurang ajar, mending kamu deh yang nanya sama saya."
"Memangnya saya mau nanya sesuaty ke kakak?" Ai mencoba meledek Al, hanya berniat untuk mencairkan suasana.
"Ah, saya GR banget ya." Al kembali mengelus tengkuknya sambil terkekeh. Meski pencahayaan di Odysseia tidak terlalu terang, tapi Ai berani bersumpah melihat semburat merah di sekitar telinga Al. Apakah laki-laki itu malu? Apakah ia benar-benar berpikir Ai sama sekali tidak punya pertanyaan untuknya?
Ai jadi sangat merasa bersalah.
"Kak, saya bercanda..."
Al mengernyit. Sejurus kemudian, ia langsung menutup mulutnya dengan tangan kanan. Ia tidak mungkin membiarkan orang lain menyadari bahwa ia terlihat begitu lega. Bahkan Ai sendiri pun tidak boleh menyadarinya!
"Oh, kamu bercanda."
"Iya."
"Saya pikir emang nggak ada pertanyaan sama sekali."
"Kaaaak..." Ai hanya bisa memanggilnya seperti ini. Al pun terkekeh lagi, kali ini bukan karena malu, tapi karena perasaan bahagia.
__ADS_1
"Jadi, ada yang mau kamu tanyakan ke saya? Boleh saya tahu?" tanyanya.
Ai menyembunyikan senyumnya. Kalimat itu sungguh menggemaskan.
Ai sebenarnya sudah tahu sejak tadi apa yang ingin ia tanyakan. Namun, ia ingin terlihat berpikir sejenak sebelum mengajukan pertanyaan itu. Jadi, ia melirik ke langit-langit restoran selama beberapa saat, kemudian seakan sok baru mendapat ide, ia pun kembali menatap mata Al.
"Ada perampok masuk ke rumah Kakak. Kebetulan di dapur cuma ada dua pisau, satu pisau tajam yang baru diasah, satunya lagi pisau buah yang agak tumpul. Mana pisau yang bakal Kakak pakai untuk bunuh perampok itu?"
Al speechless. Ia sampai tidak bisa berkedip selama beberapa saat setelah mendengar pertanyaan itu. Sejurus kemudian, Ia tersadar.
"Ai..." panggilnya.
"Ya?"
"Kamu beneran baru ngetes saya pake kuis internet tentang seberapa psikopat saya?"
Ai tergelak. Tidak menyangka Al tahu hal-hal acak nan aneh yang sering ia baca di internet.
"Hahahaha. Kakak tahu ya?"
"Ai, saya bukan psikopat. Saya pasti milih pisau tumpullah."
"Kaaaaak, itu kan jawaban kalau kakak psikopat!" Ai protes.
"Kenapa gitu? Pisau tumpul kan bakal membunuh pelan-pelan." Al meledek lagi.
"Kaaaaak! Mau saya telepon Etta nih? Bilangin abangnya ternyata psikopat!" Ai protes lagi, sambil sok menunjukkan smart phone-nya.
"Hahahaha. Kamu nggak tahu dia lebih psikopat dari saya?"
Ai meletakkan smart phone-nya di atas meja lagi, "Aaaah, benar juga!"
Mereka saling tatap, lalu tertawa lagi.
"Waktu kecil, Etta tuh pernah nyekik anak ayam tetangga sampe mati. Terus dia nggak merasa bersalah, malah ketawa-ketawa," kata Al, di sela-sela tawa mereka.
"Kakak nggak tahu ya? Kita tuh pernah nonton film psikopat berdua di bioskop. Judulnya Don't Breath. Semua orang tegang, cuma Etta yang ketawa-ketawa sendirian." Ai menambahkan.
"Ya ampun, gue tinggal serumah sama psikopat!"
"Hahahaha."
Mereka tampak begitu menikmati pembicaraan itu, sampai-sampai Shaletta dan Sammy terpukau memandangi keduanya dari kejauhan.
"Cocok banget ya..." kata Shaletta.
"He'eh!" Sammy setuju.
"Lo mau nemenin gue belanja dulu nggak, Sam?"
"Tapi nanti Ai marah."
"Bilang aja gue yang maksa."
"Oke."
Mereka pun berjalan keluar dari restoran tersebut.
"Ta, ingetin abang lo ya, jangan sampe nyakitin Ai."
"Tenang aja, Sammy, lo tenang aja. Ai berada di tangan yang tepat."
***
Al dan Ai untuk sejam kedepan hanya berbincang tentang hal-hal receh lain yang bisa mereka temukan di internet. Tapi topik pembicaraan sederhana itu justru membuat waktu berjalan sangat cepat.
Sampai akhirnya Sammy dan Shaletta kembali lagi ke restoran tersebut.
"Ke toilet rumah lo?" tanya Al.
"Hehehe. Kok galak sih?" Shaletta cengengesan.
"Ini pesanan lo berdua udah sampe dingin." Ai sedikit menyindir kedua sahabatnya itu.
"Nggak apa-apa. Kan ada penelitian kalori nasi yang dingin lebih rendah dari kalori nasi yang masih panas." Shaletta berkilah, lagi. Sementara Sammy, hanya bisa menyembunyikan senyumnya.
__ADS_1
Saat itulah, smart phone Ai bergetar. Ia langsung memeriksanya.
Mama :
Nak, nenek udah pulang.
"Eh, Sammy, kita pulang yuk?" bisik Ai.
"Udah dipanggil Tante?"
Ai mengangguk. Mereka pun menoleh pada Shaletta. Tanpa perlu banyak bicara, mereka langsung saling mengerti.
"Mau ke rumah sakit?" tanya Shaletta.
Ai mengangguk, lagi.
Pembicaraan ini menarik perhatian Al. Shaletta tidak tega saat abangnya menjadi satu-satunya yang tidak mengerti topik ini.
"Mamanya Ai lagi dirawat di rumah sakit, Bang."
"Oh, semoga cepat sembuh."
"Amin!"
"Ya udah, kita pulang dulu ya, Kak! Makasih udah ditraktir," kata Ai.
"Apaan sih, Ai, cuma ice tea doang." Al malah jadi tidak enak.
"Gue juga makasih, Kak, maaf nggak sempat makan. Harus nganterin Ai soalnya," kata Sammy, tidak enak.
"Santai, Sam!"
Mendengar itu semua, sekejap saja bulu kuduk Shaletta meremang.
"Apaan sih, kak, kak, segala. Gue aja manggil abang. Kalian juga manggil abang aja."
"Kok jadi lo yang nggak terima sih?" tanya Al.
"Aneh dengernya!"
"Hahahaha. Ya udah, kita pulang dulu ya, Ta..." Ai menggantungkan kalimatnya.
Lalu menoleh pada Al, "Bang..."
Sesuatu berdesir di hati Al. Kenapa apapun panggilan Ai padanya terasa menyenangkan?
Shaletta terkikik melihat wajah cengo abangnya.
"Balik dulu, Bang!" Sammy melambai.
Al mengangguk.
Ai dan Sammy pun berjalan keluar dari restoran.
Al terus memandangi kepergian Ai. Sampai menghilang.
"Balik dulu ya... Bang..." ledek Shaletta, menyadarkan Al.
"Oh, shut up!!!" Al memaki.
Tawa Shaletta semakin meledak.
Tanpa Al sadari sebuah pesan masuk ke smart phone-nya tak lama kemudian.
Wening :
Al kamu yang lagi duduk makan berdua sama cewek kah?
***
Terima kasih dukungannya, teman-teman!
Tetap dukung abang terus yaaaa 🌹
IG : @ingrid.nadya
__ADS_1