Aldebaran Mencari Cinta

Aldebaran Mencari Cinta
Bab 28


__ADS_3

Ai dan Sammy berjalan masuk ke dalam Mall Grand Indonesia. Disanalah mereka janji bertemu dengan kakaknya Sammy, Gabriella, atau biasa mereka panggil Gab. Untungnya hari ini mamanya Sammy sedang berkunjung ke rumah Ai, jadi kedua ibu itu memaksa anak-anaknya untuk keluar rumah sementara waktu.


Ai memang tidak tahu apa yang akan terjadi di hidupnya jika keluarga Sammy tidak ada di dunia ini. Mereka adalah anugera terindah dan terbesar di hidupnya.


“Kak Gab dimana?” tanya Ai.


“Katanya lagi di Zara. Yuk, susulin kesana dulu.”


“Yuk!”


Mereka berdua pun melangkah menuju salah satu outlet pakaian mahal tersebut. Saat mereka sudah tiba di dalam Zara, mereka langsung celingak-celinguk untuk mencari Gab.


Tak perlu usaha lebih, sebuah sosok mentereng bersinar di tengah ruangan. Secantik dan sesempurna biasanya.


“Kak Gaaaaaab!” Ai memanggil dari kejauhan. Beberapa orang sampai menoleh padanya. Sammy sampai malu sendiri. Sementara Gab juga ikut menoleh pada Ai, wajahnya langsung berubah sumringah begitu melihat sahabat adiknya itu.


“Aiiiiii!” Gab berseru secara dramatis lalu berlari untuk memeluk Ai.


“Ya ampun, Kak Gaaaaab udah lama banget nggak ketemu!” Ai kesenangan berada di dalam pelukan Gab.


“Kalian bisa nggak sih biasa aja kalau ketemu??? Lebay banget, sumpah!” Sammy meringis sambil menutupi wajahnya.


“Kan kita udah lama nggak ketemu. Ya kan, Ai?!” Gab masih memeluk Ai erat.


Ai hanya mengangguk-angguk dalam pelukan Gab. Ia memang sudah menganggap Gab seperti kakak sendiri.


“Udah dooong. Laper nihhhh.” Sammy menggerutu.


“Iya, iya. Pada mau makan apa?” tanya Gab.


“Pancious ya, Kak? Kepengen pancake.” Sammy memelas.


“Ada gitu, cowok demen makanan manis.” Gab meledek.


“Ada. Gue! Gue kan ikut cuma buat makan gratis!”


Gab mengacak rambut adik semata wayangnya itu. Meski sering bertengkar, Sammy dan Gab saling menyayangi. Ia tahu Sammy datang hari ini bersama Ai bukan hanya karena ingin makan gratis, tapi juga untuk bertemu Gab. Mereka adalah kakak beradik yang tidak suka menunjukkan perasaan masing-masing.


“Ya udah, yuk? Setelah makan, baru kita cari baju kondangan Ai.”


“Kakak emang nggak punya baju lama yang bisa gue pake lagi?” Ai merengek.


“Duh, ketinggalan semua di Bali. Mending kita beli aja. Tenang, lo nggak harus bayar mahal, Kakak punya banyak diskon belanja. Nih, mau apa aja ada.” Gab menunjukkan layar smart phone-nya, berisi promo-promo diskon kartu kredit atas store-store yang lumayan terkenal.


Mereka berdecak kagum. Pantas saja banyak orang yang terjebak hutang kartu kredit, ternyata banyak promo yang membuat kita semua gelap mata.


“Tuh, ada promo Pancious juga. Gue mau Earl Grey Milk Tea-nya ya,” kata Sammy. Gab mencibir.


“Ya udah! Yuk, makan dulu, Ai!”


Ai mengangguk.


Gab pun menggandeng tangan Ai sambil berjalan bersisian. Sammy sendiri mengikut di belakang mereka.


“Ai udah punya pacar?” tanya Gab.


“Kiamat udah dekat kaliiiii.” Sammy yang menyahut.


Ai langsung berbalik dan memukul dada Sammy.


“Hahahaha. Masih belum juga?” Gab bisa menarik kesimpulannya sendiri.


“Belum, Kak.” Ai menggeleng.


“Tapi yang suka-sukaan sih ada, Kak.” Sammy bersiul.


“Sammy!!!” Suara Ai meninggi.

__ADS_1


Sammy tertawa.


“Siapa sih cowok yang berhasil bikin Ai tertarik sama cinta?” Gab penasaran.


“Nggak ada, Kak.” Ai mengelak, tapi wajahnya memerah. Lagi-lagi dalam pikirannya hanya teringat sebuah nama.


“Ih, mukanya merah. Cowoknya cakep, Dek?” tanya Gab pada Sammy.


“Gantengan gue lah.”


“Dihhhh! Ngaku-ngaku!” Ai mencibir.


Gab dan Sammy langsung menoleh takjub pada Ai.


“Tuh kan bener, Kak. Dia udah mulai suka sama cowok itu.” Sammy tertawa.


“Saaaaaam!!!” Ai memukuli Sammy kali ini.


“Udah, udah. Ai kan udah gede, wajar kalau udah mulai suka sama cowok. Udah telat malah.” Gab terkekeh.


“Cowoknya lebih telat lagi, Kak.” Sammy mulai menggosip.


“Sammyyyyyy! Apaan sih???”


Kakak beradik itu tergelak melihat Ai yang salah tingkah.


“Telat gimana? Udah tua cowoknya?” tanya Gab, penasaran.


“Bangeeeeet. Tuaan cowoknya malah dari Kakak.”


“Ulalaaaaa. Ai pinter milih cowok. Emang harus gitu tahu?! Yang udah settle keuangannya.”


“Kaaaak! Nggak ada itu! Sammy bohong!”


“Beneran juga nggak apa-apa, Ai. Nggak ada yang marah.”


Di sepanjang perjalan mereka menuju Pancious, hanya berisi rundungan terhadap kisah cinta baru Ai. Membuatnya jadi kepikiran.


“Lah? Emang iya kan? Siapa lagi!” Sammy meledek.


Gab hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan adik semata wayangnya yang tidak tahu malu itu. Setelah itu, ia beralih pada Ai. Seperti biasa, Ai berusaha memilih menu makanan yang paling murah.


“Ai, kalau mau mesen makan tuh lihat kolom menu, jangan kolom harga.” Gab mengingatkan.


Ai terkekeh, “Udah kebiasaan, Kak.”


“Dasarrrr!” Gab mengelus sayang kepala Ai.


Setelah menyebutkan seluruh pesanan, sang pramusaji pun pergi.


“Kak, gue kebelet nih. Ikut nggak?” tanya Ai.


“Nggak deh, Ai. Sendiri aja ya.”


Ai mengangguk. Ia pun berjalan menuju toilet yang terletak tak jauh dari Pancious. Tidak ada firasat apapun, tidak ada kecurigaan apapun. Namun, begitu ia keluar dari toilet, tiba-tiba ia mendengar suara yang memanggil namanya.


Suara itu kan…


“Ai?” Al berdiri di depan pintu toilet laki-laki. Dengan wajah kaget dan senyum di wajahnya.


Sebenarnya apa maksud semesta mempertemukan mereka dua hari berturut-turut? Apalagi orang ini adalah orang yang telah mengganggu pikirannya selama beberapa hari terakhir ini.


***


Ai kembali dari toilet dengan wajah yang masih terlihat kebingungan.


“Lo kenapa, Ai?” tanya Gab.

__ADS_1


“Nggak apa-apa, Kak.” Ai tersenyum. Bisa dibully habi-habisan kalau sampai Sammy tahu siapa yang baru saja ia temui.


Pesanan mereka datang tak lama kemudian. Karena sudah sangat kelaparan, mereka pun segera menghabiskannya dalam sekejap.


“Kita udah kayak gelandangan yang nggak makan lima hari, tahu nggak?!” Gab tertawa.


“Sorry, Kak, soalnya gue melihara naga di perut!” Ai menepuk-nepuk perutnya.


“Lo melihara naga, Kak Gab melihara dinosaurus!” ledek Sammy.


Gab langsung menyentil telinga Sammy. Ai jadi tertawa.


“Udah, ah. Yuk, nanti kelamaan loh pulangnya.” Gab pun beranjak. Ai dan Sammy berjalan mengikuti di belakang.


Mereka pun keluar dari Pancious.


“Mau kemana dulu?” tanya Gab.


“Kak, gue nggak ada harapan. Please, bawa aja kemana yang kakak mau.” Ai memelas.


Gab tertawa.


“Ya udah, ke Zara lagi aja, yuk?” Ia pun menggandeng tangan Ai.


Ai hanya mengangguk.


“Daaaaan penderitaan pun dimulai,” keluh Sammy, sambil berjalan di depan, mendahului mereka.


Gab dan Ai tertawa.


Mereka terus berjalan. Dan Ai bisa melihat restoran itu. Tom-tom.


Saat melewatinya, Ai tidak bisa menahan matanya. Ia mencari sosok itu.


Dan benar saja.


Al ada disana.


Bersama seorang wanita cantik.


Sedang tertawa.


Ai merasakan sesuatu di dadanya. Tanpa ia sadari, genggamannya di tangan Gab semakin kencang. Siapa wanita itu? Apakah ia adalah kekasih dari Al? Apakah besok Al akan membawa wanita itu ke pernikahan sepupunya?


Ai tidak bisa mengendalikan pikirannya sendiri.


Gab yang tersadar dengan eratnya cengkraman Ai tiba-tiba merasa keheranan. Ia pun mengikuti pandangan Ai dan melihat sepasang laki-laki dan perempuan yang sedang duduk berdua di dalam restoran.


Gab menyembunyikan senyumnya.


“Ai, lo kenapa?” tanya Gab.


Ai kaget, langsung meluruskan pandangannya.


“Nggak apa-apa, Kak.”


Gab tidak ingin memaksa Ai untuk menceritakan siapa yang tadi ada di dalam restoran tersebut. Nanti kalau ia butuh, ia juga akan cerita. Jadi, Gab memilih menunggu.


“Kak…” Tiba-tiba Ai bergumam.


“Hm?”


“Buat gue cantik ya besok?”


***


Teman-teman, jangan lupa dukungannya ya.

__ADS_1


Dan bantu promo juga yuk biar banyak yang ngebucin sama abang 😂✨


IG : @ingrid.nadya


__ADS_2