
"Iya kan, Bu. Saya juga menanyakan hal yang sama tadi." Abimanyu ikut-ikutan dengan Rianti. Al langsung menoleh pada ayahnya dengan nanar.
Sebenarnya, Al tidak terlalu peduli jika hanya ia yang diberondong pertanyaan ini. Toh, ia sudah biasa. Namun, Ai? Ia kasihan pada gadis ini. Sudahlah dijebak, akhirnya harus menanggung hal yang sama dengan dirinya. Untuk kedua kalinya pula.
Abimanyu sadar pada tatapan galak Al, ia pun berkomentar, "Kamu galak banget sih. Orangtua tuh wajar nanya kapan anaknya nikah."
"Ke aku, wajar. Ke Ai, enggak. Ai kan masih muda, Pa!" Al mengingatkan.
"Eleh, eleh, bela banget deh sama pacarnya." Abimanyu malah menggoda anaknya. Sejujurnya, ia senang melihat sifat protektif Al pada Ai.
Al gedek sendiri dengan tingkah sang ayah. Ia baru akan mengatakan sesuatu untuk memarahi ayahnya lagi, namun, Ai tiba-tiba meletakkan tangannya di lengan Al.
"Abang, jangan marah-marah sama orangtua," kata Ai.
Al terenyuh. Abimanyu lebih sentimentil lagi. Pacar anaknya tersebut menahan Al untuk memarahinya. Ah, jadi ini kenapa ia dibuat menunggu terlalu lama. Bertahun-tahun, ia menanti seorang wanita untuk bisa menyentuh hati anaknya. Dan sekarang, inilah buah kesabarannya.
Melihat anak dan suaminya begitu terpukau dengan Ai, Junita tersenyum. Karena ia pun sama kagumnya. Keluarganya terbiasa mengutarakan pendapat secara gamblang kepada orangtua. Terlalu sering ia melihat Al dan Abimanyu berdebat hebat. Dan baru hari ini, ia melihat Al menginjak remnya. Biasanya ia menentang ayah sendiri dengan begitu kelewatan.
Junita pun menepuk punggung tangan Rianti, "Jangan buru-buru, Bu. Biarin aja mereka pacaran dulu. Saling mengenal. Nikah kan nggak untuk sehari dua hari."
Al menoleh pada ibunya. Ibunya adalah satu-satunya yang waras di antara dua orangtua yang ada disini.
Namun, mendengar kalimat Junita itu, Abimanyu langsung protes, "Mama, apaan sih?!"
Junita mengernyitkan dahi.
Abimanyu sudah berjalan mendekati Junita dan Rianti.
"Jangan dengerin istri saya, Bu Rianti! Jadi, kapan kita mau ngomong-ngomong masalah mahar dan lain-lain?" Abimanyu mendesak.
"Paaaa..." Al menggaruk kepala, pasrah.
"Anak-anak nggak perlu dengar pembicaraan kita, Bu. Ayo, kita menjauh dulu," ajak Abimanyu.
Rianti dan Abimanyu pun segera berjalan menjauh dari mereka.
Junita hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Maaaa!" Al merengek pada mamanya.
"Heh! Malu di depan pacar kamu!" Junita mengingatkan.
Al cemberut. Ai terkekeh. Laki-laki di sebelahnya sudah berumur tiga puluh tiga tahun, namun tidak ubahnya hanya seorang bocah lima tahun yang ngambek saat keinginannya tidak dituruti.
"Biarin aja, Bang. Ini cuma karena papamu lagi happy aja."
"Tapi kan nggak harus langsung ngomongin mahar, Ma!"
"Udah, cuekin aja." Junita tidak mau membahas hal ini lama-lama. Ia pun menoleh pada Ai.
"Ai, kamu udah makan?" tanyanya.
"Udah, Tante."
"Temenin Tante ambil dessert yuk?"
"Oh, boleh, Tante."
"Terus aku gimana?"
"Ya sini dulu sendiri. Biasanya juga sendirian, baru kali ini bawa pasangan," cibir Junita.
Al mendengus.
Junita pun langsung menggandeng tangan Ai untuk segera berjalan. Meski merasa sedikit canggung, Ai hanya bisa pasrah saat digiring menuju meja dessert. Ai mencoba mengambil sisi positif semua ini. Ia jadi bisa mengambil beberapa cemilan untuk dimakan.
__ADS_1
Ai selalu seperti ini. Hidup yang keras mengajarkannya untuk selalu melihat sisi positif dari segala sesuatunya. Inilah cara orang susah untuk bertahan hidup.
"Kenal Al dimana, Ai?" tanya Junita.
Ai berpikir sejenak. Perlukah ia berbohong?
Sepertinya tidak.
Ai hanya akan menjadi dirinya sendiri. Selalu.
"Di Rumah Bunga, Tante."
Junita tampak berpikir sejenak. Sepertinya ia ingat dengan nama toko itu.
"Itu nama usaha kecil-kecilanku, Tante."
"Wah, hebat. Masih muda sudah ada pikiran untuk berbisnis." Junita menepuk punggung Ai dengan bangga.
Ai tersenyum kecil. Junita tidak tahu saja, Rumah Bunga adalah tempatnya menggantungkan hidup. Ia bukanlah seperti kaum milenial sekarang. Yang dimodali orangtuanya untuk berbisnis. Dan jika bisnis itu gagal, ia bisa melanjutkan kehidupannya dengan sama tenangnya.
Tidak. Ai merintis semuanya dari nol. Ia kumpulkan uang sepeser demi sepeser. Awalnya hanya berupa toko online saja, dan sekarang sudah berkembang juga memiliki toko offline. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kalau sampai usahanya ini sampai gulung tikar. Amit-amit!
"Oh, bunga ulang tahun..." Tiba-tiba Junita menyadari sesuatu.
"Hahaha, iya, Tante. Bunganya itu dari toko aku."
"Bener, bener. Ah, Al bisa aja. Ternyata bunganya dirangkai sama pacar sendiri." Junita tersenyum-senyum.
Ai tidak ingin berbohong, jadi ia diam saja.
Selagi mereka mengambil makanan dari meja dessert, Junita bertanya demi menuntaskan rasa penasarannya.
"Ai, apa yang kamu suka dari Al?"
Ai merenung sejenak. Untungnya posisinya sekarang, bisa sambil langsung melihat ke arah Al. Laki-laki itu sedang memandanginya dengan khawatir. Seperti benar-benar merasa tidak enak karena telah menyeretnya sejauh ini.
Junita tersenyum.
"Anakku emang baik, Ai. Luar biasa baiknya."
Ai mengangguk setuju.
"Terus apalagi?"
"Emmm, ganteng?" Ai terkekeh, malu, saat mengutarakan hal tersebut.
Junita ikut tertawa bersama Ai.
"Selera kita sama ya, Ai. Lihat Om kan?! Itu versi tuanya Aldebaran nantinya."
"Iya, Tante. Mirip banget."
"Iya kan?! Makanya berantem mulu, saking miripnya."
"Ceileeeeh!" Tiba-tiba suara seseorang menyentak Junita dan Ai. Mereka pun menoleh ke asal suara dan menemukan Shaletta sedang berkacak pinggang.
"Udah akrab aja sama calon mantu," ledek Shaletta.
Junita tertawa. Ai hanya tersenyum canggung.
Al, yang melihat dari jauh kedatangan Shaletta, langsung ikut menyamperi mereka bertiga.
"Ini lagi satu. Pacarnya nggak boleh gue gangguin apa?!" Shaletta meledek Al yang tiba-tiba muncul secepat kilat.
Al mendelik pada Shaletta. Adiknya itu balas menjulurkan lidah.
__ADS_1
"Gini nih kelakuan abang adik umur segini. Kayak masih punya dua anak TK." Junita mengeluh pada Ai.
"Tapi kayaknya asyik, Tante. Saya anak satu-satunya, nggak punya temen berantem dari kecil."
"Nih abang gue bawa pulang aja, Ai. Bosen gue lihat dia mulu di rumah," ujar Shaletta.
"Ntar lo kangen!" balas Al.
"Jijay!"
Sepanjang beberapa puluh menit ke depan, hanya diisi dengan ledekan-ledekan antar mereka. Sebenarnya mereka berniat untuk menunggu kembalinya Abimanyu dan Rianti, namun sudah hampir sejam, mereka masih sibuk berbincang-bincang di pojok ruangan.
"No offense ya, Ai. Tapi, Ma, mama yakin kan papa tuh lagi nyari istri buat abang? Bukan buat diri sendiri?" Shaletta bertanya dengan iseng.
Semua tertawa.
"Kamu tuh!" Junita benar-benar tidak habis pikir dengan anaknya.
"Ya, siapa tahu kan neneknya Ai mau dijadiin istri kedua," celetuk Shaletta lagi.
"Sinting lo dek!" Al memaki, tapi tetap tertawa.
Ai hanya tersenyum-senyum.
Al diam-diam jadi memperhatikan Ai. Gadis itu tiba-tiba jadi sedikit pendiam, ia pun berkali-kali melirik jam tangannya.
"Kamu kenapa?" bisik Al, tidak tahan melihat kegelisahan Ai.
"Saya harus pulang. Mama saya nungguin."
"Ah. Oke. Bentar saya bilang ke Etta." Al pun mengambil ponselnya, lalu mengetikkan sesuatu untuk dikirimkan pada Shaletta. Tak berapa lama kemudiam, ponsel Shaletta berdenting.
Abang :
Ta, Ai mau pulang nih. Anterin gih. Kasihan mau jagain nyokapnya.
Shaletta segera mengetikkan pesan balasan pada Al.
Etta :
Dih! Anter sendiri! Kan pacarnya abang!
Al menoleh pada Shaletta setelah membaca pesan tersebut. Ia pura-pura tidak melihat.
Al segera menujukkan pesan itu pada Ai.
Ai panik, lalu segera mengetikkan pesan lagi pada Shaletta menggunakan ponsel Al.
Abang :
Ta, jangan aneh-aneh deh. Yuk, pulang?
Shaletta membalas lagi.
Etta :
Pulang ndiri aja~
Ai menggeram. Shaletta menjulurkan lidah. Sejujurnya, ia merasa dikhianati karena Ai malah ikut-ikutan dalam sandiwara Al sejak tadi. Ia kan ingin Ai menjadi pacar sungguhan abangnya, bukan hanya pura-pura!
Tapi, tanpa siapapun menyadari, ada satu orang yang diam-diam kesenangan, karena bisa menghabiskan lebih banyak waktu dengan Ai.
***
Siapa disini yang pernah dapat pertanyaan kapan nikah?
__ADS_1
Aku... kalau jari telunjukku ada sepuluh, semuanya aku acungin 🤧
IG : @ingrid.nadya