
"Woi, Re! Yang lain mana?" Aseng, yang baru saja datang, langsung duduk di sebelah Rene. Dia mencomot beberapa kentang goreng di atas meja, mumpung belum ada kawanan serigala bringas yang akan segere menghabiskannya.
"Tuh..." Rene menyahut, sambil menunjuk ke arah jam dua belas, tempat dia memandangi sesuatu daritadi. Aseng pun menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Rene.
"Re..." Aseng speechless.
"Lo pikir lagi fatamorgana ya?"
Aseng mengangguk.
"Itu beneran Al lagi salaman sama cewek?" tanya Aseng, sekali lagi, tetap belum percaya.
"Iya. Lo nggak salah lihat!" sahut Rene.
"Ngapain dia? Kenalan?"
Rene menggedikkan bahu, "Kayaknya sih."
"Wow!"
"Ya kan? WOW!"
Mereka berdua terpukau melihat bagaimana Al tampak santai berbincang dengan wanita tersebut. Boris, yang daritadi menemani mereka, kini terlihat meninggalkan Al dengan wanita tersebut. Ada senyum bangga di wajah Boris.
Rene dan Aseng pun segera menarik Boris untuk segera duduk di hadapan mereka.
"Nggak sabaran banget sih." Boris terkekeh.
"Ini Al loh! Yang nggak pernah berminat kenalan sama cewek, bahkan Scarlett Johansson sekalipun!" ucap Aseng, berlebihan.
"Lo salah sih. Dia kan penggemar film Marvell. Kalau ketemu Scarlett Johansson, dia bakal minta tanda tangan." Rene mengemukakan pendapatnya.
"Cowok normal tuh bakal minta nomor telepon Scarlett, bukan tanda tangan," sahut Boris.
Mereka pun kompak tertawa.
"Bener juga!"
"Udah, fokus, fokus. Tadi Al kenalan sama cewek?" tanya Aseng.
"Iya. Dia yang minta kenalan duluan loh. Kamu lihat kan tadi, Yang?"
"Iya, lihat." Rene terkikik.
"Akhirnya ya, teman kita yang satu itu puber juga!"
"Karena siapa dulu dong!" Boris menepuk-nepuk dadanya.
"Dih, merasa berjasa lo?!"
"Iya dong."
Rene dan Aseng sibuk mengacak-acak rambut Boris. Sementara itu, Al tengah berbincang santai dengan wanita tadi. Dari kacamata siapapun, semua pasti sependapat, mengira bahwa Al benar-benar terlihat tertarik dengan wanita tersebut.
Namun, mari kira reka ulang kejadian sebelum Al menyodorkan tangannya...
__ADS_1
Boris kan bertanya pada wanita itu, "Udah pernah ketemu Al belum?"
Sang wanita mengangguk karena tadi memang dia salah menepuk Al. Dia pun berkata sambil memamerkan senyuman terbaiknya, "Udah tadi."
Saat itulah, Al melihat seseorang melintas masuk ke dalam Bluegrass. Adalah Yuda. Sang sepupu dekat, anak dari bibinya sendiri. Salah satu keturunan di keluarga Maheswara dari pihak anak perempuan. Bibinya yang bernama Kirana Maheswara adalah kakak perempuan dari Abimanyu.
Al tidak terlalu dekat dengan Yuda untuk saling membicarakan masalah masing-masing. Namun, juga beberapa kali bertukar pesan menanyakan kabar, hanya untuk berbasa-basi.
Yah, kadang keluarga sendiri memang terasa seperti orang lain. Dan orang lain terasa seperti keluarga sendiri.
Balik ke permasalahan Al melihat Yuda memasuki Blugrass. Al yakin betul, bisa memanfaatkan momen ini agar gosip yang menyebar di seputar keluarga Maheswara akan kembali berpihak pada dirinya. Ia ingin membersihkan namanya. Mungkin ia bisa memanfaatkan keadaan ini!
"Halo, nama kamu siapa?" tanya Al, sambil mengulurkan tangan.
"Isyana," jawabnya.
"Aldebaran."
"Ikatan cinta?"
"Hah?!"
Isyana tertawa kecil. Al terlihat bingung.
"Itu nama pemeran utama dari sinetron paling terkenal di Indonesia sekarang ini," jelas Boris. Sadar betul bahwa Al tidak akan pernah mengetahui mengenai Arya Saloka dan polemik hidupnya yang berkepanjangan di sinetron tersebut.
"Oh. Maaf, saya nggak tahu."
"Lebih aneh kalau kamu tahu sih." Isyana tertawa.
Sekejap ia sadar dengan kesalahan dari guyonannya sendiri. Ia menatap Boris tidak enak.
"No problem, Isyana. Anyway, aku Boris." Ia ikut mengulurkan tangan pada Isyana.
"Salam kenal." Isyana tersenyum. Pipinya bersemu merah lagi, seperti terlihat malu karena mencetak dua kesalahan hari ini di depan satu orang laki-laki yang menurutnya sangat menarik.
"Kalian pernah ketemu dimana?" tanya Boris.
"Disini." Al yang menjawab.
"Eh? Gimana ceritanya?"
"Tadi aku salah nepuk Al, aku kirain dia temen aku. Ternyata bukan." Isyana terlihat malu-malu. Wajahnya semakin memerah. Kulitnya yang putih bersih benar-benar membuat pipi tomat itu semakin menyala meski kondisi pencahayaan di Bluegrass terbilang minim.
"It's okay." Al tersenyum.
Ada jeda sejenak.
"Kerja dimana?" tanya Isyana.
"Sudirman sini juga."
Inilah jawaban template seorang Aldebaran Maheswara. Dengan nada sesepele mungkin. Seperti enggan menyebutkan bahwa bapak sendirilah yang mempunyai perusahaan.
"Kamu?" Al lanjut bertanya balik.
__ADS_1
Boris diam-diam mengamati tingkah laku Al. Sepertinya ia tidak pernah melihat sahabatnya itu terlihat berminat untuk membangun percakapan dengan seorang wanita asing. Apakah Isyana adalah anomali yang akan menentang segala hukum alam selama tiga puluh tiga tahun terakhir ini?
"Bank yang gedungnya paling boros listrik deh." Isyana membuat lelucon. Al dan Boris langsung mengerti bank yang dimaksud. Memang bank tersebut punya gedung dengan pencahayaan gedung paling semarak di seputar SCBD.
Boris sempat membantu Al membangun percakapan sebentar. Setelah dirasa percakapan itu mulai mengalir, Boris berinisiatif meninggalkan mereka berdua saja.
Boris bahagia. Rene dan Aseng bersorak-sorai.
Sementara Al sedang berusaha membuat Yuda sadar dengan keberadaannya bersama seorang wanita di bar ini. Dan akhirnya penantiannya terjawab. Yuda tampak kaget saat melihatnya sedang berbincang berdua saja dengan seorang wanita.
Al pura-pura terkejut saat bertemu mata dengan Yuda. Lalu, ia sok tersenyum sambil menggedikkan bahu. Seakan mengisyaratkan bahwa hal ini sepele dan sudah biasa dia lakukan. Gaya si perjaka tua ini memang selangit!
Setelah tujuannya berhasil, ia masih meluangkan waktu sejenak untuk mendengar dan menyimak Isyana selama beberapa menit. Tapi ia tidak terlalu betah berbicara lama-lama dengan orang asing. Apalagi dari kaum seberang, alias wanita.
Ia segera berniat menyudahi percakapan tersebut.
"Oke deh. Senang kenalan sama kamu, Isyana. Saya balik ke meja saya dulu ya." Al tersenyum, dan berlalu begitu saja.
Meninggalkan Isyana penuh dengan tanda tanya. Setelah terlihat tertarik, ia meninggalkan Isyana begitu saja tanpa menanyakan nomor telepon atau apapun yang bisa membuat mereka berhubungan lagi?
Isyana menatap kepergian Al dengan tidak rela. Namun, merasa tertantang sekaligus. Biasanya laki-laki mana pun akan berusaha meminta nomor teleponnya. Ia yang akan menentukan apakah memberikan nomor asli atau menyalahkan tiga digit belakang nomornya.
Tapi laki-laki satu ini langsung meninggalkannya!
Sungguh sebuah kemustahilan yang membuatnya semakin tertarik dengan Al.
Al sendidi sudah melenggang kembali ke mejanya. Sahabat-sahabatnya menunggu Al tiba dengan mata penuh harap. Semoga ada kabar baik, berharap hormon-hormon di tubuh Al memang benar-benar bekerja kali ini.
"Gimana, gimana?" Boris langsung memburu Al begitu ia duduk.
"Apanya yang gimana?" Al bertanya balik.
"Gimana tadi sama cewek itu?" Aseng bertanya, tidak sabar.
"Apaan sih?! Nggak ngerti!"
"Gimana?! Lo tertarik, nggak? Kali ini ************ lo mulai berfungsi, nggak? Lo udah minta nomor teleponnya kan?" Aseng bertanya lagi, kali ini dengan nada mulai emosi.
"Hah?! Ngapain gue minta nomor teleponnya sih?"
"Terus, kenapa tadi lo kenalan dan kayak kelihatan tertarik gitu?!" Rene gemas sendiri.
"Gue tadi ngelihat, Yuda, sepupu gue, disini. Mikirnya kalau gue terlihat sama cewek disini, mungkin sedikit bisa ngebersihin nama gue di mata keluarga," sahut Al, enteng.
Boris, Aseng dan Rene terpelongo. Rasanya seperti diterbangkan ke langit ketujuh selama beberapa saat. Namun di detik berikutnya malah dihempaskan ke neraka jahanam, tempat belatung dan setan menunggu.
"Aaaaaal!" Mereka kompak memaki.
Al melonjak kaget.
"Lo tuh normal nggak sih???"
***
Al, al! Padahal aku udah berharap loh kamu mulai tertarik ama cewek ðŸ¤
__ADS_1
Jangan lupa like, comment dan favoritnya ya, teman-teman.
IG : @ingrid.nadya