
Semua orang tidak menyangka kalimat itu terucap dari mulut Al. Selama ini, jika ditanya soal status, ia selalu mengatakan dengan bangga bahwa ia adalah lelaki single terhormat. Kenapa sekarang ia berubah?
"Nggak usah ngaku-ngaku kamu!" Abimanyu akhirnya dapat menemukan kalimat yang tepat untuk meledek sang anak.
"Dih, nggak percaya!" Al berusaha terlihat semeyakinkan mungkin.
"Siapa sih, Bang?" Shaletta tersenyum-senyum sambil menyiku lengan Al.
"Ada deh," ucap Al, sok rahasia. Padahal ia dan Shaletta jelas tahu bahwa wanita itu hanya ada dalam angan-angan. Tapi adiknya itu memang tidak ada niatan membantu sama sekali. Hanya ingin menggodainya saja.
Lalu, tiba-tiba Abimanyu terkesiap. Semua orang menoleh padanya.
"Laki-laki atau perempuan???" Abimanyu histeris.
Al terpelongo. Shaletta meledak dalam tawa.
"Hahahahahaha!" Ia sampai harus memegangi perutnya. Dion sampai harus menegurnya.
Semua orang pun beralih menoleh pada Al, menunggu reaksinya.
"Pa, please deh?!" Ekspresi wajah Al berubah masam.
"Jawab aja sih, laki-laki atau perempuan!" Abimanyu menegaskan sekali lagi.
Al memutar bola matanya, "Perempuan, Pa! Perempuan! Udah? Puas?"
Tapi Abimanyu tidak percaya begitu saja, "Namanya siapa? Kok kamu nggak pernah cerita? Kamu bohong ya?"
"Ya ampun! Aku nggak pacaran dipertanyakan, aku pacaran lebih dipertanyakan lagi!" keluh Al.
"Ya, jelas! Kamu tiba-tiba punya pacar begini, siapa yang nggak curiga?"
"Abaaaang, jangan bohong..." Junita yang sudah pulih dari rasa terkejutnya, ikut membujuk Al. Firasatnya berkata bahwa sang anak sulung memang sedang berbohong. Dan ia tidak suka jika anaknya mulai berbohong pada orangtua.
"Aku nggak bohong, Ma," ucap Al, namun mengalihkan pandangannya dari sang ibu. Ia tahu betul tidak akan bisa meyakinkan Junita. Dan, ia tidak akan berusaha melakukannya malam ini.
"Jadi, kenapa disembunyiin selama ini?" desak Abimanyu, lagi.
"Kenapa harus dikabarin ke seluruh dunia?" tantang Al.
"Supaya kamu nggak dituduh macam-macam lagi sama orang lain!"
__ADS_1
"Ya ampun, Pa! Cape banget nggak sih hidup cuma mikirin omongan orang lain!"
Abimanyu semakin dongkol. Ia tidak pernah masalah jika yang digosipkan tidak-tidak adalah dirinya sendiri. Ia akan tetap berdiri teguh, tidak tergoyahkan. Namun, sudah menjadi naluri seorang ayah untuk melindungi anak sendiri. Apalagi Al adalah sang anak sulung, laki-laki yang akan meneruskan nama keluarga dan seluruh yang telah ia bangun dengan susah payah selama ini. Dan ia benar-benar ingin mengembalikan lagi nama baik anaknya itu.
Namun, Abimanyu sudah lelah menunjukkan kepedulian ini pada anaknya. Ia lebih memilih bersikap keras agar anaknya mengerti. Karena menurutnya, hal ini adalah hal terbaik yang bisa ia lakukan pada sang anak.
"Terserah kamu ngomong apa, Al. Kalau Papa nggak tahu siapa perempuan ini, Papa nggak bakal percaya sama semua omongan kamu."
"Oke, nanti akan aku bawa di acara keluarga selanjutnya." Omongan itu meluncur begitu saja dari mulut Al, dengan lugas. Ia benci berbohong. Karena kebohongan hanya bisa ditutupi dengan kebohongan lain. Ini adalah siklus yang tidak bisa berhenti. Seperti yang ia lakukan saat ini. Namun, ia bisa apa? Didesak seperti ini di depan seluruh keluarga membuatnya tidak bisa berpikir lebih jernih.
Al sudah melakukan pertimbangan sebenarnya. Acara keluarga selanjutnya adalah ulang tahun Shaletta. Tiga bulan lagi. Masih banyak waktu untuk mencari wanita untuk dijadikan pacar pura-puranya. Atau siapa tahu, ada wanita yang benar-benar akan mencairkan hati batunya itu, ya walaupun hal ini jelas diragukan oleh Al sendiri.
"Oh, bawa aja jadi plus one lo di acara nikahan Diandra, Al." Yuda mengusulkan.
Al langsung merutuk dalam hati!
"Benar juga. Acaranya minggu depan kan?" Abimanyu tersenyum puas.
Matilah Al! Ia benar-benar lupa tentang pernikahan Diandra, sepupunya, adik dari Yuda, yang akan dilaksanakan minggu depan. Ia kecolongan! Ia lupa memperhitungkan hal itu.
Namun, ia tidak ingin terlihat kalah sebelum berjuang. Ia akan melakukan segala cara untuk menang!
"Kita tunggu. Kalau kamu bohong, kamu tahu apa yang bakal terjadi kan?" Ada ancaman dalam nada Abimanyu.
Al menatap Abimanyu jengah.
"Emangnya aku bisa kehilangan apa lagi sih, Pa?" kata Al, dengan sinis, sambil menatap Yuda terang-terangan.
Yuda dan Kirana langsung terlihat serba salah.
"No offense, Tante, Yuda. Ini cuma masalah bapak dan anak. Maaf kalau menyinggung kalian." Al meminta maaf dengan tulus.
"Nggak apa-apa, Al." Kirana berusaha bersikap biasa-biasa saja. Padahal dalam hati, ia lumayan merasa tidak enak juga jadi terseret masalah keluarga seperti ini. Hanya saja, ia sudah lelah mengurusi sang anak, jika adiknya mau membantu mendidik Yuda, ia akan senang hati melepaskannya.
"Mau sampai kapan kalian ngerusak hari ulang tahun Mama???" Akhirnya Junita bersuara, lagi. Kue ulang tahunnya bahkan belum dipotong, tapi suami dan anaknya sudha berseteru sejak tadi!
Abimanyu pun akhirnya menoleh pada istrinya. Satu-satunya cinta dalm hidupnya. Kenapa ia bersikap egois dengan menghardik sang anak habis-habisan dan merusak hari ulang tahun istrinya itu?
"Maaf, Sayang, maaf." Abimanyu merangkul, lalu mengelus-elus pundak istrinya.
Al mencibir. Jika dengan sang ibu dan Shaletta saja, Abimanyu langsung melunak. Coba kalau dengannya...
__ADS_1
Ngomong saja harus menggunakan urat!
Akhirnya, di sepanjang sisa malam itu, Al dan Abimanyu sama-sama saling mengesampingkan ego dan perseteruan mereka demi Junita. Mereka tidak ingin merusak lebih jauh hari spesial Junita.
Dan, setelah pesta kecil-kecilan itu usai, setelah semua orang pulang, setelah Al kembali sendirian di kamarnya, barulah ia merasa kebingungan sendiri.
Smart phone-nya bergetar tidak lama kemudian. Sebuah pesan dari sang adik.
Shaletta :
Abaaaang, kalau butuh nomor Ai, ini ya nomornya.
Dan ia melampirkan nomor whatsapp Ai setelah itu.
Al merutuk.
Adiknya memang benar-benar bersenang-senang hari ini!
Al tidak punya niatan sama sekali membalas pesan Shaletta. Ia hanya membiarkan pesan itu terbaca.
Okelah, ia memang merasakan sesuatu yang aneh saat bertemu dengan Ai tadi. Tapi teman sang adik itu kan masih kecil! Ia memutuskan mengabaikan perasaan aneh tersebut.
Lalu, Al pun memutuskan untuk menelepon sebuah nomor.
Nada dering tersambung lama.
Dan, akhirnya dijawab.
"Halo?" sapa wanita itu.
"Halo, Isyana. Lagi ngapain?"
Dan dimulailah petualangan Al untuk mencari wanita dalam angan-angan...
***
Teman-teman, mohon dilike ya semua chapternya, terima kasih 😁
Dukungan kalian sangat berarti untuk bikin aku tetap semangat ngelanjutin cerita ini 🙂
IG : @ingrid.nadya
__ADS_1