Aldebaran Mencari Cinta

Aldebaran Mencari Cinta
Bab 34


__ADS_3

"Kamu ngapain disini?" Rianti bertanya saat melihat cucunya ada di pesta salah satu keluarga ternama di Jakarta.


"Ada nikahan sepupunya temenku, Nek." Ai menjelaskan dengan gelagapan.


Al sampai kebingungan sendiri. Siapapun bisa melihat Ai terlihat ketakutan di depan orang yang dipanggilnya sebagai nenek. Al memang tidak lama memiliki kakek dan nenek, mereka sudah meninggal puluhan tahun yang lalu. Tapi menurutnya, kakek dan nenek adalah orang-orang yang paling memanjakannya. Jadi, kenapa Ai malah terlihat takut sekarang?


"Terus, yang jagain mama kamu siapa?" Nada Rianti jelas menuduh.


"Ada. Temenku, Nek."


Wajah Rianti langsung berubah kaku.


Al bisa melihat raut wajah Ai menjadi pias, tapi ia tidak bisa ikut campur dalam perdebatan tersebut.


"Memangnya temen kamu tahu jadwal minum obat mama kamu? Pantangan makanannya?"


Ai benar-benar tidak bisa menjawab lagi. Sejak dulu, ia tidak pernah punya tempat khusus di hati neneknya, apapun yang dilakukannya akan selalu terlihat salah. Diam adalah satu-satunya jalan keluar jika bermasalah dengan sang nenek.


Rianti baru akan melanjutkan ocehannya, namun beberapa orang tiba-tiba bermunculan di sebelah mereka.


"Bu Rianti kenal dengan Ai?" Junita terlihat bahagia.


Rianti kaget saat Junita menghampirinya. Ia mengenal seluruh keluarga Maheswara, siapa yang tidak?! Namun, ia tidak menyangka bahwa ia pun juga dikenal. Ia hanya satu arisan dengan Kirana, tidak pernah berhubungan sama sekali dengan Junita, istri dari sang pemilik tampuk kekuasaan Maheswara yang sebenarnya.


"Eh, kok Bu Junita bisa kenal saya?" Rianti terlihat salah tingkah.


"Itu! Kak Kirana yang kasih tahu." Junita menunjuk Kirana yang melambai dari jauh. Rianti balas tersenyum.


"Kak Kirana lagi minum obat. Katanya, sebentar bakal nyamperin kesini." Junita menerangkan.


Rianti lagi-lagi hanya bisa tersenyum.


"Oh iya, Bu Rianti kenal sama Ai?" tanya Junita, sekali lagi, karena Rianti belum menjawab pertanyaannya.


Rianti melirik kepada Ai.


Ai bisa merasakan telapak tangan dan punggungnya berkeringat saat ini, bahkan di ruangan yang begitu dingin seperti ini. Ia tidak suka berurusan dengan neneknya. Apalagi sekarang bisa-bisa sambil melibatkan orang lain. Ia benar-benar merasa tidak nyaman.


"Iya. Dia cucu saya."

__ADS_1


"Wah, cucunya udah gede banget." Junita terpukau.


"Saya dan mamanya Airina nikah muda."


"Oh, pantesan. Berarti saya dan Kak Kirana yang memang terlambat nikah." Junita cengengesan.


"Enggak kok. Saya memang kecepetan nikah. Sembilan belas tahun sudah diboyong orang." Rianti berusaha tidak terdengar begitu kaku. Nadanya cenderung bersahabat. Siapapun pasti berniat menjalin hubungan baik dengan keluarga yang kaya raya tujuh turunan, bukan?! Tidak perlu munafik...


"Mamanya Airina juga sama. Umur dua puluh tahun sudah menikah," jelas Rianti, lagi.


Mendengar semua itu, Abimanyu yang kini berdiri di sebelah anaknya, menyiku lengan Al.


"Tuh, udah mendarah daging di keluarganya untuk nikah muda. Kamu mau tunggu apa lagi?!" bisik Abimanyu.


Al menoleh pada sang ayah dengan dramatis. Sungguh, ayahnya akan menggunakan kesempatan apapun untuk mendesaknya menikah. Mungkin seperti inilah ketika calon ******* dicuci otaknya. Dimasukkan pemahaman-pemahaman tidak benar di setiap detiknya, siapa yang lama-lama tidak goyah coba?!


Ai yang juga bisa mendengar bisikan Abimanyu hanya bisa menahan senyumnya. Situasi di hadapannya sudah kacau balau. Tadinya, ia hanya berniat berdandan sedikit, makan enak, bertemu Al sebentar untuk menunjukkan bahwa ia juga bisa menjadi cantik, lalu pulang dan bertemu ibunya. Namun, lihatlah ia sekarang!


Terjebak menjadi kekasih pura-pura dari laki-laki yang begitu menarik perhatiannya, diberondong pertanyaan kapan menikah di umur dua puluh dua tahun, lalu anehnya malah bertemu dengan sang nenek dan terkena omelan. WHAT A LIFE!


Namun, di balik semua kericuhan itu, ada tingkah Abimanyu yang terlihat sebegitu putus asanya untuk menanamkan ide menikah di benak anaknya. Hal itu mencuri perhatian Ai. Dan berhasil membuat gadis itu sedikit terhibur. Baru kali ini ia melihat seorang ayah yang begitu gencar untuk melihat anaknya menikah.


Mau tidak mau, Ai jadi bertanya-tanya sendiri, apakah yang menyebabkan ayah Shaletta tersebut begitu ngotot?


Laki-laki itu harusnya punya modal lebih dari cukup –bahkan sangat berlebihan– untuk mencari wanitanya sendiri. Dan jika ia merasa sudah cukup yakin, Ai yakin Al dengan mudah meminang wanita manapun yang ia inginkan.


Kira-kira apakah yang membuat laki-laki itu kesulitan... bahkan hanya untuk mencari pacar?


Tiba-tiba Ai teringat seseorang...


Ia tersentak akan ide tersebut.


Kalau dipikir-pikir, Al memang cukup modis untuk ukuran laki-laki. Ia pun begitu nyaman mengobrol dengan Ai, yang notabene adalah seorang perempuan. Jangan-jangan Al memang...


"Ai, muka kamu kok pucat?" Al berbisik.


Ai garuk kepala. Ia menoleh pada Kirana dan Junita yang masih terus berbasa-basi.


"Ai, kamu kenapa?" tanya Al, lagi.

__ADS_1


Ai menggeleng. Ia tidak berani menanyakan hal tersebut.


Okelah, Shaletta pernah bilang bahwa Al normal seratus persen. Tapi siapa tahu?! Mungkin Al hanya belum siap keluar dari kloset tersebut...


"Ai ini pacar anakku loh, Bu. Ini, Aldebaran. Kebetulan banget ya." Tiba-tiba Junita berkata lantang, sambil menunjuk Al.


Rianti terkesiap.


Perlahan wajahnya berbinar menatap Ai.


Dan Ai tidak suka itu.


Pikirannya yang tadi sempat berkelana pada tingkah lucu Al dan Abimanyu, kini sudah berfokus lagi kepada tempat yang tepat. Yaitu, neneknya.


"Iya, kebetulan banget. Airina nggak pernah cerita kalau dia udah punya pacar," kata Rianti.


"Ah, iya. Mereka masih malu-malu. Soalnya jarak umurnya cukup jauh."


"Memangnya Aldebaran umur berapa?"


"Tiga puluh tiga. Nggak apa-apa kan ya, Bu, cuma beda sebelas tahun."


"Iya, masih cocok kok."


Ai mengigit bibirnya. Ia ingin protes, menumpahkan seluruh unek-uneknya. Bukankah aneh jika ia tiba-tiba pantas menjadi topik pembicaraan sang nenek hanya karena ia dianggap pacaran dengan salah satu anak keluarga terpandang? Lucu sekali. Hidup kadang memang penuh dengan lelucon semesta!


Namun, siapa ia berani mengutarakan pendapat di depan sang nenek?


Al sendiri, yang berdiri di sebelah Ai sejak tadi, telah mengamati ekspresi Ai yang berubah-ubah. Ia hanya bisa berkontemplasi. Kira-kira apa yang sebenarnya sedang gadis itu rasakan dan hadapi?


Al dan Ai begitu sibuk dengan pikiran masing-masing, tanpa sadar, mereka mendapat pertanyaan pamungkas itu lagi.


Kali ini tidak dari Abimanyu.


Tidak dari Junita.


"Jadi, kapan kalian nikah?" tanya Rianti pada Al dan Ai.


***

__ADS_1


Hai, teman-teman. Kalau ada yang mau gabung di GC-ku, silahkan ya. Apalagi yang mau ngobrol-ngobrol sama aku dan readers yang lain. Kalau aku pernah lihat komen kalian di kolom komen, pasti aku accept. Sampai ketemu disana 🤗


IG : @ingrid.nadya


__ADS_2