
Begitu mobilnya memasuki pekarangan rumah Maheswara, Al langsung menelepon ke sebuah nomor.
"Ya?" Shaletta menjawab.
"Turun lo! Bantuin gue bawa bouquet mama!"
"Dih!"
"Udah, buru!" Al memerintah dengan tegas, lalu mematikan sambungan telepon.
Tak lama kemudian, Shaletta benar-benar muncul di dekat mobil Al. Wajahnya penuh harap. Apakah abangnya tadi bertemu dengan Ai, seperti harapannya?
"Apaan lo senyam-senyum?" tanya Al, heran.
"Abang nggak pengen cerita apa-apa?" Shaletta bertanya balik.
Al mengernyit. Lalu, tiba-tiba teringat sesuatu.
"AHHHHH!"
Mata Shaletta berbinar.
"LO TUH KALAU NGERJAIN ORANG EMANG PALING BISA YA, INI BOUQUET GEDE BANGET!" Al menjewer telinga sang adik.
"Aw! Aw! Abaaaaaaang, sakiiiiiiit!" Shaletta menjerit.
Al segera melepas telinga sang adik, tapi mulutnya masih menggerutu.
"Jahat!" kata Shaletta, sambil mengusap-usap telinganya sendiri.
"Makanya, jadi orang tuh jangan kesempatan dalam kesempitan!" Al masih merepet. Ia pun melangkah ke dalam rumah sambil membawa kue yang tidak kalah besarnya.
Shaletta mencibir, mengikuti langkah sang abang memasuki rumah. Ia masih tidak habis pikir kenapa memiliki ide mempertemukan sang abang dengan Ai. Niat hatinya adalah untuk berbuat baik, mempertemukan sang abang dengan wanita cantik nan baik hati. Apa daya malah dijadikan sasaran pelampiasan kekesalannya. Apa daya sang abang memang perlu dipertanyakan kenormalannya. Bahkan pacar Shaletta saja mengakui kecantikan Ai, tapi lihatlah Al. Membahas sedikit saja tentang sahabat Shaletta itu pun tidak. Harusnya Shaletta tahu, ini adalah misi yang mustahil untuk Al.
"Oh iya, ada yang kelupaan." Al tiba-tiba teringat sesuatu.
"Apaan?" tanya Shaletta.
Lalu, sekonyong-konyong, Al tersenyum.
"Ntar aja deh, gue yang ambil," katanya, lagi.
Shaletta mengernyit. Ia sedikit heran dengan kelakuan Al ini. Seumur-umur, ia belum pernah melihat abangnya senyum-senyum sendiri seperti ini.
"Ngambil apaan sih?"
"Kartu ucapan dari lo. Ada di dashboard mobil."
"Oh, kartu itu. Tapi abang kenapa senyum-senyum?" Shaletta masih tidak mengerti kenapa kartu ucapannya membuat sang abang tersenyum, kan tidak ada kalimat norak ataupun terlalu berlebihan disana, yang pantas mendapat ledekan.
Al menggeleng, "Nggak sih. Tadi temen lo..."
Belum sempat Al menyelesaikan kalimatnya, perasaan gembira langsung membuncah di dada Shaletta.
"Ai kenapa?" tanyanya dengan super semangat. Seperti bocah lima tahun yang sedang sugar rush karena kebanyakan makan makanan manis.
"Nggak apa sih. Lucu aja," kata Al, sambil lalu.
__ADS_1
Senyum Shaletta langsung merekah, selebar-lebarnya. Jadi menurut abangnya yang berhati batu, Ai itu lucu???
"Lucuuuuuu kenapaaaaaa, baaaaaaang?" Shaletta menginterogasi, dengan nada sangat puas.
"Lucu aja, panikan gitu."
Shaletta berusaha menyembunyikan rasa senangnya agar tidak tertangkap maksudnya oleh Al.
Sejak kapan orang panikan terlihat lucu untuk Al? Biasanya anak buahnya yang panikan langsung ditaruh di daftar hitam olehnya. Dan sekarang? Seorang gadis di bangku kuliau menjadi lucu karena panikan? WOW, AL! WOW!
"Emang tadi Ai panik kenapa?" Shaletta masih berusaha mencari tahu.
"Tadi dia salah ngasih kartu gitu deh. Terus panik pas nyariin kartu yang bener."
"Terus, lucunya di?"
"Lo harus lihat ekspresinya. Lucu."
"Lucu? Bukan cantik?" Shaletta keceplosan.
Al melirik tajam kepada Shaletta. Jadi sadar sang adik sedang menginterogasinya. Sikap Shaletta aneh! Ada maksud terselubung dari semua ini!
"Lo lagi jodoh-jodohin gue sama Ai ya?" Al langsung menembak.
"Dih! Kagak! Abang GR banget deh. Abisnya Dion suka bilang Ai cantik, kan gue penasaran apa menurut semua laki-laki, Ai emang cantik?" Shaletta mengelak, dengan mulus.
Al tampak berpikir sejenak.
Ia masih ingat bagaimana wajah Ai yang putih dengan semburat merah di pipi, rambut panjang yang membingkai manis wajahnya, mata cokelat yang malah terlihat lebih ramah dari pemiliknya sendiri.
Well...
Kegembiraan Shaletta semakin membuncah. Ia sampai harus berusaha keras meredam keinginannya untuk memekik kegirangan saat ini.
Ia tidak ingin mengacaukan semuanya! Ini awal yang baik untuk sang abang. Karena seumur-umur, Al belum pernah memuji wanita manapun cantik. Ternyata, Ai adalah sebuah pengecualian bagi Al.
***
Selagi menunggu acara ulang tahun sang ibu, Shaletta langsung memencet nomor telepon Ai.
"Kenapa, Ta? Ada yang kurang?" tanya Ai, begitu menjawab telepon.
Shaletta tersenyum. Di dalam pikiran temannya ini, hanya ada Rumah Bunga dan kesehatan sang ibu. Terkadang Shaletta kasihan pada Ai. Sahabatnya itu harus bekerja banting tulang di umur semuda ini. Makanya, jika orang lain tidak ingin sahabatnya pacaran dengan abang sendiri karena takut persahabatannya jadi renggang kalau-kalau ada masalah di hubungan tersebut, hal itu tidak berlaku pada Shaletta.
Sahabatnya adalah orang yang membanggakan, yang akan menjadi rebutan lelaki mana pun. Jadi, sebelum Ai sadar bahwa ia sudah butuh lelaki dan masuk ke pasar bebas, Shaletta ingin memonopoli sahabatnya itu. Shaletta ingin Ai menjalin hubungan dengan abangnya!
"Nggak apa-apa kok. Kenapa sih lo mikir tentang Rumah Bunga melulu?!" Shaletta pura-pura menggerutu.
"Hehehehe. Kan gue mementingkan kepuasan pelanggan." Ai cengengesan di ujung sana.
"Bunga lo udah bagus banget daridulu. Nanti gue instastory-in ya, nanti gue tag."
"Eh, gue nggak sanggup bayar endorse-an lo." Ai mengelak.
"EMBER! Makanya gue kasih gratis. Keberatan lo?"
Ai tertawa.
__ADS_1
"Baik bangeeeet sihhh, Kakak Ettaaaa!"
Shaletta mencibir.
"Aiiii..."
"Hm?"
"Tadi ketemu abang gue kan? Gimana?"
Ai di ujung sana langsung terdiam. Ia daritadi sudah berusaha keras mengenyahkan bayangan Al dari pikirannya sendiri, dan baru saja berhasil. Sekarang kenapa Shaletta mengingatkannya lagi sih?!
"Apanya yang gimana?!" Ai berusaha mengelak.
"Ganteng, nggak?"
"Iya, ganteng."
"Terus ada rasa-rasa gimana, nggak, pas ketemu?"
"Apaan sih, Taaaa?!" Ai protes. Tapi, ia merasa bersyukur karena Shaletta menginterogasinya melalui telepon seperti ini. Karena ia yakin sekali sekarang ekspresinya sedang kacau balau.
"Jujur dong, Ai."
"Kagaaaak ada. Gue malah malu-maluin tadi di depan Kak Al."
'Kaaaaaaaak Aaaaaaaaaaal!' Sebenarnya Shaletta ingin sekali memekikkan ledekan itu. Tapi ia tahan-tahan dalam hati saja. Mak comblang memang selalu berada di posisi yang sulit. Apalagi yang mau dijodohkan adalah dua orang yang sama-sama miskin pengalaman cinta.
"Malu-maluin kenapa?"
"Gue salah kasih kartu. Di kartu yang gue kasih ada tulisan i love you. Asliii, gue malu banget."
"Duh, semesta aja mendukung." Shaletta meledek.
"Taaaa, jangan aneh-aneh!"
Shaletta tertawa.
"Lo nggak pengen tahu nomor telepon abang gue, Ai?"
"Ta, gue gampar lo ya!"
Tawa Shaletta semakin berderai.
"Udah, ah. Gue lanjut kerja dulu. Bye, Ta."
"Bye, Ai."
Shaletta pun menutup sambungan telepon dengan Ai. Ia langsung menghempaskan diri ke ranjang. Sepertinya misinya ini tidak lagi terlihat begitu mustahil. Pertemuan pertama saja sudah semulus ini!
***
Oh cantiiiiiik~
Ingin rasa hati berbisik~
Aku auto denger lagu "Cantik" oleh Kahitna.
__ADS_1
IG : @ingrid.nadya