Aldebaran Mencari Cinta

Aldebaran Mencari Cinta
Bab 13


__ADS_3

"Abaaaang, lagi ngapain?" Junita mengetuk pintu kamar Al di sore hari.


"Nggak ngapa-ngapain, Ma. Kenapa?" Al menyahut dari dalam.


Junita pun membuka pintu, mendapati anaknya sedang bermain playstation denfan seru. Beberapa pemain bola tampak berlarian di layar televisi. Al sama sekali tidak menoleh pada sang ibu.


"Abaaaang!" panggil Junita, lagi.


"Kenapa, Ma? Lagi asyik nih." Lagi-lagi tanpa menoleh.


"Kamu nggak mau ngerayain ultah Mama ya???" Junita mulai drama. Al sadar ia tidak akan sanggup mendengar drama lain dalam hidupnya. Akhirnya, ia pun menyerah.


"Bor, Bor, nanti lanjut lagi." Al berbicara pada smart phone-nya, yang daritadi ternyata tersambung pada Boris. Mereka memang sedang bermain FIFA secara online dan saling mencaci maki melalui sambungan telepon.


Al sempat mendengar nada protes dari sahabatnya. Namun, ia bisa apa? Lebih berabe jika sang ibu yang ngambek, ketimbang Boris. Ia pun segera bangkit berdiri untuk merangkul Junita.


"Makanya, suaminya dijaga dong kelakuannya," kata Al, pada Junita.


"Kamu tuh! Nikah makanya!" Junita balas memukul bahu Al.


"Nanti ya, kalau nggak hujan."


Junita mendelik pada anak sulungnya.


"Abaaaaang!"


Al terkekeh.


"Udah, udah. Yuk jalan sebelum Papa ngamuk." Al segera menggeret sang ibu sebelum protes lebih lanjut.


Al berjalan ke ruang keluarga tanpa ekspektasi apapun. Sang ibu sudah mengingatkan hanya ingin merayakan ulang tahun dengan sederhana. Hanya dengan suami dan anaknya saja. Namun, saat tiba di ruang keluarga, Al kaget setengah mati saat menemukan Kirana dan Yuda ternyata juga ikut-ikutan berada disana. Tak lupa, Yuda membawa kedua anak laki-lakinya.


Al menoleh pada Junita. Namun, sama seperti dirinya, sang ibu juga tidak bisa menyembunyikan ekspresi kagetnya. Artinya, ini hanyalah ulah Abimanyu!


"Junitaaaaa! Selamat ulang tahuuuuun!" Kirana langsung menyalam dan memeluk adik iparnya.


"Makasih, Kak." Junita berusaha bersikap biasa. Padahal Al yakin betul, ibunya benar-benar merasa kesal pada Abimanyu.


"Happy birthday, Tante!" Yuda ikut-ikutan memeluk Junita.


"Makasih, Yud. Mana Anas?" Junita berbasa-basi menanyakan kabar istri Yuda. Padahal Junita tahu betul hubungan Yuda dan Anas sedang tidak baik, mereka sudah pisah rumah selama dua bulan terakhir. Ini hanyalah sebagai bentuk basa-basi Junita saja.


"Sibuk, Tante. Makanya, nggak bisa datang." Yuda tersenyum lugas, sudah sangat terbiasa berbohong mengenai sang istri.


"Boys, ayo, salam Oma Nita!" Yuda memberi perintah kepada kedua anaknya.


Dimas dan Damar pun segera menyalam dan memeluk Junita.

__ADS_1


"Happy birthday, Omaaaaa!" ucap mereka, bersamaan. Duo kembar ini memang sangat kompak satu sama lain.


Hati Junita terenyuh. Dalam sekejap, ia langsung lupa bahwa tadi sempat merasa kesal. Kerinduannya terhadap seorang cucu langsung terobati begitu melihat Dimas dan Damar.


"Abang, mau satuuuu kayak gini!" Junita menoleh pada Al.


Sang anak sulung langsung memutar bola matanya. Sepertinya sisa hari ini akan ia lalui dengan permintaan akan seorang cucu dari sang ibu.


"Abaaaang!" Junita merengek lagi karena diabaikan oleh Al.


"Cucu aja, boleh?! Menantu nggak usah, kan?" Al akhirnya mau menanggapi.


Kirana dan Yuda langsung tertawa karena guyonan Al. Sementara, Abimanyu dan Junita mendelik kesal.


"Abang! Ngomong yang bener dooooong!" Junita protes.


Al tidak menanggapi lagi, sebelum jadi sasaran luapan emosi sang ayah dan sang ibu.


"Dimas, Damar, salam yuk Om kamu, siapa tahu dia jadi pengen punya satu kayak kalian." Junita akhirnya mendorong Dimas dan Damar menuju Al.


Dua tangan mungil tersebut pun tersodor di hadapan Al.


"Halo, Om Al." Dimas, sang kakak, menyapa.


"Ya. Halo," jawab Al, sambil menyalam dua keponakannya tersebut dengan kaku.


"Kamu tuh yang lembut dong sama anak kecil." Abimanyu geleng-geleng. Memang sudah sedikit putus asa dengan kelakuan anak satu-satunya itu.


"Dulu Yuda juga begitu. Akan berbeda kalau dengan anak sendiri." Kirana menambahkan.


Al tidak menanggapi kalimat sang tante. Dengan anak sendiri? Siapa anaknya nanti? Stick PS? Velg mobil?


"Ya, doakan saja, Kak. Aku mulai putus asa sama dia." Abimanyu berkata, terus terang.


Kirana balas tertawa karena mengira Abimanyu hanya bercanda. Padahal, itu kan isi hatinya yang sebenarnya!


"Dimaaaaas??? Damaaaaar???" Tiba-tiba Shaletta muncul di ruang keluarga bersama Dion, kekasihnya. Ia sudah merentangkan tangan. Kedua anak kecil itu langsung berlari ke pelukannya.


Al semakin merutuk diri.


Ia benar-benar akan jadi bulan-bulanan hari ini!


Hanya ia yang hadir tanpa membawa siapapun. Tapi, memangnya ia bisa membawa siapa? Keluarganya sudah tahu bahwa Rene hanya seorang teman dan sudah menjalin hubungan dengan orang lain. Ia tidak lagi bisa menggunakan sahabatnya itu sebagai tameng.


Dion, dengan lugas, menyalam dan mengucapkan selamat ulang tahun pada Junita. Lalu, ia pun beralih untuk menyalam Abimanyu.


"Satu sudah punya anak. Satu sudah punya pacar. Satunya lagi, lumutan di sudut ruangan," keluh Abimanyu.

__ADS_1


Semua tertawa. Al hanya bisa mencibir. Jika ia adalah anggota DPR, tentu undang-undang yang pertama ia ajukan adalah tentang HAK MENJOMBLO, SEBAB TIDAK SEMUA ORANG BERKEINGINAN DAN BERKESEMPATAN UNTUK MENCINTAI SESEORANG. Tentu jika berhasil disahkan, orang pertama yang akan ia hukum dengan undang-undang tersebut adalah sang ayah!


"Daripada bahas si jomblo lumutan, ayo kita makan aja, Pa." Shaletta menggandeng sang ayah.


'Sabar, sabar. Orang sabar, pintu rezekinya lebar.' Al mencoba menenangkan diri.


Seluruh keluarga pun akhirnya mengikuti langkah mereka.


Kue ulang tahun sudah disiapkan di atas meja makan. Lilin pun segera dinyalakan. Mereka semua pun bernyanyi beberapa lagu untuk Junita.


Saat akan meniup lilin, Junita sempat memejamkan mata. Mengucapkan doanya panjang-panjang dengan khusyuk. Ia memang suka berdoa dengan sedetail mungkin.


Dan begitu ia meniup lilin, semua orang langsung bertepuk tangan.


"Panjang amat doanya, istriku ini!" Abimanyu mengelus kepala Junita.


"Banyak permintaan soalnya." Kirana nyeletuk.


"Tapi yakin deh, aku pasti cuma kebagian satu persen porsi doanya. Sembilan puluh sembilannya pasti buat Abang." Shaletta mengeluh sambil melirik pada Al.


"Pasti sih. Karena banyak yang harus didoain soal abangmu." Abimanyu menyahut.


"Jomblo seumur hidup tuh gimana coba..." Ia masih belum berhenti merundung anaknya.


Al tidak tahan lagi. Sudahlah ia didepak dari Maheswara Company dengan tidak terhormat, ditambah orang yang membuatnya terdepak juga hadir di acara ulang tahun ibu sendiri.


Dan, sekarang, sang ayah juga tidak berhenti merundungnya???


Al kesal setengah mati!


Ia harus bangkit, melakukan perlawanan.


Daridulu ia bukan seseorang yang menerima nasib begitu saja


Ia selalu berusaha untuk mendapatkan keinginannya. Meski ini artinya, ia akan melakukan hal yang paling tidak ia sukai!


Al pun menatap tajam-tajam sang ayah.


Suaranya lantang saat berkata, "Kata siapa aku jomblo???"


Semua orang terpaku mendengar kalimat Al.


***


Teman-teman, bantu aku yuk untuk promosikan cerita ini. Kita sama-sama bikin Abang dikenal banyak orang yuk. Karena biasanya rekomendasi dari pembaca ke pembaca lebih efektif 🤗


Dan oh iya, jangan lupa bantuan dukungan kalian, dengan memberi like, lima bintang, komentar, gift dan vote, karena akan membantu karya ini dikenal. Terima kasih sebesar-besarnya untuk teman-teman yang selalu mendukung aku ya. Peluk dan cium untuk kalian 🤗

__ADS_1


IG : @ingrid.nadya


__ADS_2