Aldebaran Mencari Cinta

Aldebaran Mencari Cinta
Bab 39


__ADS_3

"Papa!" Al menggeram, pelan.


Abimanyu sadar betul ada amarah tersembunyi dalam suara anaknya, tapi ia tidak peduli lagi. Lama sekali ia menunggu kesempatan seperti ini, tidak mungkin disia-siakan. Anaknya harus menikah, secepat mungkin.


Sementara itu, sang Ibu, Junita, menangkap jelas gelagat baku hantam yang akan segera terjadi kalau ia tidak cepat-cepat bertindak.


"Abang, duduk dulu sini." Junita menepuk kursi di sebelahnya, mencoba menjadi penengah untuk anak dan suaminya, seperti yang selalu dilakukannya selama ini.


Al bergeming.


"Abaaaang..." Junita memelas.


Al menghela nafas. Mau tidak mau, ia pun akhirnya menurut. Sang Ibu adalah satu-satunya alasan untuk tidak menumpahkan kekesalan saat ini pada ayahnya, terutama di depan orang asing. Tapi bagaimanapun juga, matanya tak lepas untuk memperhatikan setiap gerakan Abimanyu.


"Jadi, Bu Rianti, Airina kira-kira lulus bulan berapa?" tanya Abimanyu, dengan wajah yang terlihat sangat bersemangat. Ia sudah seratus persen mengabaikan Al.


Rianti berusaha memfokuskan diri pada Abimanyu, meski ia sebenarnya merasa tidak enak menjadi pihak luar yang berada di tengah perang keluarga. Tapi ia tidak akan melepaskan kesempatan besar ini. Pada akhirnya, ada sesuatu yang baik yang dihasilkan dari sang cucu yang selama ini tidak ingin ia anggap ada.


"Mungkin sebulan-dua bulan lagi, Pak," jawab Rianti. Sekenanya. Ia sebenarnya tidak tahu menahu soal sang cucu, tapi ia pun sama ngebetnya seperti Abimanyu. Cucunya bisa menjadi pasangan salah satu keturunan konglomerat adalah sebuah keajaiban, harus cepat dilaksanakan.


Namun, ada seseorang yang mengernyitkan dahi mendengar jawaban Rianti. Yaitu, Al. Ia tahu persis Shaletta baru duduk di semester lima. Adiknya itu satu angkatan dengan Airina, bagaimana bisa lulus sebulan-dua bulan lagi?


Ia pun jadi berpikir ulang... apa mungkin hubungan Ai dengan neneknya memang tidak terlalu dekat? Dan hal ini juga didukung dengan kacanggungan nenek-cucu tadi...


Tapi, mendadak lamunan Al langsung buyar ketika Abimanyu berceloteh, "Wah, cocok tuh, bisa langsung nikah!"


"Papa!" Al mendesis, marah.


Abimanyu tidak peduli. Rianti sebenarnya ingin cepat-cepat mengiyakan, tapi wajah marah Al membuatnya urung melakukan niatan hatinya.


"Bagaimana, Bu Rianti?" Abimanyu mendesak.


"Pa..." Al benar-benar tidak habis pikir kenapa ayahnya kali ini ngotot. Namun, seperti yang sudah bisa diprediksi, Abimanyu tetap tidak mau mempedulikan pendapat anak sulungnya tersebut.


"Saya terserah Al saja..." Rianti akhirnya buka suara.


Al semakin tidak habis pikir. Kenapa bergantung pada dirinya saja? Bukankah pendapat Ai juga penting? Sungguhlah ada yang tidak beres dalam hubungan nenek dan cucu tersebut.


"Al tidak usah ditanya. Dia sudah bangkotan. Memang sudah selayaknya menikah," jawab Abimanyu.


Al mendelik pada ayahnya. Emosinya berpindah-pindah sejak tadi, kadang ke Abimanyu, kadang ke Rianti, bahkan kadang ke diri sendiri, karena membiarkan dirinya terlibat dalam semua ini. Dan di atas segalanya itu, dia juga melibatkan Ai dalam kerumitan hidupnya ini.


"Aku–"


Al ingin segera buka suara, tapi Junita meremas tangannya, membuatnya berpaling pada sang ibu.


"Abang, dengerin dulu aja ya." Sang Ibu berkata dengan nada suara yang tidak biasa, seperti ada sesuatu yang bergolak dalam dirinya Al terdiam, apalagi saat melihat wajah sungguh-sungguh dari Junita. Tidak pernah ia melihat ibunya seperti ini. Junita adalah istri yang penurut, pun juga ibu yang tidak suka memaksakan kehendak. Namun, kali ini berbeda. Ada sesuatu dalam diri ibunya itu yang membara.


Mengira istrinya sedang membelanya, dan sang anak jadi terdiam, Abimanyu kembali mengambil kesempatan tersebut.

__ADS_1


"Bagaimana, Bu?" desaknya lagi pada Rianti.


Rianti menoleh pada Al. Laki-laki yang akan menjadi durian runtuh untuk keluarganya, penyelamat yang selalu ia idam-idamkan, kini benar-benar sudah ada di depan mata. Kini wajah laki-laki tersebut sudah berubah kebingungan, namun tidak lagi ada perlawanan. Mungkin sudah kalah perang melawan sang ayah?


Rianti pun tersenyum. Sungguhlah semesta tidak selamanya memusuhinya.


"Baik. Mari segera kita rencanakan, Pak Abimanyu..." ucapnya, membuat kelegaan luar biasa di hati Abimanyu.


***


Setelah itu, tidak banyak pembicaraan yang bisa diingat oleh Al. Ia sudah tidak ingin menyimak lagi, kepalanya dipenuhi kekalutan diri sendiri.


"Abang..." Kesadarannya kembali saat Junita menepuk punggung tangannya.


Barulah ia tersadar bahwa tidak ada lagi Rianti dalam ruangan, bahkan sang ayah sudah kelihatan ingin meninggalkan ruangan.


"Tunggu dulu, Pa," Al meraih suaranya lagi.


Abimanyu terhenti, tanpa berpaling, ia pun bertanya, "Apa lagi?"


"Aku nggak mau nikah," jawab Al, tegas.


"Udah terlambat untuk itu."


"Tapi aku beneran nggak mau nikah, Pa!" Suara Al meninggi.


"Papa nggak mau dengar apapun lagi."


"NGGAK!"


"PA, PAPA UDAH GILA!"


"BODO AMAT!"


"PA, JANGAN MAKSAIN KEMAUAN PAPA KE AKU DONG!"


"SELAMA INI PAPA UDAH CUKUP SABAR! SEKARANG KAMU HARUS NURUT!"


"PA, AKU TUH BUKAN..."


Belum selesai Al menumpahkan seluruh unek-uneknya, Junita tiba-tiba berteriak, "CUKUUUUUUUUUP!"


Al dan Abimanyu langsung terdiam.


"CUKUP YA AKU DENGAR ANAK LAKI-LAKIKU DAN SUAMIKU BERTENGKAR TERUS SETIAP HARI!" Dada Junita naik turun, wajahnya memerah. Kali ini, ia benar-benar marah.


"KAMU!" Ia menunjuk Abimanyu.


"SEENAKNYA NGASIH PERUSAHAAN YANG UDAH DIRINTIS JATUH BANGUN KE ORANG LAIN! MASIH MENDING KALAU ORANGNYA BENER. INI???" Junita menumpahkan kekesalannya.

__ADS_1


Abimanyu mengkeret.


"Setuju, Ma..." sahut Al.


Junita balas mendelik padanya.


"KAMU JUGA SAMA AJA!!!" jerit Junita.


Al terngaga. Baru kali ini dibentak oleh sang Ibu.


"UDAH PUNYA PACAR CANTIK DAN MASIH MUDA, SANTUN JUGA DENGAN ORANGTUA, KAMU MAU CARI YANG GIMANA LAGI???"


"Ma, bukan itu masalahnya..."


"APA MASALAHNYA??? KAMU BENERAN NGGAK SUKA PEREMPUAN???"


"MA!!!"


"YA, KALAU KAMU BENERAN JUGA NGGAK APA-APA, AL! TAPI MAMA SAMA PAPA DIKASIH KEJELASAN! CLEAR STATEMENT DARI KAMU! JANGAN NGGAK JELAS KAYAK GINI!"


"Ma, aku nggak kayak gitu..."


"JADI APA ALASANNYA?"


Al tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Sebab, menerangkan bahwa kita menyukai sesama jenis mungkin bisa jadi lebih mudah daripada menjelaskan bahwa kita tidak pernah menyukai mahluk apapun di dunia ini. Sebab konteks aseksual sering kali disematkan pada mahluk hewani dan tumbuh-tumbuhan, bukan manusia.


Akhirnya Al menyerah. Tidak akan ada yang mengerti tentang semua itu. Ia pun cepat-cepat meninggalkan ruangan. Jika sang ibu saja sudah tidak bisa mengerti, maka ia biarkan saja semuanya berjalan seperti yang direncanakan semesta.


Setibanya di kamar, ia hanya bisa merebahkan tubuh di atas ranjang, berkontemplasi dengan dirinya sendiri. Menimbang segala baik dan buruk, segala konsekuensi dan jalan yang akan menunggunya di depan. Dan, sampailah ia pada satu kesimpulan.


Ia segera mengambil handphone-nya, mencari ruang obrolan dengan Shaletta.


Masih ada.


Untung ia tidak menghapus pesan Shaletta.


Ia segera menekan tombol panggilan pada nomor yang dikirim oleh Shaletta tersebut. Beberapa kali nada panggil, teleponnya pun tersambung.


"Ai? Ini saya Al."


Seseorang menyahut dari ujung sana.


"Kamu mau nikah sama saya?"


***


Hai, aku kembali! Maaf ya ternyata lebih lama dari waktu yg dijanjiin.


Lamanya berbulang-bulan HAHAHAHAHAHA!

__ADS_1


IG : @ingrid.nadya


__ADS_2