Aldebaran Mencari Cinta

Aldebaran Mencari Cinta
Bab 41


__ADS_3

Ai sempat berusaha hampir setengah jam untuk memesan ojek online, tapi entah kenapa — seperti kata Al — seakan semesta ingin dia pergi bersama laki-laki yang baru dikenalnya tersebut. Ai menghela nafas, frustasi.


"Ayo, Ai, bareng sama saya aja!" Al memelas.


Ai menggaruk kepalanya kasar-kasar, "Enggak!"


Tangan Al refleks terangkat seperti ingin menghentikan gerakan wanita tersebut. Tapi tangannya mengawang di udara karena dalam sekejap ia tersadar. Kenapa ia tiba-tiba ingin menghentikan Ai menyakiti dirinya sendiri? Aneh sekali. Sangat aneh. Ia adalah orang yang sangat tidak mengerti bagaimana cara peduli dengan perasaan orang lain. Kenapa dengan Ai berbeda? Kenapa kepeduliannya muncul?


Sementara itu, Mira dapat menangkap gelagat kebingungan dari Al. Dengan banyaknya pengalaman masa lalu, ia bisa mengerti bahwa laki-laki di hadapannya pun bingung dengan semua yang ia lakukan sekarang. Seakan bahwa semua hal yang sedang terjadi adalah hal yang benar-benar baru untuknya.  Aneh, tapi sekaligus cukup menggemaskan untuk Mira. Jarang sekali laki-laki dewasa bertingkah seperti ini. Akhirnya, ia pun turun tangan. Lalu, ia mendekat pada anak semata wayangnya dan mengulus punggung Ai.


"Nak, kamu kan harus buru-buru ke rumah bunga." Mira mengingatkan. Suara yang tenang itu selalu melembutkan hati Ai. Anak gadisnya itu termenung sejenak, belum terpengaruhi sepenuhnya.


"Tapi, Ma..." Ai masih berusaha.


"Nanti pelanggan kamu nunggu." Mira menggunakan kartu asnya.


Ai menghela nafas. Ia pun menoleh pada Al. Laki-laki itu sudah memandanginya dengan wajah berseri-seri.


"APAAN SIH NGAREP BANGET MUKANYA?!" Ai merepet.


Al terkekeh.


Akhirnya, dengan menentang seluruh keinginan dan rasa gengsinya, Ai melangkahkan kakinya menuju mobil Al. Tapi si empunya mobil malah tetap berdiri di teras rumah.


"Ayo, Abang!"


Al lagi-lagi tertawa. Ternyata menggoda Ai itu menyenangkan! Sungguhlah wanita tersebut benar-benar berbeda. Al menoleh pada Mira, "Pergi dulu ya, Tante."


Mira mengangguk, "Hati-hati ya, Al!"


"Pasti, Tante!"


Mira menatap Al yang setengah berlari menyusul Ai. Ia tersenyum, hatinya hangat. Feeling-nya jarang salah. Ia yakin Al adalah lelaki baik-baik. Dan hanya laki-laki baik yang ia izinkan untuk menjadi cinta pertama anaknya.


Ah, jatuh cinta untuk pertama kali...

__ADS_1


Anak perempuannya akan segera memulai fase hidupnya yang baru.


Mira tersenyum sambil berjalan masuk ke dalam rumah.


***


Sementara itu, bertolak belakang dengan keyakinan Mira bahwa anaknya akan segera jatuh cinta, Al dan Ai malah menghabiskan waktu hampir lima belas menit untuk berdiam diri di mobil yang sedang melaju. Radio melantunkan beberapa lagu cinta, seperti menyemangati mereka berdua, padahal dua orang tersebut malah tidak punya petunjuk sama sekali apa yang sekarang harus dilakukan dan diucapkan.


Al sendiri mulai gusar. Topik apa yang bisa ia bawakan untuk Ai? Biasanya omongan mengalir lugas karena Ai. Sekarang, jika wanita itu diam saja, ia jadi mati kutu.


"Kenapa diam aja?" Al akhirnya menyerah menunggu, lalu bertanya sambil melirik orang di sebelahnya.


Ai berpaling padanya dengan dramatis. Hati yang tadinya tenang tiba-tiba berubah meletup-letup lagi, "Abang yang kenapa sih? Lagi sakit? Lupa ingatan? Atau apa?"


Al tertawa kaku.


"Malah ketawa!" Ai mengerutkan kening.


Al sendiri sudah menggaruk hidungnya, merasa kelewat canggung dan tidak tahu harus menjawab apa. Ia saja sungguh-sungguh bingung dengan tindakan-tindakan spontannya ini. Sejak kapan ia mau repot-repot datang menjemput orang, selain keluarga dan sahabatnya?! Baru kenal pula! Aneh bin ajaib!


"Kenapa harus gitu?" Ai masih protes.


Al berdiam diri sejenak, menunggu mobilnya berhenti tepat di depan lampu lalu lintas yang sudah berganti warna merah.


Lalu ia menatap Ai lekat-lekat, "Karena saya mau jadi suami kamu."


Ai membelalakkan mata. Benar-benar tidak habis pikir! Bukankah tadi malam ia sudah menolak Al mentah-mentah? Kenapa hal ini masih juga diutarakan lagi oleh Al?


"Abang tuh jangan ngomong sembarangan," ujar Ai.


"Saya nggak lagi ngomong sembarangan, Ai. Saya sungguh-sungguh."


Ai bisa menangkap kesungguh-sungguhan di nada suara Al. Tapi ia tahu bahwa niatan Al bukan didorong karena perasaan cinta atau apapun. Melainkan kebutuhan diri sendiri.


Al butuh status.

__ADS_1


Entah untuk apapun itu.


Bukankah ini hal yang menyedihkan?


Ai tidak pernah pacaran, tidak sekalipun memikirkan pernikahan usia muda. Selama ini, ia hanya berfokus pada uang, uang dan uang lagi. Ia membutuhkan sebanyak mungkin uang untuk membuat ibunya sehat.


Dan begitu tiba-tiba ada lelaki yang mencoba menggelitik hatinya, ia malah ditawari pernikahan yang bukan karena cinta, melainkan hanya status.


"Kenapa Abang pengen nikahin saya?" Akhirnya Ai bersuara.


Al berpikir sejenak. Dan ia hanya menemukan satu jawaban, "Karena saya butuh, Ai."


Ai tersenyum kecil. Rasa sedih yang aneh menyelimuti hatinya. Ia tidak suka menjadi tidak berdaya atas dirinya dan perasaannya sendiri. Dan akhirnya, ia memutuskan untuk mengabaikan semua itu. Hal-hal baru ini sungguh memusingkan untuknya. Ia tidak punya waktu. Sungguh-sungguh tidak punya waktu untuk kekonyolan yang dari kemarin ia lakukan.


Ketertarikannya pada laki-laki di sebelahnya ia rasa tidak akan terbalas sampai kapanpun. Jadi, jangan sampai ia membuang waktu.


"Abang..." Ai sengaja menggantungkan jawabannya.


Al tidak bisa memandang Ai lebih lama karena lampu lalu lintas telah berubah hijau. Ia harus melajukan mobilnya.


"Kalau cuma butuh status, Abang nikah kontrak aja di Bogor!"


Al menggeram.


Ai tertawa.


"Kamu jahat!"


Tawa Ai semakin kencang. Al hanya bisa pasrah, tahu bahwa Ai benar-benar menolaknya mentah-mentah.


Al tidak tahu saja, diam-diam dalam hati, Ai merasa sedih.


***


Masih mau baca cerita Abang dan Ai gak? Maaf ya hilang terlalu lama hehehe. Maaf kalau bab ini agak sedikit, mau tes ombak dulu :)

__ADS_1


__ADS_2