
“Masih ada tunggakan lima juta rupiah lagi ya, Mbak, untuk kemoterapi kemarin. Pasien baru bisa keluar rumah sakit kalau tunggakannya sudah lunas.”
Ucapan sang kasir rumah sakit membuat lidah Ai terasa pahit. Entah karena ia belum makan sejak tadi siang, atau karena ucapan menohok dari sang kasir.
Situasi ini bak buah simalakama. Kalau tidak segera membayar biaya rumah sakit, ibunya tidak bisa pulang. Artinya biaya inap rumah sakit akan terus berjalan. Sementara itu, kalau ia langsung membayar, ia tidak lagi punya uang untuk diputar di Rumah Bunga.
Ai kebingungan setengah mati. Namun, ia tidak mau menunjukkan kegundahannya di depan kasir rumah sakit itu. Ia pun mengangguk, lalu berkata, “Baik, Mbak. Saya akan lunasi besok ya.”
Sang kasir hanya tersenyum sambil mengangguk. Hanya sebagai bentuk basa-basi saja, padahal sebenarnya ia tidak yakin dengan ucapan gadis di hadapannya.
Demikian pula dengan Ai sendiri.
Ia pun berjalan dengan gontai menuju lorong rumah sakit, yang searah dengan kamar Mira. Ia mengamati kertas tagihan rumah sakit serta isi rekening tabungan di layar ponselnya secara bergantian. Manakah yang harus ia pilih?
Karena begitu sibuk pikirannya mengelana, tanpa sadar Ai sudah tiba di depan kamar sang ibu. Ia memandangi pintu dengan perasaan gundah gulana.
“Tuhan, aku harus apa?” rintih Ai, pelan.
Ia pun memutuskan untuk duduk sejenak di sebuah bangku, tepat di depan kamar tersebut. Ia ingin menenangkan diri sebelum bertemu Mira.
Ia ingin selalu menciptakan suasana yang gembira untuk sang ibu. Seperti penyakit ini tidak cukup menyiksa saja, sampai harus ditambah beban pikiran lagi.
Tidak.
Ai tidak akan pernah melakukan hal itu pada ibunya!
Kadang kita baru tahu diri kita sekuat apa saat satu-satunya pilihan yang kita punya adalah menjadi kuat. Dan itulah satu-satunya pilihan yang Ai punya.
Ia harus kuat untuk ibunya.
Ai pun membulatkan tekat. Ia percaya bahwa segala sesuatu di bumi ini telah memiliki garis takdirnya masing-masing. Semuanya sudah ditentukan sejak awal.
Termasuk sakit penyakit ibunya. Ini adalah takdir hidup yang harus dijalani.
Pengobatan kanker memang melelahkan. Seperti tidak ada ujungnya. Namun, Ai harus percaya pada Sang Pemilik Kehidupan. Sang Maha Pemberi dan Maha Penyayang. Kesembuhan ibunya hanya sejauh doa dan usaha kerja kerasnya.
Jadi, ia tidak boleh bermuram durja lebih lama lagi. Tidak ada yang boleh mematahkan semangatnya!
Ai yang baru mengobarkan semangat dalam dirinya, sempat meringis saat melihat angka di surat tagihan tersebut. Namun, ia cepat-cepat menggeleng. Ia tidak boleh goyah. Ia bukan manusia lembek!
Ia pun segera melipat surat tersebut dan menyimpannya di dalam tas. Jangan sampai ibunya tahu!
Lalu, Ai berjalan menuju pintu dan membukanya.
“Ai, udah pulang, Nak?” Mira menyambut dengan seulas senyum. Suster Rika sedang berkunjung ternyata.
Ai balas tersenyum kepada sang ibu, sambil mengangguk. Lalu, Mira kembali sibuk berbincang dengan Suster Rika.
Ai mengamati wajah sang ibu. Terlihat lelah, namun ada binar kehidupan disana, ada semangat yang tidak kenal lelah, ada keinginan untuk sembuh yang berkobar.
Dan Ai hanya butuh itu.
__ADS_1
Ibunya adalah satu-satunya cinta yang dia miliki. Bagaimana mungkin tadi ia sempat bermuram durja dan membuat dirinya patah semangat?
Ini semua adalah tentang kesehatan sang ibu. Tidak boleh ada tawar menawar! Ia harus mengusahakan hanya yang terbaik dari dirinya.
Ai pun segera berjalan ke sudut kamar sambil menuangkan teh untuk diri sendiri. Ia berusaha terlihat sibuk agar tidak diajak berbicara. Ia tidak boleh membuka mulutnya. Sama sekali tidak boleh. Sebab jika ia berani melakukannya, airmatanya akan segera tumpah, berlinang membasahi pipi.
Ia harus berusaha menyembunyikan segala perasaan hanya di hatinya sendiri. Segala badai dan rintangan, segala kesusahan dan kesesakan dapat ia tanggung, asal ibunya selalu berada di sisinya.
“Ai, kamu mandi dulu gih. Anak gadis kok butek banget,” seru Suster Rika, dengan tampang jahil.
Ai mengamati Suster Rika.
Ah…
Suster Rika memang dianugerahi sebuah bakat alami untuk memahami perasaan orang lain. Dan sepertinya, suster Rika tahu bahwa Ai sedang tidak baik-baik saja. Ai butuh waktu lebih untuk menenangkan diri.
Ia pun mengangguk, lalu berjalan menuju kamar mandi. Setelah melepas seluruh pakaiannya, Ai langsung mengguyur badannya dengan air dingin.
Dia mengambil air sebanyak dan secepat mungkin, menimbulkan suara berisik dari dalam kamar mandi. Agar tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa ada isakan pilu di dalam sana. Bahwa ada seorang gadis yang harus menguatkan dirinya sendiri dengan pecah berantakan sendirian di dalam kamar mandi.
Hidup kadang memang tidak memberikan kesempatan kepada kita untuk merasa lemah dan ingin menyerah.
***
“Aiiii, bangun, Nak.” Mira mengguncang tubuh Ai di keesokan hari.
“Ya, Ma?” Ai membuka matanya dengan berat hati.
Ai langsung melek begitu menyadari kebenaran perkataan ibunya. Ia langsung mencari smart phone-nya untuk melihat jam.
Pukul delapan pagi.
‘NO! NO! NO!’ Ai merutuk dalam hati. Ada beberapa pesanan yang harus diantarkan satu jam lagi. Matilah dia. Mati!
Ia pun segera melesat ke dalam kamar mandi. Mencuci muka seadanya dan langsung menguncir rambutnya asal-asalan.
Untungnya tadi malam ia mandi seperti orang gila. Setidaknya bau badannya akan tetap terkendali sampai sore nanti seusai kuliah.
“Maaaa, Ai pergi dulu yaaaa!” Ai terburu-buru pamit.
Ia mencium tangan dan pipi Mira dengan cepat.
“Hati-hati ya, Nak!”
“Iya, Ma. Bye. Telepon aku kalau ada apa-apa.”
Mira mengangguk. Ai pun berlari menuju ojek online! Ia harus sesegera mungkin tiba di Rumah Bunga!
***
Sepanjang pagi, Ai terus menerus disibukkan dengan banjir pesanan di Rumah Bunga. Entah kenapa tiba-tiba pelanggan datang silih berganti.
__ADS_1
Tuhan memang tidak pernah tidur. Semesta selalu berkonspirasi untuk membalas setiap karma baik yang ia tabung. Segala usaha, jerih payah dan airmata tersebut rasanya sepadan apabila ia bisa mendapatkan uang tunggakan rumah sakit hari ini juga.
Tepat saat istirahat makan siang, Ai langsung menuju meja kasir dan menghitung uang kas yang tersimpan di dalamnya.
“Masih kurang dikit lagi nih,” keluh Ai.
“Kenapa?” tanya Tantri.
“Buat pengobatan nyokap gue.”
“Kurang berapa lagi?”
“Lima ratus ribu.”
“Gue ada nih, Ai.”
“Nggak, Tan! Lo kan juga butuh!”
“Tapi gue bisa minjem dulu sama cowok gue.”
“Nggak usah, Tan. Kita itu sama-sama dua kapal yang hampir karam. Jangan saling tolong menolong, nanti kita berdua berakhir tenggelam di dasar samudera.”
Tantri tertawa. Ia dan Ai memang berbagi nasib yang sama. Hidup hanya dari hari ke hari, mencoba mendapatkan sesuap nasi demi sesuap nasi lainnya. Tidak ada pegangan, tidak ada simpanan.
“Ayoooooo, pelanggaaaaaan! Siapapuuuuuun! Datanglaaaaaaaah! Berikaaaaan akuuuuu lima ratus ribuuuuuuu!” Ai merapalkan doa.
Matanya tertutup dan tangannya terangkat tinggi-tinggi.
“Pelanggaaaaaaaaan! Ayoooo mampiiiiiiirrrrrr!” Ai merapal, lagi.
Saat itulah, pintu Rumah Bunga terbuka.
Tuh kan! Tuhan memang selalu mendengar doa!
Ai dengan semangat langsung membuka matanya.
Lalu, berdirilah di ambang puntu.
Aldebaran Maheswara dengan segala ketampanan dan daya tariknya.
Sementara Ai, berdiri dengan kedua tangan terangkat di udara tinggi-tinggi. Dengan wajah kucel dan belum mandi. Dengan rambut lepek dan diikat asal-asalan.
“Hai, Ai!” sapa Al sambil tersenyum.
Membuat Ai ingin segera ngumpet di balik meja kasir.
***
Jangan lupa dukungannya ya, teman-teman! 😊
IG : @ingrid.nadya
__ADS_1