
Al mengenakan setelan jas nya dengan ogah-ogahan. Hari ini akan menjadi sangat panjang. Ia sudah siap dengan segala ejekan dari keluarga besar yang akan dilemparkan padanya seharian ini. Terutama dari ayah sendiri.
"Abaaaaang, mama sama papa berangkat duluan ya?" Junita berteriak dari luar kamarnya.
"Iya, Ma."
"Kamu nggak lama lagi kan? Bukannya kamu masih harus jemput pacar kamu?" Junita bertanya lagi.
Al merutuk.
"Iya, nggak lama. Mama sama Papa duluan aja. Aku nggak bakal telat kok," jawabnya.
"Oke. Etta juga berangkat sendiri ya."
"Abang pake jas sama kemeja yang gue pilihin kan???" Shaletta ikut berteriak.
Al kembali merutuk.
"Abaaaaang??? Jangan berani-berani pake jas dan kemeja lusuh abang itu ya!!!" Shaletta berteriak, lagi.
"Iya, iya, bawel, ah!!!" Al memaki. Ia pun melepaskan kembali jas yang sudah ia kenakan, beralih kepada kaus turtle neck dan jas hitam slim fit yang menunjukkan ketegasan tubuh Al. Jika Al terlihat cukup fashionable sebagai seorang laki-laki saat ini, itu bukan karena diri sendiri. Kalau saja bisa, ia hanya ingin mengenakan baju lusuhnya kemana-mana, namun sang adiklah yang selalu mendandani Al. Pujian hanya berhak diberikan kepada The One and Only Shaletta Maheswara.
Bahkan Shaletta ini lebih suka membelikan baju untuk Al, ketimbang pacar sendiri. Hanya ialah satu-satunya adik perempuan yang suka mendandani abang sendiri.
"Ya udah, ketemu disana aja ya," kata Al.
Ia pun mendengar suara-suara sahutan sebentar, lalu senyap. Orangtuanya dan Shaletta sudah berangkat.
Smart phone Al tiba-tiba berdering, mengagetkannya. Nama Rene terpampang disana. Al sudah siap-siap saja terkena makian dari sahabatnya itu. Ia menguatkan batin sejenak sebelum menjawab.
"Ya?" jawabnya, sok polos.
"Lo tuh yaaaaa!!!"
Tuh kan Rene memaki!
Al terkekeh, "Jangan marah-marah!"
"Gimana nggak marah??? Lo udah gue kenalin cewek baik-baik, tapi sekarang malah bilang nggak sreg. Mau lo apa sih sebenarnya???"
"Ya, emang nggak cocok, Re. Gimana dong?"
Rene menggeram, "Nggak cocok gimana sih, Al? Lo maunya yang gimana? Yang bener-bener mirip sama lo, suka sama kesukaan lo? Nggak bakal ketemu sampe dunia kiamat!"
Al garuk-garuk kepala. Bagaimana ia harus membela diri saat ini?
Pikirannya melayang kepada kejadian tadi malam.
Segalanya berjalan baik dengan Helen. Obrolan mengalir lancar. Mereka bahkan menyukai stand up comedian paling kontroversial dari Amerika Serikat, Dave Chappelle. Tidak semua orang dapat menyukai komedi yang sekelam itu. Dan, Al salut jika ada seorang wanita bisa menerima candaan Dave Chappelle dengan begitu terbuka.
Al sempat berharap, tadinya ia sempat berharap...
Sampai akhirnya, terucap dari mulut Helen, sesuatu di luar ekspektasinya.
"Adik kamu itu Shaletta Maheswara yang selegram 'itu' ya, Al?" tanya Helen.
Al langsung defensif. Kenyataan bahwa Helen memeriksa latar belakang Al sebelum bertemu sudah nilai minus, apalagi ada kata 'itu' yang ditekankan saat Helen menyebutkan Shaletta.
__ADS_1
"Itu gimana ya maksudnya?" tanya Al, berusaha menjaga intonasi suaranya.
Helen sadar akan nada defensif dari Al, maka ia mengutarakan maksudnya dengan hati-hati.
"Banyak followersnya." Helen tersenyum kecil, sambil menunduk. Ia merasa tidak enak karena membuka topik ini.
Al tidak membeli kata-kata itu. Ia tahu Helen ingin mengatakan sesuatu yang lebih dari itu.
"Iya."
"Oh. Keren banget ya Shaletta, followers-nya udah sampai sejuta."
Lalu, Al pun kehilangan minat. Jelas sekali bahwa Helen adalah salah satu followers instagram Shaletta. Dan mengetahui sepak terjang adiknya selama setahun belakangan.
Kelakuan Shaletta tidak selalu baik.
Namun, meskipun begitu...
Dan meskipun Shaletta adalah teman berantam nomor satu, Al tetaplah seorang abang, yang selalu ingin melindungi adiknya. Ia boleh mencaci maki Shaletta separah mungkin, tapi ia tidak akan pernah memaafkan siapapun yang berani merendahkan adiknya.
Al tahu Helen mungkin tidak bermaksud merendahkan, mungkin ia memang hanya berniat memuji Shaletta. Tapi ia sudah tidak peduli. Semuanya kembali menjadi mentah.
Sampai akhir pertemuan, Al tidak lagi berusaha membangun topik. Mereka pulang dengan Helen merasa Al menjadi orang asing lagi.
"Al???" Rene memanggil, menariknya kembali kepada masa sekarang.
"Ya, nggak cocok aja, Re. Ntar deh gue cerita ya. Gue harus ke kondangan dulu."
Rene mendengus, kesal.
"Jadi gimana? Lo pergi sama siapa?" tanyanya.
"Sama jin tak kasat mata."
Mau tidak mau, Rene tertawa, "Ntar beneran loh."
"Amin! Biar ada yang gandeng deh. Udah frustasi gue."
Tawa Rene semakin membahana.
"Ya udahlah, Re. Gue hadapin dulu bully-an keluarga gue. Doain aja gue pulang-pulang nggak gantung diri!"
"Hahahahahaha."
"Bye!"
"Selamat dibantai ya!"
"Siaaaaal!"
***
Al memasuki ballroom hotel tersebut dengan canggung. Baru kali ini, ketiadaan seseorang di sebelahnya begitu terasa. Apalagi dari kejauhan, ia sudah melihat sang ayah meliriknya dengan penasaran.
Sebenarnya, ia ingin bersembunyi di balik pahatan es berbentuk dua angsa di tengah ruangan. Diandra memang suka membuang uang untuk sesuatu yang tidak penting! Apa sih tujuannya memesan pahatan es tersebut?
Lalu Al tersadar. Ia tidak bisa bersembunyi disana. Bukankah ia semakin terlihat mengenaskan? Pahatan es saja punya pasangan!
__ADS_1
Akhirnya, Al dengan pasrah berjalan ke arah sang ayah.
"Mana pacar kamu?" tanya Abimanyu penasaran.
Al menghela nafas.
"Kamu bohong kan?! Pacar kamu cuma khayalan ya?"
Ingin rasanya Al mengiyakan semua pertanyaan itu, namun di sebelah sang ayah, berdirilah Yuda.
'Sudah menempel ternyata dengan keponakan kesayangannya itu? Sementara anak sendiri dihardik habis-habisan!' batin Al, kesal setengah mati.
"Papa tunggu aja deh." Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Al. Yang langsung ia sesali setengah mati.
Sekarang siapa yang akan menyelamatkannya???
Abimanyu tampak mengernyit mendengar kalimat Al. Bagaimana caranya kekasih sang anak tidak tampak sampai sekarang? Mereka tidak pergi bersama atau bagaimana sih?
"Kamu bohong lagi ya?!" hardik Abimanyu.
Al mendengus.
Ketegangan ayah dan anak itu sedang tinggi-tingginya, namun saat itulah Al melihat seseorang berjalan memasuki ruangan. Di dalam gandengan tangan sang adik.
Al terpukau, kehilangan seluruh lisannya.
Rambut panjang gadis itu terurai sempurna, ditata dengan rapi, meski terlihat tanpa usaha. Polesan make up sederhana itu membuat pipinya bersemu merah, seperti yang Al sering lihat ketika gadis itu malu. Gaun putih yang melekat mengikuti lekuk tubuhnya, membuat Al tidak bisa berpaling. Apalagi gaun itu adalah gaun off shoulder yang menunjukkan tengkuk dan bahu putih sang pemilik.
Ini bukan pertama kalinya ia melihat wanita cantik, tapi baru ini yang membuatnya terasa hampir gila.
Demi Tuhan!!!
Kenapa dulu berani-beraninya ia mengatakan bahwa Ai adalah seorang anak kecil???
Tanpa sadar, ia melangkah meninggalkan sang ayah. Al mengikuti instingnya. Tidak lagi mempedulikan seluruh omelan dan makian Abimanyu, Al terus berjalan menuju Ai.
Shaletta bersorak dalam hati ketika melihat sang abang sedang berjalan menuju mereka. Ia segera melepaskan tangan Ai, dan berpura-pura harus ke toilet.
Ai, yang masih tidak sadar akan kedatangan Al, hanya berdiri dengan canggung di tengah ruangan.
"Ai?" Al memanggil begitu tiba di sebelahnya.
Ai menoleh.
Dan mata mereka bertemu.
Dalam sekejap, lagu yang Al dengar di radio sehabis mereka bertemu pertama kali, seakan mengalun di telinganya.
"Tanpa buai kata, tercuri hatiku.
Terasa berbeda, saat bersamanya."
***
Maaf ya aku nggak update beberapa hari. Ada urusan real life yang menyita waktu. Seperti biasa, mohon dukungannya untuk abang ya 🤗
IG : @ingrid.nadya
__ADS_1