Aldebaran Mencari Cinta

Aldebaran Mencari Cinta
Bab 16


__ADS_3

Selama ini, Al selalu pergi makan siang bersama Rene. Ia selalu bersyukur dengan kehadiran sahabatnya itu di Maheswara Company karena jadi punya teman makan siang.


Karena kalau tidak, Al hanya akan mendekam terus menerus di ruangannya, menikmati makan siangnya sendirian sambil menonton serial televisi apapun di Netflix.


Namun, hari ini berbeda.


Al menghampiri Rene di mejanya, lalu berkata bahwa ia punya urusan lain.


"Emangnya lo mau kemana sih? Gue kan jadi nggak punya temen makan siang." Rene mengeluh saat Al menghampirinya di meja.


"Ada deh," jawab Al, sok rahasia.


"Dih, males banget lo!"


Al terkekeh, sementara Rene...


Seperti mendapat bisikan alam, tiba-tiba ia tersadar akan sesuatu. Baru-baru ini kan Al meminta nomor telepon seseorang dari Boris...


"Jangan-jangan lo mau–" Ia tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena terlalu terpukau.


"Iya."


"Beneran???"


"Yup!"


"Jadi, lo mau pergi sama Isyana?" Rene menegaskan sekali lagi.


"Ke tempat Isyana sih, bukan sama Isyana..."


Ia mengernyit, tidak terlalu mengerti maksudnya.


"Dia lagi sakit. Gue harus jenguk, kan?"


"Sakit apa? Opname?"


"Migrain. Kagak. Cuma istirahat di apartemen."


Rene jadi geram sendiri.


"Aaaaaaal!" Suaranya memekik.


Al sampai terlonjak kaget, "Astaga! Kenapa lo?"


"Lo tuh terlalu polos apa gimana sih?"


"Apaan?"


"Lo belum terlalu kenal sama tuh cewek, tapi lo udah mau main ke apartemennya!!!"


"Lah?! Kan bukan mau ngapa-ngapain."


"Iya sih, tapi aneeeeeh! Tuh cewek juga aneh banget dah, baru juga kenal sama lo nggak nyampe seminggu, udah nyuruh main ke apartemen aja?!" Rene merepet.


Al garuk-garuk kepala, serba salah. Berurusan dengan kaum wanita memang selalu berujung memusingkan kepalanya.


"Jadi gue harus gimana sih? Dijenguk salah, nggak dijenguk juga salah!"


Rene menimbang-nimbang sejenak.


"Lo gimana bisa tahu dia lagi sakit?" tanyanya, akhirnya.


"Sebenarnya kita janjian mau ketemu malam ini. Tapi dia batalin karena katanya lagi sakit. Ya udah, gue bilang aja gue jenguk pas makan siang. Kan nggak mungkin gue jenguk abis pulang kantor kalau cuma di rumah. Apa kata dunia? Siang-siang gini aja, lo udah histeris."


Rene sampai menggigiti kukunya karena masih mencerna semua ini.


"Kenapa lo yang gelisah sih?" Al terkekeh.

__ADS_1


"Gue tuh kayak lagi ngelepas anak gue pertama kali masuk sekolah, tahu nggak?! Kayak penuh kekhawatiran!"


Al langsung berhenti tertawa mendengar penjelasan Rene.


"Gue bukan anak kecil!" katanya, tidak terima.


"Lo tuh kayak anaknya gue, Boris sama Aseng."


"Enak aja. Gue cuma anak Pak Abimanyu, bos lo yang kejam dan berhati dingin. Kalau dia nggak bersikap aneh-aneh, lo nggak bakal perlu khawatir gini sama gue."


Rene akhirnya tersenyum. Ya, Al memang sudah ibarat anak dari mereka bertiga. Mereka memang selalu mendorong Al untuk mengenal wanita, tapi begitu hari itu tiba, tidak bisa dipungkiri ia tetap khawatir. Tapi ia tahu, ini adalah saat yang tepat untuk Al mengenal wanita...


Ia menepuk bahu Al.


"Ya udah deh, lo pergi aja. Tapi ingat, jangan mau kalau diajak aneh-aneh!"


Al cuma geleng-geleng kepala.


"Dimana-mana ya, cewek loh yang diingetin kayak gini. Kok jadi gue?!" Ia menggerutu.


"Lo tuh masih polos, Al. Jangan sampai lo dimanfaatin orang lain!"


"Ya, ya. Thanks, Re. Anyway, gue perlu bawa sesuatu, nggak sih?"


Rene berpikir sejenak.


"Bunga atau makanan boleh."


Al berpikir sejenak.


Bunga?


Entah kenapa pikirannya melayang ke suatu tempat...


Suatu nama...


Aneh sekali.


"Oke deh. Gue pergi dulu ya." Al langsung berbalik, berniat pergi.


Rene menatap punggung Al.


"Al..."


"Hm?"


"Jangan sampe diajak aneh-aneh ya! Bukannya apa-apa nih, malu, karena lo nggak berpengalaman."


Al menggeram.


Rene tertawa.


Ia menggerutu tanpa henti, bahkan sampai keluar dari ruangan.


***


Al melajukan mobilnya keluar dari Gedung Maheswara. Ia langsung menggerutu begitu melihat betapa macetnya jalan saat ini. Mungkin ia akan telat kembali ke kantor...


Lalu, ia teringat kembali...


Toh sekarang, pekerjaannya sudah tidak jelas lagi di kantor itu. Sebab tidak ada satu pun yang berani menyuruhnya mengerjakan tugas apapun.


Ah, ia tidak bisa begini terus. Menjadi tidak berguna di perusahaan bapak sendiri adalah hal terakhir yang ingin ia lakukan.


Ia memang harus segera merebut kembali posisinya dulu!


Dan ini adalah salah satu caranya!

__ADS_1


Pikirannya melayang saat pertama kali ia menghubungi Isyana. Di telepon pertama, wanita itu awalnya terdengar ogah-ogahan menjawab telepon Al.


"Lagi tiduran aja. Ini siapa ya?" tanyanya, sok tidak tahu. Padahal ia sudah menyimpan nomor Al, begitu dihubungi pertama kali.


"Al. Yang ketemu di Bluegrass."


"Oh, iya. Kenapa, Al?"


"Gak apa sih. Cuma pengen tahu kabar."


Al bahkan jijik mendengar kalimatnya sendiri. Sungguh ia benar-benar tidak berbakat untuk masalah yang satu ini.


Dan malam itu, mereka habiskan hanya untuk berbasa-basi kecil. Untungnya Isyana adalah seseorang yang suka membicarakan diri sendiri, hal ini menguntungkan Al karena ia jadi tidak perlu repot-repot mencari topik.


Hal inilah yang ia sukai saat bersama Isyana. Dan semakin kesini, Isyana juga terlihat lebih agresif dari Al sendiri.


Bahkan sebenarnya bukan ide Al untuk mengunjungi Isyana yang sedang sakit. Ia hanya menerima pesan tadi pagi.


Isyana :


Al, maaf, hari ini kayaknya aku gak bisa datang. Lagi sakit. Atau kalau mau, kamu boleh jenguk aja di apartemen?


Al sebenarnya ingin menolak. Bukankah tidak sopan jika berkunjung ke tempat lawan jenis saat kita masih belum terlalu kenal?!


Namun, ia tidak punya pilihan lain.


Pernikahan Diandra hanya tinggal 2 hari lagi. Ia harus segera mendapatkan persetujuan dari Isyana untuk mau datang ke acara tersebut sebagai kekasihnya.


Ia sebenarnya berniat untuk meminta pertolongan Isyana saat janji makan malam mereka. Namun, apa daya, Isyana malah jatuh sakit.


Al pun melajukan mobilnya menuju sebuah tempat.


Tak lama kemudian, ia pun tiba di tempat itu.


Rumah Bunga.


Dada Al berdesir kembali saat membuka pintu kaca toko itu.


Keanehan itu datang lagi.


Seperti perasaan was-was dan semarak dalam hati digabung menjadi satu.


Sulit diartikan.


Lalu, ia pun berjalan menuju pintu kasir.


Ia sempat mendengar suara Ai yang familiar.


“Pelanggaaaaaaaaan! Ayoooo mampiiiiiiirrrrrr!” Kira-kira itu yang ia katakan.


Lalu, Al bertemu mata lagi dengan Ai.


Wajah itu kuyu dengan rambut yang acak-acakan.


Tapi tidak mengurangi sedikit pun kecantikannya.


Sudut bibir Al tertarik lagi.


Mulutnya seakan disihir untuk berkata, "Hai, Ai!"


Semburat merah kembali menyebar di wajah putih itu.


Senyum Al semakin merekah.


Aneh sekali. Sejenak saja, Al lupa pada apapun. Kehadiran Ai ibarat mentari, yang mencerahkan hari-harinya.


***

__ADS_1


Maaf ya updatenya sore-sore. Aku lagi atit, tapi aku bukan Isyana kok Abang. Aku gak butuh dijenguk, aku butuh ditransfer ajah, ntar langsung sehat deh 🥲


IG : @ingrid.nadya


__ADS_2