Aldebaran Mencari Cinta

Aldebaran Mencari Cinta
Bab 33


__ADS_3

Al dan Ai sama-sama tercekat saat mendengar pertanyaan Abimanyu. Mereka saling tatap dengan pandangan bingung. Al merasa tidak enak menyeret Ai ke dalam hal ini. Demi Tuhan! Ai baru berumur dua puluh dua tahun! Belum pantas diberondong pertanyaan kapan nikah.


"Abi! Kamu tuh bikin anak kamu sama pacarnya bingung!" Kirana berusaha menyelamatkan Al dan Ai dari pertanyaan bodoh tersebut. Kirana bisa melihat bagaimana dua insan itu bingung mencari cara menjawab pertanyaan adiknya.


"Iya nih, kenapa Papa yang kebelet sih?!" Shaletta menggerutu. Ia pun ingin menyelamatkan sahabatnya.


"Ya, nggak apa-apa toh. Papa cuma penasaran." Abimanyu membela diri.


"Ai kan masih muda banget, Om. Lulus kuliah juga belum." Yuda ikut membela.


"Tahun ini juga udah lulus. Ya kan?" Abimanyu memandangi Shaletta dan Ai bergantian.


Ai hanya mengangguk. Selanjutnya, ia hanya bisa menggaruk-garuk kepala. Situasi ini sungguh sangat tidak nyaman baginya. Namun, siapa yang bisa menyelamatkannya dari situasi ini?


Baru saja dipikirkan, tanpa disangka-sangka, Al tiba-tiba menggenggam pergelangan tangan Ai.


"Permisi. Ai udah laper. Kita cari makan dulu," kata Al, sambil menarik tangan pacar pura-puranya itu menjauh dari keluarganya.


"Yah, pergi deh. Papa sih!" Junita menggerutu.


"Al pegangan tangan sama cewek, Ma!" kata Abimanyu, lagi. Al masih bisa mendengar suara tawa riuh dari keluarganya. Ia tidak bisa berhenti memaki dalam hati. Seandainya membekap mulut ayah sendiri bukanlah sebuah dosa, tentu sudah sejak tadi dilakukan olehnya.


Mereka terus berjalan menjauh, hingga tiba di meja makanan prasmanan. Al pun segera melepas pergelangan tangan Ai.


'Yah, kok dilepas sih.' Ai merasa kehilangan. Yang selanjutnya langsung disesali, karena merasa bodoh sendiri.


"Maaf, Ai." Hanya itu yang bisa diucapkan oleh Al.


Ai bingung harus mengatakan apa. Semuanya masih terlalu sulit dicerna, apalagi saat ini ia masih bisa merasakan tatapan keluarga Maheswara dari kejauhan.


"Ngantri aja dulu yuk? Keluarga abang masih ngelihatin kesini loh," Ai menunjuk antrian makanan prasmanan.


"Kamu beneran laper?"


Ai mengangguk.


Al tersenyum. Ai benar-benar berbeda dari kebanyakan gadis yang ia kenal. Ia selalu menjadi dirinya sendiri, tidak pernah menyembunyikan apapun.


"Ya udah. Ayuk!"


Al mempersilakan Ai untuk mengantri di hadapannya. Selagi mereka mengantri, Al diam-diam memperhatikan Ai dari belakang. Rambutnya yang panjang, kini jatuh sedikit menutupi bahunya yang terbuka. Rasanya tangan Al gatal ingin menyibak rambut tersebut.


'Apaan sih gue? Udah gila ya?' Al memaki dirinya sendiri. Kenapa dia jadi semesum ini?


"Jadi, tadi kenapa?" tanya Ai, sambil mengambil piring dan sendok.


Al mengelus tengkuknya.


"Keluarga saya pengen lihat pacar saya, Ai."


"Dan... pacar abang kemana?"


"Dan... pacar saya... nggak ada."


Ai terkekeh. Akhirnya mengerti. Ia tidak mau mempermasalahkan hal ini lebih lanjut. Membantu seseorang tidak ada salahnya. Apalagi ini adalah abang dari Shaletta. Sahabat yang sudah terlalu sering membantunya. Kebaikan harus selalu dibalas dengan kebaikan.

__ADS_1


"Hey! Ngeledek ya?" Al tidak terima mendengar suara tawa Ai.


"Enggak kok." Ai berkilah.


Al mencibir sambil mengambil piring juga. Selama beberapa saat, mereka sibuk mengambil makanan prasmanan tersebut. Setelah sampai di ujung meja, Al kaget saat melihat piring Ai.


"Ai, kamu udah nggak makan berapa hari?" Al terkekeh melihat piring gadis tersebut yang dijejali penuh dengan makanan.


Ai nyengir, "Kalau lagi panik, aku laperan."


Al masih tertawa selama beberapa saat. Ai benar-benar berbeda! Setelah pernah mengetesnya dengan pertanyaan psikopat, sekarang gadis itu tidak segan-segan menunjukkan ***** makannya.


Mereka pun memutuskan untuk makan di pojok ruangan. Ai pun berdiri bersandar pada tembok, lalu mulai menyantap makanannya.


"Enak?" tanya Al.


Ai mengangguk. Tidak ingin mengucapkan sepatah kata pun, karena menurutnya makan selalu jadi kegiatan yang sakral. Setiap gigitan akan dinikmati dengan sebaik mungkin. Beginilah orang yang mengerti kerja keras, setiap butir nasi akan ia hargai sebaik mungkin. Al sampai tersenyum lagi dan lagi, melihat Ai benar-benar menikmati makanannya.


Setelah selesai mengunyah beberapa sendok, Ai memutuskan untuk bersikap sopan dengan mengajak Al mengobrol.


"Habis kita makan, kita masih harus balik ke keluarga abang?" tanya Ai.


Al langsung merasa bersalah, "Kita mau lari kemana pun, mereka pasti bakal nemuin kita, Ai."


Ai tertawa. Ia pun kembali menyantap makanannya.


"Tapi saya boleh ke tempat dessert lagi, sebelum ditanya mau punya anak berapa?" tanya Ai, lagi.


"Hahahaha. Kamu lucu banget sih, Ai."


"Hehehe, keluarga abang yang lucu. Nggak nyangka aja ternyata ada beberapa Shaletta di dunia ini."


Ai melirik Al dengan tatapan meledek, tapi tidak berani mengutarakan isi hatinya demi kesopanan.


"Heeeeeey!" Al tidak terima.


Ai tertawa karena Al sepertinya bisa membaca maksudnya.


"Maaf ya, Ai. Untuk malam ini aja. Saya janji," kata Al, tidak enak.


Ai mengangguk.


"Iya, Abang. Nggak apa-apa. Kayaknya saya juga nggak bakal nemu jodoh disini karena cowok-cowok pasti kabur ngelihat piring makan saya," katanya sambil menunjukkan piring di tangannya.


Al tertawa. Belum pernah ia bertemu gadis seunik ini.


"Habis ini yakin mau langsung ke dessert? Ada stan makanan jepang loh disana." Al menunjuk stan sebuah restoran sushi ternama, yang berada tak jauh dari mereka.


Ai takjub. Keluarga Shaletta memang berada di level yang berbeda.


"Abang, saya tuh norak. Saya nggak suka sushi."


"Demi apa?"


"Iya. Nggak enak menurut saya. Cape-cape manusia tuh nemuin kompor loh. Dari awalnya cuma kenal kayu bakar sampe akhirnya nemu kompor gas. Terus sekarang masih makan ikan mentah. Saya nggak habis pikir."

__ADS_1


Al tertawa, "Sushi tuh enak banget, Ai. Apalagi yang mentai."


Ai menggeleng cepat-cepat.


"Biar deh saya norak seumur hidup, tapi saya lebih suka ikan tongkol disambel daripada salmon mentah dipakein keju."


Al tersenyum. Lucu juga melihat bagaimana Ai begitu membenci sushi.


"Tapi, abang mau saya temenin ambil sushi sebelum ke tempat dessert?" tanya Ai.


"Hahaha. Nggak usah, Ai. Kalau kamu nggak suka, kita langsung ke tempat dessert aja."


"Nggak apa-apa. Biar kita ambil makannya lebih lama, keluarga abang juga pasti makin nggak enak ganggu."


Al tertawa, "Bener juga..."


Mereka pun sibuk menghabiskan makanan apapun di atas piring mereka. Setelah itu, mereka saling tatap.


"Jadi kamu mau nemenin saya ke tempat ikan mentah yang kamu benci banget itu?"


Ai mengangguk, "Apapun. Asal nggak dapet pertanyaan kapan nikah lagi."


Al tertawa. Mereka pun berjalan menuju stan sushi tersebut.


"Tuh, Ai, lihat kejunya melting di atas salmon. Enak bangeeeeeet." Al menunjuk penjaga stan yang menyemprotkan bara api ke atas keju.


"Untung nggak ada asepnya ya. Nggak lucu kalau water sprinkler gedung ini tiba-tiba nyala," celetuk Ai.


Al tertawa, "Kamu tuh nyeletuk boleh kayak orang-orang lain nggak sih, Ai? Kenapa jawaban kamu selalu unik?"


Ai tersenyum, "Abang, tadi saya lihat Bubah Alfian yang touch up make up sepupunya abang. Tarifnya dia bisa sampe puluhan juta. Masa mau sih make up nya luntur karena water sprinkler di atas kita nyala?"


Al tertawa lagi. Kenapa gadis ini bisa membuatnya tertawa terus?


"Bukannya justru itu saat yang tepat untuk ngebuktiin seberapa tahan make upnya?" Al jadinya ikut nyeletuk.


Ai berpikir sejenak, "Ah, bener juga yaaa!"


"Ya kan?"


Selagi Al dan Ai sibuk bersenda gurau dalam antrian, sepasang mata memperhatikan mereka daritadi. Orang tersebut sengaja mengambil tempat di ujung meja stan sushi tersebut agar nantinya Al dan Ai melewatinya.


Tak lama setelah Al mendapat pesanannya, benarlah adanya mereka bertemu dengan orang tersebut.


"Airina?" Orang itu memanggil Ai dengan nada tegas penuh otoritas.


Ai merasa seluruh tubuhnya langsung kaku karena begitu mengenal suara itu. Ia berpaling dengan takut-takut.


"Nenek..." Ai kehilangan lisannya.


***


Oh, oh, kenapa ya nenek Ai?


Jangan lupa dukungannya ya, readers!

__ADS_1


Love you all 🤍


IG : @ingrid.nadya


__ADS_2