Aldebaran Mencari Cinta

Aldebaran Mencari Cinta
Bab 38


__ADS_3

Karena kemacetan yang tiada akhlak, akhirnya Al memutuskan untuk kembali ke rumah saja. Ia tidak punya tenaga lagi untuk beramah tamah di kondangan Diandra, jadi lebih baik ia pulang saja ke rumah.


Saat ia memarkirkan mobilnya di garasi, ia melihat mobil Shaletta juga sudah terparkir disana. Berarti adik semata wayangnya pun sudah pulang. Ia harus memberi pelajaran pada Shaletta! Hari ini adiknya itu sudah bertindak semena-mena pada Ai, tidak bisa dimaafkan sama sekali!


Ia pun segera berlari ke dalam rumah. Begitu tiba di depan kamar Shaletta, ia segera berteriak, “Deeeeeek!”


Tidak ada jawaban.


“Deeeeeeek!” Ia menggedor pintu kamar Shaletta sekali lagi. Selain saat ada maunya, Al juga memanggil Shaletta dengan panggilan ‘Dek’ juga pada saat marah, untuk mengurangi sedikit ketegangab yang akan tercipta di antara mereka.


Dan akhirnya, pintu pun terbuka.


Al baru akan memarahi Shaletta, namun kalimatnya seketika terhenti ketika melihat mata adiknya bengkak. Seperti habis menangis.


“Lo kenapa, Ta?” tanya Al, langsung prihatin. Dalam sekejap, ia sudah melupakan amarahnya.


Shaletta memalingkan wajah, tidak menyangka Al langsung sadar pada matanya yang sembab.


“Ta…” panggil Al, lagi.


“Abang kenapa kesini? Mau marah-marah?” Shaletta berusaha menyembunyikan seluruh perasaannya dengan berpura-pura jutek.


“Lo kenapa?” Al tidak menjawab, malah bertanya balik. Suara parau Shaletta tidak akan bisa menutupi apapun.


“Nggak kenapa-kenapa.”


“Jangan bohong, Ta!”


“Gue putus.”


“Sama Dion?”


“Ya, sama siapa lagi?” Shaletta gemas sendiri dengan pertanyaan abangnya itu.


“Kok bisa?! Bukannya kalian baik-baik aja minggu lalu waktu ulang tahun mama?”


Shaletta sungguh ingin meninju abang sendiri. Masa di saat-saat seperti ini pun ia masih harus menjelaskan tentang bagaimana hubungan pacaran pada abangnya?


“Aku jelasin juga abang nggak bakal ngerti.” Shaletta mencibir.


Al menghela nafas. Ia memang tidak mengerti masalah cinta-cintaan seperti ini. Kalau Shaletta datang padanya dengan membawa setumpuk masalah hidup selain percintaan, Al pasti akan segera memberikan solusi terbaik. Menawarkan bantuan. Apapun.


Tapi, untuk kali ini, ia akan mencoba.


Ia pun menerobos masuk ke dalam kamar Shaletta.


“Ih, ngapain sih?!” Shaletta tidak terima.


Al mengabaikan Shaletta, malah membaringkan tubuhnya di atas ranjang adiknya.


“Coba cerita,” kata Al, singkat.


“Abang nggak bakal ngerti.”


“Ya, coba aja sih.”


“Baru juga sekali nganterin cewek pulang, nggak usah sok udah jadi ahli dalam masalah percintaan deh!”


“Gue punya adik gini amat, ya Tuhan!” Al mengeluh. Ia pun memeluk guling Shaletta sambil memejamkan mata.


“Abang kalau mau tidur di kamar abang aja sanaaaa. Jangan disini! Gue mau nangis!” Shaletta merengek, sambil menarik-narik jas Al.


Namun, ia bergeming, tetap berbaring pada posisi yang sama.


Selama beberapa menit, Shaletta mencoba menggerakkan Al, tapi hanya menghasilkan hal yang percuma. Akhirnya Shaletta menyerah, dan ikut berbaring di sebelah abangnya.


“Orang patah hati tuh dibiarin tenang dong.” Shaletta ngambek.

__ADS_1


Al tidak menjawab.


Beberapa menit kemudian, airmata Shaletta mulai menggenang lagi.


“Lo kenapa sih? Patah hati doang…” ucap Al.


Shaletta mengambil bantal lalu menggebuk badan abangnya, “Gue sumpahin lo patah hati! Biar tahu rasanya!”


Al terkekeh.


“Kayaknya mustahil deh.”


Shaletta mencibir.


“Emang si Dion kenap sih?”


“Selingkuh. Dia kan ngakunya ke Bandung sama temen-temennya, eh ternyata ngapelin cewek.”


“Hah?!”


Shaletta mengangguk-angguk sambil menghapus airmatanya sendiri yang tumpah.


“Tapi kok lo tahu sih, Dek?” tanya Al, penasaran.


“Gue suruh temen gue di Bandung ngikutin mobilnya.”


Al tertawa.


“Kok abang malah ketawa sih?” Shaletta tidak terima.


“Lo sih nyari penyakit sendiri!”


“Ya namanya gue curiga. Masa tiap Sabtu, selalu pengen banget ke Bandung. Ngakunya pergi sama temen, tapi temennya nggak pernah update story sama dia sekali pun.”


“Emang bener ya, perempuan itu mahluk paling seram di dunia.” Al mengeluh.


Shaletta cemberut, “Abang tuh beneran deh. Ngapain disini sih kalau cuma mau ngejek-ngejek gue???”


Al terkekeh.


“Terus gimana bisa putus?” tanya Al.


“Ya, gue telepon. Terus gue marah-marah, abis itu gue putusin deh.”


“Nice!”


Shaletta menoleh pada sang abang. Akhirnya, reaksi yang ia inginkan.


“Gitu dong daritadi!” Airmata Shaletta menggenang lagi.


Al terkekeh, “Udah sih. Ngapain coba mikirin cowok mulu?! Mending kayak abang, single and happy. No drama-drama club.”


Shaletta mencibir. Kemudian, ia kembali menangis. Beberapa kali, tampak menyeka airmatanya. Al membiarkan Shaletta menumpahkan perasaannya. Hanya duduk disana untuk menemani sang adik.


“Abang?”


“Hm?”


“Bang Boris single nggak?”


“Ya ampun! Boris tuh pacaran sama Rene!”


“Ah, bener juga!”


“Napa tiba-tiba Boris sih?!”


“Abis ganteng, lawyer, umurnya udah mateng, tapi belum married. Siapa tahu gue ada kesempatan.”

__ADS_1


“Ah, lo tuh masih kecil, nikmatin hidup dulu. Jangan cari laki-laki yang udah mau settle down.”


“Tapi gue sirik sama Ai.”


“Emang Ai kenapa?”


“Udah mau dinikahin sama abang?”


Al kesal sendiri, “Kate siapeeeee???”


Shaletta tertawa. Al langsung mengacak-acak rambut adiknya.


“Abang tuh suka lagi sama Ai,” celetuk Shaletta.


“Kenapa topiknya jadi ke gue dan Ai sih?! Udah, lo nangis lagi deh. Diselingkuhin kan? Sakit kan?”


Shaletta mengambil bantal, lalu menggebuk Al lagi, “Punya abang yang nggak ngerti apa-apa tuh gini amat sih!”


Al terkekeh.


“Tapi lo parah sih tadi, Ta, masa nggak mau nganterin Ai? Kasihan dia, ngerasa nggak enak banget sama gue.”


“Makanya jangan mau dimanfaatin abang! Gue cuma mau ngajarin itu sama Ai!”


“Siapa yang manfaatin?”


“Lah?! Kenalin Ai sebagi pacar sama papa, menurut abang bukan manfaatin?! Abang nggak sadar detik ini juga mungkin tempat resepsi dan katering udah selesai dibahas sama Papa?!” Shaletta merepet panjang lebar.


Al rasanya seperti ditampar.


“Tuh! Abang nggak mikir sampe situ kan?”


Al tertawa kaku, mencoba menutupi kepanikannya, “Enggak lah. Nggak mungkin.”


“Kita lagi ngomongin Abimanyu Maheswara loh!”


“Enggak. Nggak mungkin, Ta!”


Shaletta menghela nafas, ia pun berbalik memunggungi sang abang. Ini seharunya jadi waktunya untuk sendiri, menikmati setiap luka yang ada di hati. Kenapa ia jadi terdistraksi dengan masalah abangnya?


Al segera bangkit berdiri.


“Nggak! Nggak mungkin!” kata Al, mencoba menenangkan diri sendiri. Namun, suaranya penuh keraguan. Shaletta saja bisa menyadari hal itu.


Kemudian, ia mendengar derap langkah abangnya keluar dari pintu.


“Tutup pintunya!!!” jerit Shaletta.


Al menurut, lalu menutup pintu kamar adiknya rapat-rapat. Ia sedang tidak bisa berpikir untuk menasihati adiknya.


Ia hanya ingin menenangkan diri, berharap ayahnya segera pulang. Seperti biasa, tanpa merencanakan sesuatu.


Ia berbaring di ranjang kamarnya sendirian. Berjam-jam.


Sampai akhirnya, ia mendengar suara-suara dari lantai bawah rumahnya.


Al segera bangkit berdiri, keluar dari kamarnya.


Ia bisa mendengar suara Abimanyu sedang tertawa-tawa. Dan tawa siapa yang ikut bergema bersamanya?


Al panik.


Ia segera berlari menuruni tangga.


Dan benar saja.


Begitu tiba di ruang tamu, ada Rianti sedang duduk di ruang keluarga bersama ayah dan ibunya.

__ADS_1


***


IG : @ingrid.nadya


__ADS_2