Aldebaran Mencari Cinta

Aldebaran Mencari Cinta
Bab 9


__ADS_3

Begitu tiba di rumah, Al langsung melangkah cepat-cepat ke sebuah kamar.


"Deeeek!" Ia membuka pintu kamar Shaletta lebar-lebar.


Shaletta, yang saat ini sedang mewarnai kukunya dengan kuteks merah, langsung berhenti beraktifitas. Kelewat kesal melihat ketidaksopanan sang abang.


"Abaaaaaang, apaan sih langsung masuk?! Kenapa nggak ketuk pintu dulu?!" Shaletta menggerutu.


"Dih, sombong amat lo. Mau nggak gue bayarin kartu kredit lo?!"


Shaletta mencibir. Ia sebenarnya sudah bisa membayar kartu kreditnya sendiri dengan duit endorsement yang diterima, tapi selama abangnya belum punya istri, ia ingin menjadi benalu untuk abangnya itu selama mungkin. Anak sekaligus adik yang kelewat dimanjakan. Sudah kaya semakin kaya. Itulah hidup Shaletta Maheswara.


"Abang ada maunya ya?" selidik Shaletta.


Al terkekeh, "Kok tahu?!"


"Abang kan manggil Dek kalau ada maunya aja. Kalau nggak, mah, manggilnya Ettaaaa, genduuuuut, konteeeet. Nyebelin!" Shaletta melempari bantal pada Al.


Tawa Al berderai, meski serangan bantal sudah mengenainya. Lalu, Shaletta tersadar bahwa kuteks di kuku kakinya belum sepenuhnya kering. Kuteks tersebut kini sudah mengenai baju dan seprai tempat tidurnya.


"Abaaaang, ihhhhh, jadiiii kotoooor kannn!"


"Dih, dia yang lempar-lempar juga."


Shaletta merengut. Dia pun segera mengambil aseton untuk menghapus lagi kuteks tersebut.


"Ta, gue mau nanya."


"Apaan?" tanya Shaletta, galak.


"Kalau cewek balas chat lama-lama tuh artinya nggak tertarik ya?"


Shaletta terpelongo.


"Gue salah denger nggak sih?!"


Al memutar bola matanya, "Deeek, seriuuus!"


"Gue juga seriuuuus!!! Abang chat-chat-an sama siapa???"


Al segera menutup mulut Shaletta yang histeris. Jangan sampai keluarganya yang lain tahu! Karena kalau iya, Abimanyu mungkin akan menggelar selamatan tujuh hari tujuh malam saat ini, melebihi pernikahan akbar Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah.


"Jangan berisik dong, Ta. Gue cuma nanya."


Shaletta mengangguk, akhirnya Al melepaskan tangannya.


"Tapi cewek itu siapa?" bisik Shaletta.


"Ada. Kenalan. Udah buru jawab."


"Emang abang ngomong apa sama tuh cewek?"


Al langsung memberikan smart phone-nya begitu saja kepada sang adik. Shaletta, dengan sigap, mengambil dan membuka satu-satunya chat pribadi dengan wanita di smart phone Al.


Al :


Hi, Isyana, saya Aldebaran, yang kemarin ketemu.


Isyana :


Oh, hi, Al! Dapat nomorku dari Boris ya? :)


Al :


Iya.

__ADS_1


Dan tidak ada jawaban lagi dari Isyana. Wajar. Shaletta pun langsung memandang abangnya dengan tatapan tidak percaya.


"Iyaaaa??? Abang cuma balas iya, terus ngarepin balasan apaaaa???" Shaletta geram sendiri melihat kebodohan sang abang.


"Ya, apa kek. Dia cari topik gitu. Gue kan nggak ngerti."


"Kayaknya lebih mudah kalau semesta bikin matahari terbit dari Barat deh daripada buat abang gue jatuh cinta," keluh Shaletta.


Al tertawa saja. Tentu saja itu benar.


"Gue lihat fotonya dulu." Shaletta segera memperbesar foto profil chat wanita yang bernama Isyana tersebut.


'Not bad. Cantik. Bisalah jadi gandengan abang.' Shaletta berpikir. Namun, dalam hati kecilnya, ia masih ingin Al bertemu dengan seseorang yang lain. Temannya. Yang ia rasa akan sangat cocok bersama Al.


"Kok abang tiba-tiba tertarik sama cewek begini sih?" Shaletta menyelidiki lagi.


Raut wajah Al langsung berubah.


"Bokap lo tuh!"


Shaletta mengernyit.


"Papa masukin Yuda ke perusahaan. Katanya dia bakal dididik jadi pengganti Papa. Gue nggak rela, Ta."


"Hah?! Papa apaan sih???"


"Iya kan?! Emang rese banget tuh bokap lo!"


"Kenapa jadi Yuda coba? Bukannya perusahaannya sendiri aja pernah bangkrut ya?!"


"Ya kan?! Pinteran gue juga..."


Lalu, Shaletta tersadar akan sesuatu...


"Tapi, tunggu dulu! Tunggu! Bukan itu masalahnya sekarang! Apa hubungannya semua ini dengan Abang pendekatan sama cewek?" Shaletta masih tidak bisa menemukan benang merah yang bisa menghubungkan semua ini.


"Maksudnya?!"


"Kalau Papa cuma pengen gue nikah supaya gue bisa jadi CEO, ya udah, gue nikah aja!"


Shaletta rasanya tersambar petir. Selama ini, ia merasa sang abang selalu punya prinsip. Kenapa jadi berubah seperti ini sih?


"Abang apaan sih??? Emangnya pernikahan itu cuma permainan???" Suara Shaletta meninggi.


"Taaaa! Ya ampun! Dibilang jangan berisik!"


Shaletta melotot. Matanya seperti hampir keluar. Tiba-tiba pintu kamar terbuka.


"Deeek, kamu kenapa marah-marah?" Sang Ibu muncul di ambang pintu kamar Shaletta.


"Nggak ada, Ma!" jawab Al, dengan cepat. Shaletta langsung balas melirik abangnya dengan tajam. Junita langsung mengerti bahwa ada yang tidak beres dengan kedua anaknya tersebut.


"Kalian tuh cuma berdua kakak beradik, udah beumur juga, jangan berantem mulu dong." Junita geleng-geleng kepala.


"Nggak berantem, Ma," kata Al, lagi.


"Kenapa sih? Ada apa disini?" Tiba-tiba Abimanyu juga ikut-ikutan muncul di kamar Shaletta.


Al semakin ketar-ketir. Ia memelas pada Shaletta. Jangan sampai kedua orangtuanya mendengar rencananya! Bisa runyam nanti!


Shaletta berusaha bernegoisasi dengan abangnya melalui telepati. Ia sudah memikirkan banyak hal sebagai imbalan tutup mulut dari abangnya. Al hanya bisa mengkode dengan tatapan mata bahwa ia akan mengabulkan apapun permintaan Shaletta nantinya.


"Kalian kenapa?" Abimanyu mengulang pertanyaannya.


Shaletta akhirnya berhenti melirik Al. Tanda bahwa negoisasi sudah disetujui oleh kedua belah pihak. Al langsung bisa bernafas lega, ia menoleh kepada kedua orangtuanya.

__ADS_1


"Pengkhianat nggak usah kepo deh." Al cemberut, sambil melipat tangan, menunjukkan keangkuhan kepada sang ayah.


"Abang! Nggak sopan!" Junita marah.


Abimanyu sendiri tidak terpancing. Ia berpaling dari Al, ingin membalas ketidaksopanan sang anak dengan ketidakpedulian. Ia belajar bahwa marah-marah pada anak laki-lakinya itu tentang pernikahan akan percuma saja. Lebih baik sekarang bersikap acuh.


"Terserah Al aja, Ma." Abimanyu menggedikkan bahu.


Al jadi gondok sendiri karena ayahnya tidak terpancing.


"Oh iya, acara Mama empat jam lagi. Kita bagi tugas ya. Al jemput kue ulang tahun. Shaletta jemput bunga buat Mama." Abimanyu memerintah.


"Terus Papa ngapain?" Al protes.


"Menyayangi Mama kamu dan selalu ada di sisinya di hari ulang tahunnya yang istimewa ini. Kamu nggak bakal tahu karena kamu nggak mau jadi suami seseorang, kan?"


Al menggeram.


"Papa! Anaknya didoain dong, jangan didorong supaya nggak mau nikah gitu!" Junita memukul bahu suaminya.


Tapi Abimanyu malah merangkul Junita dengan mesra.


"Jadi suami tuh enak. Diurusin. Bujang lapuk nggak bakal ngerti!" Mereka pun berlalu.


Al semakin emosi.


"Bokap lo tuhhhhhhh!" Ia menggeram pada sang adik.


Shaletta sudah beralih lagi pada kukunya, tidak mau ambil pusing dengan repetan abangnya.


"Yang penting sekarang gue mau apa, Abang harus turutin. Kalau nggak, gue bocorin semua rencana Abang." Shaletta mengancam.


Al tidak habis pikir.


"Keluarga apaan sih ini?!" Ia menggerutu.


Shaletta tertawa sambil menjulurkan lidah.


"Gue jemput kue aja deh!" Al pun segera beranjak dari ranjang Shaletta.


Saat itulah, Shaletta langsung mendapat ilham untuk permintaan pertamanya kepada sang abang. Sebuah ide jenius yang akan membuat dua keinginannya langsung terpenuhi seketika. Istilahnya, sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.


"Abang juga jemput bunga buat Mama ya!" kata Shaletta.


Al menoleh pada adiknya secara dramatis.


"Yaaaa, kalau Abang nggak mau, aku tinggal ke kamar Papa sama Mama sih..."


Al memaki, "Bukannya dapat saran, malah diperas. Ini keluarga, nggak ada yang bener!!!"


Ia masih terus merepet hingga keluar dari kamar adiknya. Shaletta sendiri kini sudah tersenyum-senyum sendiri. Ia mengambil smart phone-nya dan mengetikkan sebuah pesan.


Shaletta :


Ai, di rumah bunga kan?! Gue mau ambil bunga sambil kasih lihat sesuatu...


Tak lama kemudian, pesannya langsung dibalas.


Ai :


Iya. Datang aja.


Senyum Shaletta semakin merekah. Ia memang selalu mendapatkan keinginannya! Semoga sesuatu terjadi di Rumah Bunga hari ini...


***

__ADS_1


IG : @ingrid.nadya


__ADS_2