
Ai membuka pintu rumah, dan langsung kaget saat melihat Sammy dan Mira berdiri sambil tersenyum-senyum di dekat jendela.
“CIEEEEEEEEEEEEE!!!” Sammy dan Mira menggoda.
Ai langsung sadar bahwa daritadi sang ibu dan sahabatnya ini mengamatinya dari jendela. Kaca mobil Al memang termasuk terang. Orang luar bisa langsung melihat siapa yang berada di balik kemudi mobil.
“Cowok itu siapa sih, Ai?” Mira bertanya dengan antusias.
Ai masih belum pulih dari keterkejutannya, maka Sammy yang menjawab, “Abang sayangnya Ai, Tan.”
Mira langsung cekikikan.
Ai pun tersadar, “Enak aja! Bukan, Ma! Itu abangnya Etta!”
“Emang abangnya Etta nggak boleh jadi abang sayangnya lo?” ledek Sammy.
“Sammyyyyyyy! Lo dari kemarin gue perhatiin reseh banget ya!”
“Hahahahaha. Lihat, Tan, mukanya merah banget kan?!” Sammy menunjuk-nunjuk wajah Ai.
Mira mengangguk setuju. Baru kali ini, anak perempuannya ituterlihat malu-malu saat digoda tentang laki-laki. Biasanya kalau ada laki-laki yang berkunjung –dengan punya niatan untuk mendekati Ai– ia akan teguh bersikap santai, berapa kalipun Sammy mencoba melemparkan godaan. Sebab Ai tidak pernah tertarik. Ia hanya bersikap bersahabat kepada semua orang.
Tapi, kali ini berbeda.
Firasat Mira berkata kali ini mungkin anaknya mulai tertarik dengan laki-laki tampan yang tadi mengantarkannya pulang. Bukankah firasat seorang ibu jarang sekali salah?
“Udah deh, Sammy. Nggak usah jodoh-jodohin gue sama abang. Dia tuh nggak terjangkau. Umurnya juga jauh lebih tua dari gue.” Ai malah mengucapkan kalimat-kalimat penyangkalan. Sammy sampai harus menyembunyikan senyuman. Mungkin Ai sok sedang berbicara pada Sammy, padahal ia lebih terlihat seperti berdialog pada hatinya sendiri.
Penyangkalan tersebut bisa diartikan Sammy sebagai sebuah awal dari kemajuan hubungan Ai dengan Al. Jika kita dan orang yang kita sayang berasal dari dunia yang berbeda, ketika cinta rasanya menjadi hal yang sedikit mustahil, kita memang cenderung melakukan penyangkalan terhadap perasaan kita sendiri. Itu menurut Sammy.
“Emang umurnya berapa sih?” Malah Mira yang penasaran.
“Beda sebelas tahun sama aku, Ma!” Ai histeris.
“Ya, nggak apa-apa toh?! Biar bisa ngemong kamu. Kamu mah badan aja yang dua puluh dua tahun. Jiwa dan hati udah lima puluh tahun.” Mira malah berteori. Anaknya memang lebih cepat dewasa dari wanita-wanita seumuran. Cobaan hidup selalu menuntut orang-orang seperti Ai untuk dewasa lebih cepat dari yang seharusnya.
Sammy terkekeh, “Bener juga ya, Tan. Ai mah jiwa nenek-nenek.”
“Enak aja! Yang kemana-mana harus sedia koyo cabe siapa ya?” Ai meledek Sammy.
“Hehehe. Kan gue nggak suka biarin lo sendirian jadi nenek-nenek. Gue ngikutin lo aja sih.”
“Dih! Nyalahin gue. Emang lo jompo aja.”
Ai dan Sammy tertawa. Saling mencela seperti ini sudah menjadi kebiasaan mereka.
“Eh, bukannya lo mau nge-date?” Ai mengingatkan.
“Iya, ini mau pamit. Aku pulang dulu ya, Tan,” ucap Sammy, sambil mulai mengemasi barang-barangnya.
“Makasih ya, Sam, udah nemenin Tante.” Mira menepuk-nepuk bahu Sammy.
“Apaan sih, Tan. Kayak siapa aja.”
Mira nyengir.
“Ya udah. Bye, rosalinda!” Sammy mengacak-acak rambut Ai.
“Daaah. Thank you banget ya. Hati-hati, Sam!”
Sammy mengangguk lalu berjalan keluar dari rumah. Mereka pun mengamati kepergian Sammy sambil melambai.
__ADS_1
Sepeninggal Sammy, Mira langsung menoleh lagi pada Ai.
“Kok mama nggak pernah kenal sih sama pacarnya Sammy?” tanya Mira, penasaran.
“Jangankan mama, aku aja nggak pernah dikenalin,” kata Ai, sambil lalu.
“Emang kenapa pacarnya? Jelek?”
“Ya ampun, Mama! Masa nilai dari mukanya doang sih?” Ai terkekeh, sambil membuka pintu kamar. Mira mengikuti dari belakang.
“Ya harus dong! Sammy ganteng begitu!”
“Iya, iya.”
“Tapi gantengan pacar kamu tadi…”
Ai berhenti melangkah.
“Mama! Dibilang bukan pacarku!” Ai merengut.
Mira memasang tampang polos, “Ya udah, calon pacar deh.”
“Bukan juga, Maaaaa!”
Mira terkikik, “Bukan. Tapi, mukanya merah begitu.”
Ai tidak menjawab. Ia memunggungi ibunya, lalu berkata, “Ma, turunin resletingnya dong.”
“Udah segede ini, masa belum pernah pacaran sih, Ai?” tanya Mira sambil menurunkan resleting gaun Ai.
“Ada gitu ibu yang pengen banget anaknya pacaran… dimana-mana ibu tuh pengen anaknya langsung nikah aja, nggak usah pacaran-pacaran.”
Mira terkekeh. Ia pun membaringkan tubuhnya, lalu menerawang, “Jangan dong, harus kenalan dulu. Harus tahu baik dan buruknya. Jangan kayak mama.”
Ia segera mengenakan baju ganti, kemudian langsung berbaring di sebelah sang ibu.
“Emang mama dulu kenapa?” tanya Ai.
Mira menoleh. Ia mencolek hidung Ai sambil terkekeh, “Kesempatan dalam kesempitan kamu.”
“Hehehe. Ai udah gede, Ma. Udah bisa menerima semuanya dengan lapang dada.”
“Mama tahu.”
“Terus?”
“Apanya yang terus?”
“Yaaaa, sampai kapan Ai nggak tahu apa-apa?”
Mira tersenyum, “Memangnya apa yang kamu mau tahu?”
“Siapa dia?”
“Dia… papamu.”
“Mama, ih! Ya iyalah, papanya aku. Emangnya aku timun mas? Tiba-tiba aja gitu nongol di hutan?”
Mira tertawa.
“Jadi, kamu mau tahu apa dong?”
__ADS_1
“Aku nggak mau mama nginget yang sedih-sedih. Aku cuma mau tahu gimana dia secara fisik.” Ai menatap Mira, penasaran. Well, ia akan selalu menggunakan kata ganti ‘dia’. Sebab, papa rasanya terlalu asing.
“Papamu ganteng, Ai. Oriental. Mata sipit Bisa dibilang tipe Mama sama kamu beda banget.” Mira mengerling kalau mengingat bagaimana rupa laki-laki yang mengantar Ai tadi.
“Ma, fokus!”
“Hahahaha.”
“Kasih tahu Ai lebih banyak.”
Mira menerawang lagi.
“Kulitnya putih. Hidungnya mancung. Pokoknya gen dia yang bagus diturunin sama kamu semua deh. Makanya, bersyukur kamu mama pilihin papa yang ganteng.”
Ai terkekeh. Namun, tak hentinya ia memandangi sang ibu. Mata Mira tampak berbinar. Seperti hanya mengingat hal yang indah-indah saja.
“Iya, selera cowok mama mantap deh.”
“Hahahaha.”
“Terus, apa lagi?”
“Papamu suka banyak nanya. Persis kamu sekarang!” Mira menyentil pelan dahi Ai.
“Aw!”
“Udah, nggak ada informasi selanjutnya. Pintu udah ditutup lagi. Kamu silakan cuci muka sana! Nanti jerawatan!”
“Yah, pelit. Baru dikit juga.” Ai mengeluh. Namun, ia selalu jadi anak yang penurut. Ia pun bangkit berdiri, hendak menuju kamar mandi.
“Ai?” Panggilan Mira membuat Ai berhenti melangkah.
“Lain kali, mama cerita lagi. Tapi, pelan-pelan ya.”
Ai mengangguk.
“Ini aja udah bikin aku seneng banget. Makasih, ma.”
Mira mengangguk.
Ai pun berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Saat menunggu Ai, Mira mulai terkantuk-kantuk. Saat itulah, sebuah pesan masuk ke ponselnya.
Dengan malas-malasan Mira membuka ponselnya tersebut. Dari ibunya sendiri, neneknya Ai.
Rianti : Mira, kamu tahu Airina sudah punya pacar?
Mira merengut, bingung. Ia pun langsung membalas pesan tersebut.
Mira : Nggak tahu, Ma. Kenapa memangnya?
Pesan dibalas lagi tak lama kemudian.
Rianti : Airina sudah punya pacar, anak konglomerat ternama. Mau kita nikahkan saja?
Hati Mira langsung mencelos.
***
Aku suka bingung kasih judul bab. Jadi aku nomorin aja deh ya mulai sekarang 🙂
__ADS_1
IG : @ingrid.nadya