Aldebaran Mencari Cinta

Aldebaran Mencari Cinta
Bab 21


__ADS_3

Shaletta menatap Ai dengan mata berbinar. Ekspresinya penuh harap. Tapi yang ditatap malah mengerutkan dahi.


Kenapa Shaletta mengajaknya datang ke kondangan sepupu sendiri? Bukankah lebih masuk akal jika mengajak pacarnya? Apalagi Shaletta dan Dion adalah tipe pasangan yang selalu bersama kemanapun mereka pergi.


"Emangnya Dion kemana?" tanya Ai, heran.


"Ke Bandung sama gengnya."


"Kok tumben lo nggak ngambek kalau dia lebih mentingin temennya?"


"Masih sih. Tapi bukan itu masalahnya sekarang! Gue nggak punya temen buat ke kondangan, Ai."


"Tapi itu kan isinya keluarga lo semua. Kenapa harus punya temen sih?"


"Gue lagi males ditanyain kapan nikah."


Ai memandang Shaletta sinis.


"Lo masih umur dua puluh satu. Abang lo juga belum married. Nggak usah sok ditanyain kapan nikah deh!"


Shaletta terkekeh karena ketahuan berbohong.


"Hehehe. Ayolah, Ai! Gue tuh males banget disuruh folback-in semua instagram sodara-sodara gue. Iya kalau yang muda-muda doang, nanti yang minta tuh kayak... Tante, Om, tetangganya Eyang Kakung, teman main gundunya Buyut gue, pokoknya semuanya minta di-folback."


"Hahaha. Parah lo! Ya udah, folback aja sih."


"Males banget gue lihat feed IG tuh isinya orang-orang yang nggak terlalu deket, Ai. Ayolah?" Shaletta membujuk. Kini ia sudah bergelantungan di lengan Ai. Abang dan adek memang tidak ada bedanya saat sedang meminta sesuatu.


"Tapi nggak ada yang jaga nyokap gue..." Ai berkilah.


"Gue aja. Udah lama nggak nonton drama korea bareng Tante Mira." Sammy memberi usul. Ia memang terbiasa datang ke rumah Ai, hanya untuk sekedar menghabiskan waktu dengan Mira.


Ai menoleh dengan tatapan sangar. Sammy kurang ajar! Padahal itu satu-satunya alasan paling ampuh untuk menolak setiap ajakan Shaletta.


"Lo bukannya mau nge-date sama pacar lo?!" Suara Ai meninggi pada Sammy.


"Itu kan siang. Kalau kondangannya malam kan, Ta?" Sammy menoleh pada Shaletta.


"Iya dong. Please, Ai! Mau ya? Tolongin gue, sekali ini aja?" Shaletta memelas.


"Tapi..."


Wajah Shaletta dibuat semenyedihkan mungkin, "Udahlah cowok gue begitu... egois... terus-terusan mentingin diri sendiri dan teman-temannya. Sekarang, temen gue juga nggak mau nemenin gue ke kondangan. Sedih banget sih hidup gue!"


Ai memutar bola matanya.


Bicara soal kesedihan hidup, harusnya Shaletta tidak boleh membuka mulutnya sama sekali! Namun, apapun permasalahan yang sedang dihadapi orang lain, kita tidak boleh menyepelekannya sama sekali. Sebab Tuhan memberikan kadar kekuatan yang berbeda-beda bagi setiap orang. Mungkin bagi Shaletta, ditinggal cowoknya pergi ke Bandung sudah seperti neraka tersendiri baginya.


Ai? Tidak akan mengerti semua itu...


"Ya udah deh..." Akhirnya Ai mengalah.


"Beneraaaaan?" Ekspresi Shaletta kembali berbinar.


"Iyeeeee!"


"Asyiiiiik! Baiknya temen gueeeee!" Shaletta memeluk Ai.


Tapi tak lama, karena ia langsung melepasnya.


"By the waaaay, Ai, rambut lo baunya kayak bulunya Chibi kalau nggak grooming seminggu." Shaletta meledek. Chibi adalah anjing red poodle miliknya, yang hidupnya bahkan lebih mewah dari setengah populasi masyarakat Indonesia.


"Sialaaaaan! Gue nggak sempat mandi nih tadi pagiiiii. Telat bangun gue."


"Pantesan tadi ada bau kecut-kecut gimana gituuu, ternyata dari lo???" Sammy meledek.


Ai jadi insecure sendiri. Ia sudah bertemu banyak orang hari ini. Jangan sampai orang-orang tersebut mencium bau yang tidak sedap dari tubuhnya. Ia pun mengendus-endus tubuhnya sendiri.


Tidak kok. Tetap wangi. Ia lega. Sebenarnya ia hanya peduli pada pendapat satu orang aja.

__ADS_1


"Enak aja. Nggak bau kok!" Ai protes pada Sammy.


"Takut diendus bau sama seseorang ya." Sammy meledek.


Ai menggeram.


Tidak seperti biasanya, si lambe Shaletta tidak merespon hal itu. Sepertinya di kepalanya hanya berisi tentang pernikahan sepupunya.


"Bener ya, Ai, lo harus datang..." Shaletta memelas lagi.


"Iyaaaaaaa!"


Shaletta tersenyum lebar. Ntah apa maksudnya.


Sementara Ai hanya bisa memikirkan... hendak pakai baju apa ia si pesta keluarga Shaletta? Karena ia jarang sekali pergi ke kondangan, ia tidak pernah punya baju pesta yang bagus sejak dulu. Ia tidak ingin membuang-buang uang untuk sesuatu yang akan jarang digunakan.


Sammy melihat kegundahan Ai dan tahu begitu saja apa yang dipikirkan sahabatnya itu.


Sammy menepuk-nepuk dadanya sendiri. Seakan mengatakan tenang saja ada dia.


Ai tersenyum. Ia memang paling bisa mengandalkan Sammy.


***


Sambil keluar dari kelas sore hari ini, Ai memegangi perutnya yang keroncongan. Ia berjalan bersisian dengan Sammy yang sedang menenteng tas Shaletta.


"Cucok ya, Beb..." ledek Ai pada Sammy.


"Hu'uh, Beb. Kapan lagi eke bisa pegang Chanel? Kalau bukan karena tasnya Yang Mulia Shaletta." Sammy malah memberi bumbu.


Ai tertawa.


Shaletta tadi mendadak kebelet ke toilet, sepuluh menit sebelum jam berakhir. Dan sudah setengah jam berlalu sejak Shaletta pergi, namun ia belum juga muncul.


"Duh, laper banget nih gue," keluh Ai.


Ai menggeleng, "Enggak deh. Gue harus nemenin nyokap."


Sammy mengangguk.


Lalu, tiba-tiba saja, Ai teringat seusatu.


"Sabtu gue pake apa dong, Sam?" Ai akhirnya buka suara.


"Tenang, nanti gue bilang ke Kak Gab." Sammy menepuk bahu Ai.


"Kak Gab lagi di Jakarta?"


"Yep!"


"Asyiiiik!"


"Tapi, gue penasaran deh, Ai..." Sammy menggantungkan kalimatnya.


"Apaan?"


"Tumben-tumbenan lo peduli sama penampilan..."


Ai memutar bola matanya.


"Sam, jangan mikir aneh-aneh deh!"


Sammy terkekeh.


"Lah?! Kan gue cuma penasaran."


"Tapi pikiran lo pasti reseh deh!"


Sammy sekarang sudah tersenyum-senyum. Ia menyenggol lengan Ai, "Kepengen kelihatan cantik di depan Kak Al ya?"

__ADS_1


"Sammyyyyyy!"


"Hahahahahaha! Dih, mukanya merah. Beneran ya?"


Ai cemberut. Baru kali ini, ia kehabisan kata untuk membalas ledekan Sammy. Membuat temannya itu semakin menggila dan kegirangan.


"Ya ampun! Beneran ya?! Gue bener, kan?! Ya ampun, Ai udah gede!" Sammy meledek.


"Bodo amat, Sammy. Bodo amaaaaaaaat!"


"Hahahaha. Gue harus bilang Kak Gab biar dia siapin gaun Cinderella deh buat lo!"


"Sammy!!!" Ai memukul lengan Sammy, lagi.


Sammy tertawa-tawa.


Saat itulah, dari kejauhan, mereka melihat Shaletta sedang berjalan sambil menelepon di lorong kampus, dengan santainya.


"Temen lo tuh ya, udah ditungguin lama, ternyata cuma karena lagi telpon-telponan..." gerutu Ai.


"Hahahaha, nggak apa-apalah. Mungkin ada yang penting. Klien endorse-an mungkin?"


Ai menoleh pada Sammy.


"Emang cuma lo yang paling pengertian sama Etta. Kenapa kalian nggak pacaran aja sih?" Ai mencibir.


"Dih! Malah ngebalikin! Tadi topik pembicaraan kita kan elo! Yang mau dandan cantik buat Kak Al!"


"Saaaaammyyyyy!!! Sekali lagi ngomong Kak Al, Kak Al, gue gampar lo yaaaaa!!!" Ai memekik, tertahan. Jangan sampai Shaletta mendengar pembicaraan mereka tentang abangnya itu! Karena penyakit 'ingin jadi Cupid' itu akan segera meronta-ronta dari dirinya.


Mereka terus mengamati Shaletta. Dan tiba-tiba saja teman mereka itu berlari kencang ke arah mereka.


"Aiiiiiii! Sammy!" pekiknya dari kejauhan.


Kening Ai berkerut lagi.


"Temenin gue makan dooooong ke PP."


"Males, ah."


"Please? Sekali ini aja. Sebentar. Sejam aja."


"Nggak!" Ai menolak, dengan tegas.


"Peliiiit banget sih. Please, Ai???"


Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke dalam smart phone Ai.


Mama :


Nak, jangan ke rumah sakit dulu ya. Ada nenek.


Ai menghela nafas. Padahal ia ingin segera melunasi tagihan rumah sakit, kenapa neneknya harus datang sekarang sih???


Akhirnya, Ai menoleh pada Shaletta.


"Ya udah deh, boleh. Gue juga belum bisa ke rumah sakit sekarang."


"Beneraaaan??? Asyiiiiiik!!!"


Wajah Shaletta semakin sumringah. Ia sampai bertepuk tangan kegirangan. Tida seperti Ai yang selalu tidak menaruh prasangka apapun pada siapapun, Sammy memandang curiga pada Shaletta.


Temannya itu hanya membalas sambil tersenyum rahasia.


Ah, Sammy langsung mengerti.


Abang Shaletta sedang berada di tempat tujuan mereka nanti.


***

__ADS_1


__ADS_2