Aldebaran Mencari Cinta

Aldebaran Mencari Cinta
Bab 31


__ADS_3

Setiap detik yang berlalu membuat Al semakin panik.


"Bantuin apa?" tanya Ai sambil memandang Al penasaran. Sorot matanya polos, membuat Al jadi tidak tega. Haruskah ia menjebak gadis di hadapannya ke dalam sebuah lubang yang tidak tahu bagaimana cara ia akan keluar?


Namun, Al benar-benar tidak punya pilihan lain. Ia melihat sang ayah sudah berjalan semakin dekat.


Ia pun beralih untuk menatap dalam-dalam ke mata Ai.


"Ai, keluarga saya sebentar lagi nyamperin kita."


"Terus?"


"Saya mau minta tolong, apapun yang terjadi setelah ini, kamu diam aja. Setiap kali saya ngomong, anggap aja saya gila. Dan kalau keluarga saya juga ngomong sesuatu, anggap mereka lebih gila dari saya."


"Hah?"


Wajah Al semakin gusar, "Ai, saya nggak punya waktu untuk jelasin lebih banyak."


"Tapi saya nggak ngerti."


Walaupun Al ingin, ia benar-benar sudah tidak punya waktu lagi. Ia bisa melihat dalam lima langkah lagi, ayahnya akan tiba di dekat mereka.


"Kamu senyum aja. Ingat! Anggap saya dan keluarga saya orang gila. Dan kamu nggak perlu ladenin orang gila."'


Ai masih ingin menuntut penjelasan, namun seseorang berdehem di balik punggungnya.


"Aldebaran..." Suara orang tersebut penuh wibawa. Ai bisa melihat raut wajah Al berubah saat menoleh ke asal suara.


Dan tiba-tiba kedua tangannya menyentuh pundak Ai. Sentuhan itu membuat dada Ai kembali berdesir. Seperti tersengat listrik. Seakan seribu kupu-kupu tiba-tiba berterbangan di dalam perutnya.


Perasaan apa ini sebenarnya? Ai benar-benar tidak mengerti.


Seperti salah mengerti dengan ekspresi Ai, Al menurunkan kedua tangannya ke lengan Ai. Ia merasa bersikap tidak sopan sebab gaun gadis itu terbuka di bagian bahu.


"Balik badan, Ai," bisik Al, sambil memutar tubuh Ai. Tubuhnya langsung menurut begitu saja pada Al.


Dan berhadapanlah Ai pada seseorang yang ia yakini adalah ayah dari Shaletta. Ia pernah melihat sosok ini beberapa kali muncul di media sosial sahabatnya itu.


"Ini?" tanya Abimanyu, penasaran.


Al mengangguk.


Wajahnya langsung berbinar, membuat Ai semakin tidak mengerti. Ini apa coba?


"Abaaaaang?" Sebuah suara kembali terdengar dari sudut lain.


Al dan Ai menoleh bersamaan. Dan berdirilah di sebelah mereka, Junita yang sedang kegirangan setengah mati. Ia tidak menutupi sama sekali perasaan yang membuncah di dadanya.

__ADS_1


"Dia?" Junita bertanya.


Al kembali mengangguk.


Ai rasanya butuh seorang Einstein, orang terpintar di dunia, untuk menjelaskan apa maksud semua ini. Sungguh luar biasa permainan menyingkat kata ini! Membuatnya pusing tujuh keliling!


Dan Ai semakin bingung ketika Junita sudah memegangi kedua tangannya, memandanginya dengan takjub. Dalam sekejap, ia lupa pada segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya. Ai tahu bahwa Junita sudah berumur, namun wanita paruh baya itu cantik luar biasa. Masih minim kerutan dan terlihat sangat terawat. Wanita sosialita tanpa beban pikiran dan sanggup membayar perawatan mahal memang tidak perlu dipertanyakan kenapa bisa awet muda. Penampilan Junita sudah sebelas dua belas dengan penampilan Liliana Tanoesoedibjo!


"Ya ampun, cantiknya!" Junita terlihat gemas sendiri dengan Ai.


Ai bingung harus bereaksi seperti apa mendapat pujian dari wanita yang seribu kali lebih anggun dari dirinya. Jadi mulutnya hanya bisa mengucapkan, "Makasih, Tante."


"Kok yang begini nggak dikenalin daridulu sih, Abang?" Junita menoleh pada Al.


Yang ditanya tidak menjawab, hanya tersenyum kecil saja. Memangnya Al mau menjawab apa??? Jantung saja seakan mau melompat keluar karena takut kebohongannya ini terbongkar!


Ia pun melirik kepada Ai. Gadis di sebelahnya itu terlihat benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Al jadi iba.


Tidak henti ia memandangi Ai.


Dan hal itu sungguh mengharukan bagi Abimanyu dan Junita. Bagaimana tidak??? Setelah puluhan tahun mendidik Al, baru kali ini mereka melihat anak sulung mereka itu memandangi seorang wanita seperti ini.


"Eh apa-apaan ini?! Kok rame-rame?" Tiba-tiba Shaletta muncul entah darimana. Ai langsung bisa bernafas lega. Namun, Al sendiri justru merasa jantungnya seperti diremas.


"Ini, Ta, abang kamu..." Junita tersenyum-senyum.


Shaletta semakin bingung.


Al cepat-cepat menggeleng pada Shaletta. Ia hanya berharap adiknya itu kali ini cukup pintar untuk mengerti bahasa isyarat darinya.


Namun, Shaletta tetap kebingungan.


"Ini, Ta... Kenalin..." Junita menarik tangan Shaletta ke arah Al dan Ai.


Shaletta tidak mengerti. Ia mencoba membaca situasi ini. Kenapa Al berdiri bersebelahan dengan Ai? Kenapa orangtuanya tampak antusias melihat sahabatnya itu? Ada apa sebenarnya?


"Eh, bentar..." Tiba-tiba Junita tersadar.


Belum selesai satu masalah, jantung Al kembali berdebar kencang. Demi langit dan bumi, Al sungguh-sungguh tidak bisa mengendalikan apapun yang terjadi saat ini. Ia hanya bisa pasrah, berharap sebuah keajaiban dapat turun untuknya, agar ia dapat melewati hari ini dengan sukses, tanpa kebohongannya dapat diketahui.


"Kenapa, Ma?" tanya Al, akhirnya bersuara. Ia sudah tidak sabar mendengar apa yang disadari sang ibu. Kebohongannya kah? Ah, ia benar-benar ingin mengantukkan kepalanya ke dinding.


"Kamu daritadi belum kenalin kita!" Junita merengek pada anak sulungnya. Al langsung lega luar biasa!!!


Namun, belum sempat ia menarik nafas, sebuah celetukan kembali terdengar, "Kenapa abang yang kenalin sih?"


Shaletta tampak kebingungan. Al kembali merasa panik. Tidak bisakah Shaletta menutup mulutnya hanya untuk hari ini saja???

__ADS_1


Belum sempat pertanyaan Shaletta terjawab, beberapa orang kembali berkumpul dengan keluarga tersebut.


"Ya ampun, ayu tenan ini..." Kirana, sang bibi, ibunda dari Yuda, berkata sambil memegang tangan Ai.


Junita langsung tersenyum lebar. Baru kali ini ia bisa menyombong tentang pasangan anaknya. Ia akan gunakan kesempatan ini sebaik mungkin, "Iya kan, Kak. Al pinter deh milihnya!"


"He'eh. Ayu. Cocok!" Kirana bahkan mencolek dengan gemas dagu Ai.


Dan... Shaletta... pun... mengerti...


Ia memandangi Al dengan tatapan tidak percaya. Abangnya sungguh-sungguh bodoh luar biasa! Ia tidak meninggalkan Ai sendirian untuk ini!


Al yang merasa ditatap, langsung menoleh pada Shaletta. Wajahnya memelas, seperti ingin memberitahu adiknya itu bahwa ia tidak punya pilihan lain lagi.


"Kenalin dong, Al. Masa kita masih belum tahu namanya?" Yuda, yang memilih berdiri di sebelah Abimanyu, menggoda.


Al ingin merutuk!


Situasi sudah benar-benar tidak bisa terkendali lagi.


Ia tidak punya pilihan lain.


Ia menyampirkan tangannya di punggung atas Ai.


Ai sempat menoleh pada Al.


Ditatapnya laki-laki itu dengan sorot mata bingung.


Al sendiri hanya bisa berdoa agar Ai tidak meludahinya setelah ini.


Ia pun menoleh lagi pada keluarganya.


"Kenalin semuanya. Ini Ai, pacarku."


Semua orang terkesiap. Junita memekik kesenangan. Abimanyu bahagia. Kirana tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Semua tampak bahagia, kecuali dua orang.


Satu Shaletta, yang semakin menatap tajam ke arah sang abang. Seperti ingin membunuhnya satu-satunya saudara kandung yang ia miliki itu.


Dan kedua...


Tentu saja...


Ai.


Yang merasa jantungnya seperti meledak saat itu juga.


***

__ADS_1


Lagi-lagi maaf ya aku beberapa hari nggak update 🙈


IG : @ingrid.nadya


__ADS_2