Aldebaran Mencari Cinta

Aldebaran Mencari Cinta
Bab 18


__ADS_3

Al membuka pintu bagasi mobil. Begitu melihat apa yang hendak diambil dari dalam sana, ia langsung menggaruk kepala. Tidak pernah sebelumnya, ia terpikir akan membawakan bunga sekaligus makanan untuk seorang wanita yang sedang sakit.


Al menghibur diri.


Yah, anggap saja ia sedang menjenguk Rene.


Atau Boris.


Atau Aseng.


Sejurus kemudian, Al tersadar. Ia langsung memijat kepalanya.


Ia baru saja menyamakan posisi Isyana dengan teman-temannya. Sepertinya, memang tidak ada harapan bagi Al jika menyangkut soal hubungan dengan wanita.


'Ya udahlah ya, jalanin aja dulu,' batin Al, sok menguatkan diri. Ia pun segera mengambil kotak makanan berisi bubur ikan dan sebuket bunga tersebut, lalu berjalan memasuki gedung tinggi di hadapannya.


Al cukup kagum. Isyana ternyata adalah seorang wanita independen yang mampu tinggal di gedung apartemen sebagus ini. Apalagi kalau ia menyewa dengan uang sendiri, Al akan semakin kagum!


Ia pun berjalan menuju unit apartemen dengan nomor yang disebutkan oleh Isyana. Begitu tiba di depan pintu, ia segera memencet tombol bel.


"Iya, sebentar," jawab Isyana, dengan suara yang sangat parau. Terdengar jelas bahwa ia bukan hanya sedang migrain. Sakitnya pasti lebih dari itu!


Tak menunggu lama, pintu pun terbuka. Isyana muncul dengan wajah pucat pasi.


"Is, kamu nggak kenapa-kenapa?" tanya Al, karena wajah wanita di hadapannya terlihat seputih kertas.


Isyana baru akan menjawab pertanyaan Al, tapi sesuatu merangkak keluar dari kerongkongannya. Ia langsung menutup mulut dan berlari ke dalam kamar mandi, meninggalkan Al berdiri di ambang pintu dengan canggung.


"Aaaaal, maaf!" seru Isyana, dari dalam kamar mandi. Selanjutnya, Al hanya bisa mendengar suara muntah-muntah di dalam sana.


"It's okay. Take your time," jawab Al.


Ia sempat menunggu selama beberapa saat di depan pintu. Namun, Isyana tak kunjung keluar dari kamar mandi. Akhirnya, Al memilih untuk masuk ke dalam apartemen Isyana. Ia sebenarnya menghindari resiko terlihat beberapa penghuni apartemen lain. Siapa tahu ada yang kenal keluarganya dan membocorkan rahasia ini.


Bukan apa-apa sih.


Ia hanya takut langsung dinikahkan sang ayah saat ini juga. Karena ayahnya adalah orang yang tidak suka melepaskan kesempatan apapun! Termasuk membuktikan pada dunia bahwa anaknya normal.


"Al, sebentar lagi ya..." Isyana memanggil lagi dari dalam kamar mandi.


"Nggak ada masalah, Is. Santai aja," sahut Al, sambil meletakkan kotak bubur serta buket bunga yang ia bawa, di atas meja ruang tamu apartemen. Lalu, ia pun duduk menunggu disana, dengan tenang.


Ia mengambil smart phone-nya. Seperti biasa membuka Netflix dan lanjut menonton sebuah serial yang belum ia selesaikan.


Saat serial dimulai, ia bisa melihat jam di sudut smart phone. Ia sudah telat setengah jam masuk kantor, tapi tidak ada yang mencarinya sama sekali.

__ADS_1


'Anggap aja lo lagi cuti,' batin Al pada diri sendiri.


Sebagai seorang yang sangat mencintai pekerjaannya, Al memang tidak terbiasa bersantai seperti ini. Ia sering sekali menguangkan jatah cutinya dari kantor. Bagian personalia bahkan pernah mewajibkannya untuk mengambil jatah cuti, karena sang ayah khawatir dengan sifat workaholic Al ini.


"Terus Papa masih lebih percaya sama si kunyuk Yuda untuk ngurusin perusahaan," gerutu Al, masih belum terima dengan keputusan sang ayah.


Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka.


Al langsung mengunci mulutnya sendiri kalau tidak mau Isyana mengira dirinya gila.


Wanita itu tampak berjalan ke arah Al sambil memegangi perutnya. Al kebingungan apakah harus membantu Isyana atau tidak. Akhirnya, ia memutuskan untuk duduk saja di tempatnya.


"Maaf ya, Al, aku malah sakit begini padahal kamu udah reservasi di Altitude," kata Isyana.


"Nggak apa-apa, Is. Kesehatan lebih penting. Ini, makan dulu buburnya." Al menyodorkan kotak bubur yang ia bawa.


"Makasih ya."


Al mengangguk saja.


Isyana pun menikmati makan siangnya dalam diam. Perutnya terlalu sakit, lidahnya terlalu pahit, dan kepalanya terlalu pusing untuk dapat berbincang-bincang riang dengan Al.


"Kamu nggak ke dokter aja, Is? Saya bisa anterin."


"Tadi udah chat sama dokter dari aplikasi Halodoc. Udah minum obat yang diresepkan juga. Harusnya bentar lagi sembuh."


"Kamu yakin?"


Isyana mengangguk.


"Oke deh." Al akhirnya mengalah.


Ia pun menunggu dalam diam sampai Isyana menghabiskan bubur tersebut sampai tandas ke dasar kotak.


"Maaf ya, ngerepotin kamu, Al. Kamu jadi sampai harus kesini."


"Nggak apa-apa, Is. Tapi kamu nggak mau panggil orangtua kamu? Atau saudara atau temen untuk jagain kamu?"


Tiba-tiba kilat kesedihan terpancar di mata Isyana. Orangtua? Ia bahkan tidak tahu keberadaan ayah dan ibunya saat ini. Mungkin sedang asyik bersama kekasih masing-masing. Sementara teman? Well, Isyana hanya punya teman hura-hura, teman minum-minum. Tidak pernah punya teman sungguhan.


Dan Al bisa menangkap semua itu.


Bahwa Isyana tidak punya siapa-siapa, selain dirinya sendiri.


"Aku terbiasa hidup mandiri, Al. Tadi aku nyuruh kamu datang, karena bener-bener nggak sanggup lagi nyari makan siang," kata Isyana, sambil tersenyum.

__ADS_1


"Senang bisa membantu," jawab Al, seadanya. Sebab ia bingung harus mengatakan apa di situasi seperti ini.


Hening pun tercipta setelah itu.


Al sebenarnya ingin sekali mengangkat topik tentang maksud dan tujuannya datang ke tempat ini, tapi ia tidak tega lagi. Sementara Isyana sendiri, sudah terlihat sangat lelah. Namun, sepertinya masih tidak enak jika harus mengusir Al yang sudah repot-repot membawakannya makan siang.


"Kalau gitu, kamu istirahat dulu deh," kata Al, akhirnya. Ia mengalah. Waktunya sedang tidak tepat. Mana tega ia mengungkit kepentingannya sendiri saat Isyana sedang sakit seperti ini.


"Udah mau pulang? Cepet banget." Isyana malah merasa bersalah. Apakah ada dari sikapnya tadi yang menunjukkan bahwa ia ingin mengusir Al secepatnya?


"Iya. Kamu harus istirahat, Is," sahut Al, tegas.


Isyana memandang kedua bola mata itu. Mata lelaki yang sepertinya sanggup memberikan pegangan untuk dirinya, sandaran untuk jiwanya yang terus menerus berkelana tanpa tahu arah.


"Kalau gitu, saya pulang ya." Al bangkit berdiri, lalu berjalan menuju


Begitu pun Isyana. Ia refleks mengikuti. Dan tanpa sadar, tangannya meraih sedikit kemeja Al di bagian pinggang. Al berhenti, kemudian menoleh.


"Kalau aku masih sakit, aku bisa telepon kamu lagi?" tanya Isyana. Ia tidak bisa menyembunyikan sedikit pun tatapan penuh harapnya.


Dan Al tertegun. Ia seakan bisa melihat sebuah jiwa yang sangat kesepian di balik tatapan mata itu. Dan perasaan empati pun membuncah di hatinya.


"Boleh." Akhirnya ia menjawab dengan singkat.


Isyana pun melepas genggamannya dari kemeja Al.


"Sampai ketemu lagi, kalau gitu." Isyana tersenyum.


Al mengangguk. Lalu, menutup pintu apartemen Isyana. Ia pun berjalan meninggalkannya.


Ah, misinya untuk mendapatkan pacar sehari pun tidak berjalan mulus. Apakah ia harus mencari cara lain? Atau orang lain saja sekalian?


Namun, Al tidak bisa memikirkan satu nama pun untuk diajak.


***


Makasihhh untuk readers yang kemarin udah doain supaya aku sembuh 🤗


Terkabul loh.


Sekarang bantu doain Abang punya banyak pembaca dong 🙈


Siapa tahu terkabul juga, hehehehe.


IG : @ingrid.nadya

__ADS_1


__ADS_2