
"Maaf ya, Ai, jadi saya yang nganterin kamu. Etta tuh bener-bener..." kata Al, saat mobilnya mulai memasuki jalan raya.
Ai langsung menggeleng.
"Malah saya yang nggak enak. Abang jadi harus repot-repot nganterin saya." Ia mengibaskan tangannya, benar-benar merasa tidak enak pada Al karena harus mengantarkannya.
Sebenarnya tadi setelah berdebat panjang dengan Shaletta yang sedang ngambek melalui pesan, akhirnya Ai menyerah. Shaletta sungguh ratu tega! Padahal Shaletta sendiri yang meminta bantuan Ai untuk menemaninya kondangan, tapi lihat sekarang ini! Ia melepas tanggung jawab untuk mengantarkan Ai sampai ke rumah lagi.
Setelah itu, Ai pun berniat pulang naik taksi online saja. Hanya ini satu-satunya pilihan yang ia punya karena ia kan sedang menganakan gaun pesta. Mana mungkin ia nekat pulang menggunakan armada ojek?
'Padahal kan sayang uangnya,' batin Ai, saat mulai memeriksa harga di aplikasi taksi online.
"Ai, kamu mau pulang naik taksi?" bisik Al saat melihat Ai sedang membanding-bandingkan harga antara aplikasi yang satu dengan aplikasi yang lain.
"Iya," jawab Ai sambil mengangguk, tidak terlalu memperhatikan Al.
"Lagi high fare," gumam Ai, tanpa sadar, saat melihat harga yang tertera. Seluruhnya di atas ratusan ribu. Mana mungkin Ai rela mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk perjalanan taksi beberapa menit.
Pandangannya menerawang. Tadi memang di luar sedang hujan makanya tarif taksi sedang gila-gilanya. Apakah ia masih bisa menunggu sebentar disini? Atau...
AHA!
Ia minta tolong Sam saja untuk menjemputnya! Biar sekalian membawa mamanya jalan-jalan. Sudah lama mamanya tidak keluar rumah. Mumpung sedang tidak ada matahari. Mendung-mendung begini adalah saat yang tepat untuk membawa sang ibu melihat dunia.
Ia pun segera mencari nomor Sammy.
Dan Al menjadi saksi semua itu.
Ai hampir menekan tombol panggilan ke nomor Sammy...
Tapi sebuah tangan langsung menghalanginya.
"Ai, biar saya aja yang nganterin kamu," kata Al. Ia berusaha menutupi satu rasa yang aneh di hatinya, yang tiba-tiba muncul karena Ai malah menelepon Sammy, bukannya meminta pertolongannya.
"Eh, jangan!"
"Nggak apa-apa, Ai."
"Tapi ini kan nikahan sepupu abang. Masa abang pergi sih?"
"Foto keluarga udah beres daritadi. Disini saya nggak ada fungsinya lagi, lebih berguna kalau bisa nganterin kamu."
"Tapi..."
"Di luar hujan, Ai. Pasti macet. Kalau nunggu Sammy jemput, terus jalan pulang lagi. Waktu kalian habis di jalan."
Ai pun jadi tidak punya bahan bantahan. Ia memandangi Al. Bolehkah ia merepotkan laki-laki di hadapannya?
Seumur hidupnya, Ai selalu berusaha untuk mandiri, tidak merepotkan orang lain. Satu-satunya orang yang sering ia repotkan hanya Sammy. Itu pun karena Sammy sudah seperti saudara sendiri.
Dan sekarang, bisakah ia menerima bantuan dari Al?
"Saya nggak enak," kata Ai, masih bersih keras menolak.
"Ai, kamu udah bantu saya daritadi. Ini bentuk rasa terima kasih saya. Mau ya?"
Ai pun menyerah. Akhirnya, ia mengangguk. Meski tidak dengan berat hati, tentu saja! Lumayan, duit seratus ribu tidak jadi melayang dengan percuma.
"Loh? Ai sudah mau pulang?" Abimanyu yang terlihat tidak rela saat Al dan Ai berpamitan.
__ADS_1
Al sampai harus memutar bola matanya. Ayahnya sungguh aneh. Kenapa jadi ia yang terlihat sedih saat akan berpisah dari Ai?
"Iya, Om. Mama nungguin." Ai terlihat takut-takut mengatakan hal ini di depan neneknya.
"Iya, pulanglah. Kasihan mamamu sendirian di rumah." Rianti terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya setuju.
Namun, Abimanyu tidak terfokus pada hal itu.
"Dianterin sama Al kan?" selidiknya.
"Hm." Al hanya bergumam tidak jelas untuk menjawab sang ayah.
Abimanyu langsung sumringah begitu tahu bahwa Al akan mengantar Ai. Ia pun berkata, "Kalau gitu, boleh pulang. Hati-hati di jalan ya. Al, kamu bawa mobil pelan-pelan aja."
"Kapan aku ngebut?" cibir Al.
"Maksudnya pelan-pelan biar punya waktu lebih lama sama pacar kamu. Hehehe." Abimanyu cengengesan.
Al hanya bisa geleng-geleng kepala karena tingkah norak ayahnya. Sementara Ai berusaha tersenyum sebisanya saja. Keberadaan sang nenek selalu membuatnya canggung.
Lalu mereka pun beranjak menuju mobil.
Dan disinilah mereka sekarang.
Berada di dalam mobil yang sama.
Di tengah kemacetan luar biasa.
Sudah sepuluh menit lamanya mereka berada di tempat yang sama, tidak berpindah barang lima centimeter pun.
"Dingin ya?" tanya Al, melihat Ai sedikit menggigil karena cuaca memang sedang dingin-dinginnya. Tumben sekali neraka tidak bocor di Jakarta hari ini.
Ai menjawab hanya dengan anggukan dan cengiran.
Ai terkekeh, "Abang tuh mau minggat dari rumah sampe bawa-bawa selimut di mobil?"
"Tuh kan! Ada aja komentarnya yang aneh."
"Ya, abis lucu aja ada selimut di dalam mobil. Siapa yang kepikiran coba."
"Iya, iya. Cuma saya yang aneh."
Ai terkikik. Dan ia pun menoleh ke kanan sedikit. Tubuh Al yang sedang menghadap ke belakang berada sangat dekat dengannya. Detak jantungnya perlahan mulai tidak beraturan. Sungguh, berada di dekat Al membuat kondisi kesehatan organ tubuhnya menjadi perlu dipertanyakan.
"Saya taro dimana sih?!" keluh Al, tidak kunjung menemukan selimut yang terbiasa dia letakkan di mobilnya.
"Ketinggalan di tempat minggatnya abang kali," celetuk Ai.
Al berhenti mencari. Ia pun mengembalikan posisi tubuhnya dengan cepat.
"Ai!" Ia pura-pura menegur. Tapi wajahnya tidak bisa menahan senyuman.
"Yeeeeessss?" Ai meledek.
Tapi Al tidak bisa marah. Ia akhirnya hanya bisa tertawa lalu lanjut mencari selimut lagi. Dan akhirnya dia menemukan di kantong belakang joknya sendiri.
"Ah, nemu. Ini." Al pun menyodorkan sebuah selimut tipis pada Ai.
"Makasih, abang." Ai pun menyelimuti bahunya sendiri. Ah, hangat!
__ADS_1
"Ada gunanya kan selimut minggat saya?"
Ai tertawa.
"Tapi beneran deh, kok bisa punya selimut?" tanya Ai penasaran.
"Saya orangnya ngantukan, Ai. Kalau misalnya sebelum jalan pulang dari kantor, saya ngantuk, ya saya tidurin aja dulu di mobil. Dan saya nggak bisa tidur kalau nggak ada selimut."
"Oh gitu."
"Iya, gitu. Jadi, bukan buat minggat." Al terkekeh sambil melajukan mobilnya karena mobil depan sudah mulai bergerak.
"Tapi katanya bahaya loh kalau tidur dalam mobil tuh."
"Iya sih, pernah baca juga."
"Jangan sering-sering."
"Kenapa? Khawatir ya?" Al tersenyum pada Ai. Well, ini bukan Al. Ini sama sekali bukan dirinya. Al sampai keheranan kira-kira setan apa yang sedang merasuki tubuhnya sampai jadi se-flirty ini?!
Ai tertawa, "Iya dong. Kan saya nggak mau 'pacar' saya kenapa-kenapa."
Ia menekankan kata pacar untuk menyindir Al.
Tawa laki-laki itu pun meledak. Sampai wajahnya memerah seperti kepiting rebus.
"Maaf ya, Ai. Untuk hari ini aja. Kalau besok-besok kamu ditanya, bilang aja udah putus."
"Jadian aja belum, udah putus aja. Cepet banget saya punya mantan. Nggak nyampe tiga jam."
Al tertawa lagi. Mengobrol dengan Ai selalu menyenangkan. Untuk selanjutnya, perjalanan itu hanya diisi dengan candaan-candaan mereka. Sampai akhirnya, mobil Al tiba di depan rumah Ai.
Al mengamati Ai yang bersiap-siap untuk turun dari mobilnya. Ada perasaan sedikit tidak rela saat Ai mulai melepas selimutnya dan melipatnya dengan rapi. Kemudian, gadis itu juga melepas sabuk pengamannya.
"Nggak ada yang ketinggalan kan?" tanya Al, sebenarnya masih sangat belum rela.
"Nggak ada. Aku masuk dulu ya. Makasih, abang, udah nganterin saya."
Al mengangguk, "Sampai ketemu lagi, Ai..."
Tapi lalu, ia tersadar.
"Tapi kalau kamu masih mau ketemu saya sih..." tambahnya.
Ai terkekeh. Ia tidak ingin mengomentari kalimat itu.
"Sampai ketemu lagi, abang." Hanya itu kalimat penutupnya hari ini. Lalu, ia pun keluar dari mobil Al.
Al mengamati gadis itu berlari masuk ke dalam rumahnya karena masih ada sisa gerimis sedikit-sedikit.
Setelah tiba di teras, Ai berbalik lalu melambai pada Al.
Al tersenyum, lalu mulai menjalankan mobil.
Tanpa Ai perlu menjawab pun, harusnya Al tahu bahwa Ai tetap masih ingin bertemu.
***
Kayak nulis cerita anak SMA deh aku tuh.
__ADS_1
Gemes banget sama abang dan ai 🥺🤍
IG : @ingrid.nadya