Aldebaran Mencari Cinta

Aldebaran Mencari Cinta
Bab 26


__ADS_3

"Kamu bawa kendaraan sendiri, Wen? Kalau enggak, mau saya antar pulang?" Al menawarkan diri pada Wening saat mereka beranjak keluar dari Odysseia.


"Nggak usah, Al. Aku bawa mobil kok."


"Mau bareng ke parkirannya?"


"Eh, nggak apa-apa, duluan aja. Aku masih harus beli sesuatu di Kem Chick."


"Mau saya temenin?" tanya Al. Murni hanya basa-basi. Dalam hati, ia ingin Wening terus menolaknya.


Wening tersenyum, "Nggak perlu, Al. Makasih ya."


Al mengangguk. Dalam hati, bersyukur.


"Kalau gitu, saya pulang dulu ya."


Wening melambaikan tangan saat Al berjalan menjauh. Ia sempat menatap punggung itu selama beberapa saat. Ah, sepertinya malam ini, segala sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya. Padahal kalau ia lebih berhati-hati dalam bersikap mungkin ia bisa mendapatkan perhatian laki-laki seperti Al.


Fisik oke. Background keluarga juga sangat oke.


"Sayang banget..." gumam Wening. Lalu, akhirnya ia berbalik ke arah berlawanan.


Sementara itu, Al sendiri berjalan menuju parkiran dengan langkah gontai. Hasil kencan buta kali ini benar-benar nol besar. Ia merasa Wening benar-benar tidak cocok dengannya. Mereka tidak punya topik obrolan.


Al tidak berusaha membangun percakapan, Wening yang sudah salah langkah dari awal pun juga tidak berusaha mencari topik. Dan ya, Shaletta adalah salah satu orang penting di kehidupan Al. Jika dari awal sudah bermusuhan dengan adik semata wayangnya itu, akan susah untuk Wening menghadapi keluarganya nanti di pernikahan Diandra. Jadi, Al memutuskan untuk tidak mengajak wanita itu.


'Udah waktu tinggal sedikit, masih juga pilih-pilih,' gerutu Al pada diri sendiri.


Ia pun tiba di mobilnya tak lama kemudian. Lalu ia melajukan mobilnya sambil menelepon nomor Boris.


"Yes?" Boris menjawab dengan penuh semangat di ujung sana, mengira bahwa akan ada kabar baik yang ia dapatkan dari Al.


"Nggak sreg gue." Al langsung to the point.


"Loh? Kenapa?"


"Telat datang, terus aneh banget, Etta langsung nggak suka. Mana nggak nyambung lagi kalau ngomong."


"Loh? Etta ikut?"


"Cuma nemenin makan bentar tadi, soalnya Wening telat sejaman."


Boris langsung terkekeh, "Ya elah, lo kayak belum biasa aja nungguin orang datang sejaman. Nungguin gue berjam-jam aja betah lo!"


"Sial! Masalahnya ini di mall, Bor! Gue nggak nyaman, makanya minta temenin Etta bentar tadi."


"Iya sih. Harusnya lo janjian di Blue Grass aja."


Al menghela nafas. Bukan hanya tempat saja, ia juganmerasa tidak cocok dengan Wening.


"Anyway, Etta kenapa nggak suka?" Boris mengalihkan topik.


"Nggak tahu, nggak ngerti juga. Nanti aja gue tanya ke Etta. Tapi yang jelas gue nggak mau Etta sama Wening malah cakar-cakaran di nikahan sepupu gue."


Boris kali ini tertawa.


"Seloooow, selooooow, gue masih ada stock. Besok pagi Bapak Aldebaran sudah saya jadwalkan untuk bertemu makan siang dengan seorang wanita cantik dan lembut bernama Kirana," kata Boris, berlagak seperti sekretaris.


"Kirana yang mana?"


Boris langsung mengirimkan sebuah foto ke whatsapp Al.


"Udah gue kirim fotonya ke whatsapp lo."

__ADS_1


"Ntar aja gue lihat, gue lagi nyetir."


"Oke. Mau ketemu dimana lo sama dia? Tinggal gue chat nih."


"Nggak tahu. Biar dia aja yang nentuin deh. Daripada zonk lagi."


"Oke deh, nanti gue kabarin."


Lalu, mobilnya melaju melewati halte BEJ, saat itulah ia melihat Wening sedang menghentikan taksi disana.


"Bawa kendaraan sendiri dari Hongkong!" gumam Al, kesal.


"Eh? Kenapa lo?" tanya Boris, yang mendengar Al tiba-tiba menggerutu.


"Nggak usah dipikirin. Kayaknya cuma si Kirana ya harapan gue?" keluh Al.


"Yaaaa, tinggal dia sih yang punya waktu buat ketemu lo besok. Kalau lo mau, gue bisa set waktu setelah acara nikahan sepupu lo."


"Gue butuhnya pas acara nikahan, sempruuuul!"


Boris terkekeh.


"Udah deh, ntar lanjut ngobrol lagi. Gue nyetir dulu. Thank you, Bor!" Al pun memutuskan hubungan telepon tersebut. Ia hanya bisa berharap Kirana bisa sesuai dengan keinginannya.


***


Keesokan hari, saat jam makan siang, Al segera berjalan keluar dari kantornya. Sialnya, saat menunggu di depan lift, ia berpapasan dengan sang ayah.


"Mau kemana kamu?" tanya Abimanyu.


"Makan siang," jawab Al, seadanya.


"Kok tumben nggak sama Rene?"


"Ada urusan sama orang lain."


"Terus? Sejak kapan aku main-main terus, Pa," gerutu Al. Untung saja saat ini tidak ada orang lain yang menunggu lift di dekat mereka. Ntah kebetulan atau karena karyawan lain memang sengaja menghindari mereka.


"Ya, kamu. Kemarin kamu kemana? Habis makan siang bukannya balik ke kantor!"


"Buat apa aku ke kantor kalau nggak ada yang mau aku kerjain?!"


Abimanyu mendelik marah.


Tepat saat itulah pintu lift terbuka. Al langsung masuk. Abimanyu hanya bergeming.


"Papa nggak masuk?" tanya Al.


"Bisa naik darah tinggi Papa kalau lama-lama sama kamu!"


Al mendengus.


"Besok kalau Al bawa calon istri, jangan pernah bilang soal aku bikin Papa darah tinggi lagi ya," gerutu Al, sambil menekan tombol menutup pintu.


"Al??? Kamu beneran???" Ekspresi Abimanyu berubah sumringah.


Al menjulurkan lidah.


Dan saat itu pulalah, pintu tertutup.


Begitu lift meluncur turun, barulah Al merasa menyesal luar biasa. Ia belum tahu bagaimana Kirana, tapi ia sudah memberikan harapan kepada sang ayah.


"Gue bego banget sih..." keluh Al.

__ADS_1


Pintu lift pun terbuka di lantai dasar. Ia segera berjalan menuju parkiran. Hanya bisa berharap seseorang yang akan ia jumpai akan memenuhi setiap ekspektasinya dan –kali ini perlu ditambahkan– keluarganya.


***


Al berjalan memasuki Pasfes tak lama kemudian. Kesan pertamanya saat menerima pesan dari Kirana sangatlah baik.


Wanita itu bekerja di seputaran Kuningan, jadi ia mengajak Al untuk makan Bakmie GM saja di Pasfes. Katanya agar gampang dan cepat. Dan hal ini menjadi nilai plus untuk Al.


"Al!" Seorang wanita dari dalam restoran Bakmie GM tersebut melambai. Al langsung mengenalinya, sebab wajah Kirana tidak berbeda jauh dari fotonya. Nilai plus lainnya.


"Hey, udah mesen?" tanya Al, begitu tiba di hadapan Kirana.


"Udah nih. So sorry. Aku nggak bisa lama soalnya. Kamu pesan aja dulu."


"Eh, nggak apa. Ntar aja. Belum terlalu lapar."


"Kamu yakin?"


Al mengangguk saja.


"Lagi sibuk banget ya?" tanya Al.


"Biasalah accounting. Kalau awal tahun gini lagi sibuk ngurusin audit."


Al mengangguk. Satu poin plus lagi. Wanita karir yang mandiri selalu membuatnya salut. Sepertinya Kirana dapat menabung banyak poin plus dari Al.


"Kenal Boris dimana, Al?" tanya Kirana.


"Udah temenan dari SMA."


"Wah, awet ya."


"Iya, kadang suka heran."


Kirana tertawa.


"Kamu sendiri kenal darimana?" tanya Al, balik. Well, Kirana membuat Al berminat pada kisahnya. Satu poin tambahan lagi.


"Dia temennya temenku."


"Oh."


"Dia masih sama ceweknya?" tanya Kirana, tiba-tiba. Firasat Al langsung tidak enak.


"Mm, masih."


Ekspresi Kirana langsung berubah kecewa. Al sendiri sudah menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa punya seribu kutu.


"Kirain udah putus, jarang update soalnya."


Lidah Al terasa keluh. Belum juga kenal sepuluh menit, belum juga Al meluluskan Kirana walaupun sudah mendapat banyak poin plus...


"Emangnya kenapa?" tanya Al, susah payah.


Kirana mengelus hidungnya. Wajahnya tersipu malu.


"Hehehe, aku suka sama Boris, Al."


JEDEEEEER!


Pupus sudah harapan terakhir Al.


***

__ADS_1


Maaf ya upnya malem-malem banget 🥺


IG : @ingrid.nadya


__ADS_2