Aliaa Dan Gaza

Aliaa Dan Gaza
Episode 10


__ADS_3

      “Kita akan tiba 15 menit lagi.” kata Hafsha.


      “Dari mana kamu tahu namaku?”


      “Ya… di tasmu ada tulisan namamu.”


      Aliaa tiba di Jalur Gaza. Hafsha mengantarnya ke rumah Yasmeen.


     “Assalamualaikum.”


     “Walikumussalam warahmatullah.”


     Aisyaa membuka pintu rumah Yasmeen.


     “Di mana Yasmeen?”


     “Dia sedang di perbatasan.”


     “Oh ya, kamu tahu rumahnya Aliaa?”


    “Dia tinggal di sini. Masuklah Aliaa. Alaa dan Sama sudah kembali ke Jabalia.”


    “Oh ya, aku harus pulang dulu.  Assalamu’alaikum.”


    “Walikumussalam warahmatullah.”


    Sore hari, Yasmeen kembali ke rumah. Yah yang pasti dengan pakaian yang berlumur darah.


    “Maafkan aku Yasmeen. Asima ditembak saat perjalanan dari Jabalia menuju Jalur Gaza.”

__ADS_1


   “Oh ya, aku lupa memberitahu sebelum kalian berangkat. Asima memang tak takut bahaya. Ini sudah ke 2 kalinya ia terluka.” Kata Yasmeen.


   “Kamu tak marah padaku?”


   “Tidak. Aku yakin kamu sudah berusaha menjaga Asima. Apalagi kondisi Gaza memang seperti ini. Aku tak bisa menyalahkanmu sepenuhnya. Ia sudah aku titipkan pada Hafsha. Nanti saat Asima keluar dari rumah sakit Hafsha akan mengantarnya.” Jelas Yasmeen.


   Aliaa hanya mangut mangut saja. Tak kapok kapok, Aliaa berniat mengunjungi Khan Younis dan Nuseirat pada hari Rabu. Namun kali ini dia ingin pergi sendiri saja.


   “Jangan Aliaa! Kamu yakin ingin pergi sendiri ke Nuseirat? Alaa akan menemanimu. Alaa juga seorang jurnalis. Ia menyukai berkeliling Gaza. Pergilah bersamanya! Alaa baik baik saja.”


     Benar saja, pada hari Rabu, Alaa menjemputnya. Masih dengan scraf putihnya, Alaa menjemput Aliaa. Ya! Ciri khas Alaa adalah selalu menggunakan scraf putih.


    “Kamu baik baik saja Alaa?”


    “Ya. Maaf aku meninggalkanmu.”


   “Tak masalah.”


    Aliaa hanya mengangguk sambil terus ‘nyemil’ jajannya.


   “Kamu tahu Aliaa? Aku merasa ajalku sudah dekat.”


   “Hei! Kamu berbicara apa Alaa?”


   “Ya. Tadi aku katakan pada Sama, ‘Kalau aku meninggal nanti saat di Nuseirat jangan salahkan Aliaa’.”


  “Kamu berbicara seperti itu pada Sama?”


  Alaa hanya mengangguk.

__ADS_1


 “Ah. Kita berhenti dulu Aliaa. Aku ingin shalat Dhuha.  Oh ya, aku akan tadarusan dulu setelah shalat. Maaf ya Aliaa, mungkin kita sampai di Nuseirat jam 9. Kamu tunggu saja di sini.”


  Aliaa hanya mengangguk cepat. Tak lama. Zionis Israel datang lagi. Aliaa keluar, lalu bersembunyi di balik kendaraan. Masjid tempat Alaa shalat Dhuha menjadi sasarannya. Ditembakkan gas air mata di dalamnya. Aliaa bergegas masuk ke dalam masjid. Ia menutup mulutnya dengan kerudungnya. Alhamdulillah, Alaa dan Aliaa berhasil keluar dari Masjid. Entah tak punya hati atau tak punya otak, para penjajah itu menembak Alaa. Alaa dan Aliaa terjatuh ke aspal. Tak peduli, Aliaa tetap membawa Alaa ke belakang kendaraan tanpa memedulikan kakinya yang terluka. Aliaa menatap scraf putih Alaa yang berlumuran darah.


    “Alaa. Kamu bisa mendengarku?”


    Alaa membuka matanya. Tampak sepasang mata yang menggambarkan penderitaan Alaa selama 22 tahun.


   “Bagaimana ini? Ambulansnya ada di mana?”


   “Apakah dia baik baik saja?”


   “Dia terkena gas air mata dan tertembak. Bagaimana ini?”


   Lelaki yang sedang berdiri itu bersama temannya itu memiliki skill P3K. Ketika hendak memegang hijab Alaa, Alaa menolaknya.


   “Jangan buka…” pinta Alaa.


   “Tapi ini…”


   Akhirnya lelaki itu mengalah. Ia tak membuka hijab Alaa.


   “Aliaa…”


   “Syahadat…”


    “Alaa!”


    “Syahadat…” ulang Alaa.

__ADS_1


    “Sudahlah. Turuti saja.”


    Aliaa menghela nafas. Ini gila baginya. Terpaksa, Aliaa menuruti permintaan Alaa. Ini terlalu cepat. Baru 5 hari Aliaa mengenal Alaa. Kini muslimah itu menutup matanya. Yaa, setidaknya kematian yang datang ketika seorang mengucapkan kalimat syahadat.


__ADS_2