
Aliaa menjenguk Asima di rumah sakit. Ia diantar oleh Yasmeen yang ditugaskan di Jabalia. Yahh, ia bertemu lagi dengan Hafsha, yang tinggal di Jabalia.
"Kau mau berkeliling lagi Aliaa?"
"Aku tak mau kamu mejadi korban selanjutnya." kata Aliaa polos.
Hafsha hanya tersenyum.
"Kamu mau? Tapi aku harus meminta izin dulu pada kakakku, atau aku akan dihukum lagi." Kata Hafsha sambil tersenyum
Ya. Hafsha akan dihukum jika keluar dari Jabalia selain untuk meminta izin tanpa sepengetahuan kakaknya. Bahkan, jika Hafsha tidak kembali ke Jabalia sebelum Maghrib, maka Hafsa akan dihukum. Ketat? Tentu saja! Hafsha bahkan diwajibkan bercadar di depan lelaki ajnabi, harus menjaga suaranya, menjaga adab dan sikapnya. Yahh menjadi layaknya muslimah sejati.
"Kau diam di sini dulu. Nanti aku akan kembali insya Allah."
Aliaa menunggu di kamar tempat Asima dirawat. ½ jam kemudian, Hafsha kembali ke rumah sakit.
"Aku sudah diizinkan kakakku. Dengan syarat kita harus pulang sebelum Maghrib."
"Ya. Baiklah."
Aliaa dan Hafsha turun di sebuah tempat. Pihak medis ada di sana.
"Ada apa?" tanya Hafsha.
"Mereka menembak seorang anak, lalu kami tidak diperbolehkan mengobatinya."
Aliaa teringat Alaa yang meninggal karena tembakan dan terlambat mendapatkan penanganan.
__ADS_1
"Minggirlah kamu perempuan muda! Jika kamu tak ingin menjadi korban selanjutnya!"
"Kamu bisa membunuhnya dengan cara membiarkannya tergeletak begitu saja!"
"That's we want."
"Apa salahnya? Dia sudah tergeletak dan tak berdaya! Mana mungkin ia menyakiti kalian!"
"Mereka tak punya hati Aliaa. Aku tak bisa membantu lebih. Aku tak membawa senjata." Kata Hafsha.
"Pergilah! Sebelum tubuhmu menjadi sasaran empuk senapan ini!"
Aliaa terdiam. Lebih baik 1 korban dari pada 2 korban. Seorang zionis mendorong tubuhnya ke arah Hafsha.
"Kita tak bisa melakukan lebih. Jika sudah seperti ini jasadnya akan ditahan. Pergilah jika kamu mau. Jika dia meninggal itu bukan salahmu."
"Baiklah Hafsha. Kita pergi dari sini." kata Aliaa.
Aliaa dan Hafsha kembali ke kendaraan.
"Kamu harus hati hati Aliaa. Para zionis itu bisa saja merangsek masuk ke Gaza. Bom tak kenal waktu dan tempat. Pembunuhan tak kenal siapapun mereka. Dan penangkapan tak segan menangkap siapapun mereka."
"Oh ya?"
Hafsha hanya mengangguk.
"Aku dengar sahabatmu ada yang berkontribusi dalam Medan perang."
__ADS_1
"Sejak 2016 dia begitu. Yang ku tahu dari penuturan cita citanya saat 2014, dia ingin masuk ke organisasi *****. Dan Alhamdulillah katanya Nadiaah dia diterima. Katanya sih, itu organisasi yang menguasai Gaza."
"Fix sekubuu 😂😂😂!" batin Hafsha.
"Aku pikir kamu pendiam Hafsha."
Hafsha hanya tertawa.
"Oh tentu saja aku pendiam, jika dihadapan teman teman kakakku. Tapi jika dihadapan sesama perempuan yaa tidaklah."
"Berapa jam listrik dialirkan di Gaza?"
"Mungkin sekitar 3 - 5 jam. Jadi tiba tiba saja dimatikan. Emm ya, aku shalat Dzuhur dulu."
Usai Hafsha shalat Dzuhur, Aliaa dan Hafsha melanjutkan perjalanan. Hafsha dan Aliaa turun di sebuah tempat.
"Ini perbatasan di Jalur Gaza."
Sebenarnya Aliaa sudah tahu. Tempat ia menemukan baju Nadiah terciprat banyak darah.
"Kamu bisa melihat pembunuhan paramedis dan jurnalis di sini." Canda Hafsha.
"Hafsha!! Jangan menakutiku!!" Teriak Aliaa kesal.
"Aku benar. Oh ya, aku pikir ada konten bagus di sini." Kata Hafsha.
Aliaa mengambil cameranya dan mulai merekam. Jdor jdor! Seorang demonstran tertembak di dekat pagar pembatas. Paramedis termasuk Nadiah mulai menghampiri korban. Aliaa bergerak ke arah pagar pembatas.
__ADS_1
"Hati hati Aliaa!!" Teriak Hafsha.