Aliaa Dan Gaza

Aliaa Dan Gaza
Episode 27


__ADS_3

####


Asima, Mubarak, Sofia, dan Samah pergi ke lokasi bentrokan. Jiwa jiwa pejuang sudah tertanam di hati anak anak itu.


"Kamu yakin akan pergi ke tempat bentrokan Mubarak?"


"Yapz. Mengapa tidak? Apakah karena kita masih berusia 12 tahun kita tidak bisa membela negara kita?"


Dengan sebuah batu di genggaman tangannya, mereka semua berangkat ke lokasi bentrokan. Ya. Inilah Palestina. Di mana anak anak di sini seperti tak mengenal istilah bermain bersama. Masa kecil mereka hancur karena peperangan yang ada. Lokasi bentrokan cukup jauh dari mereka. Yah... tentunya lelah bukan, berjalan amat jauh?


"Hei!! Aku menemukan bom molotov!"


"Bagus Sofia! Kita bisa menggunakannya nanti!"


Samah menunduk pelan memetik sebuah bunga untuk kakaknya


"Apa yang kamu lakukan Samah?"


"Mengambil bunga untuk kak Tahriir. Karena sebentar lagi kak Tahriir akan melanjutkan perjuangan kak Nur.*


####


"Hufft. Alhamdulillah. Setelah kemarin kita off sebentar karena kakakmu meninggal, sekarang kita kembali bertugas."


"Hehehe. Maaf Aliaa."


Aliaa menatap ke langit. Sebuah pesawat terbang menuju sekumpulan anak yang tampaknya riang sekali.

__ADS_1


"Hafsha! Lihat pesawat itu!"


"Ya Rabb. Ayo cepat kita ke sana!"


DUARR!! Para anak anak itu terpental. Ini gila bagi Aliaa.


"Are you OK?"


"Alhamdulillah."


"Lain kali hati hati ya."


"Kalian mau ke mana?"


"Lokasi bentrokan."


Anak anak itu pergi dengan cepat.


"Bagaimana jika kita ikut juga Aliaa?"


"Ide bagus! Tak masalah."


Mereka bergegas menyusul anak anak itu. Mereka tiba di lokasi bentrokan. Tampak sejumlah warga Palestina melakukan perlawanan terhadap zionis. Mereka membawa Bom molotov dan batu. Yahh... meski tak sebanding dengan senapan yang dibawa para penjajah itu. Bom molotov dan batu. Aliaa rasa, itu hal yang sudah lazim ditemui di Gaza.


Aliaa menghembuskan nafas kasar. Naura lagi Naura lagi. Entah kenapa si santuy itu selalu muncul di tiap bentrokan. Padahal, yang paling menolak ke Gaza dulu adalah Naura.


"Nahh!! Ketemu juga lu Aliaa! Numpang tanya nih."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Makamnya Nadiah di mana ya?"


Aliaa menghela nafas kasar. Seandainya ia pergi ke sana lagi, mungkin ia sudah menangis senangis nangisnya. Ya. Yang memberi Aliaa asupan politik adalah Nadiah. Aliaa juga teringat kematiannya dikarenakan tertembak fatal di depan matanya sendiri.


"Kamu yakin mau ke sana? Yakin?" Tanya Aliaa dalam.


"Iya lah! Kenapa enggak? Kan sekalian mumpung aku di Gaza. Memangnya ada apa sih?"


"Nothing."


"Makamnya di jalur Gaza. Nanti kau tanya pada orang orang 'Makamnya paramedis yang terbunuh di mana ya?'."


"Ok. Sip. Jazakumullah Khairan."


Muslimah itu langsung menghilang di balik banyaknya kerumunan massa yang berunjuk rasa. Aliaa mengalihkan pandangannya pada anak anak yang sibuk melempari tank dan zionis israel dengan batu dan bom molotov.


"Ya Samah!! Penjajah itu sedang membidikmu!"


Samah menoleh. Adik dari Nur yang sedang menggenggam erat batu itu tersenyum, lalu kembali melempar batunya. Tangan kirinya memegang sebuah bunga yang masih tampak indah. Ah! Lupakan sejenak tentang bunga itu! Perhatian Aliaa teralih pada zionis itu.


Beberapa tembakan dilepaskan. Mengenai tubuh muslimah itu. Ia jatuh ke tanah dengan batu yang ikut berdarah darah. Beberapa warga Palestina menghampirinya. Tak ketinggalan dengan jiwa jurnalisnya, Aliaa memfoto kejadian itu lalu menghampiri Samah. Samah memandang Aliaa. Muslimah yang mengobati Sofia usai ditangkap.


"Berikan bunga ini pada kak Tahriir. Ia akan berjuang sebentar lagi." Pinta Samah.


Aliaa hanya mengangguk singkat. Samah dibawa menuju ambulans. Aliaa menatap bunga yang diberikan Samah untuk Tahriir. Tahriir masih berusia 15 tahun. Ia akan meneruskan perjuangan Nur sebagai pasukan pembebas Palestina. Aliaa bangkit lalu menatap langit. Sampai kapan duka ini akan terus berlangsung?

__ADS_1


__ADS_2