Aliaa Dan Gaza

Aliaa Dan Gaza
Episode 15


__ADS_3

*Sebelumnya, saya pribadi sebagai penulis episode ini meminta maaf jika ada yang kurang berkenan dengan awalan episode kali ini. Saya menggambarkan awalan episode ini sesuai dengan berita yang saya tonton. Terimakasih 😊.


Usai puas berjalan jalan, Aliaa kembali ke rumah Hafsha (Aliaa ikut Hafsha ke Jabalia, karena Aisyaa dan Qudsi sedang ada di Jabalia menjaga Asima. Sementara Yasmeen dipindah tugaskan ke Khan Younis.)


"PENGKHIANAT!!!" Teriak Aliaa dalam bahasa Indonesia.


"Ada apa Aliaa?"


"Aku tak bisa memberitahumu. Aku takut kamu merasa kecewa."


"Katakan Aliaa!"


"Baiklah, asalkan kamu jangan marah kepadaku atau warga Indonesia. Ini bukan salah warga Indonesia. Aku yakin mereka tak ingin ada pengkhianat dari negri mereka."


Hafsha menatapnya penuh selidik. Menyangkut Indonesia. Negara yang Hafsha harapkan bisa membebaskan Al Aqsha. Aliaa menceritakan berita itu (sy yakin semua udah tahu berita ini, terutama ummat Islam Indonesia).


"Hufft. Alhamdulillah. Dari laporan yang kudengar, ada organisasi bersenjata Palestina yang sedang mencari orang itu. Yang penting, jangan sampai si AJ as PA itu masuk ke Gaza."


"Baiklah."


"Dari rakyatnya sendiri, beberapa yang aku terjemahkan, mereka juga mendukung organisasi bersenjata itu untuk mengintainya. Tenanglah. Ini bukan salah warga Indonesia." Kata Hafsha sambil tersenyum.


"Malam ini, sebenarnya aku harus pergi." kata Hafsha.


"Bukankah kamu dilarang pergi malam malam oleh kakakmu?" tanya Aliaa.


"Memang. Itulah sebabnya aku tak jadi berangkat. Kamu punya hafalan berapa juz?"


"30 juz Alhamdulillah."

__ADS_1


"Bagus! Sepertinya kamu memenuhi kriteria! Kamu tahu kan, kemungkinan besar kamu dilibatkan dalam perang."


"Ya. Aku tahu."


"Hafsha, bolehkah aku bertanya?"


"Ya."


"Kamu tak tinggal di markas kakakmu. Aku yakin para penjajah itu tahu lokasi rumahmu. Apakah rumahmu tak pernah di bom?"


"3 kali. Namun Alhamdulillah semua bom yang dijatuhkan meleset."


Hafsha mengangkat telefon di HPnya. Usai menelefon, Hafsha memandang Aliaa serius.


"Beberapa hari lagi, kita akan beroprasi. Semua tergantung padamu. Ingin ikut atau tidak. Jika tidak, diamlah dirumahku. Jika kau ingin ikut, segera katakan orang tuamu jika kamu syahid di sini, ikhlaskan saja." Kata Hafsha serius.


"Ku beri kamu waktu 24 jam. Setelah itu, berikan aku jawabannya."


"Walikumussalam warahmatullah."


Hafsha masuk ke kamarnya, lalu keluar lagi. Aliaa masuk ke kamar Hafsha.


"Assalamualikum."


"Wa'alaikumussalam warahmatullah. Kamu Aliaa kan? Duduklah. Aku Izzati."


Aliaa hanya tersenyum.


"Jika kamu ingin melepas niqabmu, tak apa sekarang. Tapi jika keluar, tolong dipakai."

__ADS_1


"Kamu ikut rencana Hafsha Izzati?"


"Ya. Tentu saja. Bagaimana denganmu Aliaa? Kamu ikut rencana Hafsha?"


"Aku tak tahu."


DUARRR!! Suara bom menggelegar di belakang rumah Hafsha.


"Ini sudah ke 4 kalinya para penjajah itu menargetkan serangannya ke rumah Hafsha."


"Aku paham Hafsha adalah adik tentara. Tapi, mengapa Hafsha diincar juga?"


"Kamu tak tahu. Hafsha merupakan salah satu otak di balik rencana rencana penyerangan yang dilancarkan. Tapi anehnya, Hafsha dengan santuynya masih suka berjalan jalan."


Pintu kamar Hafsha dibuka. Ternyata ada Hafsha dan 4 temannya.


"Rencana kita ditunda."


"Mengapa?" tanya Izzati.


"Seorang perwira penjajah itu tahu rencana kita entah dari mana."


"Kira kira sampai kapan?"


"Entahlah. Sampai mereka lengah. Mungkin itu memakan waktu yang lama. Tapi biarlah. Setidaknya kita bisa lebih mematangkan rencana kita."


Allahu Akbar Allahu Akbar!


"Sudah adzan. Yang haid silahkan menunggu di kamarku."

__ADS_1


Hafsha pergi dari kamarnya untuk mengambil wudhu. Aliaa terdiam. Yang haid hanya Aliaa dan 1 teman Hafsha.


__ADS_2