
Sementara Hafsha, Aliaa, dan yang lainnya terjebak di terowongan, mari kita lihat kondisi di markas perempuan.
"Hafsha, Zuhair, dan tim pembebas lainnya belum kunjung pulang. Bukankah mereka diberi tugas yang lebih ringan? Ya mungkin aja sih mereka menjaga camp."
"Jadi bagaimana?"
"Segera susul mereka. Gunakan jalur terowongan. Karena hanya ada 3 kemungkinan. Antara mereka menjaga camp, ditangkap, atau terowongan di bom. Karena ku dengar, beberapa hari yang lalu terjadi pengeboman di sekitar terowongan."
Nahdiyah dkk menyusul teman temannya ke camp.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumussalam."
"Aftah, di mana Hafsha?"
"Ia belum pulang. Aku tak tahu kenapa. Nur, Hafsha, Aliaa, Zuhair, belum pulang."
Mereka segera melanjutkan perjalanan ke terowongan.
"Benar. Terowongan ini telah di bom."
Mereka menggali hingga akhirnya terbuka celah untuk masuk.
####
Tap tap tap. Bunyi langkah kaki terdengar. Hafsha menyiapkan senjatanya.
"Mereka di sini!"
Hafsha bersiap membidik. Orang itu tak nampak jelas.
"Mereka masih hidup??"
"Ya!! Cepatlah!!"
Langkah kaki makin terasa dekat. Hingga muncullah sosok muslimah berniqab yang tampak membawa senjata. Hafsha tersenyum. Ia menyimpan kembali senapannya.
"Kalian baik baik saja?"
"Alhamdulillah."
__ADS_1
Nahdiyah yg bisa melakukan P3K itu mengecek kondisi para muslimah itu.
"Baik baik saja. Tak ada yang mengkhawatirkan."
"Baiklah. Mari kita keluar."
####
"Ahhh!!!" Salah satu penjajah itu berteriak frustasi.
"Ada apa?"
"Bagaimana bisa adik komandan ***** itu selamat??"
Ia frustasi melihat berita yang mengabarkan para muslimah itu selamat (FYI, berita dari mata mata IDF)
"Hei! Kamu terlalu berlebihan! Dia hanya seorang wanita!"
"Iyaa!! Tapi dialah otak di balik semua penyerangan hari ini!! Dia selalu merumuskan rencana rencana yang membuat kita kelayapan!"
"Mengapa kalian tidak menembaknya ketika ia sedang melihat penembakan hah??? Atau minimal kalian menangkapnya!!???"
"Maaf. Kami tak tahu dia adik dari komandan *****. Tapi dia membawa 1 perempuan. Mungkin adiknya."
"Mungkin saja."
"Mau tak mau, bisa tak bisa, Hafsha, kakaknya, dan adiknya atau siapapun itulah, harus dilenyapkan!"
"Tapi..."
"Tak ada tapi tapian! Apa kamu mau si ***** terus terusan menyerang kita? Jika si Hafsha cerdas, aku yakin adiknya juga cerdas. Jika kamu hanya membunuh Hafsha, maka kakaknya bisa membalasnya lebih keji, sebagai pembalasan. Dan apa kamu pikir adiknya akan tinggal diam? Adiknya bisa membuat rencana yang lebih matang dan cerdas dari pada Hafsha!"
"Baiklah. Kami akan menyusun strategi."
"Bagus! Sekarang keluar!!"
Benar apa yang dikatakan Hafsha. Para penjajah itu menganggap Aliaa itu adiknya.
####
"Ini sahabatmu Aliaa. Dia 1 liqo' denganku."
__ADS_1
"Nahdiyah??"
Aliaa memeluk sahabatnya. Sudah 4 tahun ia berpisah dengan sahabatnya itu. Aliaa menatap ke arah langit. Beberapa heli muncul di atas langit.
"Hah? Kenapa bisa ada heli berlambangkan negara khayalan itu ada di sini?"
"Mereka sedang mengawasi kita!"
"Psawat itu menuju ke arah kita!"
"Cepat! Lari!"
Mereka menuju kendaraan yang dibawa Nahdiyah dkk. Hafsha mengendarainya dengan kecepatan maksimal. Hohoho. Bar bar? Tentu saja tidak 😏.
"Kendalikan diri kalian! Ini satu satunya cara agar selamat sampai tujuan!"
"Mereka akan mudah menyusul kita. Hentikan mobilnya, lalu merayap ke rumah kosong itu!"
DUARRRR!!! Bom meledak di dekat mobil itu. Keringat Aliaa muncul lagi. Tugas pertamanya sudah se tsadetss ini.
"Ayo, campnya tak jauh dari sini."
Mereka tiba di camp dengan nafas yang memburu.
####
"Pak, kami telah membom mobilnya."
"Kalian yakin?"
"Iya pak."
"Bagus."
Awokawokawok, mudah sekali mereka terperdaya. Padahal Hafsha dan Aliaa ada di rumah kosong.
####
"Mereka memburumu Aliaa."
"A-aku?"
__ADS_1
"Iya Aliaa."