
Hari demi hari dilalui Aliaa. Saat tugas terakhir di Jabalia (ada Hafsha juga dong ye kann buat ngejaga Qudsi dan Asima ^-^) , Shafa mendiskusikan pada Aliaa dan Aisyaa soal pulang ke Egypt.
"Aisyaa, kamu akan pulang ke Egypt?" Tanya Shafa.
"Tidak. Aku akan pindah ke daerah Ramallah bersama Qudsi. Ada temanku di situ."
"Kalau kamu Aliaa?"
Aliaa terdiam. Ia menunduk. Apa yang harus ia jawab? 3 pasang mata melihatnya. Ada Shafa, Jannah, dan Hafsha yang sedang menanti jawabannya.
"Yang kami perjuangkan bukan hanya sekedar tanah air kami. Tapi juga kehormatan ummat Islam dunia. Kami mempertahankan Al Aqsha. Kiblat pertama ummat Islam. Itulah sebabnya kami berjuang mati matian." ; "Aku akan menetap di sini." ; "Bagaimana kabarmu di Gaza nak? Uma harap kamu bisa segera pulang ke Egypt." ; "Aliaa, cepatlah pulang. Kami semua merindukanmu di sini". Kata kata itu berputar di kepala Aliaa.
"A- aku akan..."
"Jawablah Aliaa. Kelanjutan semua ini tergantung pada pilihanmu." kata Hafsha.
__ADS_1
Aliaa menatap Hafsha. Sepasang mata yang mengharapkan Aliaa tetap tinggal di Gaza. Ya. Aliaa tahu. Hafsha sudah berusaha keras melatih Aliaa. Hafsha lah yang memilih Aliaa untuk menjadi generasi pembebas Al Aqsha selanjutnya. Apakah itu patut disia siakan?
Setiap pilihan ada manfaat. Tapi Aliaa tak bisa memilih keduanya. Jika ia pulang ke Egypt, ia akan berkumpul bersama keluarganya dan bisa melanjutkan pendidikan dengan tenang. Jika ia tetap tinggal di Gaza, maka ia akan berjuang bersama Hafsha, Izzati, Khaulah, Zuhair, dan warga Gaza lainnya untuk mempertahankan Al Aqsha.
Aliaa menarik nafas dalam dalam. Ia telah menentukan pilihannya. Antara kembali ke Egypt dan tetap tinggal di Gaza. Aliaa meneguhkan pilihannya. Ia berharap, pilihan ini yang terbaik untuknya dan berharap Allah ridha padanya.
"Aku akan tinggal di Gaza sampai malaikat maut mencabut nyawaku." Jawab Aliaa tegas.
Jannah tersenyum menatap Aliaa. Ia tahu Aliaa akan memilih jawaban itu. Sementara Shafa menguji Aliaa, apakah ia sudah mantap dengan pilihannya.
"Aku ingin bertemu dengan mereka. Tapi apa yang diperjuangkan di sini bukan hanya sekedar tanah air! Tapi juga kehormatan ummat Islam dunia. Kiblat pertama ummat Islam! Al Aqsha." Jawab Aliaa tegas.
"Baiklah." kata Shafa.
Hari cepat berlalu. Hari ini tim jurnalis dan tim relawan asal Egypt kembali. Shafa, Jannah, dan tim jurnalis lainnya menyempatkan diri berpamitan ke Aliaa dan Aisyaa.
__ADS_1
" Semoga Allah menjaga kalian." Kata Shafa sambil memeluk Aliaa dan Aisyaa.
Aliaa tersenyum, lalu balik mendoakan Shafa. Begitu pula dengan Aisyaa.
"Sampaikan ke keluarga kami, insyaa Allah kami akan baik baik saja. Ada Allah yang menjaga kami." kata Aliaa.
Aisyaa mengangguk setuju. Aqsha atau Qudsi sudah ada di gendongannya. Teman Aisyaa pun sudah datang untuk menjemput Aisyaa.
"Semoga Allah merahmatimu Aliaa."
"Jazakillah Aisyaa. Semoga Allah menjagamu di mana pun engkau berada."
2 Sahabat itu berpelukan. Entahlah mereka akan bertemu kembali atau tidak. Setidaknya, mereka sudah saling mendoakan. Aliaa menatap sahabat SMPnya yang mulai menjauh. Aliaa merasakan senyuman Aisyaa yang tak pernah pudar.
Aliaa masuk kembali ke dalam rumah. Rumah Yasmeen dan Nadiah itu sepi penghuni. Di tahun 2014, rumah itu berisi 5 orang. Di tahun 2016, rumah itu berisi 4 orang. Pada tahun 2018 awal, rumah itu berisi 6 orang. Dan kini, hanya berisi 2 orang.
__ADS_1