
Ia tak fokus pada topik yang dibicarakan Hafsha. Ia hanya fokus pada apa yang diperjuangkan warga Gaza. Mereka tak hanya sekedar mempertahankan tanah airnya. Tapi juga mempertahankan kehormatan ummat Islam dunia. Mereka memperjuangkan kiblam pertama ummat Islam. Yaitu MASJIDIL AQSHA. Aliaa bingung, kontribusi apa yang sudah ia sumbangkan untuk memperjuangkan masjidil Aqsha.
Aliaa di bawa Hafsha ke sebuah tempat yang dijaga ketat. Aliaa terlalu polos untuk berpikir tempat apa ini.
"Hafsha Jihadah Al Gazza."
Lelaki bersenjata itu menatap Aliaa. Nampak asing dimatanya. Setahunya, Hafsha tidak memiliki saudari.
"Dia siapa? Kamu tidak sedang mengkhianati kami kan?"
"Tidak."
Lelaki itu membuka pintu gerbang. Aliaa memarkirkan kendaraannya. Ia menatap Aliaa yang tampak kebingungan.
"Kamu ini lucu sekali Aliaa. Masuklah." kata Hafsha.
Aliaa dan Hafsha masuk melalui pintu belakang.
"Kamu tunggu di sini dulu ya."
Aliaa hanya mengangguk. Hafsha begitu ramah padanya. Mirip seperti Alaa, muslimah berscraf putih yang meninggal disebabkan tertembak.
####
"Baiklah. Kalian sudah paham?"
Tok tok. Hafsha mengetuk pintu ruangan itu. Pintu itu selalu terkunci bila kakaknya sedang rapat.
"Hhhh... baiklah. Semua bisa keluar sekarang."
__ADS_1
Hafsha dipersilahkan masuk ke ruangan itu.
"Kakak lama sekali membuka pintu!"
"Aku sedang rapat tadi. Ahh sudahlah! Ada apa?"
Hafsha menceritakan semuanya pada kakaknya.
"Sudah ku katakan padamu Hafsha, mereka akan mengenali Aliaa. Lagi pula kamu belum mengenal lebih jauh Aliaa."
"Lalu aku harus bernarasumber pada siapa? Nadiaah sudah meninggal 2 hari yang lalu. Aku melihatnya dengan mataku sendiri. Nahdiyah sibuk di medan jihad."
"Bukankah katamu ada 1 lagi warga Egypt yang masih tinggal di Gaza?"
"Aku sudah bertanya padanya! Semua jawabannya sama kak! Tak ada yang mencurigakan!"
"Aku yakin dia cukup cerdas. Dia sudah S2 di usianya yang ke 21. Hanya saja, dia terlalu polos tentang apa yang terjadi Gaza."
"Hehh, kamu memang keras kepala Hafsha! Baiklah! Aku akan terangkan padanya! Tapi kamu harus memastikan bahwa dia menutup wajahnya dihadapanku."
Hafsha keluar dari ruangan itu. Ia membawa selembar kain pada Aliaa. Hafsha tersenyum senang. Gamis Aliaa persis warnanya seperti warna kain yang Hafsha bawa (hohoho, tampaknya Hafsha berhasil membuat Aliaa berpakaian persis sepertinya :v)
"Pakai ini Aliaa. Jangan khawatir, aku akan menemanimu."
"Tapi bagaimana cara memakainya? Kamu tak pernah mengajariku Hafsha."
Usai kain itu menutupi wajah Aliaa, Aliaa masuk ke ruangan itu. Yahh~ setelah diinterograsi dan berdiskusi cukup lama, Aliaa keluar dari ruangan itu.
"Kamu pahamkan?"
__ADS_1
"Yaa. Baiklah. Aku mulai mengerti mengapa kamu khawatir saat beberapa aparat IDF menganggapku adikmu."
"Kamu siap mulai kapan?"
"Setelah aku bertugas sebagai jurnalis pada bulan Ramadhan."
"Baiklah. Kamu dengar, kan? Kamu masih boleh menjadi jurnalis. Asal jangan bawa perangkat elektronik ke sini." Terang Hafsha.
"Jadi aku kerja sampingan gitu?"
"Yapz." jawab Hafsha.
"Sebelumnya, aku ingin bertanya. Tempat apa ini?"
Hafsha membisikkan sesuatu ke telinga Aliaa.
"Baik, sekarang berikan nama panjangmu kepadaku."
"Aliaaaaaaa."
Hafsha hanya menahan tawa karena disekelilingnya ada beberapa lelaki bersenjata. Sudah cukup hukuman kakaknya beberapa hari yang lalu (saat Hafsha pertama bertemu Aliaa).
"Nama lengkap maksudku Aliaa."
"Aliaa Banati Azzahra."
"Nama yang bagus."
Aliaa dan Hafsha kembali menaiki kendaraan. Mereka keluar dari area itu menuju tempat Aliaa melaksanakan hoby-nya.
__ADS_1